NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Kedekatan

Aroma lilin aromaterapi beraroma kayu cendana dan melati menguar halus di dalam aula utama Gedung Arsip Nasional yang malam itu disulap menjadi tempat resepsi diplomatik eksklusif.

Acara yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang Internasional ini hanya dihadiri oleh segelintir elit: para duta besar negara-negara Eropa, menteri-menteri strategis, serta para konglomerat yang namanya masuk dalam daftar seratus orang terkaya di Asia Tenggara.

Di antara kerumunan pria berjas tuksedo hitam dan wanita bergaun malam adibusana, Rendy Pratama berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Ia merasa bangga sekaligus canggung. Undangan ke acara ini tidak didapatkannya melalui koneksi Adiguna Group,perusahaannya belum cukup berkelas untuk menembus barikade protokoler seketat ini. Ia bisa berada di sini malam ini murni karena undangan pribadi yang dikirimkan oleh kantor Elena Van Doren.

"Tuan Rendy, Anda tampak sedikit tegang," sebuah suara serak yang familier menyentuh indra pendengarannya.

Rendy berbalik dengan cepat. Di hadapannya, Elena berdiri memegang gelas kristal berisi air mineral berkarbonasi dengan potongan lemon. Malam ini, Elena tampil memukau dengan gaun malam berbahan beludru warna hijau zamrud (emerald green) yang mengekspos garis lehernya yang jenjang. Rambut bob hitamnya ditata sedikit bergelombang di bagian ujung, memberikan kesan klasik ala bangsawan Eropa abad ke-20.

Riasan wajahnya minimalis, namun anting-anting berlian yang menggantung di telinganya menangkap setiap pantulan cahaya lampu gantung, menciptakan kilau yang menyilaukan.

"Madam Elena," Rendy buru-buru membungkuk kecil, menyembunyikan keterpakuannya. "Saya hanya ... sedikit kagum dengan atmosfer malam ini. Koneksi Anda di tingkat diplomatik benar-benar luar biasa."

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sengaja ia latih untuk terlihat hangat namun tetap menjaga jarak profesional. "Ini hanya pertemuan kasual, Rendy. Di Eropa, kami terbiasa mendiskusikan proyek makro di sela-sela minum teh bersama para menteri. Jika Anda ingin membawa Adiguna Group ke kancah global, Anda harus membiasakan diri dengan lingkungan seperti ini."

Mendengar Elena memanggil namanya tanpa embel-embel "Tuan", ego Rendy bergetar hebat. Ada rasa bangga yang membubung tinggi di dalam dadanya. Pria itu merasa bahwa ia mulai berhasil menaklukkan hati sang wanita besi dari Eropa.

"Tentu saja, Elena. Saya sangat berterima kasih karena Anda sudi membimbing saya masuk ke lingkaran ini," ucap Rendy, dengan berani mengubah panggilannya menjadi lebih intim.

Elena mengawasi perubahan ekspresi wajah Rendy dengan rasa muak yang tertata rapi di balik topeng kecantikannya.

Ia melirik ke arah sudut aula, tempat Budi berdiri di dekat pilar besar, memegang ponsel yang terhubung langsung dengan sistem pemantauan audio rahasia milik Arka. Elena tahu, setiap kata yang keluar dari mulut Rendy malam ini sedang direkam dan dianalisis untuk langkah taktis berikutnya.

"Mari kita berjalan-jalan ke arah taman belakang," ajak Elena dengan nada suara yang melembut, sebuah umpan psikologis yang sengaja ia tebar. "Di dalam terlalu bising untuk mengobrol."

Rendy dengan penuh semangat mengikuti langkah Elena menuju taman terbuka yang dihiasi oleh lampu-lampu taman temaram dan air mancur marmer yang gemercik tenang. Udara malam yang sejuk menerpa wajah mereka, membawa keheningan yang intim di antara keduanya.

Elena sengaja berjalan dengan lambat, membiarkan Rendy berjalan setengah langkah di sampingnya. "Bagaimana perkembangan restrukturisasi tim pemasaran Anda, Rendy? Saya mendengar Anda sudah mengambil keputusan tegas mengenai Nona Lisa."

Rendy menghela napas panjang, wajahnya mendadak berubah muram di bawah temaram lampu taman. "Ya, Elena. Sesuai saran Anda, saya telah mencopot Lisa dari jabatan Direktur Pemasaran. Itu adalah keputusan yang sulit, tapi demi profesionalisme dan masa depan Adiguna City, saya harus melakukannya."

"Apakah dia menerimanya dengan baik?" tanya Elena, pura-pura menunjukkan empati seorang wanita.

Rendy tertawa sumbang, penuh dengan nada frustrasi. "Dia mengamuk, Elena. Dia tidak mengerti beban yang harus kupikul. Dia terus-menerus menuntut perhatian, kemewahan, dan bersikap posesif yang berlebihan. Belakangan ini, setiap kali aku pulang ke penthouse, yang kudengar hanyalah keluhan dan teriakannya. Dia ... dia sangat menguras energiku."

Elena menghentikan langkahnya tepat di depan kolam air mancur. Ia membalikkan badannya, menatap Rendy dengan sepasang mata esnya yang kini sengaja ia buat melembut, menyiratkan pemahaman yang dalam.

"Sangat disayangkan," bisik Elena, suaranya terdengar merdu namun penuh dengan racun manipulasi. "Seorang pria dengan ambisi besar dan kecerdasan seperti Anda, Rendy, seharusnya didampingi oleh seorang wanita yang bisa menjadi jangkar ketenangan Anda, bukan badai yang merusak fokus Anda. Anda pantas mendapatkan seseorang yang bisa menaikkan kelas sosial Anda, seseorang yang bisa berjalan berdampingan dengan Anda di acara seperti malam ini tanpa membuat Anda merasa malu."

Rendy menatap Elena dengan pandangan yang berapi-api. Kata-kata Elena seolah meruntuhkan seluruh sisa kesetiaannya kepada Lisa. Di mata Rendy saat ini, Lisa tampak seperti masa lalu yang norak, penuh dengan skandal kotor, dan menjadi batu sandungan bagi kariernya. Sementara Elena? Elena adalah perwujudan dari semua impian tertingginya tentang seorang wanita: kaya, berkuasa, anggun, dan memiliki kelas yang tak tertandingi.

"Anda benar, Elena," ucap Rendy, suaranya bergetar oleh emosi yang membakar egonya. "Terkadang ... aku merasa sangat merindukan masa-masa ketika aku memiliki seseorang yang tulus mendukungku dari belakang tanpa meminta imbalan apa pun. Mantan istriku yang dulu ... Alana ... dia memiliki ketulusan itu. Tapi Lisa? Dia hanya mencintai uang dan statusku."

Mendengar Rendy menyebut nama aslinya dari mulut pengkhianat itu, Elena merasakan cengkeraman dingin yang tak kasat mata meremas jantungnya. ("Kau merindukan ketulusanku setelah kau membuangku ke sungai demi harta, Rendy?") batin Alana menjerit penuh kemarahan. Namun, wajah Elena tetap tenang seperti permukaan danau yang membeku.

"Jika Anda tahu dia hanya mencintai uang Anda, mengapa Anda masih mempertahankannya di dalam rumah Anda, Rendy?" tanya Elena dengan nada provokatif yang halus. "Seorang pria sukses tidak boleh membiarkan dirinya disandera oleh masa lalu atau oleh wanita yang tidak lagi memiliki nilai bagi masa depannya."

Rendy melangkah satu jengkal lebih dekat, menatap Elena dengan tatapan penuh pemujaan yang buta. "Aku tidak akan membiarkannya menyanderaku lagi, Elena. Mulai malam ini, aku akan menyelesaikan semuanya dengan Lisa. Aku ingin membebaskan diriku sepenuhnya ... agar aku bisa menjadi pria yang layak untuk berdiri di samping wanita sehebat Anda."

Elena menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman misterius yang membuat Rendy semakin terbuai. "Kita lihat saja pembuktianmu, Rendy. Aku tidak menyukai pria yang hanya pandai berbicara tanpa tindakan nyata."

Elena kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju aula pesta, meninggalkan Rendy yang berdiri di taman malam itu dengan tekad bulat yang gelap di dalam kepalanya: ia harus menyingkirkan Lisa dari hidupnya, secepatnya, dan dengan cara apa pun.

Di dalam mobil Rolls-Royce yang bergerak menjauhi Gedung Arsip Nasional, Elena duduk bersandar dengan mata yang terpejam rapat. Seluruh tubuhnya terasa lemas setelah sandiwara kedekatan yang baru saja ia mainkan bersama Rendy. Rasa mual yang teramat sangat bergejolak di perutnya; membayangkan tangan Rendy yang hampir menyentuhnya tadi membuat kulitnya meremang jijik.

Ponsel di konsol tengah bergetar, menampilkan panggilan video dari Arka. Elena membuka matanya dan menerima panggilan tersebut.

Layar menampilkan wajah Arka yang sedang duduk di perpustakaan pribadinya. Di belakangnya, deretan buku bersampul kulit tua tertata rapi. Arka tidak mengenakan jas malam ini; ia hanya memakai kemeja hitam kasual dengan lengan yang digulung hingga ke siku.

"Kau memberikan pertunjukan yang sangat memukau malam ini, Elena," ucap Arka, suara baritonnya yang berat memberikan efek menenangkan yang instan bagi saraf-saraf Elena yang menegang. "Rendy benar-benar telah meminum racunmu hingga tetes terakhir."

Elena menghela napas panjang, memijat dahinya yang terasa pening. "Dia menyebut namaku, Arka. Dia menyebut nama Alana di depanku dengan wajah penuh penyesalan yang palsu. Rasanya aku ingin sekali mencolok matanya malam tadi."

"Dia menyesal bukan karena dia menyayangimu, Elena. Dia menyesal karena dia menyadari bahwa Alana yang dulu dia injak-injak sebenarnya memiliki nilai strategis yang jauh lebih tinggi daripada Lisa," sahut Arka, tatapannya menatap Elena dengan kehangatan yang tersembunyi. "Itulah hukuman psikologis pertama untuknya: menyadari bahwa dia telah membuang permata demi sebutir kerikil, dan kini dia sedang memuja hantu dari permata tersebut tanpa dia sadari."

Arka menegakkan posisi duduknya, beralih ke nada bicara yang lebih serius. "Budi baru saja mengirimkan rekaman percakapan kalian ke pelayan dataku. Rencana kita berjalan lebih cepat dari perkiraan. Rendy akan mengusir Lisa malam ini juga dari penthouse Menteng. Pria itu sudah benar-benar buta oleh pesona uang dan kelas yang kau tunjukkan."

Elena menarik napas dalam-dalam, mengunci kembali emosinya ke dalam kotak besi di benaknya. "Biarkan dia mengusir Lisa. Dengan begitu, Lisa tidak akan memiliki pilihan selain membalas dendam dengan caranya sendiri. Dan saat itulah ... retakan di antara mereka akan menjadi lubang yang menelan mereka berdua."

Arka mengangguk setuju, kilatan kepuasan terpancar dari sepasang matanya yang hitam tajam. "Skenario untuk tahap berikutnya sudah siap, Elena. Besok pagi, tim auditor kita akan menyerahkan laporan keuangan bersih tiruan kepada Rendy, bersamaan dengan draf kontrak utama investasi tahap pertama. Sodoran satu triliun rupiah di depan matanya akan membuatnya menandatangani kontrak jaminan tanpa membaca klausul terkubur yang kita buat."

Elena menatap layar ponselnya, menatap wajah Arka yang selalu tampak kokoh dan tak tergoyahkan. "Terima kasih, Arka. Tanpa bantuanmu di belakang layar, aku tidak akan pernah bisa membuat Rendy bertekuk lutut secepat ini."

Arka menatap Elena dengan intensitas yang dalam, membuat keheningan di antara mereka terasa begitu bermakna melalui media digital. "Aku sudah mengatakannya padamu, Elena. Jangan pernah berterima kasih untuk sesuatu yang sudah menjadi tugasku. Istirahatlah malam ini. Besok pagi, singa betina harus kembali mengenakan mahkotanya untuk menyaksikan mangsanya menandatangani surat kematian finansialnya sendiri."

Elena tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang perlahan mencairkan sisa-sisa rasa mual di dadanya. Ia mematikan panggilan, lalu menatap keluar jendela ke arah kegelapan malam Jakarta.

Badai besar akan segera melanda kehidupan Rendy Pratama, dan Elena sudah siap untuk menjadi pusat dari badai tersebut.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!