Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Arumi dan Bella masih berada di kamar kedua orang tua mereka.
Namun, kini di depan mereka terdapat sebuah map coklat.
"Kak, kira-kira apa ya isi map ini?" tanya Bella.
"Nggak tahu juga aku, Dek," jawab Arumi.
"Ya udah, ayo loh buka aja ini," ucap Bella.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Arumi membuka map itu.
Di dalamnya, terdapat sebuah kertas.
Srek.
Ditariknya kertas itu, lalu dibaca dengan perlahan.
Tubuh Arumi tersentak, karena isi dari kertas itu adalah surat tanah.
"Ini surat tanah, Dek. Tapi, namanya bukan nama Ibu atau Bapak," ucap Arumi terkejut.
Bella ikut memperhatikan surat itu.
Ini adalah surat resmi.
Namun, nama pemilik tanah itu tertulis jelas, Susi Ardiani.
Arumi tertegun dengan nama itu.
Jelas ia tahu siapa itu Susi.
Di kertas itu, disebutkan luas tanah dan juga lokasi.
Namun, lokasi tempat lahan berada bukanlah di desa ini, melainkan di desa sebelah.
"Kak, Susi itu siapa?" Bella bertanya, gadis itu tampak kebingungan.
Sebab, Bella memang belum mengetahui siapa nama kuntilanak merah itu.
"Susi itu... Nama dari kuntilanak yang nyulik bayi di desa ini, Dek," jawab Arumi.
"Hah!" Bella begitu terkejut saat kakaknya mengatakan itu.
"Terus, kenapa surat tanah ini bisa ada di kamar orang tua kita?"
"Nah, itu juga yang aku bingung. Entah ada hubungan apa Ibu dan Bapak sama Susi," jawab Arumi.
Brum, brum, brum.
Saat keduanya masih bertanya-tanya tentang asal muasal surat tanah tersebut, tiba-tiba saja suara sebuah mobil terdengar memasuki pekarangan rumah mereka.
Bella memandangi kakaknya, wajahnya begitu panik.
Mereka tahu, itu adalah mobil kedua orang tuanya.
Rupanya, Nyai Sawitri dan Pak Broto sudah pulang, padahal hari belum terlalu sore sebenarnya.
Dengan terburu-buru, Arumi menyimpan kembali map coklat itu ke dalam lemari.
Tap, tap, tap.
Langkah kaki terdengar di lorong yang menuju ke kamar itu.
Dengan panik, Arumi menarik tangan Bella untuk bersembunyi di bawah ranjang.
"Nggak muat, Kak," bisik Bella.
"Diem, Dek, kalau kita ketahuan sama Ibu bisa bahaya," jawab Arumi sambil menempelkan ujung jarinya ke bibir, mengisyaratkan untuk jangan berbicara.
Meski sempit, namun ranjang itu mampu menutupi tubuh Arumi dan Bella, karena badan mereka juga tak terlalu besar.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, masuklah Nyai Sawitri.
Nyai Sawitri melepas sandal, lalu duduk di pinggir ranjang.
Sesekali, wanita yang tak lagi muda itu menghela napas, berusaha mengusir lelah dari perjalanan.
Satu menit, 5 menit, bahkan 10 menit, Arumi dan Bella masih sabar menunggu.
Namun, hingga 15 menit, sang ibu tak kunjung meninggalkan kamarnya, membuat Arumi dan Bella sulit untuk keluar.
Nyai Sawitri malah membaringkan dirinya di atas ranjang, namun ia tak tidur.
Karena sudah sangat kesal, akhirnya Bella langsung keluar dari bawah ranjang tanpa aba-aba, membuat Arumi juga sedikit terkejut.
Nyai Sawitri, yang melihat sang putri bungsu keluar begitu saja dari bawah ranjang kamarnya, sontak saja langsung terperanjat bangkit.
"Bellaaa, ngapain kamu ada di kamarku," ucap Nyai Sawitri dengan nada tinggi.
Karena takut ibunya memarahi Bella, akhirnya Arumi juga memilih untuk keluar dari persembunyiannya.
"Arumi, kamu juga ada di sini? Ngapain kalian, hah?" tanya Nyai Sawitri.
"Maaf, Bu, kami cuma mau lihat-lihat aja, kok," ucap Arumi.
"Lihat-lihat aja, katamu? Berani kalian masuk ke kamar orang tua tanpa izin seperti ini? Hayang di siksa saria ku aing? Wani-wani asup ka kamar kolot, dasar garoblog kabeh," maki Nyai Sawitri penuh amarah.
Bella terkejut, ia tak menyangka ibunya akan semarah ini hanya karena masalah sepele.
Padahal, Nyai Sawitri bisa saja hanya menegur kedua putrinya, namun ia malah langsung saja memarahi, dan itu yang membuat Bella merasa sedih juga.
"Maaf, Bu, kita nggak sengaja," ucap Bella.
"Cicing maneh, kaditu arinit!" usir Nyai Sawitri.
[Diam kamu, sana pergi]
Wajah Nyai Sawitri merah padam, napasnya memburu.
Dengan tatapan menusuk, Nyai Sawitri berkata kepada Arumi.
"Awas saja kalau kalian membuka surat-surat penting di kamar ini," ucap Nyai Sawitri.
Dengan tatapan yang penuh kesedihan dan rasa kecewa, Bella berlari, meninggalkan kamar itu yang udaranya sekarang semakin memanas.
Tanpa berkata apapun lagi, Arumi menyusul sang adik.
Bella pergi ke kamarnya, gadis itu mencurahkan tangisnya di sana, menutupi wajah dengan bantal.
Arumi membuka pintu kamar adiknya yang memang terbuka sedikit.
Dengan langkah pelan, gadis itu mendudukan diri di ranjang sang adik.
Bella membuka bantal saat merasakan ranjangnya berderit.
"Huhuhu, Ibu bentak-bentak aku, Kak," ucap Bella.
Arumi mengusap tangan Bella, berusaha memberikan kekuatan.
Itulah Bella.
Barbar, tapi dia paling rapuh jika dibentak.
"Maafin Kakak, ya, harusnya aku nggak ngajakin kamu ikut ke kamar Ibu," ucap Arumi merasa bersalah.
Walau bagaimanapun, Arumi yang membuat Bella kena marah oleh ibu mereka.
"Aku nggak nyuri, Kak, tapi Ibu marah seolah kita udah ngelakuin kesalahan yang gede banget," Bella makin tersedu.
"Iya, aku tahu. Udah jangan sedih lagi, ya, nanti cantiknya ilang," hibur Arumi.
"Biarin, nggak peduli," jawab Bella kesal.
"Uh, iya-iya, jangan marah-marah, udah besar gitu kok,"
Arumi mengusap air mata Bella yang terus berjatuhan itu.
"Makasih udah ke sini, ya, Kak, ya," ucap Bella setelah reda dari tangisnya.
"Ngapain terima kasih, kayak sama siapa aja sih kamu itu," jawab Arumi.
"Tapi, Kak, kalau Ibu semarah itu pas kita ke kamarnya, berarti ada dokumen atau apa gitu yang dia nggak mau kita tahu," ucap Bella.
"Iya, kayaknya soal surat tanah itu," jawab Arumi.
"Bisa jadi, habisnya aneh, entah punya siapa itu," ucap Bella.
Sejenak, mereka terdiam, memikirkan semua yang telah terjadi.
"Oh ya, Kak, nanti sore kamu mau ngajar ngaji, Nggak?" tanya Bella memecah keheningan.
Kini gadis itu sudah duduk, dan ia sudah tidak menangis lagi.
"Ya, ngajar lah, Dek, kemarin kan enggak," jawab Arumi.
"Ikut ya, Kak," pinta Bella.
"Emang kamu mau ngajar juga?" Tanya Arumi, dahinya mengeringit heran.
"Nggak mau,"
"Terus?"
"Aku ya mau jajan, Kak, sore-sore banyak makanan," jawab Bella.
"Ya Allah, Dek, kirain ikut itu karena kamu mau bantuin aku ngajar, tahunya malah mau mukbang," Arumi menepuk jidat dibuat oleh adiknya ini.
Jika membeli makanan, Bella tak hanya membeli 1 atau 2 makanan saja, tapi bisa lebih banyak dari itu.
Sudah macam mau mukbang saja memang gadis itu, beruntungnya ia bukan content creator.
Selamat membaca, ya, maaf nggak up lama.
Ini juga diusahakan, sih.