Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.
Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!
Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.
Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Ibu Ares tidak banyak berkata apa-apa ketika mengantar mereka ke depan pintu, hanya sorot matanya yang sendu dan berkaca-kaca menghiasi wajah senjanya. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyuman tulus dan sayang pada Salsa. Ah, hati Salsa selalu menghangat setiap kali Ibu Ares tersenyum padanya. Ia seperti melihat senyum ibunya sendiri. Senyum yang telah lama hilang dan dia rindukan.
"Terima kasih," kata Ibu Ares kemudian.
"Aku yang terima kasih, Bu." Sangat di luar dugaan, Salsa tiba-tiba saja mencium punggung tangan Ibu Ares, mencium pipi dan kening lalu terakhir memeluk Ibu Ares dengan sangat intens. "Terima kasih." kata Salsa lagi.
Ares terpaku, ia sungguh tidak menyangka Salsa akan melakukan itu pada Ibunya. Ares tahu ketika seseorang hanya berpura-pura atau bersungguh-sungguh. Dan saat itu di depan matanya, Salsa bersungguh-sungguh.
Demia pun memeluk Salsa setelah Ibu Ares dan Salsa saling melepaskan diri dengan haru yang terpeta pada sorot mata mereka, Demia membisikkan sesuatu pada Salsa untuk bertahan dengan musim dingin. Awalnya Salsa tidak mengerti, tapi ketika setelah berpelukan ia mendapati Ares yang tengah memperhatikannya, Salsa tahu apa yang dimaksud Demia. Musim dinginnya ada di depan mata.
Lima hari setelah menginap di kediaman orang tua Ares, begitu banyak sisi lain Ares yang terpantau nyata di depan mata Salsa. Bahkan sedikit tentang masa lalu Ares - entah bagaimana - tidak membuat Salsa ingin pergi. Dibalik tatapan dan sikap dinginnya, dan dibalik ekspresinya yang selalu datar, Ares mempunyai sisi perhatian dan peka yang tidak pernah Salsa dapatkan dan temui dari pria-pria yang mengaku gentleman.
Apakah Salsa jatuh cinta? Entahlah, mungkin masih terlalu awal untuk menyimpulkan rasa itu dalam hati Salsa. Yang dia tahu sekarang adalah, Salsa tidak suka jika Ares melindunginya hanya karena janjinya pada Fariz. Ia ingin alasan Ares lebih dari itu.
Jadi, apakah itu bisa dikatakan jatuh cinta?
"Apa ada yang ikutin kita lagi?" tanya Salsa memecah keheningan perjalanan pulang mereka.
"Tidak."
"Apa lo udah tau siapa yang ikutin kita waktu itu?" tanya Salsa lagi. Kali ini selain dia mulai suka mendengar suara Ares yang berat dan serak, dia juga penasaran dengan orang-orang itu. Namun Ares hanya melihatnya sebentar tanpa memberikan jawaban, dan itu tentu saja membuat Salsa jengkel.
"Tatapan mata lo nggak ngasih gue jawaban apa-apa, Res." Gerutu Salsa. "Apa susahnya sih tinggal jawab aja, nggak bakal remedial juga kalau pun jawaban lo salah."
Samar, Ares menggerakkan ujung bibirnya. Dia tersenyum. Namun dengan cepat dia kembali mengkondisikan kembali ekspresi wajahnya.
"Karena itu bukan urusan kamu." jawab Ares. Tapi, tentu saja itu bukan jawaban yang diinginkan Salsa. Oh tentu saja bukan!
"Bukan urusan gue?" Mata Salsa melebar. "Orang-orang itu udah bikin gue hampir kena serangan jantung. Mereka bikin lo ngebut dan membahayakan nyawa gue juga, dan gue juga sampe muntah di pinggir jalan! Masih bilang itu bukan urusan gue?"
"Ya."
"Wah!" Salsa menyugar rambut bobnya dengan sebal. "Gue juga harus tahu siapa mereka, Res! Supaya gue juga bisa hati-hati dan waspada."
"Itu sebabnya, saya bersama kamu."
"Tunggu, apa itu artinya, mereka ngincer gue? Ya, kan?!" Nada suara Salsa bergerak naik.
Ares memilih diam, layaknya batu.
"Oke, kalo lo nggak mau kasih tau gue, gue akan cari tau sendiri!" Salsa melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh, ya?"
"Ya!"
"Saya sarankan kamu tidak perlu mencari tahu."
"Kenapa?"
Lagi-lagi Ares hanya diam.
"Gimana kalo mereka dateng lagi? Gimana kalo gue diculik?
"Kamu akan baik-baik saja."
"Kenapa? Karena ada lo sama gue?"
Ares tidak langsung menjawab, matanya melirik sebentar pada Salsa, kemudian mengangguk.
"Tapi gue berhak tau siapa mereka, Res."
"Nanti akan saya beri tahu."
"Kapan?"
"Nanti."
"Ya, nantinya kapaaan? Dua ribu tahun lagi?"
* * *
Sebal karena hingga sampai di rumah pun, Ares tetap tidak memberikan jawaban, Salsa langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun pada Ares, tak lupa hentakan kaki ala tentara dibunyikan oleh Salsa.
Ares hanya melihat tingkah Salsa tanpa ekspresi, kemudian Ares masuk ke dalam kamarnya sendiri, tak lupa memberikan laporan pada Fariz bahwa mereka sudah sampai di rumah. Baru saja Fariz meletakkan ponselnya, suara bel rumah mereka berbunyi. Seketika Ares langsung waspada, ia kembali keluar dari kamar. Dilihatnya Salsa pun sedang menuruni tangga.
Ares menahan Salsa yang hendak membuka pintu, "Tunggu disini." kata Ares tegas.
Salsa pun patuh. Bayangan akan orang jahat yang akan menculiknya membuat Salsa cukup khawatir. Meski sebenarnya tidak akan ada penculik yang datang dengan memencet bel rumah lebih dulu.
Tangan Ares siaga di belakang pinggangnya, memegang gagang pistol. Tidak langsung membuka pintu, Ares lebih dulu mengecek melalui jendela. Detik berikutnya ia melepaskan tangannya dari gagang pistol.
"Nyonya Mela." kata Ares pada Salsa.
"Tante Mela?" Salsa mengulangi, seraya mengernyitkan dahinya. Seingatnya, dia tidak sedekat itu dengan Tante Mela hingga tantenya itu datang berkunjung.
Salsa bergerak dari tempatnya, mendekati Ares yang membuka pintu.
Wanita dengan bulu mata palsu tebal dan rambut berwarna ash grey berdiri di depan pintu, tak lupa dengan sederet gelang emas, dan tas branded menggantung pada sebelah pergelangan tangannya.
"Salsa!" Kedua tangan Tante Mela langsung terbentang dan menerobos ambang pintu untuk langsung memeluk tubuh mungil keponakannya itu.
Salsa meringis ketika tubuh Tante Mela yang berisi memeluk erat tubuh Salsa. Tentu saja Ares sudah langsung siaga untuk meminta Tante Mela melepaskan pelukannya. Tapi, Salsa mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan Ares.
Setelah itu, Tante Mela melepaskan pelukannya. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya perempuan itu sambil membolak-balik badan Salsa.
"Hah?" Salsa bingung. "Aku... Baik, Tan. Kenapa memangnya?"
"Dia nggak menyakiti kamu, kan?"
"Siapa?"
Tante Mela mendengus, kemudian menoleh pada Ares yang sejak tadi tidak bersuara. "Dia." Jari telunjuk gemuknya yang dihiasi cincin berlian menunjuk tepat di depan hidung Ares.
Oh, tapi Ares tidak terintimidasi sama sekali.
"Ares?" Kerutan pada dahi Salsa semakin dalam.
"Iya, dia! Kabar tentang pernikahan kalian sudah tersebar di perusahaan, Tante kaget banget waktu tau kalau kamu malah menikah sama dia. Tante yakin, pernikahan ini pasti adalah jebakan, atau pasti ada unsur pemaksaan, iya kan?"
Yang hebatnya adalah, semua tudingan itu dilakukan oleh Tante Mela dengan posisi mereka yang masih berdiri di dekat ambang pintu.
Salsa tak perlu bertanya bagaimana kabar itu tersebar, sudah pasti kakaknya adalah pelaku utama, mengingat Fariz lah yang paling sangat memaksa Salsa untuk menikah dengan tangan kanannya itu.
Salsa mendesah dengan napas berat sambil melirik Ares. Merasa tak enak dengan apa yang dilakukan Tantenya pada Ares, meski sejak dulu, Tante Mela memang selalu menunjukkan sikap tidak sukanya pada Ares, dan selalu memandang Ares dengan sebelah mata. Ia bahkan tak segan meremehkan dan menjelekkan Ares tepat di depan banyak orang sekaligus di depan Ares. Tak heran jika sekarang, perempuan berpenampilan glamor itu menuduh Ares macam-macam tepat di depan hidung Ares.
"Kita masuk dulu yuk, Tan." Ajak Salsa. "Tante mau teh atau kopi?" tanya Salsa sambil mengajak Tante Mela ke ruang tengah.
Ares menghembuskan napas lelah seraya bergerak untuk menutup pintu.
Baru saja pulang, udah ada tamu tidak diundang...
Gerakan Ares berhenti seiring dengan keluhan dalam hatinya, matanya menyipit melihat ke seberang jalan.
.
.
.
Bersambung~