NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - Foolish Heart

Sore hari akhirnya tiba.

Jam kerja sudah hampir berakhir.

Aku juga sudah sedikit melupakan apa yang aku katakan tadi pagi.

Setidaknya sampai Salsa kembali mengingatkanku.

"Nay... kamu serius pengen cerai?" tanya Salsa tiba-tiba.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

"Tadi pagi aku cuma berandai-andai, Mbak." Aku menghela napas. "Kan masa depan nggak ada yang tahu. Kehidupan rumah tangga yang dari luar kelihatannya baik-baik aja bisa tiba-tiba cerai. Padahal mereka nikah karena cinta."

Aku berhenti sejenak.

"Apalagi aku yang nikah bukan karena cinta."

"Tapi Allah sangat membenci perceraian, Nay." ucap Salsa pelan.

"Iya, aku tahu."

Aku menunduk sebentar.

"Aku bukan benar-benar pengen cerai. Aku cuma berandai-andai aja kalau suatu hari aku udah nggak kuat menjalani pernikahanku."

Salsa terdiam beberapa detik.

"Aku waktu awal-awal nikah juga berat, Nay."

Aku menatapnya.

"Tapi aku selalu ingat apa yang mendasariku menikah. Aku juga ingat perjuanganku dan suamiku sampai bisa ada di titik itu."

Aku mendengarkan tanpa menyela.

"Rasa nggak kuat pasti ada." lanjut Salsa. "Semua orang juga pernah ngerasain. Tinggal gimana kita menyikapinya aja."

Aku tersenyum tipis.

"Mbak dan suami kan nikah karena cinta." ucapku pelan. "Lha aku?"

Salsa hanya diam.

"Aku juga nggak yakin akan ada cinta di antara aku dan Javier."

"Jangan pesimis gitu."

Aku mengernyit.

"Allah itu Maha Membolak-balikkan hati." ucap Salsa. "Dan nanti tergantung kamu. Mau menerima cinta itu atau nggak."

Aku terdiam.

Menerima cinta?

Entahlah.

Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.

Aku tidak tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang.

Tidak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang.

Dan tidak tahu bagaimana rasanya ingin menghabiskan hidup bersama seseorang.

Lalu bagaimana aku bisa menerima sesuatu yang bahkan belum pernah aku rasakan?

Setelah itu aku dan Salsa sama-sama terdiam.

Kami kembali menyelesaikan pekerjaan kami masing-masing.

Tak lama kemudian jam kerja berakhir.

Aku merapikan mejaku lalu berpamitan dengan rekan kerjaku.

Setelah keluar dari bank, aku langsung memesan ojek online.

Hari ini aku harus pulang ke rumah orang tuaku.

Aku harus mengambil motorku.

Sore itu cuaca cerah.

Burung-burung terlihat berterbangan di langit sementara kendaraan lalu-lalang memenuhi jalan.

Begitu sampai di depan rumah orang tuaku, aku membayar ojek online lalu berjalan menuju teras.

Saat kakiku baru menginjak teras, pintu rumah tiba-tiba terbuka.

Ibu keluar.

"Naya..."

Aku langsung menghampiri beliau lalu mencium tangannya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." Ibu tersenyum. "Kamu sendirian? Mana Javier?"

"Di rumah makan lah." Aku tertawa kecil. "Ini aku dari bank langsung ke sini. Mau ambil motor."

"Oh..."

Ibu mengangguk pelan.

"Ya udah, ayo masuk."

Aku dan Ibu pun masuk ke dalam rumah.

"Ayah... ada Naya." panggil Ibu.

Tak lama kemudian Ayah muncul dari ruang tengah.

"Kamu pulang, Nay?" tanya Ayah.

"Iya. Aku mau ambil motor. Biar kalau mau ke mana-mana nggak perlu pakai ojek lagi."

"Kenapa harus pakai ojek?" tanya Ayah. "Kan ada Javier."

Aku langsung menghela napas.

"Dia kan sibuk di rumah makan. Nggak mungkin bisa anter-jemput aku terus."

"Lagian," lanjutku, "Ayah sendiri yang ngajarin aku buat mandiri. Buat apa-apa sendiri. Jadi kenapa sekarang malah nyuruh aku bergantung sama orang lain?"

Ayah terdiam sesaat.

"Iya, tapi sekarang kamu udah punya suami."

"Suami itu tugasnya memimpin keluarga, bukan jadi sopir pribadi."

Ibu langsung menoleh ke arah Ayah.

"Nah kan." Ibu menunjuk Ayah. "Ini gara-gara Ayah terlalu ngajarin Naya mandiri."

"Ayah cuma nggak mau Naya bergantung sama orang lain."

"Berarti yang aku lakuin benar dong?" tanyaku cepat.

Ayah menghela napas panjang.

"Iya."

Aku langsung tersenyum puas.

"Tapi sekarang kamu udah nikah." lanjut Ayah. "Sesekali minta bantuan suami nggak apa-apa."

"Nggak ah."

"Kenapa?"

"Nanti jadi kebiasaan."

Ayah dan Ibu langsung saling berpandangan.

Sementara aku hanya tersenyum santai.

"Udah ah." Aku berdiri. "Aku mau salat dulu. Belum salat nih."

Aku pun langsung menuju kamar untuk meletakkan tas.

Setelah itu aku mengambil wudhu lalu melaksanakan salat.

Begitu selesai salat, aku memutuskan untuk langsung pulang.

Aku keluar dari kamar lalu menghampiri Ayah yang sedang duduk di ruang tengah.

"Ayah, aku pergi dulu."

Aku mencium tangan Ayah.

"Iya." Ayah mengangguk. "Motornya udah Ayah keluarin."

"Makasih, Yah."

Ayah tersenyum kecil.

Aku kemudian menuju ruang makan.

Di sana Ibu sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam rantang.

"Ibu, aku pergi dulu."

"Bawa ini, Nay." Ibu mengangkat rantang itu. "Biar kamu nggak usah masak buat makan malam."

Aku tersenyum.

"Iya."

Sambil menunggu Ibu menyelesaikan pekerjaannya, aku mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan kepada Javier.

[ Kamu nggak usah bawa makanan. Aku udah bawa makanan dari rumah orang tuaku. ]

Tak lama kemudian rantang itu sudah terisi penuh.

Ibu menyerahkannya kepadaku.

Kami bertiga lalu berjalan keluar rumah.

"Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." jawab Ayah dan Ibu bersamaan.

Aku tersenyum lalu mengenakan helm.

Beberapa detik kemudian motorku melaju meninggalkan rumah yang sudah kutinggali selama bertahun-tahun itu.

Malam harinya, setelah makan malam dengan makanan yang dibawakan Ibu, aku kembali menonton drama seperti biasa.

Aku sendirian.

Dan sekarang aku mulai terbiasa dengan jam-jam awal malam yang sepi seperti ini.

Satu jam kemudian terdengar suara mobil memasuki carport.

Tak lama setelah itu pintu rumah terbuka.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Aku hanya menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

Javier langsung masuk ke kamar lalu menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian ia keluar dengan kaus dan celana santai lalu duduk di sampingku.

"Lho? Ini bukan drama yang kemarin."

"Ya kan aku nggak cuma nonton satu drama." ucapku. "Aku nonton banyak drama."

"Pantes."

"Pantes apanya?"

"Pantes kamu bisa bahasa Korea."

Aku tersenyum kecil.

"Ya iya lah."

"Ternyata belajarnya dari banyak drama."

"Kalau nggak gitu aku nggak bakal bisa bahasa Korea."

Javier tertawa kecil.

"Kenapa sih kamu sampai mau belajar bahasa Korea?"

"Ya biar ngerti kalau aktornya ngomong."

"Kan ada subtitle."

Aku langsung menggeleng.

"Baca subtitle itu nggak enak tahu. Kadang tulisannya cepet banget. Kita harus baca sambil lihat adegan. Jadi lebih enak kalau ngerti bahasanya."

Javier mengangguk pelan.

"Jangan-jangan kamu belajar bahasa Korea bukan buat gaya-gayaan. Tapi biar bisa nonton drama tanpa subtitle."

Aku langsung menoleh, terkejut.

"Eh? Kok kamu tahu?"

"Kamu sendiri yang kasih petunjuk."

Aku mengernyit.

"Tadi kamu bilang baca subtitle nggak enak. Jadi aku nyimpulin begitu."

Aku tersenyum.

"Ah... tapi kesimpulanmu benar sih."

"Tuh kan."

"Itu memang salah satu impianku."

Javier tertawa kecil.

"Kamu emang beda."

Aku tersenyum puas lalu kembali fokus ke televisi.

Beberapa saat kemudian tokoh utama laki-laki di drama itu menyatakan perasaannya.

Lalu...

Mencium tokoh utama wanita.

Aku langsung membeku.

Ya ampun.

Kenapa harus disaat sekarang?

Dan kenapa harus saat aku sedang menonton bersama Javier?

Aku hanya bisa menatap televisi tanpa berani menoleh ke samping.

Rasanya canggung sekali.

Akhirnya aku memilih menghindar.

Aku langsung berdiri.

"Kamu mau ke mana?" tanya Javier.

"Ke dapur."

"Ngapain?"

"Ambil minum."

Tanpa menunggu responsnya aku langsung berjalan menuju dapur.

Aku membuka kabinet gantung lalu mengambil gelas.

Namun entah karena terburu-buru atau karena pikiranku sedang tidak fokus, gelas itu terlepas dari tanganku.

Prang!

Gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping.

Aku langsung terkejut.

"Ya ampun..."

Suara Javier terdengar dari belakang.

Sebelum sempat bereaksi, tiba-tiba tubuhku terangkat.

Aku membelalak.

Javier menggendongku.

"Mas..."

Javier tidak menjawab.

Ia langsung membawaku ke kursi ruang makan lalu mendudukkanku di sana.

"Biar aku yang bereskan."

Aku hanya bisa diam.

Masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tak lama kemudian pecahan kaca itu sudah bersih.

Javier kembali mendekat lalu berjongkok di depanku.

"Kakimu nggak kena kan?"

Sebelum aku menjawab, ia sudah lebih dulu memeriksa kakiku.

Aku hanya bisa menatapnya.

"Nggak ada yang luka."

Setelah memastikan kakiku aman, Javier kembali duduk di sampingku.

Kali ini ia memegang kedua tanganku dan memeriksanya satu per satu.

"Syukurlah."

Aku langsung menarik tanganku.

"Mas, tolong jangan kayak gini."

Javier terlihat salah tingkah.

"Maaf. Aku cuma khawatir. Jadinya tanpa sadar pegang-pegang kamu."

"Bukan itu maksudku."

"Hah?"

Aku menghela napas panjang.

"Bukan karena kamu pegang aku."

"Lalu?"

"Tingkah kamu."

Javier tampak bingung.

"Kenapa memangnya?"

"Mas, aku ini bukan benar-benar istrimu."

Aku menatapnya.

"Kita ini cuma dua orang yang kebetulan dijodohkan. Bukan dua orang yang saling jatuh cinta lalu menikah."

Javier terdiam.

"Jadi tolong jangan berlebihan."

"Berlebihan?"

"Iya."

Aku menunduk.

"Karena itu bikin aku bingung."

"Aku cuma melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."

Aku langsung tertawa kecil.

Tawa yang terasa pahit.

"Yang seharusnya kamu lakukan?"

"Iya."

"Mas..." Aku menatapnya. "Kamu bahkan bukan benar-benar suamiku."

"Aku cuma melakukan itu karena kemanusiaan."

Entah kenapa kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

Kemanusiaan.

Jadi hanya itu.

Aku menghela napas pelan.

"Mas, tolong jangan kayak gini lagi."

"Nay..."

"Jangan terlalu perhatian."

Aku menunduk.

"Jangan terlalu baik sama aku."

"Kenapa?"

Karena aku takut.

Tapi kalimat itu tidak keluar.

"Nanti aku bisa..."

Aku menggigit bibir bawahku.

"Bisa apa?" tanya Javier pelan.

Aku menggeleng.

"Lupakan."

"Naya."

"Pokoknya jangan kayak tadi lagi."

Aku menarik napas panjang.

"Kalau bukan keadaan darurat, kamu nggak usah bantu aku."

"Nay..."

"Aku nggak mau berharap, Mas."

Untuk pertama kalinya aku mengatakannya dengan jujur.

"Aku lebih baik sendiri."

Aku menunduk.

"Lebih baik nggak menikah selamanya daripada harus terluka."

"Nay, aku..."

"Cukup, Mas."

Aku mengangkat kepala.

"Jangan bikin aku berharap kalau pada akhirnya kamu nggak akan pernah cinta sama aku."

Javier langsung terdiam.

Aku pun berdiri.

Aku ingin pergi.

Ingin mengakhiri pembicaraan yang membuat dadaku semakin sesak.

Namun tiba-tiba Javier menahan tanganku.

Aku menoleh.

"Kalau aku bisa cinta sama kamu gimana?"

Aku membeku.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu aku menggeleng.

"Nggak mungkin."

Aku melepaskan tanganku lalu berjalan cepat menuju kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.

Jantungku berdetak tidak karuan.

Kalau dia bisa cinta sama kamu katanya?

Aku memejamkan mata.

Tidak mungkin.

Tidak akan pernah mungkin.

Karena kalau memang bisa, Javier tidak akan mengatakan bahwa semua itu hanya karena kemanusiaan.

Aku menarik selimut hingga menutupi dadaku.

Tidak.

Tidak akan pernah ada cinta di antara kami.

Tidak akan pernah.

1
Mamah Dini11
ini pemeran si nay kenapa di oon kan thor. gk di saring lgi tuh mulutnya, kan dia. itu perpendidikan kerja di bang , masa gk tau tatak rama sedikit pun , jadi sebel dehhh , sering nonton drakor juga gk segitunya kali .
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!