Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Lingga yang baru saja keluar dari area parkir dan baru beberapa meter turun ke jalan raya sampai ngerem mendadak atas statment ibunya. Membuat perempuan itu nyaris oleng ke depan, beruntung sudah memakai sabuk pengaman dengan benar.
“Lingga, apaan sih! Bawa mobil! Lagi genting begini malah ngajak bercanda.”
“Maaf Ma, maaf, tadi nggak sengaja keinjek remnya,” sesal pria itu dengan hati semrawut. Pikirannya kacau dan tentu saja tidak boleh sampai berurusan dengan hukum.
“Sial, sial! Bagaimana ini.” Batin Lingga resah.
“Jalan Ga, malah bengong!” Omel Bu Alice melihat putrnya tidak berkonsentrasi.
“Iya Ma, ini mau jalan,” ucap pria itu dengan perasaan kacau. Omongan ibunya itu tidak pernah main-main. Bahkan ayah Re kadang tidak bisa mengelak saat ibunya sudah berseru.
“Gimana ini,” guman Lingga nyelutuk begitu saja.
“Apanya yang gimana Ga?” tanya Bu Alice yang nampak fokus menatap jalan ke depan.
“Nggak ada Ma, gimana jadinya, emang siapa yang udah ngelakuain itu ke Sarah?” tanya Lingga berusah tenang. Seolah tidak tahu menahu masalah yang tengah di hadapi gadis itu.
“Ya di usutlah selama sebulan ini, hari canggih gini masa nggak bisa. Awas aja tuh orang, biar busuk di penjara sekalian!” umpat Bu Alice saking kesalnya dengan penjahat kelamin yang tak bertanggung jawab itu.
Mendengar itu, Lingga menelan ludah gugup. Parah sekali, masa di doa’in biar busuk di penjara. Tidak boleh terjadi dan tidak akan terjadi.
“Ga, awas Ga, jangan cepet-cepet, ya ampun …. Lampu merah masa mau kamu trabas. Kamu kenapa sih, nggak jelas banget nyetirnya dari tadi!” omela Bu Alice lagi-lagi Lingga bersikap ngawur di jalan.
“Lihat kok Ma,lihat.” Pria itu mengerem mendadak tepat di garis batas.
Saat lampu berganti hijau, Lingga juga tak kunjung melajukan mobilnya. Membuat beberapa pengendara lainnya di belakang protes dan saling membunyikan klakson.
“Lingga! Tidur? Jalan! Nggak liat lampu udah berganti dari tadi. Ya ampun …. Kamu aneh banget hari ini,” gerutu Bu Alice mendapati tingkah putranya yang tak biasa. Beruntung sampai rumah selamat, walau sepanjang jalan kena omelan ibunya.
“Baru pulang Ma?” tanya Pa Re yang ternyata sampai rumah lebih dulu. Tumben sekali pria itu pulang di awal waktu.
“Iya, baru dari rumah sakit, kok Papa jam segini udah di rumah? Emangnya nggak ngajar?”
“Cuma isi bimbingan tadi. Lingga papa mau bicara, setelah makan malam ke ruangan papa,” ucap pria itu tumben-tumbenan.
“Siap Pa, Lingga ke kamar dulu,” pamit pemuda itu langsung meleset ke kamarnya.
“Tumben Papa mau ngomong sama Lingga, ada urusan apa?” tanya Bu Alice penuh selidik.
“Kepo,” jawab pak Re jelas bercanda.
“Pah, hidupku lagi semrawut, jangan bikin nggak mood. Nggak jelas banget di tanyain baik-baik juga. Kalau istri kepoin suami itu tandanya masih waras. Nggak di kepoin baru tau rasa.” Bu Alice yang tengah kesal, tambah marah mendapat sambutan tak terduga dari suaminya. Sedang mode galak dan tidak bisa di ajak bercanda.
“Adudududu ….. bercanda sayang, ngomelnya panjang amat. Ini minum dulu, tarik napas, duduk yang tenang. Baru pulang bepergian langsung ngegas.”
“Habisnya, kamu tuh ngeselin,lagi nggak mau becanda.”
“Iya sayang, sorry. Eh, ya bagaimana kabar Sarah, apa dia baik-baik saja?” tanya pak Re mengingat tadi istrinya pamit menjenguknya.
“Nggak Pa, kacau, Ya Allah …. Ya Rabb …. Kasihan sekali,” kata Bu Alice teringat Sarah. Hatinya ikut nyeri membayangkan jadi dia.
“Memangnya kenapa? Dia sakit parah?” tanya pak Re serius
“Bukan, tapi hamil, Pa,” jawab Bu Alice masih setengah tidak percaya. Gadis sebaik dan selembut itu harus mengalami nasib yang amat tragis.
“Maksudnya, hamil di luar nikah?” tanya pak Re sunggu membangongkan.
“Ya iya lah, emang kapan Sarah nikahnya. Bukan itu masalahnya, tapi Sarah mengalami pelecehan seksual, dia terlihat trauma dan ketakutan. Kasihan pokonya.”
“Astagfirullah ….. kok bisa baru ngomong setelah hamil? Kenapa nggak lapor polisi.”
“Mungkin dia bingung, dia malu, tidak berani dan banyak tekanan. Kita tidak boleh menghalimi itu, tidak mudah di posisi dia. Kita harus bantu Pa, kasihan Mbok Maryam.”
“Itu sih pasti, sangat di sayangkan, trus keadaan Sarah sekarang gimana?”
“Fisiknya sudah terlihat lebih baik, beruntung dia gadis yang kuat, tapi jelas mentalny terguncang, dia butuh pendamping.”
Pak Re terlihat begitu kaget, ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa putri art-nya itu.
“Eh, iya, dua hari kemarin, Sarah tidak masuk kuliah, dan—,” pria itu terdiam sejenak, membuat Bu Alice yang tengah menyimak gemas sendiri.
“Dan apa, Papa cerita yang jelas dong!” omel Bu Alice meminta penjelasan.
“CCTV rumah menangkap Linga dan Sarah keluar bersama dari halaman rumah, tepatnya menggunakan mobil Lingga.”
“Maksudnya?” tanya Bu Alice mulai menghubungkan suatu kejadian dimana Sarah tidak pulang di hari berikutnya.
“Ini makanya aku mau tanya ke Lingga, kenap sia bisa berangkat bareng, tapi baik Lingga maupun Sarah tidak ada yang ke kampus di hari itu, dan bahkan dua hari setelahnya.”
“Mas yakin? Sudah menanyakan langsung pada dosen yang bersangkutan hari itu? Benar Sarah absen?”
“Iya, ya aku penasaran aja, kemarin kan kamu bilang coba cek dua hari di kampus tidak, dan hasilnya tidak, tapi pagi itu Sarah berangkat bareng Lingga satu mobil dari rumah.”
Bu Alice mendadak kepikiran, apalgi sempat melihat respon Sarah yang begitu aneh saat melihat Lingga, dan jug sikap Lingga yang tak kalH aneh sepanjang jalan.
“Nggak mungkin, mama tahu betul Lingga, mungkin mereka memang tak sengaja berangkat bersama, terus di jalan mendadak ada urusan lain.”
“Semoga saja begitu,” jawab Pak Re yang juga kembali berpikir positif.
“Ya sudah, aku mau mandi dulu, penat banget seharian.”
Keduanya menyudahi obrolannya dan Bu Alice menuju kamar. Pak Re masih duduk santai menikmati senja yang mulai muncul, sangat cantik. Ditemani secangkir kopi hangat dan camilan.