Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tumpangan Impulsif dan Tangan yang Menarik Pulang
Kabar tentang story media sosial Mita cepat sekali menyebar di lingkungan kantor, dan Raisha bukan orang yang naif untuk tidak membaca dinamika di baliknya. Ketika melihat Mita terang-terangan memamerkan tangkapan layar percakapan mesra dengan pria barunya, ditambah gelagat Mita yang belakangan ini gatal ingin memancing perhatian Aldo, sebuah kesadaran baru terbit di kepala Raisha.
Mita ternyata sudah mengetahui pola ketertarikan Aldo yang menyimpang itu.
Raisha menarik napas panjang seraya membereskan berkas di atas mejanya. Dia merasa miris sekaligus prihatin. Mita begitu dibutakan oleh rasa ingin memiliki hingga rela merendahkan harga dirinya, sengaja mencari pasangan baru hanya demi menjadi 'umpan' agar Aldo mau meliriknya kembali. Namun, dari respons dingin Aldo di pantry tadi siang, Raisha tahu pancingan Mita gagal total. Aldo sama sekali tak menyenggol umpan tersebut.
Jam kerja resmi berakhir. Lampu-lampu kubikel satu per satu mulai dimatikan ketika para karyawan beranjak meninggalkan lantai lima. Raisha menyampirkan tali tasnya di bahu, bersiap menuju area lif.
Namun, baru beberapa langkah Raisha beranjak dari mejanya, sebuah bayangan tinggi memotong jalurnya.
Aldo berdiri tepat di hadapannya. Pria itu sudah memegang kunci mobil di jemarinya, mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sudah dibuka santai. Tatapan matanya lurus terarah pada Raisha, hangat, penuh tekad, tetapi menyimpan sedikit kegelisahan yang coba disembunyikannya.
"Ra, bareng aku yuk. Aku antar pulang," tawar Aldo secara tiba-tiba.
Langkah Raisha terhenti seketika. Tubuhnya membeku seraya menatap pria di hadapannya dengan rasa heran yang membuncah. Raisha tertegun, sungguh tidak mengerti dengan sikap impulsif Aldo kali ini.
Bukankah semua kartu sudah dibuka di rooftop kemarin? Bukankah Aldo seharusnya sudah menarik diri setelah rahasianya ditelanjangi dan Raisha menegaskan statusnya yang melajang?
"Al, kayaknya pembicaraan kita tempo hari di rooftop udah cukup jelas deh," ujar Raisha dengan dahi berkerut dalam, menatap Aldo penuh kecurigaan.
"Dan sekarang... maksudnya apa lagi?"
Aldo menyunggingkan senyum tipis, bukan senyuman miring penakluk seperti biasanya, melainkan senyuman santai yang mencoba menutupi gelombang aneh di dalam dadanya. Dia memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Memangnya kenapa kalau aku menawarkan tumpangan pada rekan kerja?" jawab Aldo santai, suaranya mengalir tanpa beban seolah tuduhan Raisha kemarin tak pernah terjadi.
"Lagian arah rumah kita searah, kan? Daripada kamu repot naik transportasi umum jam segini."
Raisha terdiam membisu. Tatapannya menelisik dalam-dalam ke balik iris mata Aldo.
Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh pria ini? Apakah ini taktik manipulasi baru? Atau egonya begitu terluka hingga dia memaksakan diri untuk terus mengejar demi membalikkan keadaan? Raisha tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Aldo saat ini. Yang pasti, firasatnya menyuruhnya untuk segera memutar arah dan menjauh dari pria berbahaya tersebut.
Saat Raisha baru saja hendak membuka mulut untuk menolak secara tegas, sebuah suara memotong ketegangan di antara mereka.
"Raisha mau pulang bareng aku, jadi kamu silakan duluan aja, Al."
Suara itu datang dari Reno. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah cepat dari arah koridor utama. Wajah Reno tampak serius, matanya menatap Aldo dengan pandangan penuh kewaspadaan. Reno sudah memantau interaksi mencurigakan itu dari kejauhan sejak tadi dan merasa harus segera turun tangan melindungi sahabatnya.
Tanpa menunggu balasan dari Aldo atau memberi ruang untuk perdebatan lebih lanjut, Reno secara alami meraih pergelangan tangan Raisha, sebuah gestur protektif yang tegas namun lembut.
"Yuk, Ra. Mobilku udah menyala di basement," kata Reno pelan pada Raisha.
Raisha tidak memprotes. Dia membiarkan Reno membimbing jalannya, melangkah melewati Aldo yang berdiri mematung di tengah lorong.
Saat langkah kaki mereka makin menjauh menuju pintu lif, Aldo memutar badannya perlahan. Pasang mata cokelat gelapnya mengunci pergerakan kedua orang itu dari belakang. Tatapan Aldo mendadak mendingin dan tajam, bagaikan belati yang siap menghujam. Otot-otot di rahangnya menegang keras saat melihat jemari Reno yang menggenggam erat pergelangan tangan Raisha, membawanya masuk ke dalam sangkar proteksinya.
Ada percikan api cemburu yang amat pekat dan tajam mendadak meledak di dalam dada Aldo, sebuah perasaan asing yang jauh lebih nyata, jauh lebih berbahaya, dan kali ini... tidak ada hubungannya sama sekali dengan permainan status.
Reno membukakan pintu depan mobilnya untuk Raisha sebelum melangkah mutar dan duduk di kursi pengemudi. Mobil sedan hitam milik Reno perlahan melaju meninggalkan area parkir basement gedung kantor, membelah kepadatan lalu lintas jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan pulang kerja.
Di dalam kabin mobil yang hening, Raisha menyandarkan punggungnya ke jok, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatap ke luar jendela. Pikirannya masih kacau oleh rentetan kejadian sepanjang hari ini.
Reno memecah keheningan seraya tetap fokus menatap jalanan di depannya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Ra?"
Raisha menghela napas panjang, menoleh sedikit pada Reno.
"Nggak apa-apa kok, Ren. Makasih ya udah mendadak narik aku tadi. Aku benar-benar nggak tahu lagi mesti merespons apa sama kelakuan si Aldo."
Reno menyunggingkan senyum tipis, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi.
"Aku dari jauh udah ngeliat muka kamu kayak orang kebingungan. Kamu harus hati-hati sama dia, Ra. Sikapnya belakangan ini aneh banget. Tajam, impulsif, dan kayak gak mau lepas dari kamu."
"Aku tahu..." bisik Raisha pelan.
"Aku pikir setelah kemarin di rooftop dia bakal berhenti. Tapi ternyata malah makin nekat."
"Mungkin egonya nggak terima kamu tolak," timpal Reno menanggapi.
"Pria kayak Aldo itu terbiasa dapet apa yang dia mau. Begitu ada cewek yang bisa baca taktiknya dan milih pergi, dia bakal ngerasa tertantang setengah mati."
Raisha menatap bayangan dirinya di kaca jendela mobil. Kata-kata Reno ada benarnya, tetapi bagian terdalam dari diri Raisha merasakan ada hal lain yang lebih rumit dari sekadar ego.
Tatapan mata Aldo saat Reno menarik tangannya tadi... ada emosi yang teramat pekat di sana. Apakah itu masih bagian dari permainan taktiknya, ataukah Aldo secara tak sadar sedang terperangkap ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri?
Sementara itu, di dalam mobilnya yang masih terparkir di sudut basement yang remang, Aldo duduk diam di balik kemudi. Dia tidak menyalakan mesin. Kedua tangannya mencengkeram erat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Bayangan saat Reno menarik tangan Raisha dan membawanya pergi terus berputar berulang-ulang di kepalanya, sangat mengusik hatinya. Rasa panas yang membakar dadanya saat ini terasa begitu menyiksa, sebuah penderitaan emosional yang tak pernah Aldo izinkan masuk ke dalam hidupnya selama ini.
Aldo menatap lurus ke arah jalan keluar basement dengan iris mata yang mendung dan berbahaya. Dia menyadari satu hal dengan sangat jelas: permainannya mungkin sudah selesai bagi Raisha, tetapi baginya... obsesi baru ini baru saja dimulai.