dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Aku Mulai Mencarimu
Pagi ini setelah drama berhari-hari kini Nayla bangun dengan perasaan ringan bahkan bisa dibilang sangat ringan, seolah ada sesuatu yang selama bertahun-tahun menekan dadanya akhirnya terangkat.
Percakapan dengan Ayahnya dua malam lalu masih teringat jelas, tangisan mereka, kejujuran mereka, dan keputusan untuk berhenti menunggu seseorang yang memilih untuk pergi.
Mungkin luka itu tidak hilang, namun kini luka itu tidak lagi mengendalikan hidupnya. Nayla berdiri didepan cermin dengan tangan yang merapihkan rambutnya, lalu tanpa sadar tersenyum kecil dimana senyuman itu membuat dirinya sendiri terkejut.
Akhir-akhir ini ia memang lebih sering tersenyum, dan ia tahu penyebabnya adalah Arsen Mahardika. Ponselnya yang berada diatas meja tiba-tiba menyala, refleks Nayla langsung menoleh namun layar itu kosong bukan pesan dari siapapun dan entah kenapa ia merasa sedikit kecewa.
" Nayla... Sarapan dulu, Nak. Ayah sudah siapkan masakan terenak pagi ini" suara Ayahnya terdengar dari luar kamar.
" Iya, Yah.. Nay turun sekarang" Nayla menjawab dengan nada riang.
Saat duduk di meja makan Nayla beberapa kali melirik ponselnya, tidak ada pesan masuk atau panggilan yang membuat handphone miliknya pagi ini terasa sepi tanpa notifikasi.
Aneh... Biasanya Arsen sudah mengirim pesan sejak pagi, Diseberang sana Ayahnya yang sejak tadi telah memperhatikan hanya bisa menahan senyumnya.
" Cariin siapa sih, Nak. Gelisah banget kayaknya" ucap sang Ayah.
" Aahhh... Ee... Eng... Enggak cari siapa-siapa" Nayla hampir tersedak jus jeruk miliknya.
" Oohhh... Tapi resah banget dari tadi sampe jus jeruknya enggak sampe ke tenggorokan kayaknya" jahil sang Ayah yang kini tertawa kecil.
" Iihhhh..... Aaayyaaahh" rengek Nayla.
Nayla memilih kembali fokus pada sarapannya, meskipun diam-diam ia kembali melihat layar ponselnya. Sampai akhirnya ia memilih menyerah, tangannya bergerak sendiri membuka ruang percakapan Arsen dengan menatap nama kontak laki-laki itu beberapa detik lalu membeku karena baru menyadari sesuatu.
Selama ini Arsen yang lebih dulu menghubunginya, selalu Arsen yang datang dan mencarinya. Hari ini ia ingin melakukan hal yang sama, jantungnya berdebar-debar sedikit gugup padahal hanya mengirimkan pesan singkat tapi tetap saja terasa aneh.
" Pagi... Sudah sarapan, Ar?"
Akhirnya ia mengetik pesan singkat, dan beberapa detik setelah pesan terkirim Nayla langsung mematung.
" Hahh? Apa yang baru saja aku lakukan?"
Lima detik... Lima belas detik... Lalu ponselnya langsung bergetar.
" Dokter Nayla yang galak ini, baru saja menghubungi saya duluan? Oh Tuhan apakah aku sudah melakukan hal baik pagi ini?"
Balasan pesan langsung masuk dari Arsen, membaca pesan itu membuat wajah Nayla langsung memerah.
" Arsen...."
Nayla langsung membalas pesan langsung dengan memejamkan kedua matanya, sementara senyuman kecil itu muncul tanpa izin.
Di sisi lain kota Arsen benar-benar sedang tersenyum seperti orang bodoh, membuat seluruh tim rapatnya pagi ini mendadak bingung.
" Pak Arsen baik-baik saja?"
" Baik, bahkan sangat baik..." jawab Arsen.
" Beneran, Pak?"
" Iya, sudah kita lanjutkan rapatnya " jawab Arsen tenang.
Akhirnya setelah berbulan-bulan mengejar, akhirnya ada satu langkah kecil dari Nayla dan langkah kecil itu terasa sangat besar baginya.
🌟
Siang hari Nayla baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhir, saat berjalan keluar ruangan ia melihat dua perawat sedang mengobrol.
" Pacarnya dokter Nayla belum datang? Yang ganteng itu?" ucap salah satu perawat.
" Ada apa?" Nayla langsung berhenti.
" Eehhh dokter!!!" kedua perawat itu langsung panik.
" Aku bukan pacarnya, jangan asal bicara" Nayla menghela nafasnya.
" Belum dok..." kedua perawat itu saling berpandangan.
Wajah Nayla langsung merah, sementara mereka buru-buru kabur meninggalkan Nayla yang tidak tahu harus kesal atau malu.
Sore hari untuk kedua kalinya Nayla kembali mendatangi kantor Arsen tanpa memberitahu sebelumnya, sebenarnya ia sedang berada dikawasan yang sama untuk menghadiri seminar medis. Namun ada alasan lain yang tidak ingin ia akui, ia ingin bertemu dengan. Arsen sesederhana itu alasannya.
" Selamat Sore dokter Nayla" resepsionis langsung mengenali saat tiba di lobby gedung.
" Aahh iya, maaf apa anda mengenal saya?" Nayla sedikit terkejut karena saat pertama datang kesini malam hari resepsionis disana berbeda dengan yang sekarang.
" Tentu dokter, kami sering dengar nama dokter dari Pak Arsen, dan Pak Arsen sudah menitipkan pesan jika dokter berkunjung bisa langsung menunggu di ruangan Pak Arsen saja" wanita itu tersenyum lebar dan sopan.
Jantung Nayla langsung tidak tenang, dan benar saja Nayla langsung memejamkan mata.
" Pak Arsen sedang berada diruangan, dok. Bisa langsung ke lantai atas saja, apa perlu saya antar? " resepsionis itu masih tersenyum ramah.
" Aahh tidak usah, terimakasih banyak ya.. kalau gitu saya ke atas dulu ya" jawab Nayla sopan.
Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka, Nayla melangkahkan kakinya keluar. Namun sebelum sempat berjalan jauh, ia melihat Arsen sedang berbicara dengan beberapa rekan kerja.
Laki-laki itu terlihat serius profesional dan berwibawa, jauh berbeda dari Arsen yang selalu menggodanya. Entah kenapa Nayla berhenti untuk memperhatikan Arsen dari jauh karena merasa saat ini sepertinya kegantengan Arsen naik peringkat di mata Nayla, sampai akhirnya salah satu staff Arsen menyadari keberadaannya.
" Pak Arsen... Itu..." ucap salah satu staff dengan gerakan mata, membuat Arsen menoleh lalu membeku.
" Nay ..." wajah terkejut itu membuat Nayla tersenyum kecil.
" Maaf apa aku mengganggu?" tanya Nayla.
Untuk pertama kalinya ia menikmati reaksi dari Arsen yang menurutnya terlihat lebih tampan saat ini.
" Pertanyaan macam apa itu? Siapa yang bilang mengganggu, ngaco..." ucap Arsen yang sudah menghampiri Nayla.
Akhirnya Arsen berpamitan dengan para staff, dan membawa Nayla untuk masuk kedalam ruangan kerjanya.
" Nay kamu kenapa enggak minta jemput aku kalau mau kesini? Apa sudah makan?" tanya Arsen beruntun dengan gerakan tangan yang melihat jam di tangannya.
" Satu-satu tanyanya Pak Arsen, bingung sebanyak ini mau yang mana dulu dijawabnya" Nayla terkekeh kecil membuat Arsen gemas dan mencubit kedua pipi Nayla lembut.
" Maaf... Kalau disamperin sama orang tersayang suka lepas kendali" ucap Arsen.
" Kebetulan aku ada acara seminar dekat sini, dan sudah selesai jadi mampir aja" Nayla mengangkat bahunya.
" Ohhh... kebetulan?" tanya Arsen dengan mata yang mulai menyipit.
" Kenapa sih, Ar? enggak percaya, ya?" tanya Nayla.
" Yakin kebetulan? Bukan karena kangen aku?" goda Arsen.
" Ihh Arsen" Nayla langsung memikul lengannya pelan.
Tawa laki-laki itu memenuhi ruangan dan semua orang berada disana melihatnya langsung terdiam, selama ini mereka tidak pernah melihat Arsen tertawa selepas itu.
Setelah rekan-rekannya pergi mereka duduk diruang kerja Arsen, minum kopi, mengobrol ringan, dan tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat.
" Nay, terimakasih yaa aku senang banget deh..." ucap Arsen tiba-tiba.
" Aku ngapain, kok kamu seneng?" Nayla menoleh.
" Karena sekarang bukan cuma aku yang berusaha untuk kita, tapi kamu juga. Terimakasih banyak sudah melawan rasa takut itu ya... Kita sama-sama berusaha ya" tatapan Arsen kini melembut.
Jantung Nayla langsung berdebar kencang, karena ia tahu jika Arsen benar. Selama ini dirinya selalu mundur, selalu takut, selalu menjaga jarak, namun sekarang ia mulai melangkah pelan perlahan namun pasti.
" Jujur aku masih takut, Ar. Tapi... Entah kenapa sekarang aku mulai terbiasa ada kamu disetiap waktu yang aku lewati" ucap Nayla jujur.
" Aku tahu, tapi aku mau denger langsung dari perempuan gengsi ini" Arsen mengangguk pelan dengan senyuman hangat.
Kini Arsen benar-benar kehilangan kata-katanya, kalimat sederhana itu terasa lebih indah dari pada pengakuan apapun. Mata mereka saling bertemu dengan hangat, nyaman, tanpa tekanan dan tanpa paksaan.
Hanya ada dua orang yang perlahan berjalan menuju arah yang sama, dan untuk pertama kalinya Nayla tidak lagi hanya membuka pintu hatinya. Ia mulai melangkah masuk ke dalam cerita yang selama ini diperjuangkan Arsen seorang diri.