Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ayam Kecap
Setelah bisa masuk ke dalam pameran lukisan itu, Ryu dan Gladys segera menjalankan tugas mereka. Mereka memeriksa satu persatu lukisan dengan menggunakan senter yang sudah di persiapkan oleh Atasan mereka.
Senter itu mengandung sinar UV yang tak terlihat, namun bisa menembus lukisan hingga bisa meninggalkan jejak biru keunguan jika ada simbol milik Mister X.
"Satu.." Ujar Ryu yang kemudian memotret lukisan itu.
"Dua..."
"Tiga..."
Mereka menemukan dua belas lukisan yang harganya di taksir ratusan juta rupiah per lukisannya. Gladys sampai geleng - geleng kepala saat melihat hasil temuannya dengan Ryu.
"Wah! Luar biasa sekali, Bapak ini." Lirih Gladys yang tentu merasa geram.
"Ini belum apa - apa. Kita pasti bakal di bikin lebih kaget lagi." Ujar Ryu sambil tersenyum miring.
Setelah mengumpulkan bukti, mereka kembali ke Apartemen untuk beristirahat dan melaporkan temuan mereka. Esok malam, merekaakan datang ke acara pelelangan lukisan dan koleksi - koleksi mewah yang biasa di adakan satu tahun sekali di Jerman.
"Kangen pingin makan ayam kecap buatan Ibu." Celetuk Ryu tiba - tiba.
"Abang ngidam?" Tanya Gladys.
"Gak mungkin ngidam, Dys. Kamu aja belum Abang apa - apain." Jawab Ryu.
"Maksudnya?" Tanya Gladys.
"Ya kalo Abang mau ngidam, seenggaknya kamu harus Abang hamilin dulu kan? Itu namanya covade syndrome, dimana si Ayah ikut merasakan perubahan mood termasuk ikutan ngidam." Jawab Ryu sambil menjelaskan maksudnya.
"Ih! Abang apaan sih!" Cicit Gladys sambil menatap heran ke arah Ryu.
"Anak jaman sekarang juga, kalo ngomong pingin banget sama sesuatu juga pake bahasa ngidam." Ujar Gladys.
"Emang iya?" Tanya Ryu yang tak terlalu paham dengan bahasa anak zaman sekarang.
"Iya lah!" Jawab Gladys.
"Emang Abang gak tau?" Tanyanya dengan wajah sedikit meledek.
"Enggak." Jawab Ryu.
"Yah, maklum aja. Abang lahir di zaman batu, makanya gak ngerti bahasa anak zaman sekarang." Ujar Ryu yang membuat Gladys menyemburkan tawa.
"Di lemari es, ada apa?" Tanya Gladys sembari berjalan menuju ke lemari es yang ada di dapur.
"Ada hikmahnya." Jawab Ryu asal, yang kembali membuat Gladys tertawa.
"Memangnya mau ada apa, Dys? Kita belum belanja apa - apa." Kata Ryu.
"Aku kira, udah di belanjain juga, bahan makanan." Kata Gladys.
"Ayo kita belanja." Ajak Ryu.
"Harus banget?" Tanya Gladys.
"Kita bisa pesan makanan online kalau gak mau belanja." Jawab Ryu.
"Di luar pasti dingin banget, Bang." Kata Gladys.
"Iya aku tau." Jawab Ryu.
"Abang mau belanja sendiri?" Tanya Gladys lagi.
"Yang ada, aku cuma muter - muter aja, karena gak tau mau beli apa." Jawab Ryu yang membuat Gladys menghela nafas.
Mau tidak mau, akhirnya ia harus keluar lagi untuk berbelanja kebutuhan mereka di Super Market terdekat.
"Buruan, siap - siap." Kata Ryu.
Gladys pun segera mengenakan pakaian berlapis dan di tutup dengan mantel tebal dari bulu angsa pemberian Ibu Mertuanya.
"Dys, sini." Panggil Ryu.
"Kenapa, Bang?" Tanya Gladys.
"Pegang ini." Ryu memberikan black card miliknya pada Gladys.
"Pake itu untuk kebutuhan kita dan kebutuhan pribadi kamu." Kata Ryu.
"Aku bisa beli kebutuhan pribadiku sendiri, Bang." Tolak Gladys.
"Beli pake itu, Dys. Kamu mau, aku jadi bulan - bulanan Yanda sama Bunda karena gak nafkahin kamu? Nanti di kira aku gak mampu nafkahin istri, lagi." Kata Ryu.
"Bunda kan tau, kalau kita-"
"Walaupun cuma pernikahan kontrak, sekarang kamu itu istriku, tanggung jawabku. Jadi memang udah kewajiban aku buat nafkahin kamu." Ujar Ryu sambil melirik ke arah Gladys yang masih tertegun.
"Gak usah kebanyakan mikir, deh. Ayo berangkat." Ajak Ryu.
Mereka berdua akhirnya berangkat menuju ke Super Market terdekat. Untungnya ada Super Market di sekitar Apartemen mereka.
"Di sini hangat kok." Kata Ryu sambil menurunkan syal yang di kenakan Gladys.
Ryu kemudian mengambil trolly belanja dan mulai mengikuti langkah Gladys yang sedang memilih bahan makanan.
"Abang ada alergi makanan?" Tanya Ryu.
"Gak ada, aman." Jawab Ryu.
Gladys pun mengangguk dan mulai memasukkan bahan makanan yang ia pilih ke dalam trolly.
"Dys, Ayam kecap." Kata Ryu.
"Di sini gak ada rempah - rempah, Bang. Nanti rasanya beda sama buatan Ibu." Kata Gladys.
"Gak apa - apa kalau gak beda banget." Ujar Ryu.
"Bener nih? Jangan protes loh ya, kalau rasanya sedikit beda." Kata Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
Gladys pun menuruti permintaan Ryu, ia mencari bahan selengkap mungkin agar rasa ayam kecap buatannya tak jauh berbeda dengan buatan Sang Ibu.
Tak hanya membeli stok baham makanan, mereka juga membeli keperluan lain yang belum ada di Apartemen dan keperluan pribadi mereka masing - masing.
"Kenapa senyum - senyum, Bang?" Tanya Ryu.
"Berasa kayak pasangan suami - istri beneran." Jawab Ryu.
"Emang beneran, kan? Status kita sah secara Agama dan Negara." Jawab Gladys sembari memilih lotion.
"Iya, sih. Cuma ada perjanjian kontrak aja." Timpal Ryu yang di jawab anggukan setuju oleh Gladys.
Setelah selesai berbelanja, mereka berdua segera kembali ke Apartemen. Sesampainya di Apartemen, Gladys langsung memasak makanan yang di minta oleh Ryu, sementara Ryu menyusun belanjaan mereka di dalam lemari dan lemari es.
"Ada yang perlu di bantu gak, Dys?" Tanya Ryu.
"Udah kok, Bang. Tinggal tunggu Ayam sama Nasinya mateng." Jawab Gladys.
"Udah selesai beresin belanjaan?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Yaudah, mandi duluan aja. Nanti kita makan malam bareng - bareng." Ujar Gladys yang langsung di laksanakan oleh Ryu.
"Ch! Nurut banget." Kekeh Gladys saat melihat Ryu masuk ke dalam walk in closet.
Setelah semua masak, Gladys segera menyiapkan masakannya di meja makan. Ia kemudian mandi, sementara Ryu sedang bersantai di depan tv.
"Ayo makan." Ajak Gladys setelah ia selesai membersihkan diri.
Ryu pun segera menghampiri Gladys yang sudah berada di meja makan. Seperti biasa, Gladys mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Ryu terlebih dulu.
"Thank's, Dys." Ucap Ryu yang nampak tak sabar saat melihat ayam kecap yang menggiurkan.
Setelah selesai berdoa bersama, Ryu pun langsung menyantap ayam kecap buatan Gladys.
"Mmmhh!" Kata Ryu dengan wajah yang menunjukkan ekspresi nikmat.
"Enak banget! Gak kalah sama buatan Ibu." Puji Ryu.
"Thank's Dys." Ucap Ryu lagi. Pria tampan itu nampak makan dengan lahap.
"Sama - sama." Jawab Gladys sambil tersenyum.
Gladys tentu merasa puas setelah melihat Ryu yang makan dengan lahap, bahkan sampai minta menambah nasi juga lauknya.
Setelah makan, Gladys menghampiri Ryu yang sedang duduk di ruang tv. Pria itu tampak sangat serius memperhatikan Ipadnya.
"Ada apa, Bang? Serius banget?" Tanya Gladys.
Ryu pun menepuk tempat si sebelahnya, mengisyaratkan pada Gladys untuk duduk di sana.
"Liat deh, ini gudang senjata yang katanya milik Mafia yang bekerja sama dengan Mister X." Ujar Ryu sembari menunjukkan foto - foto di Ipadnya.
"Gila! Besar banget." Kata Gladys.
"Abang dapet info ini dari mana?" Tanya Gladys kemudian.
"Dari salah satu rekan Abang." Jawab Ryu yang sengaja tak ingin memberi tau identitas rekan yang ia maksud.
"Terus, kita harus apa kalau udah tau tentang gudang senjata ini?" Tanya Gladys.
"Cari bukti kalau Mister X memang bekerja sama dengan Orlando, Mafia pemilik gudang senjata ini." Jawab Ryu.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author