NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

"Kamu...!?"

Suara Ranu terdengar pelan, tetapi cukup membuat seluruh ruangan sekretaris menoleh.

Galuh berdiri membeku.

Map berisi berkas di tangannya hampir saja terjatuh.

"Pak... Ranu?"

Keduanya saling menatap tanpa berkedip.

"Selamat pagi, Pak Direktur. Ini sekretaris baru Bapak. Namanya Galuh Putri. Baru masuk minggu lalu."

Ranu masih menatap wanita itu.

"Masuk ke ruangan saya."

Galuh mengangguk pelan.

"Iya, Pak."

Suasana kantor mendadak sunyi.

Beberapa karyawan saling pandang.

"Aneh ya."

"Pak Direktur kok kenal sekretaris barunya?"

"Entahlah."

Galuh mengikuti langkah Ranu menuju ruang direktur.

Begitu pintu tertutup, Ranu langsung berdiri menghadap jendela.

Galuh memilih berdiri di dekat pintu.

Tidak ada yang berbicara.

Ruangan terasa begitu sunyi.

Akhirnya Ranu membuka suara.

"Kenapa kamu bekerja di sini?"

Galuh menarik napas panjang.

"Saya sudah diterima jauh sebelum kejadian itu."

"Kejadian itu?"

Galuh tersenyum pahit.

"Malam saat kita... menikah."

Ranu memejamkan mata.

"Lalu kenapa kamu tidak pernah bilang?"

"Saya juga baru tahu Bapak adalah Direktur Global Sentosa CV."

Ranu membalikkan badan.

Tatapannya tetap dingin.

"Dengarkan saya baik-baik."

Galuh mengangguk.

"Apa yang terjadi di desa itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."

"Saya mengerti."

"Di kantor ini saya atasan."

"Iya."

"Di luar kantor..."

Ranu menghentikan ucapannya.

Galuh menunggu.

"Kita hanya menjalankan kewajiban seperlunya."

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menggores perlahan.

Galuh menunduk.

"Saya paham."

"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu kalau kita sudah menikah."

"Saya juga berpikir begitu."

"Bagus."

Galuh tersenyum tipis.

"Saya tidak akan mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan."

Ranu mengangguk.

"Kamu boleh keluar."

Galuh melangkah menuju pintu.

Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Ranu kembali terdengar.

"Galuh."

"Iya, Pak?"

"Kerjakan tugasmu dengan baik."

Galuh mengangguk.

"Saya akan berusaha."

Ia keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, senyum tipis di wajahnya menghilang. Dadanya terasa perih.

"Jadi... hanya sebatas itu."

Ia tertawa pelan.

"Memang seharusnya begitu."

Namun tetap saja terasa nyeri. Seolah pernikahan mereka tidak pernah memiliki arti.

****

Hari pertama bekerja bersama Ranu benar-benar menguras tenaga seluruh kantor. Baru pukul delapan pagi, suara Ranu sudah terdengar dari ruang rapat.

"Siapa yang membuat laporan ini?"

Seluruh staf saling pandang. Seorang supervisor berdiri perlahan.

"Saya, Pak."

Ranu meletakkan map di atas meja dengan keras.

"Angka bulan lalu tidak sinkron."

Supervisor langsung gugup.

"Mungkin salah cetak..."

"Mungkin?"

Ranu menatap tajam.

"Saya tidak menerima kata mungkin."

Ruangan langsung hening.

"Laporan ini ulang."

"Baik, Pak."

"Lima belas menit."

"Lima belas menit?"

"Iya."

Supervisor hampir menangis. Begitu rapat selesai, seluruh staf langsung mengembuskan napas panjang.

"Ya ampun..."

"Bos baru ini serem."

"Monster berkulit manusia."

"Ssst..."

"Nanti dengar."

"Kalau aku bilang sih kulkas berjalan."

"Iya."

"Wajahnya dingin terus."

"Kalau melotot rasanya mau pingsan."

Galuh yang sedang menyusun dokumen hanya menggeleng.

"Ih... kalian."

"Mbak Galuh."

"Apa?"

"Gimana rasanya jadi sekretaris monster?"

Galuh menghela napas.

"Jangan tanya," katanya. "Tiap lima menit dipanggil."

"Waahh..."

"Tiap sepuluh menit revisi," sambung Galuh lagi. "Aku juga hampir ikut menangis."

Semua tertawa pelan. Tepat saat itu interkom berbunyi.

"Galuh."

"Iya, Pak."

"Masuk."

Galuh memejamkan mata.

"Nah kan..."

Seorang staf berbisik. "Semoga selamat."

Galuh masuk membawa buku catatan.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

"Surat kerja sama ini."

"Iya."

"Margin kiri berapa?"

"Tiga sentimeter."

"Ini?"

Galuh melihat dokumen.

"Dua koma lima."

"Kenapa?"

"Saya..."

"Saya tidak suka pekerjaan asal."

"Saya minta maaf."

"Perbaiki."

"Baik."

Belum sempat keluar, Ranu kembali memanggil.

"Galuh."

"Iya?"

"Kopi saya dingin."

Galuh menatap cangkir.

"Tapi baru saya buat lima menit lalu."

"Saya bilang dingin."

"Iya, Pak."

Galuh membawa cangkir itu keluar. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengembuskan napas.

"Dingin dari mana?"

Ia mengomel pelan.

"Air mendidih juga kalau masuk ruangan Bapak bisa ikut jadi es."

Seorang staf tertawa. "Mbak ngomong apa?"

"Enggak."

"Hati-hati."

"Nanti kulkas berjalan dengar."

Galuh mendengus pelan.

"Iya... iya..."

***

Tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan yang signifikan. Ranu tetap perfeksionis. Semua harus sesuai SOP. Semua harus tepat waktu. Semua harus rapi. Semua harus sempurna. Akibatnya seluruh kantor bekerja dengan penuh tekanan.

"Galuh."

"Iya, Pak."

"Agenda saya."

"Sudah."

"Pulpen."

"Ini."

"Laptop."

"Sudah menyala."

"Kenapa jadwal rapat mundur tiga menit?"

"Karena tamunya terlambat datang."

"Tetap tidak boleh."

Galuh hanya mengangguk.

"Iya, Pak."

Begitu keluar ruangan, ia langsung mengusap dahinya.

"Ya Allah..."

Seorang staf menghampiri. "Masih dimarahi?"

Galuh mengangguk. "Kalau bos nikah sama pekerjaan mungkin dia bahagia."

"Mbak."

"Hah?"

"Jangan keras-keras."

Galuh langsung menutup mulut. "Iya."

Dalam hati ia terus menggerutu.

"Orang ini memang susah sekali."

"Tarik napas salah."

"Buang napas juga salah."

****

Siang itu telepon Galuh berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar. Bu Guru TK Arkan. Galuh langsung mengangkat.

"Halo, Bu."

"Bu Galuh, bisa datang sekarang?"

"Memang ada apa?"

"Arkan bertengkar dengan teman."

Wajah Galuh langsung berubah.

"Kenapa?"

"Ibu ke sini saja. Ini masalah penting. Arkan berkelahi."

Jantung Galuh berdegup cepat. "Apa!?" pekiknya. "Saya segera ke sana."

Ia langsung masuk ke ruang Ranu.

"Pak."

"Ada apa?"

"Maaf, saya izin."

"Alasan."

"Anak saya."

Ranu tetap membaca berkas.

"Kenapa?"

"Saya dipanggil gurunya."

Ranu tidak mengangkat kepala. "Kenapa kamu? Apa tidak ada kakek neneknya? Kau sedang bekerja di sini!"

Galuh memejamkan matanya, menahan gejolak di dada. "Pak, saya keluar di jam makan siang. Tidak akan menganggu pekerjaan."

"Silakan kalau begitu. Balik tepat waktu."

"Terima kasih, Pak."

Galuh langsung berlari keluar. Ia bahkan lupa mengganti sepatu hak tinggi yang sejak pagi membuat kakinya sakit. Ranu mendengar langkah tergesa itu. Namun ia kembali fokus pada pekerjaannya.

****

"Makan siang saja, Pak?" tanya Supardi supirnya.

"Iya."

Mobil mulai berjalan. Supardi tiba-tiba berkata pelan.

"Kasihan juga Mbak Galuh."

Ranu tetap menatap ke depan. "Kenapa?"

"Tadi saya lihat beliau lari sampai keluar gerbang."

"Lalu?"

"Sepatunya patah."

Ranu menoleh.

"Patah?"

"Iya."

"Beliau tetap lari sambil membawa sepatunya." Supardi tersenyum kecil. "Kelihatannya khawatir sekali sama Arkan."

Ranu kembali diam. Entah kenapa bayangan Arkan yang memanggilnya Ayah muncul lagi. Lalu teringat wajah Galuh yang berlari tergesa. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman.

Aneh.

Ia sendiri tidak mengerti perasaan itu. Mobil terus melaju.

"Kita mau ke resto mana, Pak?"

Ranu terdiam cukup lama. Lalu berkata pelan.

"Belok."

Supardi menoleh.

"Pak?"

"Ke sekolah Arkan."

Supardi tersenyum kecil.

"Baik, Pak."

Mobil segera berbelok menuju taman kanak-kanak tempat Arkan bersekolah. Sesampainya di sana...

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!