Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Aku tidak apa-apa," jawab Evelyn sambil menepis tangan Damien.
"Damien Lu, akhirnya kau muncul juga setelah menghilang begitu lama," bentak Ronald.
"Sudahlah, jangan membahasnya di sini," tegur Lucy.
"Paman, Bibi," sapa Damien dengan sopan.
"Damien, kalau ada waktu, Bibi ingin bicara denganmu," ucap Lucy.
"Ma, tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya," sela Evelyn.
"Bagaimana kalian bisa bersama lagi?" tanya Ronald dengan nada tajam.
"Dia adalah jaksa yang ditugaskan pihak kejaksaan untuk bekerja sama dengan tim kami," jelas Evelyn.
"Jadi setelah semua yang terjadi, kau masih bisa bekerja dengannya?" ketus Ronald.
"Paman, ini hanya urusan pekerjaan. Detektif Shen tidak punya pilihan," jelas Damien.
Saat itu Wesley maju selangkah. "Paman, Bibi, apakah kalian terluka?"
"Kami tidak apa-apa. Untung ada Evelyn," jawab Lucy.
Ronald langsung menyela.
"Mereka datang untuk menyerang Evelyn. Untung kami tidak terluka. Kalian polisi bagaimana bekerja? Bagaimana kalau kami yang menjadi korban?"
Evelyn menatap ayahnya dingin.
"Bukankah semuanya baik-baik saja? Apa lagi yang ingin kau ributkan?"
Ronald mendengus.
"Aku baru menegurmu sedikit, kau sudah melawan."
Wesley mencoba menenangkan suasana.
"Paman, kami masih menyelidikinya. Ada kemungkinan mereka salah target."
Saat itulah Eve melangkah maju sambil tersenyum manis.
"Jadi Anda Jaksa Lu? Saya Eve, adik Kakak Evelyn."
Ia mengulurkan tangannya.
Dalam hati, Eve tersenyum.
"Ternyata pria ini jauh lebih tampan dari yang kubayangkan."
Namun Damien bahkan tidak meliriknya. Tatapannya tetap tertuju pada Evelyn.
Setelah beberapa saat, Damien berkata, "Bibi, kami permisi dulu."
"Sebentar!" bentak Ronald.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kejadian dulu belum kau jelaskan."
"Sudah kubilang tidak ada yang perlu dibahas," ucap Evelyn kesal.
Ronald menatap putrinya tajam.
"Jangan bilang kau masih menyukai dia. Jangan lupa, dia pernah mempermalukanmu dan mencoreng nama keluarga Shen."
"Aku dan Jaksa Lu hanya rekan kerja. Tidak akan ada hubungan apa pun selain pekerjaan," tegas Evelyn.
Lucy menghela napas.
"Damien, lain kali kita akan bertemu lagi. Bibi ingin mendengar penjelasanmu."
Ronald kembali menyela.
"Kenapa kau membiarkannya pergi? Dia harus bertanggung jawab!"
"Cukup, Ronald!" bentak Lucy. "Apa kau ingin membuat Evelyn semakin malu? Lihat, semua orang sedang memperhatikan."
Ronald tertawa sinis.
"Kalau dia tahu malu, dulu dia tidak akan hamil sebelum menikah!"
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Ronald.
Lucy menatapnya dengan mata memerah.
"Cukup! Jangan pernah mengungkit masalah itu lagi!"
Ronald memegang pipinya.
"Kau menamparku demi anak durhaka itu?"
Evelyn menarik napas panjang.
"Ma, aku pergi dulu. Lain kali kita makan berdua saja. Kalau bersama mereka, aku benar-benar tidak berselera."
Setelah berkata demikian, Evelyn berbalik dan melangkah pergi.
"Apa maksudmu? Evelyn!" teriak Ronald.
Damien yang sejak tadi diam akhirnya menatap Ronald dengan tajam.
"Tuan Shen, Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda."
Beberapa saat kemudian.
Damien dan Ronald duduk berhadapan di sebuah meja di sudut restoran.
"Masih berani kau menemuiku? Apa kau sudah tidak tahu malu, Jaksa Lu?" sindir Ronald.
Damien tetap tenang.
"Aku memang bersalah kepada Evelyn. Tapi aku tidak pernah mengkhianatinya. Kali ini aku kembali karena urusan penting, dan aku akan menebus semua kesalahanku."
Ronald mencibir.
"Menebus? Dengan cara apa? Karena ulahmu, saham Shen Group sempat anjlok. Banyak investor menarik diri karena menganggap putriku sangat memalukan. Sekarang kau ingin menebus semuanya dengan cara apa?"
"Tuan Shen," ujar Damien dengan tatapan tajam. "Selama ini aku tetap menghormatimu demi Evelyn. Tapi bukan berarti kau bisa menekanku!"
Ronald tersenyum sinis.
"Maksudmu kau ingin melawanku? Damien Lu, jangan lupa siapa aku. Aku bisa membuatmu kehilangan jabatan dan menghancurkan kariermu."
Damien tersenyum tipis.
"Tuan Shen, aku seorang jaksa negara. Kalau Anda ingin menjatuhkanku, tunjukkan dulu kesalahanku. Negara ini memiliki hukum, bukan tempat bagi seseorang menggunakan kekuasaan sesuka hati. Ancaman seperti itu tidak ada artinya bagiku."
Ronald mendengus.
"Kalau begitu, jangan buang waktuku."
Damien mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Baca ini."
Ronald mengernyit.
"Apa ini?"
"Setelah membacanya, Anda akan mengerti."
Ronald membuka amplop itu dan mulai membaca satu per satu dokumen di dalamnya.
Semakin lama wajahnya semakin pucat.
Tangannya bahkan mulai gemetar.
Damien bersandar tenang di kursinya.
"Tuan Shen, selama bertahun-tahun Shen Group dikelola oleh Anda. Saya yakin Bibi Lucy tidak mengetahui apa yang telah Anda lakukan."
Ronald menatap Damien dengan tajam.
"Sebagian bukti sudah berada di tangan kami. Tinggal menunggu penyelidikan selesai."
Damien mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Jangan meremehkanku hanya karena aku selalu bersikap sopan di hadapanmu. Aku seorang jaksa. Penjahat seperti apa yang belum pernah kuhadapi? Bagiku kau hanya seekor semut. Jangan menganggap hukum negara ini lemah."
Ronald mengepalkan dokumen di tangannya, sementara tatapannya berubah semakin suram.