Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 23 Mencari Pekerjaan
Terhitung sudah lima hari Elena berada di Kota Surabaya.
Selama lima hari itu juga Elena masih menganggur. Wanita itu belum mendapatkan pekerjaan apapun.
Selama itu juga perasaan Elena merasa tidak tenang. Elena terus saja teringat pada suaminya, dan mengkhawatirkan pria itu. Meski suaminya selalu menyakitinya, tapi Elena berharap pria itu baik-baik saja.
Saat ini wanita itu sedang berjalan menuju warung untuk mencari bahan makanan yang akan ia masak.
Ini pertama kalinya Elena datang kewarung untuk berbelanja. Selama beberapa hari kemarin, Elena hanya membeli nasi bungkus yang dijual dipinggir jalan didekat kontrakannya.
Setibanya diwarung itu, Elena segera menyebutkan apa saja yang hendak ia beli.
"Berasnya 5 kilo, telur 1 kilo, tempe 1, bayam 1 ikat, bawang merah bawang putih setengah kilo, garam 1, penyedap rasa 1," ucap Elena pada penjaga warung tersebut.
"Tunggu ya Mbak, saya ambilkan dulu belanjaannya." ucap penjaga warung tersebut.
"Iya Bu saya tunggu," ucap Elena.
Penjaga warung tersebut segera mengambilkan barang-barang yang Elena pesan.
Elena kemudian duduk di kursi teras warung tersebut. Disana bukan hanya ada dirinya melainkan ada dua ibu-ibu yang sedang duduk menunggu belanjaannya juga.
"Mbak orang baru ya, soalnya saya baru lihat Mbak disini," ucap ibu A yang duduk di sana.
"Iya Bu saya baru di sini. Saya ngontrak dirumah kontrakannya bu Indah," ucap Elena.
"Dari mana asalnya Mbak?" tanya Ibu B sembari melirik tak suka pada Elena.
Elena tentu saja mengerti arti lirikan dari Ibu tersebut.
Bekerja kurang lebih 3 tahun menjadi wakil direktur, tentu saja Elena sudah bisa membaca ekspresi setiap orang yang berhadapan dengan dirinya.
Terlebih lagi dua orang di hadapannya menunjukkan ekspresi tidak suka padanya.
"Saya dari Jakarta Bu," ucap Elena.
Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan dari ketiga wanita itu, karena belanjaan mereka masing-masing sudah selesai disiapkan.
Elena membayar belanjaannya pada penjaga warung tersebut, lalu kembali ke rumah kontrakannya.
Dengan bahan seadanya Elena menjadikan bahan tersebut menjadi menu sarapan untuknya.
Setelah selesai dengan sarapannya, Elena segera bersiap untuk mencari pekerjaan.
Kemarin-kemarin juga Elena sudah mencari pekerjaan namun masih belum mendapatkannya.
Wanita itu mencari pekerjaan hanya berbekal nama 'Elena Wulandari' tanpa memperlihatkan ijazahnya karena ia memang tidak memilikinya.
Elena juga mencari pekerjaan tanpa membawa surat lamaran kerja.
Hal itulah yang menyulitkan dirinya untuk mendapatkan pekerjaan. Hanya bekerja sebagai kasier dimini market saja ia tidak bisa diterima.
Toko demi toko Elena datangi untuk melamar pekerjaan tapi tidak ada yang mau menerima wanita itu untuk bekerja di tokonya. Alasan tidak memiliki ijazah kerap kali Elena dengar dari orang-orang yang menolaknya bekerja.
Hingga menjelang siang hari, Elena masih tidak mendapatkan pekerjaan. Wanita itu akhirnya menghentikan langkah kakinya dibawah pohon yang ada di pinggir jalan untuk beristirahat.
"Huhh, hausnya," ucap Elena.
Wanita itu kemudian mengedarkan pandangannya di sekitar tempatnya bernaung.
Dilihatnya ada toko sembako yang berada tak jauh dari tempatnya bernaung.
"Aku beli minum di situ saja lah," ucap Elena.
Wanita itu kemudian menghampiri toko sembako itu untuk membeli minum. Setibanya di toko itu Elena segara mengambil minuman lalu membayarnya.
Namun disaat ia hendak membayar, rupanya pemilik toko sembako itu orang yang ia kenali.
"Loh, kamu orang yang duduk di sebelah kursiku saat di dalam bus kemarin. Kalau nggak salah namamu Elena, kan?" tanya Nia pada Elena.
"Iya benar aku Elena. Kamu Nia, ya?" tanya Elena.
"Iya benar, aku Nia. Nggak nyangka kita bisa bertemu lagi," ucap Nia.
"Saya juga tidak meyangka bisa bertemu lagi dengan Mbak Nia di sini. Oh iya, Ini ambil dulu uang minuman yang saya beli" ucap Elena.
"Nggak usah dibayar Mbak, minumannya buat mbak Elena aja. Lagian ini toko punya saya sendiri kok," ucap Nia.
Dengan ragu-ragu Elena menganggukan kepalanya, lalu membuka minuman tersebut dan menengguknya.
Setelahnya kedua orang itu mengobrol bersama.
Nia bertanya pada Elena dari mana wanita itu, dan tentunya Alena menjawab dengan jujur bahwa dirinya sedang mencari pekerjaan, namun ia tidak kunjung mendapatkannya.
Nia yang mendengar cerita Elena, kini terdiam sejenak, untuk memikirkan hendak menawarkan pekerjaan untuk Elena.
Hingga pada akhirnya, wanita itu kemudian menawarkan pada Elena untuk bekerja di tokonya.
Bekerja di toko sembako, tentu saja bukan hanya menjadi kasir melainkan juga melayani para pelanggan yang berbelanja.
Selain itu juga, bekerja di toko sembako ia harus mau mengangkat barang dan menyusun barang.
Semua tugas dan pekerjaannya, langung Nia sampaikan terlebih dahulu pada Elena.
"Nggak papa Mbak Nia. Saya mau kok bekerja di toko Mbak Nia," ucap Elena.
"Satu lagi mbak Elena, untuk gaji saya pakai Upah Minimum." ucap Nia.
"Nggak papa Mbak Nia, saya mau." ucap Elena.
"Kalau begitu Mbak Elena, bisa bekerja besok pagi," ucap Nia.
Mendengar ucapan Nia tentu saja Elena sangat senang. Ia akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan Nia.
Cukup lama mereka mengobrol, bercerita satu sama lain.
Nia bercerita bahwa dirinya hanya tinggal seorang diri. Ia hanya memiliki kakak laki-laki namun kakanya itu sudah menikah dan sudah memiliki satu orang anak.
Selama ini, Nia merantau ke Jakarta meninggalkan usahanya yang dikelola kakaknya.
Tapi Kakaknya kini sudah memiliki usaha sendiri, jadi mau tidak mau Nia sendiri yang harus mengelola tokonya ini.
Sedangkan Elena, wanita itu juga menceritakan dirinya yang sudah menikah, hanya saja Elena mengatakan bahwa dirinya sudah berpisah dengan suaminya sehingga Elena harus menafkahi dirinya sendiri.
Sebenarnya Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada Nia untuk mengurangi beban pikirannya, tapi karena mereka baru saling mengenal, Elena jadi mengurungkan niatnya untuk bercerita.
Cukup itu saja yang wanita itu katakan pada Nia, selebihnya adalah privasi baginya.
Tidak terasa mereka mengobrol hingga melewati waktu makan siang.
Elena pamit pulang pada Nia, besok pagi ia akan datang kembali ke toko itu untuk bekerja.
Wanita itu lalu kembali pulang kerumah kontrakannya. Beruntung jarak dari toko Nia dengan rumah kontrakannya tidak terlalu jauh, sehingga hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk Elena sampai dirumah kontrakannya.
"Akhirnya aku dapat kerjaan juga," gumam Elena sesaat setelah wanita itu masuk kedalam rumah kontrakannya.
Wanita itu merebahkan tubuhnya disofa yang ada diruang tamu tersebut lalu memejamkan matanya.
Dengan mata yang menatap langit-langit kamar, sekilas bayangan Satria yang menyakitinya muncul dikepalanya membuat dada wanita itu terasa sesak kembali.
"Kenapa bayangan kamu menyakiti aku selalu muncul sih," gumam Elena tersenyum getir.