NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: INTERSEPSI

07:22:00

Kereta berguncang pelan saat melintasi wesel di dekat Stasiun Tebet. Di dalam gerbong yang padat, Vero berdiri membelakangi pintu, melindungi Sarah yang sedang bekerja dengan laptopnya di sudut dekat sambungan gerbong.

Di tangan Sarah, ponsel militer milik Bomber 1 terhubung lewat kabel data. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan panik.

"Dapat lokasinya?" tanya Vero, matanya waspada memindai penumpang lain, memastikan tidak ada agen Triad lain yang menyamar.

"Ponsel ini terhubung ke Tracking Beacon," bisik Sarah, matanya tak lepas dari layar. "Ada satu sinyal prioritas tinggi yang sedang bergerak. Kode: ASSET-ZERO."

"Itu Maya," kata Vero. "Di mana dia?"

"Dia bergerak ke utara. Lewat Jalan MH Thamrin. Kecepatannya rendah... 10 km/jam. Macet."

"Dia naik apa?"

"Taksi. Bluebird. Nomor lambung B-1409." Sarah menatap Vero. "Dia menuju Stasiun Pusat. Estimasi tiba pukul 07:55."

"Kita cegat dia sebelum sampai," putus Vero. "Di mana markas Triad?"

Sarah mengetik perintah baru, mencari home address dari jaringan VPN ponsel militer itu.

Wajahnya memucat saat hasilnya keluar.

"Menara Obsidian," kata Sarah. "Di jantung SCBD. Lantai 40 sampai 50. Itu benteng, Vero. Keamanan di sana lebih ketat daripada Istana Negara."

Vero tersenyum miring. "Bagus. Mereka akan merasa aman di sana."

Pengumuman stasiun terdengar.

"Sesaat lagi kita tiba di Stasiun Manggarai..."

07:30:00.

Pintu terbuka. Vero dan Sarah melompat keluar.

Kali ini, Vero tidak perlu membelah kerumunan dengan bahu. Dia mengeluarkan lencana polisi palsu (dompet curian dari Bomber 1 ternyata berisi lencana BIN palsu) dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"MINGGIR! OPERASI NEGARA! JALAN!"

Lautan manusia membelah seperti Laut Merah. Efektivitas otoritas palsu.

Mereka berlari keluar menuju pangkalan ojek.

Motor Kawasaki KLX itu ada di sana. Pemiliknya baru saja menyalakan rokok.

Vero tidak memukulnya kali ini. Buang waktu.

Dia melempar segepok uang tunai (juga dari dompet Bomber 1) ke wajah pria itu.

"Beli motor baru. Ini saya pinjam."

Pria itu bengong melihat uang ratusan ribu berhamburan di udara. Vero sudah melompat ke atas jok, Sarah di belakangnya.

Brum!

Motor trail itu melesat pergi.

07:35:00.

Vero memacu motor melawan arus lalu lintas di Jalan Dr. Saharjo.

Target mereka—Taksi Maya—ada di Thamrin, mengarah ke Kota.

Vero harus memotong jalan.

"Pegang erat-erat, Sarah. Kita akan melompat," teriak Vero.

"Melompat di mana?!"

Vero membelokkan motor ke arah bantaran Kanal Banjir Barat. Ada jalan inspeksi sempit yang sepi, tapi dipenuhi polisi tidur dan lubang.

Motor trail itu terbang di atas gundukan tanah, suspensinya bekerja keras.

Mereka tembus ke area Dukuh Atas dalam waktu 7 menit.

Di depan mereka, Jalan Jenderal Sudirman terbentang. Macet total arah utara.

"Cari taksinya!" teriak Vero. "Nomor lambung 1409!"

Sarah memicingkan mata, memindai lautan mobil di tengah kemacetan Bundaran HI.

"Itu! Di depan Plaza Indonesia! Taksi biru!"

Vero memacu motor, menyelip di antara celah sempit mobil-mobil mewah. Spion motor menggores spion Alphard, masa bodoh.

Vero mensejajarkan motor di samping pintu penumpang taksi itu.

Dia melihat ke dalam kaca jendela yang gelap.

Seorang wanita berjaket denim duduk meringkuk di dalam, memeluk tas pendingin. Wajahnya cemas, terus-menerus melihat ke belakang.

Vero mengetuk kaca jendela taksi dengan laras Glock 19.

Tok. Tok.

Maya menoleh. Matanya membelalak melihat pria bersenjata di samping taksi.

Dia menjerit. "PAK SUPIR! NGEBUT!"

Supir taksi yang kaget langsung membanting setir ke kiri, mencoba menabrak motor Vero.

"Sialan!" umpat Vero. Dia menghindar dengan refleks cepat, roda depannya naik ke trotoar.

"Vero! Dia kabur!" teriak Sarah.

Taksi itu nekat naik ke jalur Busway, melanggar aturan demi menghindari "begal".

Vero kembali menarik gas, mengejar taksi itu di jalur Busway.

"Sarah, ambil alih kemudi!"

"Apa?!"

"Pegang setangnya dari belakang! Jaga keseimbangan!"

Sarah dengan panik memegang setang motor dari balik punggung Vero.

Vero melepaskan tangan kanannya, berdiri di atas footstep motor yang sedang melaju 60 km/jam itu.

Dia melompat.

Seperti adegan film aksi yang tidak masuk akal, Vero melompat dari motor yang sedang berjalan ke atap taksi sedan itu.

BRAK!

Atap taksi penyok.

Sarah menjerit, berusaha mengendalikan motor yang oleng, lalu menjatuhkannya ke aspal (untungnya kecepatannya sudah turun).

Di atap taksi, Vero berpegangan pada roof light.

Supir taksi panik, mengerem dan berbelok zig-zag mencoba menjatuhkannya.

Vero mengayunkan tubuhnya, menendang kaca jendela samping hingga pecah berhamburan.

Prang!

Dia menodongkan pistol ke kepala supir.

"BERHENTI ATAU KUBUAT KAU BERHENTI SELAMANYA!"

Taksi itu mengerem mendadak, ban berdecit panjang, berasap.

Berhenti tepat di tengah jalan MH Thamrin, di bawah patung Selamat Datang.

Vero turun dari atap, membuka pintu penumpang belakang, dan menarik Maya keluar.

"Tolong! Jangan bunuh saya!" Maya histeris, memukul-mukul Vero dengan tas pendinginnya.

"Diam!" bentak Vero. Dia mencengkeram bahu Maya, menatap matanya tajam. "Chronos Devourer."

Maya membeku. Tangannya berhenti memukul.

Matanya menatap Vero dengan ketidakpercayaan total.

"Kau... darimana kau tahu sandi itu?"

"Kau yang memberitahuku," kata Vero, napasnya tersengal. "Di masa depan di mana kau mati tertabrak kereta. Sekarang ikut aku, atau Adrian akan mendapatkanmu."

Sarah berlari tertatih-tatih menghampiri mereka, meninggalkan motor yang tergeletak di jalan.

"Vero! Kau gila! Lututku lecet semua!" omel Sarah, tapi dia langsung siaga melihat sekeliling. "Kita jadi tontonan. Polisi akan datang sebentar lagi."

Vero melihat jam tangannya.

07:45:00.

"Kita punya 15 menit sebelum Stasiun Pusat meledak," kata Vero. "Dan mungkin 30 menit sebelum Triad sadar aset mereka diculik."

Vero menatap supir taksi yang ketakutan.

"Pak, keluar. Saya butuh mobil ini."

Supir taksi itu langsung lari terbirit-birit tanpa perlu diminta dua kali.

Vero mendorong Maya masuk ke kursi belakang. "Sarah, di depan. Jadi navigator."

Vero duduk di kursi pengemudi.

Dia menoleh ke belakang, menatap Maya yang masih syok.

"Dengar, Maya. Aku tahu di tas itu ada Drive Omega. Aku tahu kau Pasien Nol—atau setidaknya itu yang dituduhkan Adrian. Aku tidak peduli. Tujuanku cuma satu: Hancurkan mesin waktu itu."

"Kau... Looper?" bisik Maya.

"Sayangnya, ya. Dan aku sudah muak dengan hari Senin ini."

Vero menginjak gas. Taksi itu melesat berputar balik di Bundaran HI.

Mereka tidak menuju Stasiun Pusat di Utara.

Mereka menuju Selatan. Ke SCBD. Ke Menara Obsidian.

Di belakang mereka, di kejauhan arah Utara, Stasiun Pusat berdiri megah, tidak menyadari bahwa di timeline ini, tidak ada pahlawan yang datang menyelamatkannya.

07:55:00.

Taksi melaju kencang di Jalan Jenderal Sudirman yang (ajaibnya) agak lengang di arah Selatan karena jam kerja sudah mulai.

"Vero," panggil Sarah pelan. "Lima menit lagi."

"Biarkan," jawab Vero dingin.

Maya menatap Vero. "Kau... kau membiarkan stasiun itu meledak? Ribuan orang..."

"Harganya adalah miliaran nyawa di masa depan yang rusak akibat loop ini," potong Vero. "Jangan buat aku merasa bersalah. Aku sudah melihat mereka mati 22 kali. Kematian kali ini setidaknya punya arti."

08:00:00.

Dari kaca spion tengah, Vero melihat kepulan asap hitam membubung tinggi di langit Jakarta Utara, jauh di belakang mereka.

Sangat kecil dari sini. Tapi Vero tahu kengerian di sana.

Tanah bergetar sedikit, bahkan sampai di sini.

Stasiun Pusat runtuh. Bom kargo meledak.

Berita Breaking News akan segera memenuhi semua layar di kota ini. Polisi, Tentara, dan Pemadam Kebakaran akan tersedot ke Utara.

SCBD akan kosong dari aparat keamanan.

Dan Menara Obsidian akan lengah.

"Mereka fokus ke Utara," kata Vero. "Pintu belakang terbuka."

Dia menatap Menara Obsidian yang menjulang tinggi di depan. Gedung kaca hitam pekat yang tampak seperti monolit alien.

"Selamat datang di level terakhir," gumam Vero.

Dia mengecek magasin pistolnya. Tinggal 8 peluru.

Di dalam sana, ada satu batalion tentara bayaran dan teknologi yang bisa memutar balik waktu.

"Maya, siapkan kuncinya. Sarah, siapkan mentalmu."

Vero menabrakkan taksi itu ke palang pintu parkir Menara Obsidian.

Brak!

Perang dimulai.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!