Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Laki-Laki yang Harus Kuat
Pagi datang pelan dan tak terasa, seperti enggan mengusik keheningan rumah itu.
Winda sudah bangun sejak subuh. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya masih terlihat lelah meski ia sudah membasuh muka berkali-kali. Di dapur, ia menyiapkan sarapan dengan gerakan pelan. Sementara Sumi mengerjakan pekerjaan rumah lain.
Tidak ada nyanyian kecil.
Tidak ada gumaman ceria.
Hanya diam dan suara detik jam di dinding dapur.
Tak lama, langkah kaki berat terdengar dari arah kamar.
Dirga.
Winda refleks menoleh. Pria itu berjalan keluar kamar dengan kemeja kerja yang belum sepenuhnya rapi. Rambutnya sedikit berantakan, matanya terlihat lelah.
Mata mereka bertemu tanpa sengaja.
Tapi hanya sesaat.
Lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
Tak ada sapa.
Tak ada senyum.
Sunyi.
Dirga duduk di kursi makan.
Winda meletakkan sepiring roti dan telur di hadapannya.
Ia juga menyodorkan secangkir kopi.
"Ini… sarapan dan kopi kamu" ucap Winda pelan. "Bibi Sumi yang masak," lanjutnya pelan.
Dirga melirik sebentar. "Hm."
Ia langsung meraih cangkir itu tanpa berkata apa-apa.
Winda berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi seberang Dirga. Ia memakan sarapannya pelan. Tidak lagi menatap Dirga penuh harap seperti semalam.
Tatapannya kini lebih kosong.
Dirga diam-diam meliriknya.
Aneh.
Biasanya Winda akan bicara banyak.
Sekarang… sunyi.
Tapi ia memilih diam. Ia ingin bertanya tapi pertanyaan itu hanya ada di pikiran nya, tak bisa di ucapkan.
Beberapa menit kemudian, Dirga berdiri. "Aku berangkat."
"Hm, hati-hati." jawab Winda singkat, dan melirik sekilas melihat Dirga sebelum kembali melihat piring nya.
Dirga melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup.
Winda masih duduk di sana.
Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia menahan napas. Ia menunduk menatap piringnya.
Aku harus kuat, batinnya lagi.
Entah mengapa kejadian semalam masih terngiang ngiang di kepalanya. Ia menghela nafas berat sebelum melanjutkan memakan sarapan nya.
"Nyonya…" panggilnya Sumi lembut. Namun suara lembut itu membuat Winda sedikit tersentak membuat ia tersadar dari lamunan nya.
Winda spontan menoleh ke asal suara. "Eh Bibi.. Sini, Bi, sarapan bareng" ajak Winda menunjuk kursi di samping kirinya dengan dagunya.
"Iya, nyonya, terimakasih," Sumi sedikit menunduk penuh hormat dan rasa terimakasih lalu duduk di kursi sebelahnya. Ia ragu sejenak sebelum bicara.
"Nyonya… pasti masih mikirin yang semalam, ya… jangan terlalu dimasukkan ke hati ya."
Winda tersenyum tipis. "Enggak kok, Bi. Winda juga udah lupa kok,"
Tapi Sumi tahu itu bohong.
Sumi menghela napas. "Tuan Dirga itu baik..." Ucap Sumi pelan dan hati-hati.
Winda menatapnya.
"Cuma… dia susah mengungkapkan perasaan," lanjut Sumi pelan. "Dulu… sebelum Nyonya datang, hidupnya sepi sekali."
Winda terdiam. "Sepi?"
"Iya, nyonya. Dulu… sejak Tuan Dirga masih kecil, orang tuanya jarang ada di rumah," ucap Sumi lirih. "Papa nya sibuk kerja, pulang selalu malam. Kadang berhari-hari ke luar kota."
Winda menatap Sumi tanpa berkedip. "Kalau bunda?"
"Kalau bunda nya…" Sumi terdiam sebentar.
"Beliau juga lebih sibuk mengurus toko rotinya. Jadi yah dari dulu rumah jarang terasa hidup." jawab nya.
"Oh..gitu ya," Winda mengangguk pelan mengerti.
Sumi menghela napas pelan sebelum melanjutkan ceritanya.
"sebenarnya bukan cuma karena orang tuanya sibuk," ucapnya hati-hati.
Winda menatapnya.
Sumi menunduk sebentar, lalu berkata lirih, "Orang tuanya… lebih sayang sama kakaknya."
Winda tertegun. "Kakaknya? Kak Sella? atau.."
"Iya. Nyonya Sella dan nyonya Riana" jawab Sumi. "Sejak kecil, semua perhatian selalu ke mereka berdua."
"Tuan Dirga itu… satu-satunya anak laki-laki di keluarganya."
Winda terdiam. "Berarti…"
"Iya," potong Sumi lirih.
"Semua harapan keluarga ditaruh ke dia."
Winda menelan ludah.
"Dari kecil, dia selalu dituntut," lanjut Sumi.
"Harus kuat. Harus jadi contoh. Harus sukses."
"Kalau kakaknya gagal, dibilang nggak apa-apa. Kalau Dirga gagal… langsung dimarahi."
Hening.
"Karena dia laki-laki," ucap Sumi pelan.
"Katanya… laki-laki harus tahan banting."
"Tapi seharusnya nggak begitu juga" ucap Winda pelan.
Sumi menunduk. "Dia simbol. Harapan. Penerus nama keluarga."
Winda menatap Sumi serius, mencerna semua apa yang di katakan Sumi. "Terus papa dan bunda?" tanya Winda.
"Mereka sayang sama Tuan Dirga" jawab Sumi.
"Tapi cara mereka… selalu tuntutan."
Winda terdiam lama.
"Dirga dibesarkan bukan dengan pelukan…
tapi dengan target," ucap Sumi lirih.
Winda menelan ludah. "Pantesan…" ia mengangguk pelan, mengerti sesuatu.
"Untung Tuan Dirga udah sukses sekarang, kalau nggak.... Entahlah " Sumi tak bisa melanjutkan kalimat nya.
Winda diam, tak tau harus berkata apa apa lagi. Ia kembali menatap sarapan nya.
Setelah hening beberapa detik Winda angkat bicara. Winda bertanya, "Bi… Bibi tahu semua ini dari mana?"
"Bibi sudah lama kerja di rumah orang tua Tuan Dirga," jawab Sumi.
"Lalu dipindahkan ke sini sejak Tuan punya rumah sendiri."
Sumi menatap Winda penuh iba. "Nyonya nggak perlu berubah jadi orang lain. Tetap jadi Nyonya yang sekarang… tapi jangan sampai Nyonya terluka sendiri." lanjutnya pelan.
Winda terdiam lama.
Lalu ia mengangguk kecil. "Iya, Bi."
Sumi berdiri. "Nyonya… jangan merasa sendirian di rumah ini ya. Masih ada saya."
Winda tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. "Makasih, Bi."
"Yaudah, nyonya. Saya izin mau lanjut beresin rumah, ya."
"Oh iya, bi."
Sumi melangkah pergi. meninggalkan Winda sendiri dengan pikirannya.
Winda masih duduk di meja makan, menatap kursi kosong di hadapannya.
Kursi tempat Dirga tadi duduk.
Dadanya kembali terasa sesak, tapi kali ini ia hanya tersenyum tipis.
"Aku nggak tahu entah aku bisa memenangkan hati kamu…tapi aku mau belajar sabar, aku akan terus coba" bisiknya.
"Tapi kalau nanti aku capek…apa kamu bakal sadar…"
Pikirannya melayang.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini