karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyembuhan
Han Le pingsan selama sehari semalam. Lim Hao dengan setia menemani Han Le di ruang pengobatan.
"Errrgh..."
Han Le mengerang dan membuka matanya. Lim Hao yang mendengar itu langsung mendekat.
"Twako, aku di mana?" tanya Han Le saat melihat Lim Hao ada di sana. Ia berusaha bangun.
"Jangan bangun dulu, kau ada di ruang pengobatan," Lim Hao dengan cepat mencegah Han Le yang akan duduk.
"Ruang pengobatan?" tanya Han Le. Ia melihat kamar yang ditempatinya, di sudut terdapat rak yang berisi botol-botol pil.
"Iya, kau kehabisan tenaga dan jatuh pingsan saat keluar dari pintu lorong," jelas Lim Hao.
"Kau makanlah ini dulu, aku baru menghangatkannya," lanjut Lim Hao sambil memberikan semangkuk bubur.
"Terima kasih, Twako," sahut Han Le terharu. Ia bersyukur di negeri yang jauh dari rumahnya masih banyak orang yang tulus menyayanginya.
"Udah, cepat habiskan biar cepat pulih tenagamu," ucap Lim Hao. Ia sendiri mengambil satu mangkuk untuk dirinya.
"Twako, aku akan melatih pernapasan dulu untuk mengembalikan tenagaku. Tolong jaga sebentar," pinta Han Le.
"Ya, berkonsentrasilah agar cepat pulih. Aku akan berjaga," sahut Lim Hao.
Han Le segera duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan yang ia miliki. Tanpa disadari Han Le, pil yang diminumnya mengeluarkan khasiat yang luar biasa pada tubuhnya. Tenaga dalamnya pulih dalam waktu singkat dan bahkan meningkat.
"Twako, ayo kita keluar," ajak Han Le pada Lim Hao yang berjaga di pintu kamar.
"Kau sudah pulih, Han Te?" tanya Lim Hao tak percaya. Hanya dalam beberapa saat, Han Le yang tadi lemas dan lesu sudah menjadi bugar kembali.
"Aku sudah merasa mendingan, Twako. Badanku lengket semua, aku ingin mandi," sahut Han Le sambil mencium bau badannya sendiri.
"Hoek..." Han Le mau muntah mencium keringatnya sendiri.
"Ha ha ha, baru sadar badannya bau!" Lim Hao tertawa melihat kelakuan Han Le.
"Ah, Twako! Baru juga aku sehat sudah mengejekku," gerutu Han Le.
"Ha ha ha, itu kenyataan. Ayo kita ke sungai," ajak Lim Hao sambil tertawa.
Keduanya berjalan menuju sungai. Sepanjang jalan, para murid mengangguk dan memanggil "Susiok", membuat Han Le canggung karena di antara para murid Shaolin yang menyapa ada yang lebih tua usianya.
"Jangan kau pikirkan. Tingkatan di sini bukan karena usia, tapi karena tingkatan senioritas," ucap Lim Hao yang melihat Han Le canggung.
Di salah satu bukit, beberapa Biksu Dalai Lama yang melihat itu segera memperhatikan Han Le dan Lim Hao yang keluar dari kuil Shaolin.
"Lihat, dia selamat?" seru salah satu biksu itu. Mereka juga mendengar jika Han Le memasuki ujian Patung Perunggu.
"Sepertinya tak ada tetua yang berjaga, kita sergap saja," saran seorang dari mereka.
"Iya, kita berjumlah empat orang. Bisa dengan cepat dan langsung membawanya pergi tanpa ketahuan siapapun," salah satu biksu menyetujui saran temannya.
"Kalau begitu, ayo kita hadang di rumpun bambu sebelah sana," ucap salah satu dari mereka yang sepertinya mengetahui jika ingin ke sungai pasti melewati hutan bambu itu.
Keempat Biksu Dalai Lama itu segera melesat mendahului Han Le dan Lim Hao dari sisi lain.
Di atas pohon, Tetua Kurus dan Tetua Gendut yang berjaga di perbatasan kuil Shaolin mengawasi gerak-gerik para biksu Dalai Lama.
"Suheng, apa kita habisi sekarang?" ucap salah satu biksu dengan badan gendut.
"Jangan, Sute. Kita lihat dulu murid Suheng Kong Hui. Jika membahayakan, baru kita turun tangan," sahut biksu kurus yang dipanggil Suheng.
"Ayo kita awasi dari jauh," lanjut sang Suheng sambil mendahului biksu gendut melompat ke pohon lain. Biksu gendut tentu saja tak mau ketinggalan. Ia dengan cepat menyusul, walau tubuhnya gendut, tetapi gerak tubuhnya sangat ringan.