Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Jatuh
Bintang tertawa sambil mendengus, “Percobaan Pembunuhan? Itu tuduhan yang tanpa dasar ya Pak! Apa buktinya?!”
“Kesaksian mereka sudah cukup.” Sahut Rangga.
“Mereka itu pelakunya Pak! Tidak ada siapa pun yang dapat membuktikan kalau saya terlibat! Mereka bisa saja bersekongkol untuk menjatuhkan saya! Saya ini atasan mereka, mereka bisa saja kesal dengan perintah yang pernah menyakiti mereka. Jadi kalau bapak melibatkan saya, hal itu tidak valid!!” seru Bintang.
“Kalau begitu, harus ada bukti tambahan kan?”
Rangga langsung menghembuskan nafas penuh kelegaan mendengar suara yang tiba-tiba muncul.
Denny sudah datang.
Bersama Aqila sang Audit Internal yang kini petantang-petenteng memasuki Ruangan Meeting HRD sambil mengunyah Bobbanya.
"Eh, pas banget kuntilanak merah lagi di sini," seru Aqila lempeng tanpa dosa begitu melihat Bintang. Ia berjalan melewati Bintang sambil menatap sesinis mungkin ke arah wanita itu. Lalu meraih tangan Arumi dan membungkuk dengan gaya dramatisir ala dayang-dayang. “Perkenalkan Bu Arumi, saya Aqila. Asisten Pak Rangga sekaligus pacar Pak Denny.”
“Ngarep amat.” Gerutu Denny.
Aqila meletakkan ponsel retaknya tepat di atas berkas tanda tangan para junior. “Saya baru aja dari Kantor Pak Denny untuk menyerahkan bukti tambahan bahwa Bu Bintang terlibat langsung ke dalam tindakan untuk mencelakai Pak Rangga.”
Aqila menekan tombol play di layar ponselnya. Suara rekaman telepon yang jernih langsung bergema di ruangan HRD yang kedap suara itu.
Itu adalah suara Bintang yang sedang memaki operator sistem Oscar Club malam itu, menuntut agar rekaman pergeseran manifes tamu hotel segera dihapus dari server utama. Suara melengking Bintang terdengar begitu nyata, tidak bisa dimanipulasi oleh alasan apa pun.
"Ditambah, Saya mendapatkan rekaman tadi pagi saat Bu Bintang orasi di ruang laktasi untuk memprovokasi massa." sambung Aqila sambil menunjuk hidung Bintang dengan sedotan bobanya. "Rekaman suara pertama di club saat dicocokan dengan rekaman suara kedua di ruangan laktasi menggunakan aplikasi frekuensi suara. Hasilnya? Gelombang suara Bu Bintang valid seratus persen Matching dengan instruksi penghapusan CCTV malam kejadian! Anda tidak bisa bisa ngelak lagi, Bu Bintang!"
Gaya Aqila hampir mirip Detektif Conan tapi diwakili Kogoro Mouri.
Bintang menatap grafik gelombang suara di layar ponsel Aqila dengan mata melotot. Tenggorokannya mendadak tercekat, lidahnya kelu, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Pengakuan kelima juniornya di atas kertas ditambah bukti digital otentik yang dibawa Aqila telah mengunci nasibnya di dalam jeruji besi.
Denny melihat raut wajah Bintang sebagai kesempatan.
Dua bukti itu kurang greget sebenarnya. Harus ada hal lain yang membuat Bintang dipenjara. Denny menatap Arumi.
Lalu ia mengamati Rangga.
Dan Denny pun menyeringai licik.
Sudah lama ia ingin memberi pelajaran untuk Rangga. Hitung-hitung pembalasan atas kelakuan si Direktur muda itu yang berkali-kali membuatnya kesal. Sang pengacara menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati meja interogasi dengan wajah super judes dan dingin yang mengintimidasi. Ia mengetuk-ngetuk berkas di tangannya tepat di hadapan wajah pias Bintang.
"Bu Bintang, biar saya perjelas posisi hukum kamu sore ini supaya kamu tidak perlu banyak berkhayal lagi," suara bariton Denny mengalun tenang, namun setiap katanya terdengar seperti vonis mati. "Bukti rekaman siber dari Aqila dan kesaksian tertulis kelima junior kamu ini sudah lebih dari cukup untuk menjerat kamu dengan Pasal 340 juncto Pasal 53 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan Berencana. Ancamannya tidak main-main, maksimal lima belas tahun penjara."
Denny menyunggingkan senyum miring yang luar biasa sinis. "Belum lagi ditambah Pasal 45 ayat 3 UU ITE tentang Pencemaran Nama Baik, serta Pasal 322 KUHP terkait Pembocoran Rahasia Internal Korporasi. Tim hukum saya memastikan hak pesangon kamu nol rupiah, seluruh rekening kamu akan dibekukan untuk ganti rugi perusahaan, dan nama kamu resmi masuk daftar hitam di seluruh bursa saham Indonesia. Hidup kamu sudah tamat, Bintang. Keluar dari ruangan ini, kamu hanya punya satu tujuan. Lapas Wanita Kelas IIA."
Napas Bintang mendadak tercekat hebat mendengar rentetan pasal yang meluncur begitu kejam dari mulut Denny. Kepalanya berdenyut pusing, pandangannya berkunang-kunang melihat masa depannya hancur lebur menjadi abu dalam hitungan menit.
Lima belas tahun penjara? Rekening dibekukan? Miskin dan membusuk di penjara?
Denny menjeda kalimatnya, lalu menatap Bintang dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang luar biasa kejam. Ia terkekeh sinis.
"Tapi di luar urusan pasal... saya sebenarnya kasihan melihat kamu, Bintang. Kamu sudah capek-capek dandan seharian, bahkan buang-buang duit buat operasi plastik sana-sini biar kelihatan berkelas, toh akhirnya yang dipilih mendiang Pak Ary sampai akhir hayatnya tetaplah Bu Arumi," sindir Denny, nadanya sengaja dibuat santai namun sangat mematikan.
Arumi sampai melotot ke arah Denny karena merasa kalau Denny sengaja mengintimidasi Bintang menggunakan dirinya. Ia malah langsung waspada dan mundur selangkah saat Denny bicara begini. Insting kewanitaannya berkata, kalau Arumi harus meraih segala sesuatu yang keras untuk melindungi dirinya. Dan tepat dibelakangnya... hanya ada Rangga.
Masa hanya ini ‘benda keras’ yang bisa ia raih?
Dari sekian banyak objek?
Dan Denny masih bikin masalah dengan kalimat lanjutannya,
"Harusnya kamu bisa belajar dari kesalahan masa lalu kamu yang menjijikkan itu. Sekarang, saat kamu mulai bertindak nekat dan gila ke Pak Rangga... pada akhirnya tetap saja Bu Arumi lagi yang mendapatkan apa yang selama ini mati-matian kamu incar tanpa harus banyak berusaha. Bu Arumi itu cuma butuh modal senyum, Bintang. Dan seluruh dunia investasi milik Pak Rangga langsung takluk di bawah kakinya. Jadi, harusnya kamu sadar dan tahu diri pergi dari hidup bu Arumi, jangan mencoba menang lagi."
DEGG.
Kalimat penutup Denny bagaikan siraman bensin di atas bara api. Rentetan pasal hukum berlapis ditambah fakta menyakitkan bahwa kecantikannya kalah telak oleh "modal senyum" Arumi membuat mental Bintang pecah total siang ini.
Aku menjijikkan? Dan perempuan jalang ini menang lagi tanpa modal apa-apa?!
Akal sehat Bintang resmi putus. Semua taktik manipulasinya menguap digantikan oleh kemarahan yang pekat. Matanya menatap tajam ke arah Arumi yang berdiri di depannya.
Wanita itu cantik, segar, bersahaja. Tubuhnya berkilauan, tidak pudar setelah serangan bertubi-tubi selama ini. Semakin berusaha dijatuhkan, semakin bersinar Arumi.
Dan Bintang merasa, Arumi adalah kanker yang mendarah daging di dirinya.
Kalau saja Arumi tak ada...
"DASAR PELACUR SIALAN!!! LO HARUS MATI!!!"
Bintang menjerit kesurupan, suaranya melengking mengerikan memecah keheningan ruangan HRD. Dengan kecepatan yang didorong oleh keputusasaan, ia nekat merangsek maju melewati meja oval, tangannya mencengkeram pulpen besi runcing milik HRD dan mengarahkannya langsung ke wajah Arumi.
Arumi tersentak, matanya membelalak kaku, tidak sempat menghindar karena jarak mereka terlalu dekat.
Namun, sebelum ujung pulpen besi itu sempat menyentuh seujung rambut Arumi, sebuah siluet tinggi besar sudah bergerak lebih cepat. Rangga pasang badan, menyergap masuk ke dalam ruang sasaran dan memeluk tubuh Arumi erat-erat dalam dekapannya.
PLAKKKKK!
SREEEETTTT!
Bintang yang gerakannya membabi buta berhasil menusukkan pulpen itu ke bahu Rangga, sementara ayunan tangannya mendarat keras dalam bentuk tamparan brutal sekaligus goresan kuku tajamnya yang merobek pipi mulus Rangga hingga berdarah. Rangga terhuyung ke belakang, mengerang pendek sambil tetap mengunci tubuh Arumi di bawah lindungan dadanya yang bidang.
"Bregsek!" umpat Tony panik, langsung maju bersama dua sekuriti untuk memiting kedua tangan Bintang ke belakang hingga wanita itu tersungkur ke lantai, menangis histeris seperti orang gila.
Di sudut ruangan, Denny yang menyaksikan adegan berdarah itu justru tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Si licik itu justru tersenyum puas, melirik arlojinya dengan santai. Taktik manipulasi hukumnya berhasil seratus persen.
"Pas banget," gumam Denny dingin, menatap Bintang yang sudah terkunci di lantai. "Semua orang di sini jadi saksi mata. Tony, tambahkan satu pasal lagi ke dalam berkas perkara Polres sore ini, Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan Berat dan Kekerasan Fisik di lingkungan kerja dengan korban CEO Red-Desmont. Kali ini... saya pastikan kamu membusuk di sel tikus tanpa ada remisi, Bintang."
“Okeee!!” seru Tony yang menggeret Bintang keluar ruangan dengan dibantu beberapa sekuriti.
Rangga masih bertumpu di atas tubuh Arumi, napasnya memburu menahan rasa sakit yang luar biasa hebat yang membakar bahunya. Pulpen besi itu masih menancap dalam di dagingnya, bergetar tipis seiring dengan tarikan napasnya yang berat. Namun, di tengah rasa sakit itu, mata tajam Rangga yang mulai meredup tetap menatap wajah Arumi.
"M-Mbak... Mbak Arumi... nggak apa-apa?" tanya Rangga dengan suara serak menahan nyeri.
Arumi mematung di bawah dekapan Rangga, tangannya yang gemetar perlahan menyentuh rembesan darah hangat di bahu pria berusia 26 tahun itu. Air matanya hampir luruh. Detik itu juga, benteng pertahanan milik Arumi hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini ia cap sebagai musuh dan pembunuh suaminya, baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya demi memastikan dirinya tetap selamat tanpa luka seujung kuku pun.
"Rangga... kamu... kenapa kamu bodoh sekali?!" bisik Arumi parau, suaranya pecah oleh gelombang emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rangga hanya tersenyum kecut, senyuman tipis penuh kepasrahan sebelum kepalanya mendadak limbung karena rasa sakit yang bercampur di otaknya. "Kan... kan saya sudah janji sama Mas Ary... buat jagain Mbak."
TUKK!
Denny melangkah maju, lalu dengan santai menoyor dahi Rangga. “Drama banget si CEO busuk. Ini cuma pulpen, Pak Rangga. Yang harus duluan diobati itu cakarannya, siapa tahu bawa rabies.”
Rangga bangkit dan mencengkeram kemeja Denny, “Dasar pengacara bawaan Lucifer... lo sengaja provokasi kan?!” geram pria itu.
Denny terkekeh sambil menginjak kaki Rangga, “Mission Accomplished, honey.”
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖