Lestari, adalah murid jurusan sastra tingkat pertama yang pendiam dan tertutup, ia menjalani hari-harinya tanpa pernah berniat menjadi pusat perhatian. Bersama dua sahabatnya, Indah dan Puspa, ia lebih nyaman menghabiskan waktu dengan aktifitas sama yang berulang dan terkesan monoton. walau demikian di jurusan sastra, lestari terkenal sebagai murid yang selalu ikut lomba sastra.
Berbeda dengannya, Galang merupakan murid IPS tingkat pertama yang ceria, aktif, dan terkenal hampir seluruh murid di SMA BlueSky. Galang juga aktif ikut lomba seputar jurusan, menggambar dan matematika
Pertemuan pertama bagi galang adalah ketika ia menyaksikan lestari diatas panggung, di pesta pengenalan murid baru.
walau awalnya lestari terkesan sulit didekati, namun perlahan hubungan mereka mulai menjadi dekat. Saat galang datang ke smp tempat dulu di bersekolah, atas permintaan gurunya dulu
galang malah kecelakaan dan hilang ingatan sementara. seperti apa hubungan cinta di antara mereka setelahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourclvl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalanan menuju villa
"tidak perlu larut pada masa lalu. Sekarang bersiaplah kau dan juga om raka. Kita harus segera bersiap untuk ke villa" perintahnya
"baik tuan muda" jawab arkan, raka, dan teguh, serentak.
Galang mengemas beberapa koper. Sedangkan teguh, masing- masing mengemas satu tas. Begitu merasa sudah siap, mereka pun bersiap turun. Tapi sebelum itu, galang memerintahkan arkan untuk pergi setelah se kelompok orang di bawah pergi dulu.
Begitu di bawah, saat memasukkan koper ke dalam mobil. Galang menyadari bahwa ia masih di perhatikan. Dan ia pun memberi kode mata pada raka untuk membantunya mengendalikan situasi.
"tuan muda, kita akan ke VILLA itu berapa lama?" tanya raka yang sengaja menekankan kata villa dengan suara yang agak lebih kuat.
"entahlah aku ingin BERSANTAI mumpung, ini sedang LIBUR SEKOLAH juga" jawab galang tersenyum, sambil menekan kan beberapa kata. dengan nada yang sedikit tinggi, agar dapat didengar oleh sekelompok orang itu.
galang, raka dan teguh pun melajukan mobilnya.
"boss dia ingin pergi ke villa" lapor salah satu dari kelompok itu. Sepertinya melapor pada orang yang memberikannya misi itu.
"ngapain aja disana dia? Apa dia bilang mau ngurus sesuatu?" tanya sang tuan di seberang
"tidak ada boss. Apakah kami perlu membuntutinya?" tanya orang yang melapor itu
"barang apa yang dia bawa? Pakaiannya seperti apa? Apakah rapi?" tanya sang boss
"tidak ada yang istimewa dari apa yang dia bawa boss. Mereka cuman mengemas baju- baju seperti orang yang akan berlibur, saat kami mengintainya tadi. Sayangnya kami tidak bisa mendengar apa yang dia katakan, tapi dari gerak- geriknya tidak ada yang aneh boss. Untuk pakaiannya pakaian santai, khas seperti orang yang benar- benar ingin berlibur. Bawahannya juga tidak memakai jas, biasanya si raka itu kan memakai pakaian ajudan" jelas orang itu panjang lebar
"tidak perlu dibuntuti. Sepertinya dia memang ingin berlibur. Kalian semua kembalilah kemari dan berjagalah di sisi arsen" jawab sang boss, suaranya terdengar seperti orang berusia 50 an tahun.
"benar paman besar ternyata" cicit galang.
Ternyata ia menyiapkan alat penyadap di sekitar kelompok yang sedang berjaga itu
"kapan anda meletakkan alat penyadap itu, tuan muda?" tanya raka, yang masih sambil menyetir, serta teguh yang berada samping kursi kemudi.
Galang duduk di kursi belakang, sambil memegang tab ditangannya.
"saat bertarung dengannya tadi. Oh ya paman raka, setelah keluar dari kota ini, segeralah menuju showroom " jawab galang, yang masih melihat sesuatu di tapnya
"baik tuan muda" lalu raka pun melajukan mobil itu, menembus keramaian kota jakarta.
Dan seperti ucapan tuannya tadi, begitu keluar dari kota tersebut. Raka langsung melipir ke showroom rahasia.
Setelah berganti mobil yang sudah di modifikasi itu, mereka pun melanjutkan perjalanan sampe ke villa.
"tuan, apa saya boleh bertanya?"
"tanyakan saja teguh" jawab galang santai, sambil matanya tetap terpejam
"kenapa kita harus berganti mobil, memang mobil yang tadi kenapa?"
"muridmu yang kali ini cukup banyak bicara juga ya paman haha.. Karena mobil yang kita kendarai ini adalah mobil yang sudah di modifikasi sebagai mobil anti peluru. Sebagai antisipasi saja, siapa tau paman besar ingin mengejar ke villa. Lagi pula, bukan kah mobil ini lebih nyaman dan luas dari yang sebelumnya?" ujar galang, menjawab pertanyaa teguh sambil tersenyum, walau matanya masih terpejam. Dan dia tetap pada posisinya yaitu menyender ke belakang.
"eh bocah, apa kamu udah puas? Tidur saja, dari pada terus bertanya. Nanti yang ada, seluruh hal membingungkan sepanjang perjalanan akan kamu tanyakan pada tuan muda" gurau raka
"oh, boleh kah tuan muda?" tanya teguh antusias
"jika bukan masalah besar dan paman raka mengetahuinya, tanyakan saja padanya, teguh. Jangan takut, selama dia bekerja denganku. Dia tidak pernah membunuh orang hanya karna di beri banyak pertanyaan" jawab galang, lalu ia terkekeh
"baik tuan muda!! Terimakasih"
"kenapa kamu malah berterimakasih pada tuan muda? bukannya padaku? Kan aku yang akan menjawab rasa ingin tau mu" tanya raka jengkel, sambil ia tetap fokus menyetir.
"karena tuan muda adalah orang paling berkuasa di mobil ini"
SKAKMAT
raka terdiam. Ia tidak bisa membantahnya. Karena itu adalah kalimat mutlak. Dan memang benar, tuan muda adalah orang paling berkuasa di mobil itu. Raka pun memilih untuk diam.
"oh ya tuan muda. Setauku di bengkel itu tidak ada teknisi yang bisa mengubah mobil total seperti mobil ini. Apa tuan muda mendatangkan orang hebat baru, yang belum saya kenal?" tanya raka mencoba mengalihkan percakapannya dari teguh
"aku yang memodifikasi mobil ini, disaat waktu senggang" jawabnya santai
"HAH?! ANDA SENDIRI YANG MELAKUKANNYA TUAN MUDA??!!" teriak raka dan tiba- tiba ia menghentikan mobilnya. Seperti sedang melihat hantu di siang bolong.
karena ulah raka, galang pun terbangun. Hampir saja ia terpental kedepan jika saja ia tidak memakai sabui pengaman.
"biasa saja paman. Lanjutkan lah perjalanannya"
"baik tuan muda.. Tapi apa saya boleh bertanya lagi"
"emm ada apa?"
"butuh berapa lama untuk menyelesaikannya?"
"sekitar 3 bulan"
"kalau begitu bukankah saat itu tuan muda belum hilang ingatan? Bagaimana anda mengingatnya?"
"ada teknisi disini yang memberitahuku saat memeriksa, ternyata tanpa sadar aku bisa melanjutkannya sampe selesai" jawab galang
Raka dan teguh yang mendengarnya pun hanya ber oh ria.
"tuan muda sangat hebat ya..." puji teguh, dengan mata berbinar.
"banyak hal hebat dari tuan muda yang belum kau ketahui, bocah" ledek raka pada teguh
"coba ceritakan paman!!"
raka pun melirik galang dari kaca sepian depan yang berada di tengah itu. Sejujurnya galang tidak terlalu suka di puji atau di sanjung begini. Tapi karena teguh masih keci, menurutnya. Tidak masalah sepertinya jika memberitahunya.
Galang pun hanya berdehem sebagai jawaban, untuk menyetujui permintaan dua orang di hadapannya ini.
"haha tuan muda sudah setuju, cil" senang raka
"cil? Apa maksudnya paman?" tanya teguh, dengan polosnya
"maksudnya bocil. Kata lain dari bocah" jelas galang, sambil matanya tetap terpejam
"saya kira tuan muda bersiap untuk tidur karena sedari tadi anda memejamkan mata" ujar raka, sambil memandang galang dari spion depan yang mengarah tepat ke galang.
"memejamkan mata, tidak selamanya berarti tertidur, atau bersiap tidur, paman. Aku memejamkan mata, karena ini cukup menyenangkan. Anggap saja sebagai refleksi diri sambil mendengar suara yang ada di sekitar. Ini cukup nyaman paman" jelas galang kemudian
"paman guru, berhentilah mengganggu tuan muda yang ingin berdiam diri. Jadi ayo ceritakan tentang tuan muda padaku" ujar teguh antusias
"oke dengarkan baik- bail ya bocah"