Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Detak Jantung dan Batas yang Terbakar
Suara deru mesin motor sport hitam milik Arga akhirnya mati begitu mereka sampai di halaman kontrakan yang sepi. Namun, genggaman tangan Arga di atas jemari Kinar sepanjang perjalanan tadi seolah menyisakan hawa panas yang menjalar hingga ke seluruh tubuh. Begitu turun dari motor, Kinar buru-buru melepas helmnya dengan gerakan kikuk, berusaha keras menyembunyikan rona merah yang sudah membakar kedua pipinya.
Arga berjalan mendahului Kinar, membuka pintu kayu kontrakan dengan kunci yang agak gemetar—sebuah gestur langka yang menunjukkan kalau cowok berkepala beton itu pun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja setelah aksi nekatnya di jalanan kampus tadi.
Begitu pintu tertutup rapat dari dalam, mengunci mereka berdua dalam keheningan ruangan yang sejuk, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat padat. Kinar hendak melangkah menuju dapur untuk menaruh tasnya, namun langkahnya terhenti total ketika Arga, yang masih mengenakan jaket jins tebalnya, tiba-tiba berbalik dan menutup jalur jalannya.
"Arga...?" cicit Kinar, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
Arga tidak menjawab. Tatapan mata elangnya tidak lagi dingin seperti di kampus tadi, melainkan sorot mata yang menggelap, sarat akan intensitas emosi yang belum pernah Kinar lihat selama belasan tahun mereka bersahabat. Arga melangkah maju satu babak, memaksa Kinar bergerak mundur hingga punggung gadis itu membentur permukaan dingin daun pintu utama yang tertutup.
Blam.
Kedua telapak tangan Arga terangkat, menumpu pada permukaan pintu di kanan dan kiri kepala Kinar, mengunci tubuh gadis itu sepenuhnya di dalam kungkungan dada bidangnya. Jarak di antara mereka terkikis habis, menyisakan jarak kurang dari lima sentimeter saja. Kinar bisa merasakan dengan sangat jelas embusan napas Arga yang hangat dan memburu, menerpa permukaan kulit leher dan wajahnya.
"Lo... tadi ngapain senyum-senyum begitu sama si Rian di kampus?" tanya Arga dengan suara bariton yang sangat rendah, serak, dan terdengar begitu intimidatif di telinga Kinar.
Kinar menelan ludahnya dengan susah payah. Dada mereka yang naik turun karena napas yang memburu sesekali saling bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh persendian Kinar mendadak lemas. "Gue... gue cuma bersikap sopan, Ga. Dia kan temen sekelompok gue..."
"Gue gak suka, Kinar," potong Arga cepat, suaranya semakin merendah, nyaris berbisik tepat di depan bibir Kinar. Pandangan mata Arga turun, menatap lekat ke arah bibir ranum Kinar yang sedikit terbuka demi meraup pasokan oksigen yang kian menipis. "Gue gak suka lo dilihatin kayak gitu sama cowok lain. Gue gak suka tangan cowok lain hampir nyentuh lo."
"Tapi kita kan cuma kontrak, Ga—"
"Persetan sama kontrak itu," bisik Arga egois.
Tangan kanan Arga perlahan lepas dari daun pintu, bergerak naik menyentuh rahang Kinar dengan sangat lembut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Kinar dengan gerakan memutar yang lambat, membuat tubuh Kinar otomatis meremang hebat. Sensasi sentuhan kulit kasar Arga di wajahnya terasa begitu memabukkan. Kinar bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum ugal-ugalan, bersahut-sahutan dengan detak jantung Arga yang tak kalah kencang di balik kaus putihnya.
Arga perlahan mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi. Kinar refleks memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan pucuk hidung Arga mulai bersentuhan dengan hidungnya, saling bergesekan dengan ritme yang sangat pelan dan intim. Napas mereka kini benar-benar menyatu, menciptakan kehangatan yang membakar seluruh sisa-sisa gengsi dan akal sehat yang mereka miliki.
Tangan Kinar yang awalnya terkulai lemas di samping tubuh, tanpa sadar bergerak naik, meremas kain jaket jins Arga dengan erat, mencari pegangan karena kakinya terasa sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Waktu seolah berhenti berputar di dalam ruangan tengah kontrakan itu. Batasan bernama sahabat, meterai, dan pasal-pasal perjanjian fiktif yang mereka sepakati kemarin, siang ini resmi terbakar habis oleh percikan gairah dan rasa kepemilikan yang terlanjur meluap dari dinding pertahanan mereka masing-masing.
Arga menghentikan gerakannya tepat beberapa milimeter sebelum bibir mereka benar-benar bertaut. Dia menarik napas dalam-dalam, menyandarkan dahinya ke dahi Kinar yang masih menyisakan sedikit bekas benjol kecil, lalu berbisik dengan nada pasrah yang sangat seksi.
"Nar... kalau kayak gini terus, gue beneran bisa melanggar aturan nomor satu.".......
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/