NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keesokan harinya.
"LIORA?" triak Karens saat berada di depan kampus.
Gadis itu matanya berbinar indah, saat tahu Liora berangkat dengan Marco. Mereka menaiki mobil sport berwarna hitam. Bersamaan. Liora turun lebih dulu.
"Waoh, kau berangkat dengan paman tanpamu itu,"
"Tutup mulutmu sialan atau seluruh kampus akan mentertawakanku."
Disusul dengan langkah keluar dari mobil sport miliknya, Marco turun dengan stelan santainya khas anak kuliah yang badboy.
Martin yang melihatnya, matanya membulat. Ia cepat-cepat mengejar Marco.
"Hei.... Hei, ada apa ini Marco kau berangkat dengan gadis culun itu?" ujar Martin yang melihatnya. Langsung menghampiri sang sahabat.
"Woah, sebuah keajaiban besar. Seorang Marco datang dengan musuh bebuyutannya."
Marco menatap sinis ke arah Martin, tanpa memberikan jawaban dan sebelum di jatuhi pertanyaan yang konyol. Pria itu langsung saja menyambar jalan masuk kedalam kelas tanpa menghiraukan Martin.
"Hei, Marco!"
Martin merasakan kepalanya berdenyut pelan saat melihat gerak-gerik aneh dari sahabatnya tersebut.
"Marco! Jangan-jangan kau suka yah dengan gadis itu?"
Marco terus berjalan menaiki satu persatu anak tangga. "Bukan urusanmu!"
"Hei Marco kau berhutang penjelasan kepadaku!"
Marco segera masuk kedalam kelas lebih dulu. Kini pria itu mengenakan headset agar telinganya tidak mendengarkan ocehan Martin.
***
Sepuluh menit kemudian. Bell kampus berbunyi. Seluruh mahasiswa masuk ke kelas masing-masing.
Sepatu yang berderap dan langkah yang tegap mengiringi Seorang profesor yang sedang masuk kedalam kelas, kali ini mahasiswa S2 sedang mendalami tentang ilmu sains.
Marco melepas headsetnya, lalu mengambil buku catatan dan fokus dengan penjelasan sang Profesor.
Marco duduk di barisan paling depan, kacamatanya bertengger di hidung pria itu. Ada beberapa mahasiswa program magister.
Di hadapan mereka berdiri Profesor Gail, seorang ilmuwan yang dikenal tegas sekaligus rendah hati sedang berdiri.
"Selamat pagi," ucap Profesor Gail sambil menampilkan gambar molekul di layar. "Hari ini kita tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga bagaimana sains digunakan untuk memecahkan persoalan nyata."
Beliau berjalan perlahan di antara bangku mahasiswa.
"Ilmu pengetahuan dibangun melalui tiga hal, observasi, eksperimen, dan analisis data. Seorang ilmuwan tidak boleh langsung percaya pada dugaan. Semua hipotesis harus diuji dengan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan."
Marco mengangkat tangan. "Profesor, mengapa dua penelitian dengan tujuan yang sama bisa menghasilkan kesimpulan berbeda?"
Profesor Gail tersenyum tipis. "Pertanyaan yang bagus, Marco. Dalam sains, hasil penelitian dipengaruhi oleh metode, jumlah sampel, serta variabel yang digunakan. Karena itu, setiap penelitian harus transparan agar dapat direplikasi oleh peneliti lain. Jika hasilnya tetap konsisten, barulah teori tersebut semakin kuat."
Suasana kelas menjadi hening. Semua mahasiswa mencatat penjelasan itu dengan serius. Pena menari di atas lembaran kertas putih.
"Sebagai mahasiswa S2," lanjut Profesor Gail, "kalian bukan lagi sekadar pembaca jurnal ilmiah. Kalian adalah calon peneliti yang akan menghasilkan pengetahuan baru. Berpikirlah kritis, jangan takut mempertanyakan sesuatu, tetapi selalu gunakan data sebagai dasar setiap kesimpulan."
Marco mengangguk pelan. Baginya, kuliah pagi itu bukan sekadar materi akademik, melainkan pelajaran tentang bagaimana menjadi ilmuwan yang jujur dan bertanggung jawab.
Saat Profesor sudah selesai dengan penjelasannya. Kini Martin yang berada di samping Marco sedang melirik pria itu.
"Marco ayo jelaskan padaku, kau berhutang penjelasan?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Marco menghela napas pelan. "Sial! Kita sedang belajar Martin."
"Awas saja jika kau tidak mau menjelaskan kepadaku!"
"Cih, kau seperti seorang perempuan saja yang selalu membutuhkan penjelasan!"
"Aku ini sahabatmu!"
"Sahabat yang selalu ingin tahu!"