NovelToon NovelToon
My Husband Is A Merman

My Husband Is A Merman

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: xeynica_10

Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️

Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.

"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"

"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"

"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.

"Ace..." Merman itu bergumam pelan.

"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.

"Ace... mm ngan igi!"

"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.

"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdamai Dengannya

"Heh? Jangan harap senang dulu karena aku akan menghancurkanmu dalam sekali pijakan kakiku! Hahahahaha!" Seorang wanita tertawa jahat, namun tawanya langsung berhenti karena kupingnya dijewer oleh seseorang.

"AW! ARGH SAKIT! LEPASKAN TELINGAKU SIALAN!" Dia menjerit kesakitan.

"Hm, sudah kah kamu menyumpahinya?" Tanya orang itu dengan cuek.

"BELUM! AKU DOAK..." Perkataannya dipotong.

"BANDEL BANGET SIH!" Teriak orang itu, lalu dirinya menyeret wanita tersebut dengan kasar.

"ADUH! PELAN-PELAN DONG! JANGAN DISERET SEGALA, BISA!?"

"TIDAK BISA! KAMU PANTAS MENDAPATKANNYA! SEGERA AKU BINASAKAN DIRIMU!"

"OH, TIDAK! JANGAN!! TOLONG AMPUNI AKU!"

"Eh? Kok aku kayak mendengar teriakan?" Thienvra yang tengah berlari seketika berhenti, teriakan orang yang dikenalinya.

"Tapi siapa itu?" Pikir Thienvra.

"Sayang..." Bisik orang di belakangnya, Thienvra terdiam membisu.

"Kamu siapa, ya?" Thienvra pura-pura tidak mengenalnya.

"Sayang, ini aku, Chio!" Memegang tangannya dengan mesra.

"Oh, ya kah? Apakah kita pernah bertemu? Bertemu dimana, ya? Setahuku aku tidak mengenal siapa dirimu! Lalu panggilan manis itu, apakah kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih? Dan sebenarnya tipeku buk..." Thienvra tidak dapat menyelesaikan bicara.

"Hiks...hiks.." Pria merman itu mendadak menangis.

"Eh?" Thienvra panik.

"ARGH!" Pria merman itu menjerit kencang.

Tidak mau berurusan akhirnya Thienvra perlahan berjalan mundur, lalu berlari kembali.

"SAYANG! JANGAN KABUR DARI AKU!" Teriaknya Chio, dia bergegas lari menyusul matenya yang nakal.

Ya, mereka berdua saling kejar dan mengejar seperti sebelumnya.

***

Bruk

"Aww! Hei, santai dong, Bro!" Thienvra terjatuh ke karpet bulu, tangannya menahan dada bidangnya Chio yang semakin menempelkan tubuhnya ke dirinya.

"MINGGIR, NGGAK! AAAA! AWAS KAMU!" Thienvra berteriak keras.

"Tidak mau, Sayang!" Bibirnya Cio seolah akan mencium bibirnya, Thienvra cepat membalikkan posisinya.

Bruk

Pria merman itu terbanting dengan gerakan yang lambat, namun kepalanya terasa sakit.

"Huhuhu, sakit, Sayang! Kamu jahat sekali main kasar deh!" Chio menggerutu kesal.

"....." Thienvra menatapnya datar.

"Paan sih! Orang aku bantingnya juga pelan kok." Batinnya Thienvra.

Tatapan Chio terlihat sendu, dan menyedihkan.

"Hiks..Sayang tega sama aku hiks...huhuhu." Isakan tangis terdengar.

"Hah." Wanita itu menindih tubuhnya Chio, keduanya berpelukkan.

"Cup..cup..jangan menangis, ya? Aku minta maaf, Sayang." Thienvra berbisik tepat di dekat telinganya Chio.

Lalu kemudian Chio terbangun dari terbaringnya, kini Thienvra terduduk di pangkuannya pria merman itu.

"Tidak akan aku maafkan!" Balas Chio.

"Sayang..." Menangkup wajah tampannya Chio.

"Maafin aku, ya?" Tatapannya terkunci.

"Mmm..." Tampak pria merman itu berpikir sejenak, dahinya mengerut.

"Baiklah, aku maafkan, tapi....." Thienvra menunggu kelanjutannya.

"Cium aku!" Pintanya pria merman itu dengan manjanya.

Plak

Thienvra menepuk jidatnya, lalu menggelengkan kepala.

"Sudah tidak terduga!" Pikir Thienvra.

"Yang lain saja, ya?" Thienvra membujuknya.

"Pengen minuman buatan kamu, Sayang. Minuman yang berwarna putih itu." Chio meminta dibuatkan susu oleh matenya.

"Baik, aku akan membuatkannya untukmu." Thienvra mulai beranjak dari pangkuannya, wanita itu menarik lembut lengannya Chio.

"Mari kita ke dapur." Ajaknya wanita itu.

"....." Chio mengangguk kepala.

***

Sesampainya di dapur, Thienvra menyuruh Chio agar duduk di kursi meja makan.

"Jangan kemana-mana!" Titahnya Theinvra.

"....." Chio menatapnya dengan polos tanpa berbicara.

Selagi menunggu matenya buatkan minuman, Chio menelungkupkan wajahnya di atas meja, matanya hanya memejam saja.

"Grmm...eumm..hrmm.." Chio bergumam tidak jelas, kakinya berayun-ayun di bawah meja.

Beberapa Menit Kemudian.....

"Sayang..." Panggilnya Thienvra sembari mengusap kepalanya.

"Mm?" Chio mendongakkan kepala.

"Duduknya yang benar." Wanita itu membenarkan posisinya Chio.

"Nah, minuman untukmu." Susu diberikan ke hadapannya.

"Minumlah." Chio segera meminumnya sampai kandas tak tersisa sedikit pun.

"Astaga, dia pasti kehausan." Thienvra tersenyum geli.

Jakunnya naik-turun, Thienvra melihatnya seketika menelan ludahnya dengan kasar.

"Menggoda sekali, eh? Apa yang aku pikirkan?" Menggeleng kepala, lalu wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Huh..." Menghembuskan nafasnya.

"Sayang, ini sudah kenyang..." Thienvra bengong.

"Hah? Kok kamu disisakan minuman susunya?" Thienvra tanya.

"....." Chio tidak berikan alasan, pria merman itu meletakkan gelas yang masih ada susunya kepada dirinya.

"Minum, Sayang." Titahnya Chio, Thienvra bingung.

"Maksud kamu apa, Sayang?" Thienvta bertanya.

"Susu ini buat kamu." Chio memintanya untuk menghabiskan susu yang masih tersisa itu.

"Oh." Lalu Thienvra meminumnya.

Seketika wajah cantiknya merah padam, ia melirik sekilas Chio, lalu mengarah gelas yang sudah kosong itu.

"Ya Tuhan! Aku..." Thienvra memegang bibirnya.

"Sayang, kenapa kamu?" Mengenggam tangannya mate.

"Tidak apa-apa kok." Balas Thienvra.

"Ini aku buatkan kue kering buatmu." Wanita itu menyuapi ke mulutnya pria merman.

"Mmm, manis." Kata Chio sambil tersenyum tipis.

Giliran Chio yang menyuapi Thienvra, dikunyah segera olehnya.

"Apa ini?" Menunjuk ke benda empuk, dan ditekan-tekannya.

"Roti, mau?" Tawarnya wanita itu, Chio mengangguk.

"Mau, mau Sayang!" Seru pria merman itu.

"Nih, aaaa buka mulutmu, Sayang.." Roti dimasukkan ke dalam mulutnya Chio.

Dikunyah dengan lembut, pelan, dan penuh perasaan, tanpa tergesa-gesa. Lalu, Thienvra memakan roti tanpa disuapi Chio.

"Minum dahulu." Chio minum air minum, pria merman itu tidak protes apa pun.

"Bukannya Qierzaf sudah mengamankan Ryiemnthiuzt, ya? Tapi mengapa teriakan tadi mirip suara mereka?" Pikir Thienvra sambil menyuapkan roti kepada Chio.

"Aneh." Dahinya mengernyit.

"Sayang, sini aku suapi kamu." Mengunyahnya dalam mulut, ibu jarinya mengelus lembut pipinya matenya.

Selesai itu, keduanya Thienvra dan Chio saat ini sedang bersantai di ruang tengah. Thienvra duduk berselonjor di karpet bulu, dengan Chio yang tertidur di pahanya. Tanpa disuruh Thienvra membelai rambutnya pria merman itu, lantas Chio memejamkan matanya, dan menikmati belaian halus itu.

"Lalu siapa orang tuaku?" Thienvra bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Wanita itu penasaran dan tega sekali kedua orang tuanya menelantarkannya, pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaannya. Tak terasa akr mata menetes ke pipinya, Chio.

"Sayang? Kamu menangis?" Chio bertanya sembari menatapnya.

"Tidak, aku tak menangis." Thienvra mengelak.

"Ini aku kelilipan kok." Mengusap air matanya.

Lalu Chio bangkit dari berbaringnya, didekapnya tubuh matenya.

Grep

"Sayang, jangan menangis lagi." Lirihnya Chio.

"....." Respons Thienvra diam, tidak berkata.

Thienvra menangis lagi tanpa sepengetahuannya pria merman itu, tidak mengeluarkan suara karena dia pendam sendiri.

Sementara Chio, dirinya merasakan getaran ketika mendekap matenya, tapi tidak bertanya, dan membiarkan sang mate menangis. Chio merasakan sedih apa yang dirasa oleh matenya, hatinya terluka.

"Sayang, aku tak akan pergi dari sisimu, aku siap menjadi pelukanmu saat kamu butuh, diriku sigap selalu memberikan pelukan hanya padamu." Chio berucap.

"....." Seketika tangisannya terhenti setelah mendengar penuturan dari Chio.

"Terima kasih banyak, Sayang." Kata Thienvra.

"....." Chio mengeratkan pelukannya, diciumnya pucuk kepalanya.

1
Tio Buki
Like iklan plus komen🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya dek🙏👍👍👍
Tio Buki
Lanjut dek👍👍👍
Tio Buki
Iya aku maafin kok
Tio Buki
Kemana dia
Tio Buki
Begitulah
Tio Buki
Iya, aku memang nakal
Tio Buki
Iya, itulah dia
Tio Buki
Gimana ya..
Tio Buki
Jelaskan saja
Tio Buki
Bingung kan
Tio Buki
Bintang lima untukmu dek🙏🙏🙏👍👍👍👍👍
Tio Buki
Lanjut dek👍👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu dek, ya 🙏🙏🙏
Tio Buki
Terbuka apa ya
Tio Buki
Akhirnya
Tio Buki
Pokonya ada deh
Tio Buki
Mengancam aku ya
Tio Buki
Kenapa begitu, kenapa tidak mau
Tio Buki
Cerita yang sangat bagus, alurnya sangat rapi, sangat asik buat baca di waktu luang, pokonya aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!