Warning⚠️ dilarang boom like, jika tidak suka dengan karya ini, ... kalian boleh skip.
Bangun dari koma, Calista Nandini menatap aneh sekelilingnya. Asing, terlihat sangat asing. Lalu, siapa lelaki itu? Kenapa dia mengaku sebagai suaminya? Semua itu terus menari-nari di dalam otaknya, dan berusaha mencari sebuah jawaban atas dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab (23)
“Sepertinya dua tahun ini kamu memang pura-pura idiot untuk menarik simpati dari ayahku, sekarang beliau sudah tidak ada. Itu mengapa kamu kembali bersikap normal,”
Calista menggeleng. Mengelak akan tuduhan dari sang suami. Jika dulu adalah pemilik asli tubuhnya masih ada, tetapi kini dialah yang mengambil alih. “Tidak, aku tidak pernah berbohong dan tidak pernah menipumu—,”
“Lalu kenapa sekarang sikapmu berbanding terbalik?”
Entah Calista harus menanggapinya seperti apa. Terlebih tak orang yang percaya jika jiwa yang ada di dalam tubuh itu bukanlah milik istrinya.
Masih berusaha dengan suara terdengar santai dan Calista pun menjawab. “Orang gila saja bisa sembuh, apa lagi aku yang hanya seorang wanita idiot.”
Bukan, bukan itu jawaban yang ingin didengar oleh Leo, tetapi sebuah penjelasan yang menurutnya itu masuk akal. Memang benar, jika lelaki sudah berdebat dengan seorang wanita. Maka yang diterima hanyalah rasa kesal karena tidak dapat menang melawan.
Pasrah, memilih untuk istirahat dan tidak ingin mendapat tekanan darah tinggi.
Namun, pada saat Leo hendak masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba suara Calista menghentikannya. “Tunggu!”
Leo pun berbalik dan menyahutinya. “Ada apa lagi?”
Melambaikan dan memanggilnya tanpa ekspresi Calista pun seolah tidak ingin melihatnya. “Cepatlah kemari,” ujarnya.
“Jika hanya masalah kecil, kenapa harus memanggilku.” Jawab Leo dengan jengah.
Akan tetapi, Leo tetap menghampirinya dan kini tepat di hadapan Calista.
Berdiri, tetapi tidak bisa sejajar dengan Leo karena tingginya hanya sekitar 160 cm.
Sesaat kemudian. Detak jantung Leo tidak beraturan, napasnya naik turun dan tiba-tiba seluruh tubuhnya menegang. Suara ‘glek’ terdengar sangat intens. Jari-jemari milik Calista merayap dari dada turun ke perut tanpa memiliki rasa dosa tangan nakal itu tetap bermain-main.
Dengan suara gagap dan tidak tahan, Leo pun menghentikan ulah Calista. “Be-berhenti, apa kamu tidak kerjaan dan terus membuatku kesal!” dengusnya.
Bukan Calista jika ia menuruti ucapan Leo. “Kesal, kesal yang bagaimana? Sepertinya kamu tidak pernah merasakan jari-jari ini merayap ke sini dan ke sini, bukan.”
Di dalam hati Leo beberapa kali mengumpat. “Sial, bisa-bisanya membuatku tegang!”
“Lepaskan tangan kamu!” pekik Leo karena semakin diam semakin tidak tahan.
Sayangnya Calista hanya mendongak untuk sesaat. Setelah itu jarinya lari ke arah bawah pusar dan berkata. “Kita suami istri, kenapa kamu takut denganku? Haruskah kita bersenang-senang karena sudah lama tidak bertemu,”
Wajah Leo semakin menegang, rasanya ingin memangsa sosok di depannya. Namun, selama dua tahun ini … melihat keadaan sang istri tidak stabil membuatnya enggan untuk berinteraksi karena biar bagaimanapun juga ia lelaki normal.
“Ca, cukup!” serunya.
“Oh, kamu tidak ingin menikmati malam denganku? Jangan-jangan kamu … ups, maaf kalau aku—,”
“Idiot, aku normal dan bukan sesuka sesama!” elaknya.
“Lantas kenapa tidak mau aku sentuh? Jadi tidak salah dong ….”
Kalimat Calista terjeda. Leo yang merasa tidak terima langsung bertindak dan itu membuat istrinya terbelalak karena terkejut.
Mulutnya tidak bisa bersuara, degup jantungnya tak beraturan dan merasa napasnya tercekat. Dalam hati beberapa kali mengumpat karena tidak menyangka jika Leo termakan oleh ucapannya. “Sial, aku kira dia tidak akan, tetapi ternyata.”
Sedetik kemudian. “Bagaimana? Apa kamu masih kurang,” ujar Leo.
Diam tanpa bergerak, jarinya menyentuh bibir mungil yang kini berubah menjadi kemerahan.
“Jika kurang, aku bisa melanjutkan karena di bawah sini sudah menjadi monas.” Itulah kalimat yang dibisikkan oleh Leo.
Setelah sadar barulah Calista membalas, “Tidak, sekarang pergilah karena aku sudah percaya.”
“Kamu yakin?”
“Iya, aku yakin.”
Lalu, Leo pergi dengan tawanya. Akhirnya kini bisa membuktikan bahwa dirinya lelaki normal bukan seperti dugaan Calista.
Malam hari, ketika Leo sudah berada di alam bawa sadar. Sedangkan Calista dengan mata terjaga, ciuman pertamanya di menangkan oleh suami orang. Jantungnya masih belum normal, tetapi sebetulnya bukan hanya itu. Ada banyak hal yang yang tidak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada wajah tampan nan berwibawa.
“Apa kamu bisa mencintaiku? Sekarang aku hanya bisa mengandalkanmu.” Dalam diamnya Calista terus membatin.
“Aku sudah tidak memiliki apa-apa sekarang. Meski kamu bukan orang miskin, tetapi semua kekayaanku hilang sia-sia di tangan orang brengsek macam dia.”
Entah berapa lama Calista bergulat dengan pikirannya. Hingga lama-lama iris terang itu kini mulai terpejam. Meninggalkan dunia nyata dan hilang untuk sejenak ke alam bawa sadar.
Tengah malam, terdengar suara rintihan hingga membuat Leo terbangun. Kesal karena Calista mengigau karena itu sudah sangat mengganggunya. Namun, detik kemudian pikirannya dipenuhi oleh tanda tanya dan mendengarkan untuk sekali lagi.
“Tidak, jangan mendekat. Kamu sudah membunuhku, kenapa harus kembali membunuhku lagi.” Itulah yang diucapkan oleh Calista.
Masih bergelut dengan pikirannya, Calista kembali mengigau dengan wajah bermandikan oleh keringat.
“Kamu membunuhku sekarang aku terjebak di tubuh ini, kamu tega, kamu tega Ferdian.”
Melihat Calista sesenggukan dan butiran air mata jatuh di pelupuknya. Membuat Leo tidak tega dan langsung membangunkannya. “Ca, bangun Ca, bangun!
Namun, panggilan itu tak berarti apa-apa karena Calista tetap menangis terbawa oleh mimpi buruknya.
Untuk sekali lagi … Leo pun kembali membangunkannya. “Ca, sadar Ca. Bangun!”
Akhirnya panggilannya pun membuat Calista bangun. Masih dengan keadaan dipenuhi oleh peluh, hingga Leo dengan penuh perhatian mengusapnya.
“A-apa yang terjadi?” tanyanya pada Leo usai sadar dari mimpi buruknya.
“Kamu mengalami mimpi buruk, duduklah aku akan mengambilkanmu air hangat.”
Calista diam tanpa ekspresi. Melihat Leo pergi membuatnya bertanya-tanya.
Di pantry. “Ferdian, di bunuh. Kenapa semuanya membuatku semakin pusing, tidak mungkin mimpinya hanya omong belaka, bukan.”
Masih memikirkan akan mimpi yang dialami Calista, bahkan Leo tidak bisa berhenti untuk memikirkannya sampai tuntas. “Ca, jika kamu bukan istriku. Sebenarnya siapa kamu? Benarkah kehidupan kedua itu benar-benar ada,” gumamnya seraya terus menuang air tanpa sadar hingga penuh.
Sesampainya di kamar, Leo pun memberikan segelas air hangat untuk istrinya. “Minumlah selagi hangat,”
Calista menerima gelas itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih, setelah itu meneguknya hingga tandas. “Terima kasih,”
Leo pun menimpali dengan seulas senyum. “Sama-sama.”
Keesokan paginya.
Leo lebih banyak diam, ia sudah meminta Genta untuk menyelidiki. Sebelum yakin, ia tidak akan bertanya soal apa pun. Sejenak, dering telepon dari sakunya terus saja bunyi. Cepat-cepat pergi untuk menerima panggilan tersebut.
“Jadi, bagaimana hasilnya?”