hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 17
Dentuman kekuatan yang menyertai dorongan itu begitu dahsyat hingga tubuh Carmilla terpental mundur jauh, meluncur di atas tanah basah hingga menabrak batang pohon besar dengan benturan keras. Napas Carmilla tersentak hebat, ia terbatuk-batuk sambil menatap tak percaya ke arah Elizabeth yang kini berdiri tegak di hadapannya, napasnya sedikit tersengal namun tatapannya begitu teguh dan tak tergoyahkan.
Elizabeth berdiri tegak, menatap lurus ke mata Carmilla yang masih terbelalak tak percaya. Suaranya terdengar tenang namun penuh wibawa yang tak terduga, menembus keheningan yang mencekam itu:
"Jangan pernah berani menyebutku dengan kata-kata hina itu. Kau tidak mengenal siapa dirimu, dan kau tidak tahu siapa aku. Kau mencintainya dengan kebencian, sedangkan aku mencintainya dengan ketulusan. Itulah perbedaanmu dan aku. Dan jangan lupa... anak yang kau coba musnahkan itu... adalah darah dagingnya. Jika aku wanita hina di matamu... maka kau pun sedang menghina Rajamu sendiri. Berhati-hatilah dengan lidahmu, sebelum kau melukai dirimu sendiri."
Carmilla tertegun diam, tak mampu menyahut sedikit pun. Kata-kata Elizabeth itu begitu sederhana namun begitu tajam menusuk kebenaran yang selama ini ia tolak. Dan di belakang Elizabeth, Leon masih memeluk erat ujung gaun ibunya, menatap kagum sekaligus bangga pada ibunya yang tiba-tiba tampak begitu gagah berani berdiri membela kehormatan mereka berdua.
Sementara itu, Raja Draven berdiri diam menyaksikan semuanya. Matanya yang merah menyala kini menatap Elizabeth dengan sorot pandangan yang berubah—bukan sekadar rasa cinta, melainkan rasa hormat yang mendalam. Ia baru menyadari: wanita yang ia cintai ini bukanlah wanita lemah yang perlu dikasihani. Ia adalah wanita yang teguh, berani, dan memiliki hati yang jauh lebih mulia daripada siapa pun.
Carmilla terjatuh di tanah yang basah, napasnya masih tersengal-sengal akibat dorongan kuat dari Elizabeth. Tangannya gemetar menyentuh wajahnya, dan saat ia melihat darah segar yang menetes dari luka di pipinya .
pipi yang selama ini ia banggakan kecantikannya sempurna tanpa cela sedikit pun mata Carmilla membelalak penuh amarah yang meledak seketika. Wajahnya yang pucat kini memerah padam, menatap tajam ke arah Elizabeth dengan pandangan yang seakan ingin membakarnya hidup-hidup.
"WAJAHKUUUUUUUUU!!!"
teriaknya melengking penuh keputusasaan dan kemarahan yang tak terlukiskan. "Kau berani... kau berani merusak wajahku?! Wajah yang dikagumi segenap kerajaan selama ratusan tahun... dan kau berani melukainya dengan tangan kotormu?! Dasar wanita hina! Kau akan kubalas ini berlipat ganda!"
Carmilla hendak melompat bangkit dan menyerang balik dengan amarah yang membutakannya, namun Elizabeth berdiri tegak di tempatnya, tak mundur selangkah pun. Matanya menatap lurus ke arah Carmilla, tenang namun penuh ketegasan yang mencekam, membuat langkah Carmilla seketika terhenti seakan terpaku di tempat. Dengan suara yang rendah namun begitu tegas dan menusuk ke dalam hati, Elizabeth berkata perlahan namun jelas:
"Kau menyentuh putraku... kau berani melukai darah dagingku .
Hanya wajahmu yang rusak? Itu belum sebanding dengan setetes darah yang keluar dari tubuh putraku hari ini. Jika hari ini hanya wajahmu yang rusak... itu adalah belas kasihanku kepadamu. Tapi ketahuilah... lain kali jika kau berani menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Leon... bukan lagi wajahmu yang akan kuambil. Tapi NYAWAMU."
Elizabeth melangkah selangkah mendekat, menatap tajam lurus ke manik mata Carmilla yang masih bergetar menahan amarah dan ketakutan. Suaranya semakin tegas, penuh dengan ancaman yang tak bisa dianggap remeh:
"Ingatlah baik-baik kata-kataku hari ini. Aku mungkin wanita biasa... tapi demi putraku, aku tak segan-segan menghadapi siapa pun. Sekali lagi kau menyakiti Leon... maka kau tak akan hidup untuk melihat matahari terbit esok hari. Aku berjanji... dengan nyawaku sekalipun."
Carmilla terdiam terpaku, menatap mata Elizabeth yang begitu jernih namun memancarkan keteguhan hati yang sedemikian kuat hingga membuatnya tak berani menatap lebih lama lagi. Di balik sorot mata itu, Carmilla menyadari sepenuhnya , wanita di hadapannya ini bukanlah wanita lemah yang bisa diinjak-injak sesuka hati. Ia adalah seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi anaknya, dan keteguhan hatinya jauh lebih mengerikan daripada kekuatan sihir yang dimilikinya.
Sementara itu, Carmilla masih terduduk lemas di tanah, tangannya terus menekan luka di pipinya yang masih mengeluarkan darah. Rasa sakit di wajahnya tak seberapa dibandingkan rasa sakit hati dan kebencian yang kini membara berkali-kali lipat di dadanya. Namun kali ini, ia tak berani melawan lagi.
Ancaman Elizabeth itu begitu nyata dan berat, membuatnya seakan merasakan dinginnya ujung pedang yang menempel di lehernya sendiri. Dengan penuh dendam dan sumpah serapah yang tertahan di kerongkongan, Carmilla akhirnya bangkit berdiri dengan susah payah, menatap tajam ke arah mereka bertiga sekali lagi sebelum berbalik pergi dengan langkah gontai, meninggalkan tempat itu dalam diam namun dengan hati yang penuh dendam yang tak akan pernah ia lupakan.