Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Sumpah dan Amarah
Aroma khas antiseptik dan bunyi teratur dari alat pemantau jantung menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang rawat inap VIP rumah sakit militer.
Vina terbaring lemah di atas ranjang dengan wajah yang masih sepucat kapas. Sebuah selang infus tertancap di punggung tangan kanannya, mengalirkan cairan obat untuk menetralkan sisa-sisa racun di tubuhnya.
Di samping ranjang, Radit duduk membungkuk. Kedua tangannya memeluk erat tangan kiri Vina yang terasa dingin. Sesekali, perwira tegap itu membawa tangan istrinya ke depan bibir, mengecup punggung tangan itu dengan penuh penyesalan dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Vina... maafkan aku. Tolong bangun, Sayang," bisik Radit, suaranya parau dan bergetar hebat. "Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku mendengarkanmu tadi. Bangunlah, demi aku..."
Cklek.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Radit perlahan menoleh. Di ambang pintu, Nyonya Besar Laksmana melangkah masuk dengan dituntun oleh Sella di sampingnya. Di tangan Sella, terdapat sebuah rantang makanan tiga susun berbahan stainless steel.
Langkah kaki Nyonya Besar terasa begitu berat. Tatapan matanya yang biasa ketus dan penuh keangkuhan, kini meredup dan tampak sangat sayu.
Melihat menantu yang tadi pagi ia caci maki kini terbujur kaku dengan alat bantu napas, ada sisi kemanusiaan dan rasa bersalah yang teramat besar mendadak mengetuk pintu hati sang ibu mertua.
"Radit..." panggil Nyonya Besar dengan suara yang pelan dan serak.
Radit menarik napas dalam, mencoba menguasai emosinya sebelum melepaskan tangan Vina perlahan. "Ibu... Sella... kalian datang."
Sella melangkah maju dan meletakkan rantang makanan itu di atas meja nakas di samping ranjang. "Iya, Dit. Tante Laksmana sangat mencemaskan keadaan Vina sejak tadi di rumah. Ini Tante sengaja membawa rantang berisi bubur dan sup hangat untukmu, kamu pasti belum makan dari siang."
"Terima kasih, Sel," sahut Radit datar, pandangannya kembali beralih pada wajah Vina. Ia lalu menatap ibunya dengan serius. "Bagaimana situasi di mansion, Ibu? Apa pelakunya sudah ditangkap?"
Nyonya Besar menghela napas berat, menggenggam tas tangannya dengan erat. "Sudah, Radit. Pelayan bernama Ika sudah Ibu jebloskan ke ruang bawah tanah dan diinterogasi oleh ajudanmu."
"Ika?" Kening Radit berkerut dalam, rahangnya mengeras seketika. "Pelayan serendah dia berani melakukan ini?"
"Dia mengaku melakukannya karena terobsesi padamu dan membenci Vina," jelas Nyonya Besar, jalannya melangkah satu langkah lebih dekat ke ranjang Vina. "Hanya saja... Ibu merasa ada yang janggal. Ibu tidak yakin jika pelayan bodoh seperti Ika itu bergerak sendirian. Racun yang digunakannya adalah zat kimia langka dan sangat mematikan. Pasti... pasti ia mendapatkan racun itu dari seseorang yang memiliki akses dan uang yang banyak untuk membelinya. Seseorang sedang memanfaatkannya."
Mendengar kalimat ibunya, kilat kemarahan yang sangat mengerikan dan dingin mendadak memancar dari kedua mata elang Radit. Aura militernya yang haus darah seketika bangkit, membuat atmosfer di dalam kamar itu mendadak terasa mencekik dan membeku.
Radit berdiri tegak, mengepalkan kedua tangannya hingga terdengar bunyi gemertak sendi yang bising.
"Siapa pun orangnya..." ucap Radit dengan suara rendah, berat, dan penuh penekanan yang mematikan. "Aku bersumpah demi kehormatan dan seragam militer ku! Jika aku menemukan dalang utama di balik semua ini, aku sendiri yang akan memaksa dan memasukkan racun itu ke dalam tubuh dalang tersebut! Aku ingin dia merasakan sakit dan penderitaan yang sama persis seperti yang dirasakan oleh istriku saat ini!"
Sella yang berdiri di sudut ruangan seketika menahan napasnya, wajahnya mendadak pias seputih kertas.
"Dan setelah itu," lanjut Radit dengan tatapan mata yang menghunus tajam, "jika keparat itu berhasil selamat dari maut, aku akan menyeret dan menjebloskannya ke dalam penjara militer yang paling gelap, dan memastikan dia membusuk di sana dengan hukuman yang seberat-beratnya! Tidak akan ada ampun!"
Deg!
Jantung Sella serasa dihantam palu godam. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan kakinya mendadak lemas. Saking terkejut dan ketakutannya mendengar sumpah kejam Radit, Sella secara tidak sadar melangkah mundur satu langkah hingga tumit sepatunya membentur vas bunga di sudut ruangan dan menimbulkan bunyi gesekan yang cukup nyaring.
Krieeet...
Menyadari pergerakan dan perubahan drastis dari raut wajah gadis di sampingnya, Nyonya Besar Laksmana menoleh dan mengernyitkan dahi. "Sella? Ada apa denganmu? Wajahmu pucat sekali?"
Sella tersentak, memaksakan sebuah senyuman kaku dan canggung di bibirnya yang mulai terasa kelu. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
"A-Ah... tidak apa-apa, Tante," bohong Sella dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba bersikap senormal mungkin. "Sella... Sella hanya baru teringat sesuatu. Buah-buahan segar yang Sella beli di pasar sebelum ke sini tadi ternyata tertinggal di dalam mobil. Sella... Sella minta izin untuk keluar sebentar ke tempat parkiran untuk mengambilnya, ya?"
Nyonya Besar menatap Sella sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Oh, begitu. Baiklah, jangan lama-lama ya, Sel."
"Baik, Tante. Dit, aku keluar sebentar," pamit Sella yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Radit tanpa menoleh sedikit pun.
Dengan langkah yang diatur secepat mungkin namun tetap terlihat tenang, Sella memutar knop pintu dan melangkah keluar dari kamar rawat inap tersebut.
Begitu pintu jati kamar itu tertutup rapat dan tubuhnya tidak lagi terlihat dari dalam, seluruh pertahanan diri Sella seketika runtuh total. Kedua lututnya mendadak lemas dan kehilangan daya tumpu, membuat tubuh anggun bergaun merah menyala itu terhuyung dan nyaris terjatuh jika tangannya tidak dengan cepat mencengkeram besi pembatas di lorong rumah sakit.
Napas Sella memburu berantakan dan naik-turun dengan ekstrem. Ketakutan yang luar biasa murni dan pekat kini menyergap seluruh aliran darahnya. Suara ancaman dan sumpah Radit tadi terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya bagai vonis hukuman mati.
"Aku telah salah menyusun rencana... Sialan! Aku tidak menyangka Radit akan semarah dan sekejam ini hanya karena gadis kampung itu!" jerit Sella di dalam hatinya dengan kepanikan yang mendalam.
Ia meremas dadanya yang terasa sesak, dahi dan punggungnya kini sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Sella memejamkan matanya rapat-rapat, memanjatkan sebuah doa yang sangat jahat dan egois di dalam hatinya.
"Tuhan... aku mohon, biarkan pelayan bodoh bernama Ika itu mati membusuk dan bungkam di ruang bawah tanah tanpa sempat menyebutkan namaku sedikit pun di depan para ajudan Radit!"
walaupun nyebelin tapi janganlah 😭🤣
takut mlh di usirr😭😭🙏
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭