Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.
Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.
Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?
stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keharuan Icha
Ternyata adzan maghrib sudah berkumandang saat mereka sampai. Yang artinya, mereka sudah terlambat. Para ibu-ibu yang sedang meracik hidangan, sudah mulai bersiap untuk sholat berjamaah. Mereka sempat bertanya pada bu Maryati, tentang Icha yang matanya terlihat sembab.
Bu Maryati menjelaskan, kalau efek dari gangguan penghuni jati kobeng saat Icha pulang kemarin, masih ada. Sehingga Icha bolak-balik diganggu makhluk halus. Mereka semua mengerti. Dan menyarankan Icha untuk berkonsultasi dengan orang yang mengerti tentang gaib.
Merekapun sholat berjamaah. Tangis Icha pecah saat sujud. Walau hanya bayangan, tapi dia merasa sangat sedih membayangkan nasib kedua pasangan muda tadi.
Sampai saat sholat maghrib selesai, bahkan sampai Icha ikut meracik hidangan untuk tahlilah, mata Icha masih terus berkaca-kaca. Mita terus mendampinginya dan memberikan usapan-usapan di punggungnya, sebagai penguatan untuk hatinya.
Mbak ratriii
Icha terkejut mendengar suara yang serupa dengan yang dia dengar di belakang rumahnya tadi.
Mbak Ratriii
Suara itu menggema lagi. Dan beberapa saat kemudian datang seorang perempuan dengan berpakaian khas jawa jaman dulu. Icha terkejut dan tak kuasa membendung air matanya. Tapi ada senyum mengembang di bibirnya.
“Cha. Kamu kenapa?” tegur Mita. Tapi Icha tidak langsung menjawab.
Eeh, Retno. Udah pulang, No?”
Seorang wanita lain keluar dari rumah bu Supin. Seolah-olah dia adalah pemilik dari rumah kuno itu.
Mana cucumu?
Icha tersenyum lagi. Matanya tak berkedip menatap kearah teras depan rumah bu Supin. Dia mengucap syukur, karena ternyata mereka masih selamat.
Ini, bu
Seorang wanita muda, cukup mirip juga dengannya, datang dengan menggendong bayi. Seorang lelaki yang mirip dengan pasangan si Ratri, datang dengan membawa dua tas cukup besar.
Kok nggak pulang dulu?
Seorang laki-laki muncul dari dalam rumah bu Supin. Ya, dia pasangan si Ratri.
Ibu Retno nih, pengen pamer dulu
Wanita yang mirip sekali dengan Icha itu tersenyum tersipu dan menepuk pundak laki-laki yang datang bersama wanita yang menggendong bayi.
“Cha. Kamu liat apa, sih?” tegur Mita lagi.
Kali ini teguran itu sanggup membuyarkan bayangan di depan mata Icha. Yang terlihat kini, para iu-ibu yang menatapnya juga dengan penuh tanda tanya.
Ichapun tersentak dan segera menghapus air matanya. sampai acara tahlilan selesai, tak ada lagi bayangan seperti sebelumnya.
Setelah acara tahlilan selesai, dan acara beberes juga telah selesai, Icha dan yang lain bersiap untuk pulang. Tapi suami Mita menelepon dari rumah. Rupanya dia baru pulang kerja, dan minta direbuskan air, karena sudah terlalu dingin untuk mandi pakai air dingin.
“Cha, gimana? Aku nggak bisa nganter sampai ke rumah kamu, nih”
“Cieee. Ada yang kedinginan di rumah. Alamat nggak cuman masak air ini sih” goda Icha.
“Sok tahu” kilah Mita, tersipu malu.
“Ya udah. Pulang aja! Ini juga udah makasih banget, udah ditemenin dari tadi” kata Icha menjawab pertanyaan Mita tadi.
“Astaghfirulloh”
Icha terkejut melihat sosok berpakaian putih-putih di area rumpun bambu, beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.
“Kamu liat itu nggak, Mit?” tanya Icha.
Mita yang mengetahui arah mata Icha menuju, langsung menajamkan penglihatannya ke titik itu. saat sosok itu bergerak, Mita tertawa dengan kencangnya.
“Itu sih mas Hasan, Icha” seru Mita kemudian.
“Huft. Alhamdulillah” gumam Icha, setelah menghela nafas lega.
“Kenapa, nduk?”
Bu Maryati menegur dari belakang. Mereka berdua menoleh sambil tergelak. Hasan berjalan mendekat setelah melihat Mita melambaikan tangan padanya.
“Hempf. Mbak Icha ngira mas Hasan itu, penampakan, ya?” tebak Tika sambil tergelak.
“Ha ha ha ha. iya, Tik. Mana ada penampakan seganteng itu?” sahut Mita.
“Ada apa Mit? Kok ketawanya kenceng banget?” tanya Hasan. Dia yang baru datang, belum mengetahui apa yang telah terjadi.
“Icha, kaget liat mas Hasan pake putih-putih” jawab Mita.
“Lah. Emang aku kaya kunti, apa?’ sahut Hasan.
“Ya lagian, ngapain berdiri di rumpun bambu? Kurang kerjaan”
“Yee. Aku lagi liat-liat bambu. Aku pengen bikin bale-bale buat di depan rumah, Mit”
“Oooh” seru Mita, Icha dan Tika bersamaan
“Ha ha ha ha”
Mereka tertawa bersama menyadari kekonyolan saat itu. Saat pak Sigit datang, ponsel Mita berdering lagi. Saat itulah Mita pamit undur diri. Hasan, yang hanya ingin lihat-lihat bambu, juga ikut undur diri. Jadilah Icha pulang bersama keluarganya.
Sesampai di belakang rumahnya, Icha kembali melihat ke arah samping timur rumah itu. Dia mencari sesuatu yang ada hubungannya dengan bayangan masa lalu tadi.
Tapi yang terlihat hanyalah bangsa jin yang berseliweran dengan segala aktivitas mereka. karena sedang bersama-sama keluarganya, Icha tidak seberapa takut.
Di ruang tengah, bu Maryati mengajak Icha berbincang-bincang. Dia penasaran dengan apa yang Icha lihat, sehingga ketakutan, terkejut bukan main, lalu yang terakhir tadi dia tersenyum seperti sangat terharu.
Icha yang baru tersentak dari angannya, merasa kehilangan bapaknya. Dan bu Maryati menjelaskan kemana perginya sang bapak. Ichapun hanya manggut-manggut saja.
“Gini, bu” kata Icha mengawali ceritanya.
“Tadi pas baru keluar dari pintu, Icha melihat ada orang di gantung di pohon. Persis di depan pintu belakang. Ada pohon gede di situ” lanjut Icha.
“Ih, mbak. Kok horor gitu, sih?” protes Tika. Tapi Icha tidak merespon.
“Terus di baratnya, ada seorang wanita diikat di sebuah pohon. Jariknya tersingkap, dan lehernya ditancepin ke tunggak kayu” lanjut Icha lagi.
“Ada bayangan kaya video gitu bu. Si wanita itu, awalnya diperkosa sama lima apa enam orang gitu, bule sama pribumi. Diperkosanya ya dalam kondisi diiket gtu, di pohon. Dan yang digantung itu, kayaknya suaminya deh, bu”
“Ya Alloh” seru Tika.
“Kaya disengaja, dia dibikin sekarat sambil ngeliat istrinya diperkosa”
“Astaghfirulloh. Ada petunjuk waktu, nggak?” seru bu Maryati.
“Ya jaman Belanda, bu. Jaman sekarang, mana ada yang pake jarik?”
“Terus, embak kenapa liatin kebun pisang? Banyak demitnya, ya?” tanya Tika.
“Enggak. Embak ngerasa seperti banyak orang lagi ngais-ngais tanah, tapi tanahnya nggak ada bekas jarinya. Tapi ada yang kaya dapet sesuatu” jawab Icha.
“Terus, yang embak kaya nggak bisa liat tadi, sebenernya mata embak ketutupan apa?” tanya Tika lagi.
“Yang mana? Oh, yang pas dituntun Mita?”
“Iya”
“Embak lagi dikasih liat, ada banyak banget orang digantung di pohon, di sepanjang jalan itu, dek. Tapi nggak tahu, bayangan itu merujuk kemana”
“Ya Alloh”
“Terus, ada pasangan suami istri, kayaknya seumuran embak, lagi nurunin mayat-mayat yang digantung itu. Terus, ada cewek yang teriak dari kejauhan. Ada cowok juga di belakangnya. Dia kaya nyuruh pergi gitu”
“Loh. Ada bahaya, kah? Mereka siapa, mbak?”
“Nggak tahu. Tapi yang bikin embak kaget banget, yang berteriak tadi, mirip banget sama embak”
“Mirip embak?” potong Tika.
“Serius. Embak berasa ngaca tahu, nggak. Mirip banget. Posturnya, rambutnya, wajahnya itu lho, asli berasa ngaca, dek”
“Ya. Emang terkadang ada yang mirip sih, sama kita. Kaya Sukowi, mirip banget sama pak Jokowi. Terus, terus?”
“Itu yang bikin embak sedih. Mereka bilang ada orang Belanda lagi menuju ke situ. Nggak lama kemudian, ada suara orang teriak-teriak. Mereka lari dong, nabrak embak, tahu. Embak kaget banget”
“Terus, mereka kemana, mbak?”
“Nggak tahu. Orang dikagetin Mita”
“Oh. Terus, kedenger suara kenceng itu, ya?”
“Iya. Embak pikir, mereka masuk ke dalam lubang menuju terowongan yang embak lliat sebelumnya. Nah, pas bapak dateng, embak ngeliat kalo tanah tempat lubang masuk ke terowongan itu, ambles. Pohon-pohonnya aja sampe tumbang ke tengah-tengah, membentuk lingkaran, gitu”
“Lah. Terus mereka gimana?” potong Tika.
“Itu dia, yang bikin embak sedih. Kebayang nggak sih, kalo mereka harus terkubur hidup-hidup karena granat atau semacamnya?” sahut Icha. Dia tampak menangis sedih.
“Terus, tadi kamu kenapa senyum, nduk? Kaya terharu gitu?” tanya bu Maryati, beberapa saat kemudian.
“Awalnya, Icha denger teriakan, bu. Suaranya persis sama orang yang mirip Icha tadi. Dua kali dia teriak manggil wanita yang pertama tadi. Eh, beneran dia, bu” jawab Icha, diakhiri dengan tangis haru. Bu Maryati mengelus-elus pundak Icha.
“Saat itu sih, udah keliatan agak berbeda. Badannya gemukan, terus rambutnya keliatan ada yang ubanan”
“Udah tua, dong?” potong Tika.
“Udah punya Cucu” jawab Icha.
“Jadi ternyata mereka baru pulang dari bersalin” lanjut Icha.
“Mereka?”
“Ya. Anak ceweknya, mirip juga sama embak. Dan dia yang baru aja melahirkan”
“Terus, terus?”
“Dari dalem rumah, muncul itu cewek pertama tadi. Di situlah embak ngerasa lega banget. Karena ternyata mereka semua masih hidup”
“Tapi kan mereka semua pastinya sudah nggak ada, mbak” kata Tika.
“Iya, sih” jawab Icha, lemas.
“Emang, rumahnya dimana, nduk?” tanya bu Maryati.
“Perasaan, rumahnya itu nggak berubah bentuk deh, bu. Persis banget kaya rumahnya bu Supin. Keluarnya juga nunduk. Cuman musholanya aja, belum ada” jawab Icha.
“Wah. Jangan-jangan, itu leluhurnya bu Supin, bu? Apa leluhur kampung ini?” tanya Tika.
“Namanya bayangan, bisa nyerupain apa aja. Bisa jadi itu sejarah, bisa jadi itu godaan setan” jawab bu maryati diplomatis.
“Iya sih, bu” kata Icha lemas.
“Ya udah. Kalian istirahat, gih! Ibu juga mau istirahat. Capek banget rasanya” pinta bu Maryati.
“Mbak. Bantuin Tika bikin PR, ya!” pinta Tika.
“Di kamar embak aja, ya? sembari rebahan” jawab Icha.
“Oke”
Tikapun beranjak pergi ke kamarnya. Icha melirik ke arah ibunya.
“Kamu kenapa, nduk? Gitu amat ngeliriknya?” tanya bu Maryati heran.
“Bikinin adik dong, bu! Abis liat dedek bayi, jadi pengen gendong” jawab Icha.
“His. Ada ada aja, nduk” kilah bu maryati sambil menepuk paha Icha.
“Ha ha ha ha” Icha tertawa senang, bisa menggoda ibunya.
“Buruan nikah, biar punya sendiri!” seru bu Maryati lirih.
“Ngeledek. Orang Icha jomblo. Mau nikah sama siapa?”
“Ya buruan, nyari! Masa ibu yang disuruh bikinin?”
“Minta sama bapak, aah” goda Icha sambil beranjak pergi.
“Ichaa” pekik bu Maryati heboh.
“Kenapa, mbak?”
Tika yang baru keluar kamar, bingung mendengar pekikan ibunya.
“Ha ha ha”
Icha hanya tertawa sambil masuk ke dalam kamarnya. Tika tambah bingung melihat ibunya berkacak pinggang.
Haih. Udah nggak bisa diboongin itu anak. Gimana ya, biar nggak kebaca sama dia?
ada kelanjutan nya gak????
💪💪💪
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat