NovelToon NovelToon
Cincin Pengkhianatan

Cincin Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Its Efa

Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.

Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...

“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

[ Surat yang Tak Pernah Sempat Diberikan ]

Tiga hari telah berlalu sejak malam pertunangan yang berubah menjadi penangkapan. Selama tiga hari itu pula, Vincent tidak pernah sekalipun meminta bertemu Zhava. Ia menjalani seluruh pemeriksaan dengan tenang, mengakui semua perbuatannya tanpa berusaha mencari pembelaan. Sikapnya membuat para penyidik heran. Mereka telah mempersiapkan berbagai kemungkinan menghadapi mafia paling berbahaya di negara itu, tetapi pria yang kini duduk di balik jeruji justru menerima semuanya seolah telah lama menunggu akhir seperti ini.

Zhava hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Semakin tenang Vincent bersikap, semakin besar rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Ia berharap Vincent marah, membencinya, atau bahkan mengutuknya. Setidaknya dengan begitu ia merasa pantas menerima kebencian itu. Namun yang diberikan Vincent justru keheningan, dan keheningan itulah yang paling menyakitkan.

Siang itu, Damian meminta izin bertemu Vincent. Setelah melalui pemeriksaan yang ketat, ia akhirnya diizinkan masuk ke ruang kunjungan.

Vincent duduk di balik kaca pembatas dengan wajah yang jauh lebih kurus. Damian menggenggam gagang telepon dengan tangan gemetar.

"Bos..."

Vincent tersenyum tipis.

"Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Damian menundukkan kepala. Matanya langsung memerah.

"Seharusnya saya yang bertanya begitu."

Vincent hanya terkekeh pelan.

"Black Raven bagaimana?"

"Sudah dibubarkan."

Vincent mengangguk pelan, seolah memang itulah jawaban yang ia harapkan.

"Bagus."

"Anak-anak memilih menyerahkan diri. Sebagian lagi kembali ke keluarga mereka. Tidak ada yang ingin meneruskan organisasi."

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, senyum Vincent terlihat sedikit lebih tulus.

"Itu keputusan yang benar."

Damian terdiam beberapa saat sebelum mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya.

"Saya menemukan ini di meja kerja Bos."

Vincent langsung mengenali amplop itu.

Surat yang ia tulis malam sebelum pertunangan.

Surat yang seharusnya diberikan kepada Rhea setelah acara selesai.

"Aku lupa..." bisiknya pelan.

Damian menatapnya.

"Apakah surat ini masih ingin Bos simpan?"

Vincent memandang amplop itu cukup lama. Jemarinya perlahan menyentuh kaca pembatas.

"Tidak."

"Lalu...?"

"Berikan kepada Zhava."

Damian mengernyit.

"Bos yakin?"

Vincent tersenyum pahit.

"Dia berhak membacanya."

Sore harinya, Damian menunggu Zhava di luar markas kepolisian. Begitu melihat pria itu, beberapa polisi langsung memasang wajah waspada.

"Aku tidak datang membuat masalah," ucap Damian tenang. "Aku hanya ingin memberikan sesuatu."

Tak lama kemudian Zhava keluar dari gedung.

Melihat Damian berdiri di sana, langkahnya terhenti.

"Kau..."

Damian menyodorkan amplop cokelat itu.

"Bos menyuruhku memberikan ini."

Zhava menerimanya perlahan.

"Apa ini?"

"Surat yang seharusnya Bos berikan setelah pertunangan."

Dadanya langsung terasa sesak.

"Aku tidak akan mengganggumu lagi," lanjut Damian. "Tapi ada satu hal yang ingin kau tahu."

Zhava mengangkat wajah.

"Selama aku mengenal Bos..."

"...aku belum pernah melihatnya mempercayai siapa pun seperti dia mempercayaimu."

Kalimat itu membuat air mata Zhava kembali jatuh.

Damian membungkukkan badan pelan sebelum pergi meninggalkannya.

Malam itu, Zhava duduk sendirian di apartemennya. Amplop itu masih berada di pangkuannya. Tangannya gemetar saat membuka segelnya.

Di dalamnya terdapat selembar surat yang ditulis dengan tulisan tangan Vincent.

Untuk Rhea,

Kalau kau sedang membaca surat ini, berarti pertunangan kita sudah selesai. Mungkin sekarang aku sedang tersenyum karena akhirnya bisa memanggilmu tunanganku.

Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan. Aku sudah menjual sebagian besar asetku. Aku juga sudah menyerahkan kepemimpinan Black Raven. Bukan karena aku takut.

Tapi karena aku ingin hidup cukup sederhana bersamamu.

Aku ingin membuka toko bunga yang lebih besar. Kau merawat bunga-bunganya, sementara aku akan membuatkan kopi setiap pagi. Siang hari kita akan mengunjungi anak-anak panti. Malamnya kita pulang ke rumah yang penuh mawar putih.

Kedengarannya sangat sederhana, ya?

Padahal bagiku... itulah mimpi terbesar yang pernah kumiliki.

Kalau suatu hari nanti kita bertengkar, berjanjilah jangan pernah pergi tanpa bicara. Karena kehilanganmu adalah satu-satunya hal yang benar-benar kutakuti.

Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.

— Vincent.

Huruf-huruf di atas kertas itu mulai buram karena air mata Zhava yang terus menetes.

Ia memeluk surat itu erat ke dadanya sambil menangis sesenggukan.

Ternyata selama ini Vincent benar-benar telah menyiapkan masa depan mereka.

Bukan istana.

Bukan kekuasaan.

Bukan harta yang melimpah.

Melainkan kehidupan sederhana yang bahkan tidak pernah sempat mereka jalani.

Untuk pertama kalinya, Zhava benar-benar berharap waktu bisa diputar kembali.

Bukan agar misinya berhasil.

Melainkan agar ia bisa kembali ke hari ketika Vincent pertama kali masuk ke toko bunganya sambil membeli satu tangkai mawar putih.

Karena jika ia diberi satu kesempatan lagi...

Ia ingin pertemuan itu terjadi tanpa penyamaran, tanpa kebohongan, dan tanpa akhir yang menghancurkan seperti sekarang.

Sementara itu, di dalam sel tahanannya, Vincent memandangi langit malam dari balik jendela kecil. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Ia tidak tahu apakah Zhava sudah membaca surat itu atau belum.

Namun setidaknya...

Mimpi yang tidak pernah sempat ia wujudkan, kini telah sampai kepada wanita yang sejak awal memang ia tulis sebagai tujuan dari seluruh masa depannya. 💔

1
Anne Soraya
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!