NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Suara pintu utama yang terbuka membuatku menoleh dari meja makan. Jam dinding di ruang keluarga bahkan belum menunjukkan pukul delapan malam. Itu cukup jarang terjadi, karena biasanya Mason baru pulang ketika langit sudah benar-benar larut dan rumah ini hampir tertidur. Aku yang sedang merapikan sendok dan garpu di meja makan pun langsung berdiri refleks.

“Mason?”

Ia baru saja masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Jas hitamnya masih melekat rapi di tubuhnya, namun ada sesuatu pada wajahnya yang membuatku sedikit terdiam. Kulitnya terlihat lebih pucat dari biasanya, dan sorot matanya tampak lelah seolah ia belum benar-benar beristirahat selama berhari-hari.

Mason mengangguk kecil ketika melihatku. “Mm.”

Aku berjalan mendekat sambil memperhatikannya diam-diam. Biasanya Mason selalu terlihat terlalu rapi dan terkendali, bahkan setelah pulang bekerja. Namun malam ini berbeda. Bahunya terlihat sedikit berat, dan napasnya terdengar lebih lambat dari biasanya.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku hati-hati.

“Ya.”

Jawabannya tetap singkat seperti biasa.

Aku menatapnya beberapa detik sebelum kembali bertanya pelan, “Kau terlihat pucat.”

Mason melepaskan jam tangannya sambil berjalan menuju meja makan. “Aku hanya lelah.”

Nada suaranya datar, tidak kasar. Namun cukup jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin membahasnya lebih jauh. Dan aku akhirnya memilih diam.

Pelayan membantu meletakkan makan malam terakhir di atas meja, lalu pergi meninggalkan kami berdua. Malam itu aku memasak sup krim hangat dan steak sederhana sesuai menu yang biasanya disukai Mason. Ia duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Aku juga ikut duduk di seberangnya.

Suasana di meja makan tetap tenang seperti biasanya. Hanya suara alat makan yang sesekali terdengar pelan di antara kami. Namun malam ini aku terus diam-diam memperhatikan Mason. Gerakannya lebih lambat. Bahkan beberapa kali ia memijat pelipisnya sendiri seolah sedang menahan sakit kepala.

“Kau yakin tidak ingin memanggil dokter?” tanyaku lagi setelah cukup lama.

Mason mengangkat pandangannya sekilas. “Tidak perlu.”

“Tapi wajahmu pucat sekali.”

“Aku hanya kurang tidur.”

Ia kembali melanjutkan makan malamnya setelah mengatakan itu.

Aku menunduk pelan sambil menggenggam sendokku lebih erat. Kadang aku masih bingung harus bersikap seperti apa pada Mason. Terlalu banyak bertanya membuatku takut dianggap mengganggunya. Namun jika aku diam saja, aku justru tidak bisa berhenti khawatir. Dan anehnya, setelah sekian bulan menjalani pernikahan ini, rasa khawatir itu justru semakin besar.

“Aku akan membuat teh hangat setelah ini,” kataku pelan.

Mason tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadaku terasa sedikit hangat. Karena Mason jarang sekali mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil seperti ini.

Setelah makan malam selesai, aku segera menyiapkan teh hangat untuknya. Sementara Mason berdiri dekat jendela ruang makan sambil membuka beberapa pesan di ponselnya.

Aku menghampirinya dan menyerahkan cangkir itu. “Minumlah selagi hangat.”

Mason menerimanya tanpa banyak bicara. Namun saat jemariku tanpa sengaja menyentuh tangannya, aku sedikit tersentak. Panas, kulitnya terasa jauh lebih panas dari biasanya.

Aku langsung menatapnya khawatir. “Mason, kau demam?”

“Aku baik-baik saja.”

Ia menjawab terlalu cepat. Dan itu justru membuatku semakin yakin bahwa ia memang sedang tidak sehat.

“Mason—”

“Aku hanya butuh tidur.”

Kali ini ia memotong perkataanku pelan namun tegas. Aku pun terdiam.

Mason lalu meletakkan cangkir tehnya di meja sebelum akhirnya berjalan menuju tangga lantai atas. Langkahnya masih tenang, namun terlihat lebih lambat dibanding biasanya. Aku memperhatikannya hingga tubuhnya menghilang di ujung lorong lantai dua. Dan entah kenapa, ada rasa tidak nyaman yang tertinggal di dadaku.

Malam semakin larut. Aku sudah mencoba tidur hampir satu jam, namun mataku tetap sulit terpejam. Angin dingin Chicago terdengar samar dari balik jendela kamar, sementara pikiranku terus kembali pada wajah pucat Mason tadi malam.

Akhirnya aku menyerah. Aku bangkit dari tempat tidur lalu keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Rumah besar itu terasa sangat sunyi tengah malam seperti ini. Lampu-lampu redup di sepanjang lorong membuat suasana rumah terlihat lebih dingin dari biasanya.

Aku menuruni tangga perlahan. Namun langkahku langsung terhenti ketika melihat cahaya lampu dapur masih menyala. Dan di sana, kulihat Mason.

Ia berdiri membelakangiku di depan lemari kecil tempat kotak P3K disimpan. Tubuhnya terlihat sedikit membungkuk seolah sedang menahan sesuatu.

“Mason?” panggilku pelan.

Belum sempat ia menjawab, tubuhnya tiba-tiba goyah. Kotak obat di tangannya jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang ikut terduduk lemas.

“Mason!”

Aku langsung berlari menghampirinya dengan panik.

“Napasmu panas sekali…” bisikku refleks begitu menyentuh lengannya.

Mason memejamkan mata beberapa detik sambil menahan napas berat. “Aku hanya mencari obat.”

“Kau demam tinggi.”

“Aku tahu.”

Nada suaranya terdengar jauh lebih lemah dibanding biasanya. Dan entah kenapa, melihat Mason dalam kondisi seperti ini membuat dadaku terasa aneh. Karena untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, pria itu terlihat begitu rapuh.

“Apa yang kau cari?” tanyaku cepat sambil membuka kotak obat di lantai.

“Obat sakit kepala.”

Aku segera mencari sesuai yang ia maksud lalu memberikannya padanya. Namun tangan Mason tampak terlalu lemas untuk membuka obat itu sendiri.

“Biar aku saja.”

Aku membuka obatnya lalu mengambilkan air putih untuknya. Mason menelan obat itu perlahan sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.

“Ayo kembali ke kamar.”

“Aku bisa sendiri.”

Namun bahkan setelah mengatakan itu, ia tetap tidak langsung bangkit. Aku menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membantu menopang lengannya. “Kalau bisa sendiri, kau tidak akan jatuh di dapur seperti ini.”

Mason diam. Dan diamnya kali ini terasa seperti bentuk menyerah kecil yang jarang sekali ia tunjukkan.

Aku membantunya berjalan menuju kamar dengan langkah pelan. Tubuhnya terasa sangat panas bahkan hanya dari balik kemejanya. Sesampainya di kamar, aku membantu Mason duduk di tepi ranjang.

“Berbaringlah.”

Ia menurut tanpa banyak bicara. Aku menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu berdiri beberapa detik sambil memperhatikan wajahnya yang terlihat lelah. Mason memejamkan mata perlahan. Dan hanya dalam beberapa menit, napasnya mulai terdengar lebih teratur. Ia sudah tertidur.

Aku mendekat perlahan lalu menyentuh dahinya lagi. Masih panas, bahkan lebih panas dari sebelumnya. Aku langsung berjalan cepat menuju kamar mandi dan membuka lemari kecil di dinding. Setelah menemukan handuk kecil, aku membasahinya dengan air dingin lalu kembali ke sisi ranjang.

Perlahan aku meletakkan handuk kompres itu di dahinya. Mason sedikit bergerak pelan namun tidak terbangun. Lalu, aku duduk di sofa dekat ranjang sambil terus memperhatikannya.

Malam terasa begitu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan napas berat Mason yang terdengar samar memenuhi kamar besar itu. Untuk pertama kalinya aku melihat sisi lain dirinya seperti ini. Bukan Mason yang selalu tenang dan terkendali. Bukan Mason yang dingin dan sulit ditebak. Melainkan Mason yang terlihat sangat manusiawi. Sangat lelah. Dan entah kenapa, sangat kesepian.

Aku mengganti kompres di dahinya beberapa kali. Sesekali mengecek suhu tubuhnya lagi dengan cemas. Sementara itu, jam terus bergerak melewati tengah malam ketika akhirnya aku mendengar suara lirih keluar dari bibir Mason.

Awalnya terlalu pelan untuk kupahami. Jadi, aku sedikit mendekat.

“Mmh…”

Keningku berkerut pelan. Mason kembali mengigau sesuatu dengan suara serak dan tidak jelas. Aku mencoba mendengarkan lebih baik, hingga akhirnya sebuah nama terdengar samar dari bibirnya.

“Jennifer…”

Dadaku langsung menegang. Aku diam beberapa detik sambil menatap wajah Mason yang masih tertidur.

“Jennifer…”

Ia kembali menyebut nama itu pelan. Entah kenapa, ada rasa aneh yang perlahan muncul di dalam dadaku. Rasa yang tidak nyaman. Namun aku segera menggeleng kecil mengusir pikiranku sendiri. Jennifer adalah keluarganya, dia adalah adik tirinya. Mason menyayanginya, dan itu hal yang wajar. Jadi, aku tidak boleh berpikir macam-macam.

Aku menarik napas panjang pelan sebelum kembali memperbaiki kompres di dahinya.

“Cepat sembuh,” bisikku lirih.

Malam terus berjalan perlahan. Dan tanpa kusadari, rasa kantuk akhirnya mulai mengalahkan tubuhku sendiri. Aku masih duduk di sofa dekat ranjang Mason ketika mataku perlahan terpejam. Sementara di hadapanku, pria yang terus melukai sekaligus mengisi hatiku itu masih tertidur dengan napas berat di bawah cahaya redup kamar malam itu.

1
Lili Inggrid
ceritanya bagus..lanjutkan dan tetap semangat 🙏🙏
Yellow Sunshine: Thank you. happy reading 🤗
total 1 replies
partini
hai dari awal kamu tuh masuk di antara mereka lah , betul" bebal kali kau zel dan ga tau diri
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
partini
ngapain natap Dengan kebencian zel kan kamu yang penghalang hubungan mereka kamu hadir diantara mereka ihhhj ga sadar diri kamu,,
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
Dew666: Hooh betul
total 1 replies
partini
yesss you DAM STUPID zel ,,di jelas kan kan bisa di lihat mereka lovely doply ❤️❤️❤️ ngapai di jelasin sih
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
Yellow Sunshine: Sabar ya kak 🤭
total 1 replies
partini
ehh bukan salah Manson lah kamu nya aja yg ga sadar diri zel ga usah terluka ini pilihan mu mencintai nya biarkan dia bahagia bersama orang dia cintai
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa
Dew666
Lagian dah dicuekin mulu msh aja bertahan kerja kek cari kesibukan aneh
Yellow Sunshine: Mungkin Hazel memang orangnya suka berprasangka baik 😄🤭
total 1 replies
partini
clue nya udah terang benderang kaya gitu masih aja ga yampe yah ,OMG she Damm stupid eeh
Yellow Sunshine: cinta tak harus memiliki, ya. terkadang cinta berarti membiarkannya pergi 🤗
total 6 replies
falea sezi
prett amat bloon
falea sezi
novel apaan MC nya belooon
falea sezi
bodoh di tolak mentah mentah cerai bloon🤣🤣🤣
Anonim
Kau hansel memang bodoh tolol murah juga
falea sezi
sejauh ini masih muter g sat set
falea sezi
bodoh endingnya pasti balek🤣 ketebak thor.. kenapa MC nya di buat menyee gk tegas 😒
Yellow Sunshine: susah memang ya kalau orang udah terlanjur cinta mati 🤭 udah ditolak, masih aja dikejar 🤭
total 1 replies
falea sezi
😒 kebanyakan flasback
Dew666
🍎
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Anonim: type kayak gitu biasanya CEWEK MASOKIS sih
total 5 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!