Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-23 Kekesalan Zavier
Zavier memarkir mobilnya di halaman rumah dengan ekspresi tegang. Lampu luar rumah masih menyala, tapi suasananya sangat sepi. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah besar itu.
Ia menelan ludah. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Pikirannya liar, membayangkan hal-hal yang tak ingin ia bayangkan—terutama kemungkinan bahwa Ardian dan Veyra tengah bermesraan di dalam kamar.
Tanpa menunggu lebih lama, ia mengambil kunci cadangan yang masih disimpan di pot dekat pintu, membukanya dengan cekatan.
"Veyra?" panggilnya lirih begitu masuk.
Tidak ada sahutan.
Ia berjalan pelan-pelan melewati ruang tamu, lalu menyusuri lorong menuju ruang tengah. Kosong. Ia melirik ke dapur. Sepi.
Zavier berhenti sejenak di depan tangga. Pandangannya naik ke lantai dua. Ia tahu kamar Ardian dan Veyra berada di sana. Perasaannya semakin tak karuan. Ia menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri, tapi gagal.
Langkahnya mulai menaiki anak tangga satu per satu.
Sesampainya di atas, ia melihat pintu kamar utama tertutup rapat. Ia mendekat, tapi tak ada suara dari dalam. Sebelum ia mengetuk, tiba-tiba terdengar suara pintu lain terbuka.
Zavier menoleh.
Ternyata Veyra keluar dari ruang kerja, dan di belakangnya menyusul Ardian.
Zavier membeku. Napasnya tertahan. Mereka berdua tampak kaget melihat kehadirannya.
"Zavier… Sudah antarkan Flora dengan aman?” suara Ardian cukup mengagetkannya.
“Sudah, Pah. Dia tinggal di apartemen bukan di rumahnya.”
“Oh, Papa pikir dia dirumah orang tuanya. Tapi, baguslah kalau Flora yang dulu sangat manja kini sangat mandiri,” ucap Ardian dengan senyumnya.
“Iya, Pah.”
Zavier menatap keduanya, mencoba membaca situasi. “Rumah sepi… aku pikir kalian sudah tidur. Maaf, kalau kehadiranku mengganggu kalian.”
“Baru mau tidur. Kamu tidak mengganggu,” jawab Ardian dengan tenang, lalu menepuk bahu Zavier. “Besok kita sarapan bareng, ya. Kita mau istirahat dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Ardian berbalik masuk ke kamar sambil merangkul pinggang Veyra, meninggalkan Zavier masih mematung di tempat. Tatapannya bertemu dengan milik Veyra, yang jelas-jelas penuh kegelisahan.
Zavier lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap gelapnya langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Punggungnya terasa kaku di atas kasur, tapi pikirannya jauh lebih lelah daripada tubuhnya. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 23.37.
Ia membalikkan badan, mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Veyra tak mau pergi. Apa yang mereka lakukan di kamar itu sekarang? Apakah Ardian berhasil merebut ciuman yang selama ini hanya dimiliki Zavier? Atau lebih dari itu?
Zavier mengerang pelan, frustasi.
“Brengsek,” gumamnya sambil menutupi wajah dengan telapak tangan. “Kenapa aku balik ke sini? Kenapa aku rela menyiksa diri kayak gini?”
Ia duduk di pinggir ranjang, menggenggam rambutnya sendiri. Pikirannya berperang—antara logika dan perasaan. Ia tahu Veyra telah menikah. Ia tahu statusnya kini hanya masa lalu. Tapi ia juga tahu… Veyra masih mencintainya.
Tatapan matanya, debar jantung yang ia rasakan saat Veyra mendekat, tak pernah bohong.
Tapi… jika cinta itu masih ada, kenapa Veyra tak kabur malam ini juga? Kenapa tetap memilih tidur di sisi pria lain?
Zavier bangkit, berjalan pelan ke arah jendela dan membuka tirai. Lampu kamar utama masih menyala, meski tirainya tertutup rapat. Ada bayangan samar bergerak di balik kain itu.
Dadanya semakin sesak. Imajinasi yang tak diundang mulai menari-nari di kepalanya.
Zavier menutup tirai cepat-cepat dan menekan dadanya. Nafasnya memburu.
“Apa aku harus pergi dari sini?”
Tapi kaki dan hatinya menolak. Ia ingin tetap di dekat Veyra. Setidaknya cukup dekat untuk memastikan kalau gadis itu masih baik-baik saja… meski hatinya sendiri porak-poranda.
awal nya bagus, lanjut thor