Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rabu mencekam
Pagi ini Lian tampak kerepotan. Banyak dokumen tertata rapi di mejanya nyaris tak ada tempat tersisa.
"Udah siap Lian?" Bu Citra menanyakan kelengkapan dokumen untuk meeting pagi ini dengan Dimas. Lian menyadari bahwa ini meeting tidak main-main. Dimas dihadapannya adalah orang kepercayaan winata group yang ternyata ditakuti orang orang cabang.
"Sudah bu." Lian membetulkan posisi duduknya yang sedikit tidak nyaman.
"Nah, itu Anggi sudah ada. Sebaiknya kita ke ruang meeting." Lian mengajak Bu Citra bergegas.
Di ruangan itu sudah ada Candra (marketing), Aska (pajak) dan Wawan (purchasing). Sebenarnya mereka bukan pimpinan utama divisi itu, karena pimpinan yang sebenarnya sudah dipecat dan dipidanakan bersama dengan Stella.
Karena Dimas sudah mencium ada ketidakberesan dari tiga orang itu, dia sengaja mengikuti meeting secara langsung. Apalagi mengingat pak William yang sedang berada di Bangkok. Akan berlarut-larut jika menunggu lagi.
Tak lama kemudian, Dimas datang bersama dengan Alvino. Hari ini untuk pertama kali Alvino mengikuti meeting yang diadakan di kantor Lian. Karena dia akan menjadi penerus selanjutnya, dia rasa perlu mengetahui secara langsung meeting kali ini.
Tidak ada informasi sebelumnya jika Alvino akan menghadiri meeting itu, Dimas sengaja tidak memberi tahu sesuai arahan bossnya. Bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya tiga laki-laki di depan Lian. Aska, Candra dan Wawan.
"Baiklah, karena sudah hadir semua, saya mulai meeting kali ini." Anggi menunduk hormat kepada Dimas dan Alvino.
"Silahkan." Alvino.
Anggi menjelaskan panjang lebar hasil meeting 3 departemen dengan Lian tempo hari yang bermasalah. Inti dari meeting pun dijelaskan dengan rinci oleh Anggi sesuai hasil meeting dan keputusan Fery pun sudah dia bacakan di depan semua yang hadir di ruangan itu.
"Bagaimana pak Dimas, pak Alvino?" Anggi menyudahi presentasinya.
"Saya sudah mendapatkan salinan dari Divisi FA yang sementara di handle Lian dan Dicky. Pada dasarnya manajemen tidak keberatan dengan usul dari Lian waktu meeting dengan pak Fery tempo hari." Dimas menjelaskan.
"Pak Dimas, apa tidak merepotkan jika Winata Group mencetak kartu lebih banyak. Apa secara perbankan tidak bermasalah?" Candra mulai mendebat.
"Management tidak masalah. Justru terbantu dengan card yang kalian maksudkan. Apa kau keberatan?" Pertanyaan Dimas mengarah kepada Candra dengan tatapan tajamnya.
"Ti-tidak pak. Bukan begitu maksud saya."
"Lalu yang seperti apa?"
"Kalau kebetulan kami diluar kota yang terbatas fasilitasnya. Apa tidak menghambat kami yang di lapangan."
"Lian, coba kamu jelaskan mekanisme pemakaian card yang kamu usulkan." Alvino mulai berbicara. Dia sengaja meminta Lian yang menjelaskan.
"Begini bapak-bapak. Card yang Lian maksudkan masih bisa ditarik tunai di ATM manapun. Saya rasa perusahaan ini juga bekerja sama dengan beberapa bank nasional yang mendukung jaringan ATM bersama. Walaupun di kota terpencil pun teman-teman marketing di lapangan tidak akan kesulitan."
Alvino manggut-manggut tersenyum tipis, tidak ada yang menyadarinya kecuali Dimas yang hafal betul bossnya itu.
"Jadi, ketika tim marketing akan melakukan perjalanan luar kota atau ke luar negeri mekanismenya hampir sama. Hanya saja terdapat perbedaan karena kurs, itupun bisa diatasi." Lian menjelaskan.
"Sepertinya hanya divisi kamu yang diuntungkan dari card itu. Bilang saja kau malas mencatat transaksi pekerjaan kami di marketing!! Apa kau mau main-main dengan perusahaan?" Candra mulai tersulut emosi.
"Bukan seperti itu pak, transaksi dari marketing boleh dibilang masih jauh kalau dijadikan laporan keuangan. Bukan tidak penting, justru paling penting sebagai bagian dari laporan keuangan di divisi FA." Lian menjawab pertanyaan Candra dengan tenang.
"Kau bisa jamin keamanan kartu itu tidak dimanfaatkan untuk tarik tunai melebihi batas, uang perusahaan ini besar Lian jangan kau samakan dengan tempat kerjamu dulu!" Kali ini Wawan menyerang.
"Saya bisa jamin 100% keamanannya pak Wawan. Card tersebut dilengkapi dengan sistem limit sesuai kebutuhan pemakainya. Limitnya nanti akan diatur sebelum keberangkatan. Ini sesuai arahan pak Fery di meeting sebelumnya. Jadi sangat safety."
"Oiya, saya dengar kalian bertiga ada kendala mengenai sistem terbaru dari management. Kalau memang perlu dibahas silahkan. Karena minggu ini seharusnya sudah finish. Apa kalian ada masalah?" Dimas berkata kepada Candra, Wawan dan Aska yang tampak membatu dengan perintah Dimas.
"Ti-tidak ada pak Dimas." Aska menjawab mewakili yang lain.
"Kalau begitu besok lusa email ke saya pekerjaan kalian. Jangan membuat divisi lain terhambat karena kalian tidak becus!" Dimas.
Meeting itu berjalan cukup menegangkan, ditambah kehadiran Alvino yang semakin menambah ketegangan bagi yang bermasalah. Perdebatan pun terjadi antara Lian dan tiga orang tersebut terulang kembali di meeting ini.
"Oke, sesuai kesepakatan meeting kali ini. Keputusan management akan saya keluarkan setelah makan siang dan akan saya rilis resmi di email resmi Winata Group. Jadi semua departemen mengetahui perubahan aturan di Winata Group." Dimas.
"Baiklah, meeting kali ini saya tutup. Terima kasih atas kehadiran pak Dimas dan pak Alvino." Anggi mengakhiri meeting.
Setelah meeting itu selesai, Lian tampak gusar. Apa tindakannya tadi kelewatan mengingat tiga orang laki-laki tadi seniornya. Lian teringat pesan Dimas tadi pagi agar tidak takut dan ragu di meeting. Akhirnya Lian menyudahi pergolakan hatinya.
"Bu Nina dan Bu Citra bisa saya minta data sampai siang ini. Setelah makan siang saya harap sudah selesai." Lian yang sudah kembali ke ruangannya memilih menyelesaikan laporan bulanannya lebih awal.
Sementara itu, Dimas dan Alvino memakai ruangan di sebelah ruangan pak William yang dipersiapkan anggi sebelumnya.
"Dim, Fery kapan balik Jakarta?"
"Harusnya malam ini bos."
"Besok suruh dia temui saya. Cabang ini kacau sekali. Astaga pantesan papa begitu emosi tempo hari."
"Siap bos."
"Besok lusa sebelum cuti, untuk test manager FAT apa sudah siap?"
"Besok bos bukan lusa."
"Astaghfirullah, iya maksudnya besok mekanismenya apa sudah jelas."
"Sudah beres bos tinggal pelaksanaan saja, lima orang kandidat akan mengikuti tes tulis bersamaan. Laptop yang mereka pakai saya bawa dari kantor pusat untuk meminimalisir kecurangan. Tim nya pun bukan saya bos, dari tim audit pak Andik dan IT pak Leo."
"Baguslah. Kamu besok tidak ingin menyaksikan adikmu tes?"
"Lebih baik saya tidak di area, mengingat orang-orang mengenal saya dekat dengan Lian. Rasanya tidak baik bos."
"Ya sudah atur saja."
"Bos terlihat senang, ada apa?"
"Aaiihhh kamu ini bagaimana. Om William tidak salah menilai adikmu. Dia begitu tenang menghadapi wawan dan Candra. Astaga aku tidak percaya mereka seperti itu. Ck!"
"Sudah yakin sekarang bos?" Ledek Dimas.
"Sebenarnya yakin sejak pertama dia meeting. Kamu tidak lupa bukan kalau Fery mengirimkan videonya ?"
"Ingat bos. Jadi sudah dapat informasi dari pak William donk masalah salary manager FAT?" Dimas mengingatkan alvino mengenai dokumen pengangkatan manager pengganti Stella.
"Rasanya perlu ditambahkan, Stella hanya FA sedangkan yang sekarang ada tambahan membawahi pajak juga. Hhmm, banyak lho kerjaannya."
"Berapa bos?"
"Fasilitas sudah, berarti nambahin 3 juta Dim. Kurasa ini tidak berlebihan bukan?"
"Siapapun yang menjabat dengan sistem baru, bos bisa cek langsung. Walaupun masih ada Dicky dan Fery serta pak William."
"Kuakui sistem baru itu mahal, tapi sesuai dengan keinginan manajemen. Baiklah, sekarang pesankan aku makan siang, apa kamu tidak lapar?" Alvino melirik jam di tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Siap bos."
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂