NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Dua

Seperti ucapan Aruna, mereka datang mengunjungi Panti Asuhan Heaven setelah gadis kecil itu bersiap. Meski Aruna merasa heran karena beberapa kali Mia mencoba menghalanginya untuk pergi dengan berbagai macam cara.

Aneh sekali.

Saat turun dari mobilnya, Aruna di sambut oleh pemandangan yang sudah ia lihat dari foto. Senyumanya mengembang melihat kondisi bangunan sudah lebih layak untuk ditinggali ketimbang dulu yang kapanpun bisa roboh jika terkena angin kencang. Aruna berjalan memasuki pagar Panti dan melihat beberapa tanaman bunga yang tubuh subur juga cantik menghiasi taman kecil di sana. Benar-benar berubah tidak seperti dulu.

"Siapa—"

Suara yang begitu familiar terdengar di telinga Aruna, anak itu langsung berbalik dan tersenyum semakin lebar melihat ibu panti yang selalu menjaga dan melindunginya. Wanita yang sudah tidak muda lagi dengan keriput di wajahnya juga rambut yang telah berubah warna menjadi putih, berdiri tak jauh darinya dengan raut wajah bingung.

"Ibu," panggilnya pelan.

Si wanita nampak terkejut sebelum ia mengingat siapa anak yang memanggilnya dengan ibu itu.

"Aruna?"

Senyuman Aruna semakin lebar, kemudian ia mengangguk dan mendekati wanita tua itu dengan cepat. Memeluk tubuh rentanya dengan lembut seolah melampiaskan rasa rindunya.

"Ibu, aku rindu," bisiknya halus.

"Astaga, anakku. Sudah lama sekali ibu tidak melihatmu, sayang. Kau tumbuh menjadi gadis cantik juga manis. Ibu juga merindukanmu, Nak," ucap sang ibu panti haru. Ia melepas pelukannya dan menatap Aruna dengan seksama.

"Sepertinya Keluarga Adijaya benar-benar mengurusmu dengan baik, tapi kenapa kau begitu kurus, nak?"

Aruna meringis dalam hati. Tak bisa ia ucapkan secara terang-terangan semua hal yang ia alami. Tapi ia pun tak ingin membuat ibu pantinya menjadi cemas. Ia tak ingin wanita itu jatuh sakit karena mencemaskan keadaannya. Anak-anak di tempat ini masih membutuhkan sang Ibu Panti sebagai pelindung dan sandaran.

"Aku selalu sibuk belajar hingga lupa makan, bu," jawab Aruna.

Sang ibu menggeleng pelan, "Belajar boleh tapi jangan sampai lupa waktu, nak. Jangan sampai jatuh sakit," ucapnya.

"Iya bu, aku mengerti."

Wanita itu tersenyum lalu melihat ke arah Mia yang berdiri di belakang Aruna dengan setia sedari tadi.

"Temanmu?" tanya ibu panti.

"Ya, dia teman sekaligus pelayan di rumah Adijaya, bu." jawab Aruna lagi.

Mia tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya, "Saya Mia, Nyonya. Pelayan yang ditugaskan melayani semua kebutuhan Nona Aruna."

"Jangan memanggil wanita tua sepertiku Nyonya. Panggil saja aku ibu seperti lainnya, Mia," ucap ibu panti dengan senyuman hangat.

"Ah, baik bu."

"Nah, ayo masuk. Apa kalian lapar? Ibu baru saja membuat cake cokelat," kata ibu panti.

Spontan saja kedua mata Aruna berbinar dengan senyuman yang mengembang, "Kue cokelat! Aku mau, bu! Kebetulan aku juga membawa banyak cemilan untuk anak-anak yang lain!"

"Oh! Ibu, siapa yang datang?" sebuah suara menginterupsi tiba-tiba. Seorang anak lelaki dengan badan cukup tinggi dari anak seusianya itu berdiri di pintu masuk panti, menatap ibu pantinya dengan Aruna bergantian. Mungkin bingung dan heran melihat ibu panti tengah tersenyum dengan seorang anak perempuan, meski wanita tua itu memang terkenal ramah dan baik hati, sih.

Sementara Aruna mengerjap kaget melihat anak itu, tak menyangka bocah kecil yang dulu selalu mengganggu anak-anak lain itu sudah tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan. Dulu Aruna lah yang sering memarahi dan menasehatinya agar berhenti menjahili anak-anak yang lebih muda dan mengganggu ibu panti. Ngomong-ngomong, mereka seumuran, itulah mengapa Aruna bisa dengan mudah mengatur dan mengontrol anak itu.

"Altair," ucap Aruna pelan.

Anak lelaki yang di panggil Altair itu mengerutkan keningnya bingung, "Ka-kau kenal aku?"

Aruna terkekeh pelan, "Jangan bilang kau lupa padaku."

Altair sedikit menggaruk pipinya, mencoba mengingat sosok anak perempuan di hadapannya. Ia tak mengenal banyak anak perempuan seusianya karena anak-anak perempuan di panti usianya lebih muda beberapa tahun darinya. Sementara di sekolah, Altair terkenal begitu dingin terhadap anak perempuan lainnya. Lagipula ia merasa tak mengenal anak perempuan dari sebuah keluarga kaya raya sepertinya.

"Astaga, baru dua tahun dan kau sudah melupakanku? Wah, ku pikir kita punya ikatan spesial, Al!" Aruna menghela nafas dan mendramatisir ucapannya.

Untuk sejenak Altair terdiam sebelum ia mulai pelan-pelan mengingat sosok Aruna yang dulu selalu bermain bersamanya, bahkan memarahinya ketika ia nakal.

"Runa?"

Senyuman Aruna mengembang lalu melihat ke arah ibu panti yang tak bisa menahan senyumannya juga, "Ibu, lihatlah ... Bisa-bisanya Al melupakanku. Apa aku berubah sebanyak itu, bu?"

"Tentu saja. Kau berubah semakin cantik. Ibu saja awalnya tidak mengenalimu~" kekeh ibu pantinya.

Kening Aruna mengerut tak terima, "Masa ibu tidak—" ucapannya terhenti tiba-tiba saat tubuhnya di peluk begitu saja. Bahkan Aruna tak sempat bereaksi sama sekali. Anak itu hanya mengerjap merasakan tubuhnya di peluk terlampau erat tapi tidak menyesakkan. Senyuman gadis kecil itu mengembang, tangannya yang bebas menepuk-nepuk lembut punggung Altair.

"Serindu itu, heh?"

"Gadis nakal, bisa-bisanya kau tak datang sama sekali setelah di adopsi. Apa kau begitu bahagia dengan keluarga barumu hingga melupakan kami— melupakan aku," ucapnya dengan bisikan halus di akhir kalimat.

Aruna meringis dalam hati, ia dulu begitu terobsesi mendapatkan pengakuan dari keluarga Adijaya hingga melupakan segalanya termasuk ibu panti juga Altair. Namun, ia selalu merindukan mereka semua di dalam hatinya, berharap ia tak pernah di adopsi dan terus tinggal bersama mereka. Setidaknya dulu ia berencana akan datang berkunjung setelah pernikahannya, kenyataannnya ia tak bisa melakukan hal itu karena Carlo selalu mengurungnya dengan alasan ia terlalu mencintai Aruna.

Ia membalas pelukan Altair pelan, "Maafkan aku."

Ibu panti sendiri tersenyum haru melihat pertemuan kedua anaknya yang tidak terduga, bahkan Mia tak bisa memalingkan wajahnya. Selama melayani Aruna, baru kali ini ia melihat gadis kecil itu tersenyum begitu lebar dan bahagia seolah ia bukanlah Aruna yang sama. Di tempat ini, Aruna terlihat begitu hidup ketimbang di rumah majikannya yang begitu mewah.

Apa itu artinya Aruna  tidak bahagia berada di keluarga Adijaya?

"Ayo lanjutkan di dalam saja. Nanti kue buatan ibu dingin, loh," ucap sang ibu panti.

Aruna melepas pelukan Altair cepat dan menatap ibu pantinya semangat, "Ayo bu! Aku sudah tak sabar!" pekiknya lalu menatap Altair dengan senyuman lebar. Ia harus sedikit mendongak karena bocah lelaki itu terlihat begitu tinggi darinya. "Ayo, Al," ajaknya sembari mengulurkan tangan.

Altair mengerjap dan tertawa kecil sebelum menyambut tangan Aruna, "Ayo."

Tanpa terasa hari mulai menggelap dan Aruna harus segera kembali, wajahnya langsung berubah menjadi begitu murung. Ia tak ingin pergi, masih ingin tinggal lebih lama bersama ibu panti juga anak-anak lainnya. Sayangnya, ia sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Adijaya jadi ia tak bisa sebebas dulu lagi.

"Nona, sudah waktunya untuk pulang. Tuan besar pasti mencemaskan anda," ucap Mia mengingatkan.

"Aku tahu. Tapi aku tak ingin pulang," gumam Aruna pelan di akhir. Untungnya Mia tak bisa mendengar dengan jelas, sayangnya Altair menyadari itu. Ia mendekati Aruna dan duduk disebelahnya.

"Menginap saja disini dan besok baru kembali. Apa tidak bisa?" katanya.

Benar.

Kenapa ia tak bisa melakukannya? Toh, sebelum menjadi bagian dari Adijaya, ia dulu menjadi bagian dari Panti ini. Lagipula, mereka takkan memperdulikannya apakah ia pulang atau tidak.

"Oh! Ide bagus, Al!"

Altair tersenyum senang, "Ayo, aku tunjukkan kamar yang bisa kau pakai," ucapnya lalu menarik tangan Aruna pergi. Sementara Mia yang kaget belum sempat melakukan apa pun untuk mencegahnya.

"Tu-Tunggu Nona! Jika Tuan besar tahu, kita akan dalam masalah. Nona!" panggilnya sambil akan menyusul tapi ibu panti menahan tangannya lembut.

"Biarkan saja, Mia. Aruna dan Altair merupakan sahabat dekat dulu, ibu rasa Altair hanya merindukan Aruna. Soal Tuan Adijaya, biar ibu yang memberikan penjelasan padanya, ia pasti mengerti," jelasnya.

Mia tak bisa melakukan apa pun selain menyetujuinya, bukan tidak percaya tapi dengan keadaan rumah yang sedang terjadi sekarang, ia yakin akan terjadi kekacauan jika mereka mendengar kabar ini.

Semoga saja pikirannya salah.

***

Di kediaman Adijaya.

"Dimana Aruna?" tanya Elvio. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya makan malam.

Sammy terdiam sejenak, sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.

Menyadari kediaman Sammy, membuat Elvio mendongak menatap pria itu dengan sebelah alisnya yang naik, "Ada apa? Dimana Aruna, Sammy?"

Pria tua itu menghela nafas pelan, "Nona Aruna berada di Panti Asuhan Heaven saat ini, Tuan."

Gerakan tangan Elvio yang sedang menulis sesuatu itu terhenti sejenak, ia kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Sammy dengan tatapan tak terbaca.

"Apa maksudmu?"

"Ibu panti baru saja menghubungi dan mengatakan Nona berada di sana saat ini, Nona juga akan menginap sampai—"

Brak!

"Menginap?! Apa dia tak punya rumah?! Bawa Aruna kembali!" titahnya dengan marah. Tapi Sammy tidak bergerak dan membuat Elvio menatapnya tajam.

"Sammy! Aku bilang bawa anakku kembali!"

"Tuan, tidakkah menurut anda dengan memaksa Nona pulang saat ini hubungan baik yang sedang anda bangun bersama Nona akan semakin rusak? Nona belum mempercayai anda bahkan sampai sekarang masih terang-terangan menghindari anda. Saya takut jika anda memaksanya kembali, Nona akan semakin membenci anda, Tuan."

Ucapan Sammy menjadi tamparan keras untuk Elvio, ia langsung terdiam kaku tak bisa mengatakan apa pun. Apalagi mendengar fakta bahwa Aruna mungkin saja akan semakin membencinya kelak. Ia tak mau itu terjadi. Ia ingin merubah hubungannya dengan Aruna menjadi hubungan ayah dan anak yang selayaknya. Merasa begitu menyesal karena menelantarkan Aruna selama dua tahun karena keegoisannya sendiri.

"Aku mengerti. Kalau begitu, kita akan menjemputnya besok pagi. Katakan pada Mia untuk memastikan Aruna tidak kedinginan. Ia belum sembuh benar," kata Elvio pelan dan kembali terduduk di kursi kerjanya dengan lemas.

"Baik, Tuan," jawab Sammy dengan senyuman lega. Entah ini hanya perasaannya saja, tapi Elvio berubah menjadi sedikit lebih lunak jika itu tentang Aruna.

"Sammy, apa menurutmu Aruna ingin kembali pulang ke sana? Apa rumah ini begitu tidak nyaman untuknya?"

Sammy menggeleng pelan, "Maaf Tuan, saya pun tidak tahu. Saya hanya berharap anda bisa lebih baik memperlakukan Nona Aruna. Biar bagaimanapun, Ia hanyalah anak berusia 10 tahun yang masih membutuhkan kasih sayang orang dewasa."

Elvio tersenyum getir, "Kau benar. Jikalau Aruna tidak nyaman di rumah ini, itu mungkin karena kesalahanku. Jadi, bukankah wajar jika ia ingin kembali pulang ke sana? Tapi, aku tak ingin melepaskan anak itu. Aku ingin melihatnya tersenyum lebar seperti hari disaat aku bertemu dengannya pertama kali. Senyuman bahagia yang membuatku bisa melupakan kesedihanku karena kepergian sibungsu. Aku ingin Aruna melihatku dengan senyuman itu lagi, Sammy. Apa aku egois?"

"Saya pikir anda tidak egois, Tuan. Hanya saja cara anda memperlakukan Nona salah sehingga membuat Nona tidak dapat tersenyum seperti yang anda inginkan. Saya akan membantu anda mewujudkan keinginan anda, Tuan."

Kekehan Elvio terdengar lagi, "Terima kasih, Sam."

Elvio paham dan mengerti, ia akan berusaha lebih kuat lagi untuk merubah pandangan Aruna tentangnya. Ia ingin anak itu kembali seperti dulu lagi, maka Elvio memutuskan untuk berubah juga. Menjadi sosok ayah yang diinginkan Aruna selama ini.

Belum ada kata terlambat. Iya, kan?

Semoga.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!