NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

POV Ghea

Roda brankar itu berderit cepat, bunyinya memantul di langit-langit lorong rumah sakit yang seolah tak berujung. Setiap guncangan terasa seperti tikaman di dadaku. Aku ingin berteriak, ingin memberitahu perawat yang mendorongku bahwa paru-paruku sudah menyerah, bahwa aku tidak bisa menarik napas lagi.

Duniaku menyempit, hanya sebatas masker yang menempel di wajahku, mengembuskan udara dingin yang terasa sangat menusuk.

Lalu, pintu ganda itu terbuka. 'Keluarga tunggu di luar ya,' suara tegas seorang perawat memutus satu-satunya jangkarku pada dunia nyata. Aku melihat tangan Ghani terlepas dari pinggiran brankarku. Wajahnya yang sedih dan nampak menahan air mata perlahan menjauh, tertutup oleh daun pintu yang menutup rapat.

Aku didorong masuk ke ruangan yang luas namun terasa begitu karena aku dikepung oleh mesih-mesin yang memiliku suara mekanis dingin. Tit. Tit. Tit. Sensor mulai ditempelkan di dadaku, kabel-kabel melilit tubuhku seperti akar pohon yang menjalar.

Rasanya seperti aku sedang dipersiapkan untuk sebuah perjalanan yang aku sendiri tidak tahu ujungnya. Ketakutan menghantuiku. Dalam kesakitan, dalam kelelahan, dalam kesendirian, dalam kedinginan, juga dalam ketidak pastian antara aku bisa bertahan atau tidak.

Setiap kali aku memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa, rasa panik langsung menyentakku bangun. Bagaimana jika aku tertidur dan tidak pernah bangun lagi? Bagaimana jika mesin ini berhenti berbunyi dan tidak ada yang menyadarinya? Di sini yang ada hanyalah cahaya neon yang kejam dan perasaan bahwa aku sedang bertarung sendirian di ambang maut.

Sakit di dadaku bukan lagi sekadar sesak; itu adalah rasa terbakar yang hampa. Dan yang paling menyakitkan dari segalanya bukanlah rasa sesak itu, melainkan kesadaran bahwa jika ini adalah saat-saat terakhirku, aku hanya akan ditemani oleh bunyi monitor dan bayangan putih orang asing yang sibuk mencatat angka-angka di atas kertas, tanpa ada tangan yang kukenal untuk kugenggam.

Lampu neon di atasku rasanya mulai membakar mataku yang lelah, sampai sebuah bayangan teduh menghalanginya. Aku mendengar seseorang mendekat. Itu Suster Sarah. Aku mengenali guratan matanya yang ramah di balik masker bedah yang menutupi wajahnya.

Dia tidak langsung menyentuh alat medis. Dia menyentuh bahuku dulu.

'Masih berjuang ya? Sebentar lagi, ya. Napasnya sudah lebih bagus dari satu jam yang lalu,' suaranya lembut, seperti bisikan yang mencoba meredam kebisingan monitor di kepalaku.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks terasa dingin, tapi cara dia memegang pergelangan tanganku untuk menghitung denyut nadi terasa begitu hati-hati, seolah aku adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Dia memeriksa selang infusku, menyesuaikan masker oksigenku yang sedikit miring dengan gerakan yang sangat pelan.

"Jangan dilawan mesinnya." katanya lagi sambil menatap mataku dalam-dalam. "Biarkan oksigennya masuk. Bayangkan kamu sedang di pantai, udaranya luas, tidak terbatas. Aku di sini menjaga angkanya untukmu."

Dia mengambil sepotong kapas basah, lalu dengan lembut mengusap bibirku yang kering dan pecah-pelan karena terus-menerus terpapar aliran uap obat. Rasanya dingin, segar, dan... ajaib. Itu adalah hal paling manusiawi yang kurasakan sejak aku didorong masuk ke ruangan ini.

Sebelum dia beranjak ke pasien sebelah, dia menepuk tanganku pelan.

"Tidur saja sebentar. Aku tidak akan ke mana-mana. Juga pacarmu yang tampan itu, masih setia di luar, dia sedari tadi tak pernah meninggalkanmu, jangan takut."

Untuk pertama kalinya sejak aku disini, otot bahuku yang tegang mulai melonggar. Aku menutup mata, membiarkan desis oksigen menjadi latar belakang. Di ruang HCU yang asing dan menakutkan ini, aku baru saja menyadari satu hal: meskipun Ghani tertahan di balik pintu ganda itu, aku tidak benar-benar bertarung sendirian.

Lalu, tirai itu tersingkap. Bunyinya yang berderit adalah musik paling merdu yang kudengar hari ini. Suster Sarah muncul, memberikan senyum kecil padaku yang seolah aku akan ikut berlari dengannya esok hari. Dia melangkah masuk, diikuti oleh sosok yang sebenarnya kubenci namun paling ingin kulihat.

Ghani.

Wajahnya menggambarkan keletihan dan ketakutan di bawah cahaya lampu HCU yang tajam. Dia melangkah ragu, seolah lantai ini terbuat dari kaca yang mudah pecah. Matanya tertuju pada masker oksigen yang menutupi separuh wajahku, lalu ke kabel-kabel yang menempel di dadaku. Ada ketakutan di matanya, ketakutan yang berusaha dia sembunyikan dengan senyuman.

Dia tidak bicara banyak. Dia tahu aku belum punya cukup tenaga untuk diajak bicara. Ghani hanya duduk di kursi plastik kecil di samping tempat tidurku, lalu meraih tanganku yang masih gemetar karena efek samping obat uap.Tangannya hangat. Sangat kontras dengan sprei rumah sakit yang dingin dan licin.

"Bernapas saja yang tenang." bisiknya, suaranya parau. "Aku di sini. Aku tidak ke mana-mana."

Air mata yang dia tahan, akhirnya menganak sungai membelah pipinya yang tampak halus. Disini aku melihat kerentanannya yang sangat, dia terluka, disini aku melihat kasih yang sangat dalam yang dia tunjukkan padaku, kontras dengan apa yang kulihat tadi pagi. Seolah aku nyawanya, seolah aku sangat berarti untuknya, seolah aku adalah belahan jiwanya, padahal kami bukanlah siapa-siapa. Keputus asaan sangat terlihat jelas di matanya, seolah melebihi keputusasaanku pada nafasku sendiri.

Hanya sepuluh menit. Suster kembali untuk memberi kode bahwa waktu berkunjung sudah habis. Tapi sepuluh menit itu cukup. Genggaman tangan Ghani meninggalkan rasa hangat yang lebih ampuh daripada suntikan steroid manapun yang masuk ke pembuluh darahku hari ini. Genggaman itu seolah berkata, "aku akan menjagamu, kamu yang tenang.". Aku tidak lagi merasa sendirian bertarung melawan paru-paruku sendiri.

Aku membiarkan kepalaku tenggelam lebih dalam ke bantal rumah sakit yang kaku. Masker oksigen di wajahku, yang tadinya terasa seperti kurungan plastik yang menyesakkan, kini terasa seperti pelukan yang memberiku hidup. Setiap desis udaranya yang ritmis mulai terdengar seperti bisikan ombak yang tenang. Aku tidak lagi menghitung setiap tarikan napas. Aku berhenti mencoba menjadi nakhoda bagi paru-paruku sendiri. Aku membiarkan mesin-mesin di sekelilingku mengambil alih kemudi.

Sakit di dadaku mulai memudar, berubah menjadi rasa hangat. Perlahan, lampu neon di langit-langit yang tadinya tajam menusuk mata, kini tampak berpendar lembut. Monitor di sampingku masih mengeluarkan bunyi pip yang teratur, tapi sekarang suaranya terdengar jauh, seolah berasal dari ruangan lain yang sangat jauh.

Aku merasa ringan. Seolah beban beton yang menindih dadaku selama berjam-jam telah diangkat oleh tangan-tangan tak terlihat.

Untuk pertama kalinya sejak serangan itu menghantam, aku tidak takut untuk memejamkan mata. Aku tidak lagi terjaga karena takut akan berhenti bernapas.

Aku menarik satu napas panjang,napas yang paling lega yang pernah kurasakan dan membiarkan diriku jatuh. Jatuh ke dalam kegelapan yang lembut, tanpa rasa sesak, tanpa rasa takut.

Hanya ada istirahat. Akhirnya, aku bisa tidur.

1
Suris
Novel spionase dan petualangan yg palung bagus yg pernah sy baca di NT.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!