NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Pindah Hati

Ketika Cinta Pindah Hati

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:730.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Blurb



Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.

Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.

Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?

***

“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.

“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin

======
Follow IG : dtyas_dtyas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 ~ Bersiaplah

Kiran dan Brama sudah berada di bandara untuk kembali ke Jakarta. Wajah gadis itu mengulas senyum mengingat seharian ini Brama bersikap manis padanya. Setelah sarapan Kiran ikut Brama ke lokasi acara untuk besok dan setiap ada yang bertanya siapa Kiran dengan bangga pria itu mengenalkan sang istri sambil merangkul posesif.

Pantas saja Yudis percaya pada Brama, terlihat dari semangat dan sikap yang bertanggung jawab melakukan pekerjaan. Seperti saat ini, Brama masih berdiri bersama dua orang pria yang mungkin bagian dari pelaksana acara besok, sedangkan Kiran memilih duduk di salah satu kursi.

Mereka sudah tiba di bandara, tapi belum masuk karena Brama masih serius berbincang. Sempat melirik arloji di tangannya dan menyadari empat puluh menit lagi jadwal pesawatnya. Brama pun mengakhiri perbincangan dan berjabat tangan.

“Kita lanjut lewat telepon dan ada Iwan yang akan menindaklanjuti, Tuan Yudis mungkin akan datang besok pagi.”

“Baik Pak.”

Brama mengangguk lalu menghampiri Kiran.

“Ayo,” ajaknya menyeret dua koper berukuran sedang. “Lain kali jadikan satu koper saja. Kalau begini nggak bisa sambil rangkulan.”

Kiran tersenyum, wajahnya merona lalu menoleh pada Brama yang memasang raut wajah datar. Memang tidak cocok untuk menggombal. 

Saat tiba di Jakarta, sudah hampir maghrib dan hujan lebat. Tidak ada Bi Ati karena weekend menjadi waktu libur untuk wanita itu. Brama memperhatikan Kiran yang langsung menghilang ke kamarnya, bahkan meninggalkan koper yang masih berada di ruang tamu.

‘Kiran,” panggil Brama sambil mengetuk pintu kamar istrinya.

Sudah satu jam berlalu, bahkan Brama pun sudah membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan dan Kiran belum keluar dari kamarnya.

“Di luar masih hujan, tidak memungkinkan kita pesan makan online.”

“Mas Bram mau aku buatkan apa?” tanya Kiran ragu-ragu. Khawatir yang diminta Brama tidak sanggup dia buatkan.

Brama malah terkekeh.

“Memang kamu bisa masak?”

“Tergantung, masak apa dulu.”

“Apa yang kamu kuasai?” tanya Brama dengan posisi bersedekap.

“Hm, mie instan.”

“Ya sudah, tidak masalah. Kebetulan cuacanya begini, sepertinya enak makan yang berkuah dan hangat.”

Kiran mengangguk lalu menuju dapur. Tidak sampai setengah jam, dua mangkuk mie rebus dengan topping telur dan sayuran sudah tersaji. Dengan uap panas dan aroma yang menggugah selera, keduanya asyik dengan mangkuk masing-masing.

“Kamu sudah masak, biar aku yang cuci.”

Kiran menolak, menurutnya itu adalah pekerjaan wanita. Ucapan Brama membuat hati Kiran menghangat.

“Menikah itu bukan bicara itu tugasmu dan ini tugasku, tapi bicara bagaimana kita bisa saling melengkapi, saling menopang dan memahami.”

Kiran berdiri bersandar pada lemari es, sedangkan Brama sibuk mencuci piring bekas makan.

“Mas Bram kenapa belum menikah?”

“Sudah, sekarang aku suamimu.”

“Ish, maksud aku kenapa sebelumnya belum menikah. Usia sudah matang, pekerjaan mapan. Kalau Mas Bram sudah menikahi wanita pujaan hati, tidak akan terjebak pernikahan denganku.”

Brama mengibaskan tangannya yang basah lalu mengelap pada handuk kecil yang tergantung di atas wastafel.

“Tidak ada terjebak pernikahan, ini sudah takdir yang kita harus jalani.”

“Apa Mas Bram menyesal?” tanya Kiran lirih.

Brama mendekat bahkan mengikis jarak mereka. Kiran menggigit bibirnya sambil menengadahkan wajah karena wajah Brama sudah sangat dekat.

“Mas ….” Kiran menahan dada Brama dengan kedua tangan agar tidak semakin dekat.

Terdengar petir menggelegar, Kiran terkejut lalu mendorong tubuh Brama dan berlari ke kamarnya.

***

Entah jam berapa saat Kiran terjaga dan merasakan dahaga. suasana di luar sepertinya masih turun hujan dan sesekali terdengar gemuruh. Kaki Kiran menuruni ranjang dan hendak melangkah bertepatan dengan listrik yang tiba-tiba padam membuat kamarnya gelap gulita.

Tidak menyukai kegelapan bahkan dan salah satu fobianya membuat Kiran berteriak. Tangannya meraba ranjang mencari ponsel.

“Mas. Mas Bram!” teriak Kiran masih mencari ponselnya. Paling tidak ada cahaya yang bisa dia dapatkan dari ponsel. “Ponselku mana,” ujar Kiran dengan suara bergetar.

Tidak lama terdengar pintu terbuka dan cahaya. Ternyata Brama datang membawa lampu emergency. Kiran langsung berlari dan memeluk pria itu.

“Mas, jangan tinggalkan Kiran. Aku tidak suka … gelap,” ujar Kiran dengan wajah sudah menempel pada dada bidang Brama.

“Aku bawakan lampu, istirahatlah.”

“Mas Bram mau ke mana? Jangan pergi, please. Mas boleh tidur di ….” Kiran menatap kamarnya, hanya ada sofa kecil dan tidak akan muat untuk Brama berbaring.

“Tidur di mana?”

Tangan Kiran perlahan menunjuk ranjangnya. Senyum terbit di wajah Brama.

“Ayo, kita tidur lagi!”

***

Sedangkan di tempat berbeda, Emran dan Vira tersenyum dengan wajah berpeluh dan nafas memburu. Keduanya baru saja berpetualang menikmati surga dunia. Pengalaman pertama bagi Emran dan membuat pria itu luar biasa bahagia, tidak tahu kalau berada dalam jebakan cinta Vira.

“Capek?” tanya Emran mengusap kening Vira yang bersikap malu-malu. “Kayaknya aku bakal candu deh, kamu luar biasa.”

“Katanya pertama kali, tapi sudah pro.”

Emran terkekeh.

“Pertama kali prakteknya, kalau teori bisa belajar dari mana saja.”

Vira bersikap seperti wanita lugu dan menggemaskan dengan menyembunyikan wajahnya pada pelukan Emran.

“Setelah ini, kita harus bagaimana?”

“Jangan khawatir, kita akan tetap bersama. Aku akan perjuangkan kamu,” seru Emran sambil mengusap kepala wanita itu.

Narita, bersiaplah. Aku sudah mendapatkan putra kesayanganmu, batin Vira sambil tersenyum sinis.

 

1
Netty Netty
best lah pokoknya
Tamia Akhildadanwidyan
aq greget sama kiran,,,
sikepang
jdi ingat juragan kontrakan si Rama personil grup pencari kitab suci
sikepang
apa si vina itu selingkuh y si indra soalnya dia senyum sinis kan
Mini Amora
baca karyamu yg lain ini thor...
dari awal bab, dah trasa beda aja👍
istri darmayanty
memang benar harusnya curhat itu ke keluarga sendiri . Krn dengan begitu tidak ada yg adu domba
Ray Aza
manggil mertua sendiri kok tuan, yg kebangetan menantu ato mertuanya ini?
Ray Aza
bpk kiran selamanya menganggap brama babu bkn menantu.. seklrga mmg ga ada yg bener otaknya. gara2 lo erlan gue terdampar di sini. 🤣
Ray Aza
lah bkne brama udah diksh laporan sm toni ?
Ray Aza
aq kesini nyari rmh erlan ternyata disini cm figuran, mana tokoh utama jauh dr ekspektasi lg. di rmh mada sm bayu msh bs letawa kitiwi. disini kok ga nemu momennya. 😜
Rsi Anindyatama
karya yang bagu, runut dan jelas. terima kasih atas karyanya, tetap semangat dan terus berkarya 👍
LikCi Vinivici
kasih banget jd brama... antara istri. mertua & bos.. hadeeh
LikCi Vinivici
kenapa sih kiran nya dibuat naif??
LikCi Vinivici
sdh lulus skripsi emran, g nyadar diri klo emang bodohhh
LikCi Vinivici
anaknya Yudis sebodoh itukah??
LikCi Vinivici
bodonya amit2 ya si kiran?? polos nya kebangetan
LikCi Vinivici
sekelas brama g tau gimana vira?? kacau
LikCi Vinivici
sukses ni dikadalin si kiran...
LikCi Vinivici
bucin jd g melek mata niih
Elok Pratiwi
tidak nenarik ... keira nya bodoh lemah .. tidak seru tidak ada greget nya cerita nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!