not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Suasana di dalam rumah seketika mencekam. Bunyi pecahnya kaca jendela depan bergema di seluruh ruangan, memutus keheningan malam yang dingin. Ayana tersentak, tangannya gemetar menutupi mulutnya, sementara dari arah kamar terdengar tangisan Alana yang terbangun karena suara keras itu.
Al berdiri tegak. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang hampir meledak. Tangannya sudah memegang gagang pintu, siap untuk keluar dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan keluarganya.
Namun, ia teringat wajah ketakutan Reva. Ia teringat janjinya untuk tidak menjadi monster yang sama dengan Rezky.
"Al, jangan keluar! Itu jebakan!" bisik Ayana dengan suara parau, menarik ujung baju Al.
Al mengatur napasnya yang memburu. Ia melepaskan gagang pintu. "Aku tidak akan keluar, na. Itu yang dia inginkan. Dia ingin aku terpancing, dia ingin aku meninggalkan kalian di dalam sini tanpa perlindungan agar dia bisa masuk dari pintu lain."
Al justru berbalik, memeluk Ayana erat untuk meredam getaran tubuh istrinya. Ia lalu meraih walkie-talkie di meja kerjanya. "Tim satu, tetap di pos masing-masing. Jangan ada yang mengejar. Perketat barikade di gerbang belakang dan samping. Jika dia melempar sesuatu lagi, biarkan saja. Fokus pada perimeter."
Di luar, suara tawa Rezky terdengar semakin menjauh, disusul suara mesin motor yang menderu pergi. Rezky sengaja memancing Al, ingin melihat pria itu kehilangan akal sehatnya. Namun Al memilih untuk bertahan di dalam, menjadikan dirinya perisai hidup bagi keluarganya.
Malam itu, mereka semua berkumpul di satu kamar. Al duduk di lantai bersandar pada pintu, sementara Ayana, Reva, dan Alana tidur di atas ranjang yang sama. Meski fisik mereka aman di balik tembok beton, tekanan mental mulai terasa nyata.
"Sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini, Pa?" tanya Reva pelan dengan mata yang masih sembap.
Al menatap putri sambungnya itu dengan tatapan paling lembut yang ia miliki. "Sampai Papa pastikan monster itu benar-benar tidak punya kuku lagi untuk mencakar kita, sayang. Tidurlah. Papa di sini. Papa tidak akan tidur."
Al mengorbankan segalanya,bisnisnya yang hancur, reputasinya yang mulai goyah di luar sana, hingga waktu istirahatnya—hanya untuk satu hal: memastikan tidak ada satu inci pun celah bagi Rezky untuk masuk. Namun, ia tahu, bertahan pasif seperti ini hanya akan membuat keluarganya perlahan mati dalam ketakutan.
Al tidak lagi menunggu. Duduk diam di depan monitor CCTV sambil membiarkan bisnisnya digerogoti bukan lagi pilihan. Jika Rezky ingin bermain kotor dengan merusak reputasi dan finansialnya, Al akan membalas dengan skakmat yang jauh lebih elegan namun mematikan.
Sambil tetap menjaga pintu kamar tempat Ayana dan anak-anak tidur, Al membuka laptopnya. Cahaya biru layar menyinari wajahnya yang dingin.
Al menghubungi seorang ahli audit forensik digital. "Cari tahu siapa yang membiayai pengacara Rezky dan kontrakan itu.
Narapidana yang baru bebas tidak punya modal untuk menyewa orang suruhan."
Hanya dalam hitungan jam, Al mendapatkan apa yang dicarinya: jejak transfer dari perusahaan cangkang milik Hadi, mantan rekan bisnis Papa Al yang dulu tertangkap melakukan penggelapan. Al tersenyum sinis. "Jadi ini reuni para pecundang," gumamnya.
Al tidak mencoba memulihkan asetnya yang dibekukan. Sebaliknya, ia memerintahkan wakilnya untuk membocorkan dokumen rahasia tentang proyek ilegal yang sedang dikerjakan Hadi kepada otoritas pajak dan bursa efek.
"Biarkan dia sibuk menyelamatkan lehernya sendiri. Saat Hadi panik, dia akan memutus aliran dana untuk Rezky. Tanpa uang Hadi, Rezky hanyalah preman jalanan tanpa kekuatan," perintah Al melalui telepon terenkripsi.
Al menginstruksikan tim pengacaranya untuk tidak hanya fokus pada pidana, tetapi mengajukan gugatan perdata raksasa atas trauma psikis yang dialami Reva dan Ayana. Al meminta sita jaminan atas sisa aset kecil yang mungkin masih dimiliki Rezky atau keluarga besarnya. Ia ingin memastikan Rezky tidak punya sepeser pun uang untuk membeli bensin motornya, apalagi menyewa pengawal.
Al mengirimkan rekaman CCTV berkualitas tinggi saat Rezky berteriak dan mengancam di depan rumah kepada Dewan Pengawas Pemasyarakatan. Karena Rezky masih dalam status Pembebasan Bersyarat (PB), satu pelanggaran kecil seperti ancaman kekerasan sudah cukup untuk membatalkan status bebasnya dan mengirimnya kembali ke sel tanpa perlu sidang panjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, saat matahari mulai terbit, Al menutup laptopnya. Ia melihat ke arah Ayana yang masih tertidur lelap sambil memeluk Alana.
"Kau pikir bisa menghancurkan fondasi hidupku, Rezky?" bisik Al menatap ke luar jendela yang pecah. "Aku baru saja meruntuhkan langit di atas kepalamu."
Benar saja, beberapa jam kemudian, ponsel Al berdering. Bukan lagi dari kantornya, tapi dari pengacara Rezky yang terdengar panik meminta "jalur damai" karena kliennya terancam dijemput paksa oleh petugas Lapas.
Al menarik napas panjang, menatap wajah lelap Reva dan Alana yang tampak begitu damai di bawah sinar matahari pagi. Amarahnya masih ada, Jika ia menghancurkan Rezky tanpa ampun, dendam itu hanya akan melahirkan lingkaran setan yang baru.
Al memutuskan untuk menerima jalur damai, namun dengan syarat yang sangat mengikat dan mematikan pergerakan Rezky selamanya.
Ia mengundang pengacara Rezky ke sebuah lokasi netral, sementara ia sendiri tetap memantau dari rumah melalui sambungan video.
"Sampaikan pada klienmu," ujar Al dengan nada dingin yang berwibawa melalui layar. "Aku akan mencabut semua gugatan perdata dan menunda laporan pembatalan Pembebasan Bersyaratnya, hanya jika dia menandatangani tiga poin ini."
Penandatanganan Akta Penyerahan Hak Asuh Mutlak
Rezky harus menandatangani dokumen legal yang menyatakan pelepasan hak asuh dan hak perwalian atas Reva secara permanen. Ia tidak akan pernah bisa mengklaim diri sebagai ayah di mata hukum lagi.
Perjanjian Larangan Mendekat (Restraining Order) Permanen
Rezky harus setuju untuk tinggal di luar provinsi, minimal radius 500 kilometer dari rumah Al dan sekolah anak-anak. Jika ia melanggar batas itu satu kali saja, semua bukti kejahatannya yang sudah disusun Al akan langsung diserahkan ke kepolisian tanpa peringatan.
Pemutusan Hubungan dengan Hadi
Al memaksa Rezky untuk memberikan testimoni tertulis mengenai keterlibatan Hadi dalam sabotase bisnisnya. Ini adalah jaminan bagi Al agar Rezky tidak lagi memiliki sokongan dana dari musuh-musuh lamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, pengacara itu kembali dengan dokumen yang sudah ditandatangani. Rezky, yang kini sadar bahwa ia telah dikepung dari segala sisi—finansial, hukum, dan dukungan sekutu—memilih untuk menyerah daripada kembali membusuk di penjara.
Al menutup map dokumen tersebut dengan suara mantap. Ia berjalan menuju ruang tengah, di mana Ayana sedang menyiapkan teh. Al memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Ayana.
"Sudah selesai, na," bisik Al lirih. "Dia sudah pergi. Benar-benar pergi kali ini."
Ayana memejamkan mata, merasakan beban berat yang selama ini menghimpit dadanya luruh seketika. Di sudut ruangan, Alana mulai berjalan menuju kakaknya, Reva, yang menyambutnya dengan tawa ringan.
Matahari terbenam hari itu tidak lagi terasa mengancam. Cahayanya yang jingga , menandai bahwa fajar baru yang dibawa reva akhirnya benar-benar menyapu habis sisa-sisa kegelapan masa lalu.