NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB23 - ISTRIKU

Dave mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalannya siang itu. Wajar, ini jam istirahat, tentu saja sangat ramai, sehingga kemacetan terjadi. Kini, mobil yang di kemudikan Dave berjalan dengan lancar, setelah lepas dari kemacetan.

"Dave," panggil Davina. Sesaat mereka berdiam.

Dave menoleh ke Davina dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

"Ya?"

"Aku bisa telat Dave. Jam istirahat sudah hampir usai."

"Tenang saja, aku sudah menghubungi Williams. Kau tidak perlu takut," balas Dave.

Davina sekilas menoleh ke Dave yang memandanginya sekilas.

"Kenapa?" tanya Dave. Kelihatan dari wajah polos milik Davina. Wajahnya terlihat cemas.

"Apakah kamu sedekat itu dengan Williams?" tanya Davina hati-hati.

Dave tertawa.

"Tentu saja sayang. Williams itu, sahabatku sejak kecil," balas Dave. Davina mematung saat Dave memanggilnya dengan sebutan sayang. Bibir Dave sendiri sadar dengan ucapannya barusan. Tiba-tiba saja, bibirnya menjadi kaku.

Davina memilih kembali menatap ke jalanan. Dave, dia sedikit membawa wajahnya menatap Davina. Entah mengapa, rasa cinta untuk Davina, sedikit demi sedikit, tumbuh di dalam dirinya.

Davina berdiam, tapi pikirannya jelas mengingat perkataan Dave berusan. Tak lama, terlukis senyuman tipis, tanpa Dave tahu.

Beberapa menit kemudian. Mobil yang di kemudikan Dave, memasuki kawasan perumahan elit. Davina merasa kejanggalan untuk berikutnya.

"Kita kenapa ke sini, Dave?"

"Mencari rumah istriku," balas Dave.

Davina menoleh ke arahnya.

"Maksud kamu? Istri kamu tinggal di sini?"

Dave menganggukan kepalanya. Dengan kedua mata yang mencari keberadaan rumah yang di pilhkan Relin untuknya.

"Kau memiliki istri selain aku?"

Dave tertawa.

"Kau polos sekali sih?"

"Jangan katakan hal lain! Apa benar kau memiliki istri lain selain aku?" Kedua mata Davina menatap serius.

Dave menahan tawanya. Ekspresi Davina terlihat kelewat menggemaskan.

"Dasar kelinci kecil! Kau memang susah di ajak untuk bercanda. Istriku cuma kau seorang! Berkata sembarangan," balas Dave.

"Kau yang berkata sembarangan. Kau membuat aku jantungan." Davina melototkan matanya.

"Kenapa? Bukannya kau tidak menyukaiku?"

Davina menarik napasnya.

"Bukan karena tidak menyukaimu! Aku ini istri sahmu! Sampai kapanpun aku tidak mau di madu," tukasnya dengan kesal.

"Kenapa jadi marah-marah. Kau sangat mengerikan kalau sedang marah begitu," balas Dave tanpa menoleh ke arah Davina. Tangannya sibuk membelokkan stir mobilnya, ke dalam rumah mewah.

"Ini rumah istriku," kata Dave dengan menahan tawanya. Sesaat setelah, mesin mobil di matikan.

"Dave!!!."

Dave memegang jantungnya.

"Kenapa kau bereteriak ke aku!"

"Aku tidak suka dengan candaanmu," teriak Davina kesal.

"Aku tidak bercanda. Ini memang benar rumah istriku!" kata Dave tidak kalah kuatnya.

Kedua manik mata Davina, menangkap sosok wanita yang terlihat sangat anggun. Dari caranya berjalan saja, Davina yakin, wanita itu yang di sebut Dave sebagai istrinya. Davina buru-buru membandingkan dirinya.

"Kelihatan sangat cantik dab terlihat berkelas. Tidak sepertiku yang jauh di atasnya. Pantesan saja, Dave menyukainya." Davina membatin.

"Turunlah." Dave buru-buru melepas pengkait seatbeltnya. Menjejakkan kakinya di atas lantai, kemudian mendekat ke wanita yang di lihat Davina tadi.

"Sangat akrab sekali. Siapa dia?" tanya Davina.

Di bawah terik mata hari, Dave melambaikan tangannya ke Davina, memintanya untuk turun dari dalam mobil.

Davina memutuskan untuk turun dan mencari tahu siapa wanita yang berada di samping Dave. Saat kedua kakinya membawa tubuhnya tiba di samping Dave, pembicaraan keduanya terhenti.

"Selamat siang, Nona Vina." Relin membungkuk setengah badannya.

"Selamat siang Nona," balas Davina sopan.

"Relin. Panggil saja dengan Relin, Nona. Saya sekretaris, Tuan Dave."

Davina terkejut. Nyatanya dia salah beranggapan dengan Dave.

"Saya Davina."

Relin tersenyum.

"Saya sudah tahu nama Nona. Karena Tuan Dave, sering mencertikan soal anda."

"Apaan! Jangan mengarang cerita!" tolak Dave.

"Nona .... saya permisi. Tugas saya sudah selesai. Selebihnya, anda harus paham, kalau Tuan Dave, sangat mencintai, Nona. Maaf, saya hanya mewakilkan perkataannya yang tidak bisa di sampaikannya." Setelah menundukkan sedikit badannya. Relina pamit untuk kembali ke perusahaan. Dengan mengendarai mobilnya.

Kedua mata Dave berkedip-kedip.

"Relin! Awas saja kau. Aku akan memecatmu!" teriak Dave. Dave merasa malu mendengar rahasianya di sampaikan ke Davina. Sejenak tubuhnya menjadi salah tingkah karena Davina hanya mematung. Dave sampai bingung, apa yang hendak dia lakukan.

Tapi, Dave langsung memilih untuk menautkan buku-buku jarinya ke dalam selah jemari Davina.

"Ayo kita masuk." Dave menarik lembut tangan Davina. Menuntun setiap jalan Davina hingga tiba di dalam rumah besar yang akan dia jadikan tempat tinggal keduanya.

"Apa kau suka?" tanya Dave. Ketika mereka berdua tiba di ruangan kamar utama.

"Dave."

Dave yang melihat pemandangan dari balkon kamar mereka, menoleh ke Davina.

"Hemmmm," balasnya singkat.

"Ini terlalu besar untuk kita berdua. Bukannya rumah oma sudah cukup untuk kita tempati?"

Dave berjalan perlahan mendekati Davina yang berdiri sejajar dengan posisinya. Kedua bola mata Dave, menghunus dalam ke bola mata kelabu milik Davina.

"Aku ingin kita memulai rumah tangga kita dari sini."

"Tapi Dave—"

"Tidak ada tapi-tapian, Vin. Aku mengorbankan diriku sendiri, untuk menikah denganmu. Kali ini, biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Aku akan bertanggung jawab untuk masa depanmu. Jadi, biarkan kita memulai semuanya di rumah ini. Tanpa campur tangan oma. Dan kita, bisa memenuhi rumah ini, dengan canda dan tawa dari anak-anak kita." Dave dengan berani, menyentuh perut Davina yang masih rata.

"Kenapa kau aneh sekali?"

"Aku akan belajar mecintaimu dan menjadi suami terbaik untukmu."

"Gak semudah itu, Dave." Davina berbalik membelakangi tubuh Dave.

Dahi Dave mengerut. Kemudian, Dave semakin lancang, merangkul pinggang Davina dari arah belakang. Dagunya, dia sandarkan di atas pundak Davina.

Hembusan napas Dave terasa menggelitik kulit Davina.

"Kau meragukanku?"

Davina sejenak berdiam.

"Bu-bukan seperti itu."

"Terus?" Dave mengecup tengkuk leher Davina, kemudian menarik tubuh Davina hingga berhadapan dengannya. Kembali Dave menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya.

"Apa yang membuatmu tidak mudah?" Kedua mata mereka bertemu sangat dekat.

Davina merona merah. Dengan cepat, Davina mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Dave. Tapi, Dave menahannya dan semakin mengeratkan pelukannya, hingga kepala Davina tertempel di atas dada bidangnya.

"Aku serius, Vin. Jadi, aku mohon, turuti kata-kataku. Sebelum aku memaksamu." Dave menjadi sedikit frustasi dengan respon Davina barusan. Rasanya, segala usahanya menjadi sia-sia, bila saja Davina menolaknya.

"Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, Dave."

"Tapi aku mau, kau dan aku menerima kenyataan, Vin. Aku tidak mau pernikahan yang sah, terabaikan dengan keegoan kita masing-masing. Mari kita bersama menjalaninya," balas Dave.

Davina menarik napasnya dalam-dalam. Memjamkan singkat kedua matanya. Menghirup bau maskulin dari tubuh Dave yang sangat meneduhkan jiwanya. Dengan yakin, Davina memilih mencoba. Menolak juga gak akan mungkin. Davina pun tidak ingin jadi jandanya, Dave.

"Baiklah ... ayo kita jalani bersama." Davina membalas pelukan Dave. Dave tersenyum. Perasaannya sangat lega mendengar jawaban Davina.

"Terima kasih, Vin." Dengan lembut, Dave kembali mencium puncak kepala Davina.

Davina menganggukan kepalanya. Dia tidak sadar, kalau dirinya juga sudah nyaman dengan perlakuan Dave yang sangat lembut padanya. Perhatian Dave, cara Dave memandangnya, bahkan, ketulusan Dave yang di berikannya ke Davina, tidak di sadari oleh Davina sendiri.

"Kalau begitu, apa aku boleh meminta janji tadi pagi?" tanya Dave setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Davina.

"Apa?"

"Kiss." Davina menunduk malu.

"Bagaimana? Bolehkan aku mencium istriku sendiri? Di sini sudah tidak ada orang."

"Baiklah ... hanya di pipi." Davina berkata dengan pelan.

Dave tersenyum.

"Tutup matamu."

"Kenapa harus menutup mata?"

"Aku takut kau malu."

"Baiklah .... awas saja kau bohong." Davina menunjuk ke arah wajah Dave.

Dave tertawa kecil.

"Iya. Tutup matamu kelinci kecilku," balas Dave lagi.

Davina pun mulai memejamkan kedua matanya. Dave perlahan, menangkup kedua pundak Davina, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Davina. Davina menegang, saat hembusan napas Dave terasa amat dekat dengan wajahnya.

Dave tersenyum sesaat menatapi wajah cantik Davina. Kemudian, memejamkan kedua matanya dan menempelkan bibirnya di bibir Davina.

Kedua mata Davina spontan terbuka. Merasakan pagutan bibir Dave, membuatnya kaget. Kemudian, dia menutup kembali kedua matanya dan meresapi setiap sentuhan dari bibir suaminya. Tidak ada penolakan lagi, sebab Davina memutuskan untuk menerima Dave dalam hidupnya.

"Terima kasih istriku," bisik Dave.

Bersambung.

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!