Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: DENIA BIDADARI KECIL DI DESA SAMUDRA
"Suatu saat aku akan menikahimu, Denia. Meskipun aku tahu kasta kita berbeda, kita tetap berpijak di bumi yang sama."
Kalimat itu tak pernah terucap. Rangga hanya menguncinya rapat di dalam hati.
Usianya baru sebelas tahun. Jangankan memahami arti sebuah pernikahan, membayangkan bagaimana rasanya menjadi kepala keluarga pun belum. Namun, begitulah dunia anak-anak. Mereka tak mengenal hitung-hitungan tentang mungkin atau mustahil. Saat menginginkan sesuatu, mereka hanya tahu satu cara: mengejarnya sepenuh hati.
Dan bagi Rangga kecil, Denia adalah seluruh alasan di balik senyum yang tak pernah berhasil ia sembunyikan.
Sekarang, setiap kali mengingat sumpah polos itu, aku hanya bisa tersenyum geli. Rasanya ingin menjitak kepala bocah kecil itu sambil berkata, "Berani sekali mimpimu, Ga." Namun, mungkin memang begitulah cinta pertama. Datang diam-diam, lalu menetap tanpa pernah meminta izin.
Semuanya bermula pada siang yang terik di bawah pohon mangga tua di depan Sekolah Dasar Desa Samudra.
Bel pulang baru saja berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas sambil membawa tas di punggung. Tawa mereka bercampur dengan suara sandal yang beradu di halaman sekolah.
Rangga berdiri beberapa langkah dari Denia.
Ujung sandal jepitnya terus menggeser kerikil kecil di tanah. Berkali-kali ia menarik napas, tetapi kata-kata yang sejak tadi disusun di kepala mendadak buyar begitu melihat Denia menoleh.
"Denia..."
Gadis kecil itu mengangkat wajah.
"Iya?"
Rangga menelan ludah.
"Nanti malam terang bulan, kan?"
Denia mengangguk.
"Iya."
"Biasanya kalian main di pelataran rumahmu..."
Kalimat itu menggantung sesaat. Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku... ikut main, ya?"
Wajah Denia langsung berbinar.
"Ya boleh, dong! Nanti ada Lilis, Yu Iwan, Mas Trio, Handoko, sama yang lain. Kita main petak umpet, terus gerobak sodor. Pokoknya seru, asal nggak hujan."
Pita merah di rambutnya bergoyang pelan ketika ia menganggukkan kepala.
Rangga hanya mampu membalas dengan anggukan kecil.
"Iya."
Setelah Denia berlari menyusul teman-temannya, Rangga masih berdiri mematung beberapa saat. Baru ketika sosok itu menghilang di balik kerumunan anak-anak, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Yes..."
Kepalan tangannya mengepal kecil di depan dada.
Langkah pulangnya terasa jauh lebih ringan. Ia berlari, melompati batu-batu di pinggir jalan, lalu berputar sebentar dengan tawa yang nyaris tak terdengar. Seekor ayam kampung yang sedang mematuk dedak sampai berhamburan dibuatnya.
Sepanjang perjalanan, hanya satu bayangan yang memenuhi kepalanya.
Malam nanti. Terang bulan. Rumah Denia.
Sore itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Jarum jam dinding di ruang tengah seolah enggan bergeser. Rangga berkali-kali melongok ke luar jendela, lalu kembali duduk. Baru beberapa detik, ia bangkit lagi.
Matahari masih menggantung tinggi di atas Desa Samudra.
"Cepat turun, dong..." gumamnya pelan.
Ia menyibak gorden lusuh, memicingkan mata ke arah langit yang masih dipenuhi cahaya keemasan. Bibirnya mengerucut kesal.
"Mak," panggilnya.
"Iya?"
"Kok mataharinya lama banget tenggelam? Kemarin rasanya jam segini sudah mulai gelap."
Di dapur, Emak sedang mengiris kacang panjang. Pisau di tangannya berhenti sesaat. Beliau menoleh sambil tersenyum tipis melihat wajah putranya yang ditekuk sedemikian rupa.
"Perasaanmu saja yang keburu pengin malam, Rangga."
"Tapi lama..."
"Ya memang begitu jalannya matahari. Mau kamu tatap dari tadi sampai besok juga, dia tetap tenggelam kalau waktunya sudah tiba."
Rangga mengembuskan napas panjang.
Emak kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Daripada mondar-mandir begitu, sana ambil air wudu. Sebentar lagi magrib."
Kalimat itu membuat mata Rangga berbinar.
"Iya, Mak!"
Ia berlari menuju kamar, mengambil peci hitam yang beludrunya mulai menipis di beberapa bagian. Setelah itu, ia meraih sajadah tua milik bapaknya. Ukurannya terlalu panjang untuk tubuh kecilnya, sehingga harus dilipat dua sebelum disampirkan di pundak.
"Mak, Rangga berangkat dulu."
Ia mencium punggung tangan Emak dengan khidmat.
Namun, begitu melewati ambang pintu rumah, langkah tenangnya langsung lenyap.
Bruk!
Kaki telanjangnya menghentak tanah.
Tubuh kecil itu melesat menyusuri jalan desa, melompati batu-batu kecil, menghindari genangan air, lalu berlari semakin kencang seolah-olah siapa pun yang tiba lebih dulu di langgar bisa membuat matahari tenggelam lebih cepat.
Angin sore menerpa wajahnya.
Napasnya mulai memburu.
Saat pelataran langgar sudah tampak di depan mata, suara bedug pertama akhirnya menggema.
Dung!
Disusul bunyi kentongan yang bersahut-sahutan, memecah tenangnya senja di Desa Samudra.
Rangga menyeringai lebar.
"Pas!"
Tanpa mengurangi langkah, ia langsung berlari memasuki halaman langgar.
Pak De baru saja mengulurkan tangan ke arah mikrofon ketika suara Rangga memecah kesunyian.
"Pak De, biar aku yang azan!"
Beliau menoleh sambil mengangkat sebelah alis.
"Lho, semangat sekali kamu hari ini."
Rangga hanya nyengir.
Tanpa menunggu jawaban, ia sudah lebih dulu menyelinap ke sudut langgar. Jari-jarinya yang kecil meraih mikrofon besi, lalu menekan sakelar amplifier. Suara dengung halus langsung memenuhi ruangan.
Ia menarik napas panjang.
Dadanya membusung penuh percaya diri.
Kalau ada yang bertanya kenapa bocah itu mendadak begitu bersemangat, jawabannya sederhana.
Semoga Denia mendengar.
Semoga suara azanku sampai ke rumahnya.
Semoga... dia tahu aku juga bisa azan.
Pikiran polos itu membuat sudut bibir Rangga terus terangkat.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Suara cemprengnya melantun membelah langit senja Desa Samudra. Dari kejauhan, gema azan memantul di antara rumah-rumah kayu, rumpun bambu, dan hamparan sawah yang mulai diselimuti cahaya jingga.
Rangga melantunkannya dengan sungguh-sungguh.
Meski beberapa kali nada suaranya sedikit goyah, semangatnya sama sekali tidak.
Di rumah-rumah penduduk, satu per satu orang mulai menghentikan aktivitasnya. Ada yang menutup warung, mengangkat jemuran, memanggil anak-anak yang masih bermain, lalu bergegas mengambil air wudu.
Entah Denia mendengar atau tidak.
Namun, Rangga sudah telanjur merasa puas.
Setidaknya malam ini ia sudah melakukan sesuatu yang menurutnya pantas dibanggakan.
Salat magrib pun dimulai.
Rangga berdiri di barisan depan. Berkali-kali ia memaksa dirinya tetap khusyuk, tetapi bayangan pelataran rumah Denia terus menyelinap ke dalam pikirannya.
Petak umpet.
Gerobak sodor.
Terang bulan.
Nama-nama permainan itu bergantian memenuhi kepalanya.
Begitu imam mengucapkan salam terakhir, Rangga langsung membuka mata.
Ia melirik ke kanan.
Lalu ke kiri.
Melihat para jamaah masih sibuk berzikir, ia segera menggulung sajadah tuanya secepat kilat.
Dalam hitungan detik, bocah itu sudah berlari keluar langgar, meninggalkan halaman yang masih dipenuhi suara wirid para jamaah.
Napas Rangga masih memburu ketika ia tiba di depan rumah.
"Mak!"
Belum sempat masuk ke dalam, suaranya sudah lebih dulu memenuhi halaman.
"Aku makannya nanti saja, ya? Aku mau ke rumah Denia. Bulannya sudah keluar!"
Emak yang baru saja meletakkan panci di atas tungku menghela napas pelan. Tatapannya jatuh pada wajah putra semata wayangnya yang memerah karena berlari.
"Baru selesai magrib sudah mau keluyuran?"
"Tapi semua anak nanti kumpul di sana, Mak."
"Ya nanti."
"Sebentar lagi..."
"Bukan sekarang."
Jawaban itu langsung membuat bahu Rangga merosot.
Emak menghampirinya, lalu mengusap rambut anaknya yang sudah acak-acakan.
"Ini masih sandekala, Rangga."
Bocah itu mendongak.
"Sandekala?"
"Iya. Kata orang-orang tua, waktu begini anak kecil jangan berkeliaran. Nanti kalau diculik wewe gombel, Emak nyarinya ke mana?"
Mata Rangga langsung membulat.
Tangan yang tadi mengepal penuh semangat kini perlahan mengendur.
"Ih..."
"Cepat makan dulu."
Dengan langkah gontai, ia mengikuti Emak masuk ke dapur.
Sepiring nasi hangat, sayur lodeh, dan ikan asin sudah menunggunya di atas tikar.
Biasanya Rangga makan sambil mengobrol ke sana-kemari.
Malam itu berbeda.
Sendok di tangannya bergerak nyaris tanpa jeda.
Suap.
Kunyah.
Telan.
Suap lagi.
"Pelan-pelan, nanti keselek."
"Iya, Mak."
Jawabannya singkat.
Namun, gerakan tangannya sama sekali tidak melambat.
Matanya beberapa kali melirik ke pintu depan.
Seolah khawatir teman-temannya sudah lebih dulu berkumpul di rumah Denia.
Beberapa menit kemudian piringnya sudah licin.
Rangga buru-buru mengangkat gelas, menghabiskan air putih dalam sekali teguk, lalu bangkit hendak berlari.
"Eits."
Suara Emak menghentikan langkahnya.
"Mengaji dulu."
Wajah Rangga langsung berubah.
"Tapi, Mak..."
"Tidak ada tapi."
Emak sudah lebih dulu meletakkan mushaf Al-Qur'an di hadapannya.
Dengan wajah lesu, Rangga kembali duduk.
Ia membuka halaman yang ditunjuk Emak, lalu mulai melafalkan ayat demi ayat.
Bibirnya membaca.
Matanya melihat huruf-huruf hijaiyah.
Namun, pikirannya melayang ke tempat lain.
Pelataran rumah Denia.
Tawa anak-anak.
Dan terang bulan yang sejak siang terus memenuhi kepalanya.
Tak lama kemudian, azan Isya berkumandang dari langgar.
Belum sampai gema terakhir menghilang, Rangga buru-buru menutup mushaf.
Ia melepas sarung, menggantinya dengan celana pendek, lalu berlari menuju pintu.
"Rangga..."
Suara Emak terdengar dari belakang.
"Bocah kok ya ora sabaran nemen ngenteni padang bulan..."
Beliau hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, membiarkan pintu kayu itu bergoyang pelan setelah ditutup tergesa-gesa oleh putranya.
Udara malam menyambut Rangga begitu ia melangkah keluar rumah.
Bulan purnama telah menggantung utuh di langit Desa Samudra. Cahayanya menumpahkan warna keperakan di atas pematang sawah, jalan tanah, dan atap-atap rumah penduduk. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah bercampur harum bunga kenanga dari halaman-halaman rumah.
Rangga menarik napas panjang.
Senyumnya mengembang sendiri.
Akhirnya... malam yang ditunggunya sejak siang benar-benar datang.
Langkahnya berubah cepat.
Sesekali ia berlari kecil, lalu kembali berjalan sambil bersenandung pelan. Sandal jepitnya memercikkan debu tipis setiap kali menghantam jalan setapak.
Dari kejauhan terdengar riuh suara anak-anak.
Ada yang tertawa.
Ada yang saling memanggil.
Ada pula suara orang-orang dewasa yang bercakap di beranda rumah sambil menikmati terang bulan.
Semakin dekat menuju rumah Denia, jantung Rangga berdetak semakin kencang.
Entah karena terlalu berlari...
Atau karena sebentar lagi ia akan bertemu gadis kecil yang sejak siang memenuhi seluruh isi kepalanya.
Ia memperlambat langkah ketika pagar bambu rumah Denia mulai terlihat.
Pelataran rumah besar itu memang sudah ramai.
Beberapa anak berlarian ke sana kemari. Sebagian lagi berkumpul membentuk lingkaran sambil saling menunjuk siapa yang akan berjaga lebih dulu.
Lampu sentir yang menggantung di teras memancarkan cahaya kekuningan, berpadu lembut dengan sinar rembulan.
Rangga berhenti sejenak di luar pagar.
Matanya menyapu halaman.
Lalu...
Ia melihat Denia.
Gadis kecil itu berdiri di tengah teman-temannya dengan pita merah yang masih menghiasi rambutnya. Tawanya pecah begitu saja ketika seseorang salah menghitung giliran bermain.
Tanpa sadar, senyum Rangga ikut merekah.
Segala rasa tidak sabar yang sejak siang mengaduk-aduk dadanya mendadak menghilang.
Terbayar sudah.
Malam itu bukan sekadar malam terang bulan.
Bagi Rangga kecil, malam itu adalah malam yang akan terus hidup dalam ingatannya, bahkan ketika bertahun-tahun kemudian banyak hal berubah.
Ia melangkah masuk ke pelataran rumah Denia.
Dengan dada berdebar...
Dan senyum yang tak lagi mampu disembunyikan.