Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Pelangi Setelah Hujan Turun
☕🍜 Kau selalu sibuk menyembuhkan luka orang lain. Namun, di balik dindingmu, kau mati-matian menyembuhkan lukamu, sendirian. 🍜☕
"Aku tahu, paman Abdullah tidak akan menerima ini. Jadi, aku berharap kamu pun tidak menolaknya." Jaka mengeluarkan kresek hitam dari balik bajunya.
"Apa itu?" Maira mengernyit melihat kresek yang Jaka sodorkan. Karena penasaran, Maira pun mengambil alih kresek itu.
"Buka saja," kata Jaka, dia tersenyum tipis.
Rasa penasaran mendorong Maira untuk membuka kresek yang dia terima. Begitu melihat isinya, dia pun terkejut. Maira membelalakkan matanya melihat isi kresek itu. Dia mengalihkan pandangannya pada Jaka. Lantas ia bertanya, "Apa ini?!"
"Daun!" jawab Jaka singkat, lalu diiringi tawa.
Maira menelan ludah.
"Maksudnya untuk apa?! Dan sebanyak ini?!"
Jaka tidak langsung menjawab. Dia menatap lekat wajah Maira.
"Kamu dan paman Abdullah butuh uang itu ... aku temanmu, bukan? Dan ayahku berteman pula dengan bapakmu. Lalu, apakah seorang teman akan diam saja ketika temannya sedang dalam masalah?!" ucap Jaka. Dia masih menatap lekat wajah Maira—wajah manis yang kerap berselimut sendu.
Maira berkedip. "Tapi, Jak–"
"Ayahku yang menyuruh!" Jaka memotong dengan cepat.
Wajah sendu gadis itu semakin jelas terlihat.
"Ayahku kenal betul dengan paman Abdullah! Dia sangat keras. Dia tidak mau serta merta menerima bantuan! Dan aku juga tahu, kamu tak jauh beda dengan bapakmu!"
Maira menelan ludah. Jaka masih terus menatapnya. Raut wajahnya menunjukkan tidak menerima penolakan.
Gadis itu menunduk. "Aku terima," lirihnya. Lalu mendongak, dan berkata, "Tapi, aku akan mengembalikannya!"
Jaka menyipitkan matanya mendengar perkataan Maira. Gurat kecewa tampak di wajahnya.
"Apa kamu menilai segala sesuatu hanya dengan uang?!" Jaka menatap Maira semakin lekat.
Maira tergagap. Dia tidak bermaksud demikian. Dia hanya tidak bisa serta merta menerima sesuatu dengan begitu mudahnya.
"Jika segala sesuatu harus dinilai dengan uang, maka kebaikanmu dan kebaikan paman Abdullah tidak akan cukup dinilai dengan uang yang ada di dalam kresek itu. Bahkan ditambah berkali-kali lipat pun tidak akan pernah cukup!" Mata Jaka berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Sebatang rumput liar yang dia kunyah pun sudah dihempaskan.
Maira kembali menunduk mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jaka. Butiran air yang menggenang di pelupuk matanya, jatuh bersusulan ke tanah.
Jaka melihat hujan yang tengah jatuh dari manik mata seorang gadis yang dulu menjadi pahlawannya.
Seketika, dadanya bergemuruh. Dulu, gadis itu pilu melihat dia meronta-ronta kesakitan setiap kali dia kambuh. Kini, Jaka merasakan kepiluan yang mungkin dulu dirasakan oleh Maira.
Sungguh! Melihat orang yang kita sayang terluka, rasanya lebih menyakitkan dibandingkan dengan luka kita sendiri.
Jaka membiarkan Maira larut dalam tangisnya. Wajah pria pengidap epilepsi itu pun gerimis. Berkali-kali dia menyekanya, namun, pipinya tetap saja basah.
Sejenak, suasana hening. Desiran angin menyapu lembut wajah-wajah yang sedang gerimis. Matahari sudah tergelincir ke barat beberapa jengkal dari atas ubun-ubun.
Tidak terik, sebab diselimuti oleh awan mendung. Langit yang mendung. Namun, hujannya ada di wajah dua muda-mudi itu.
"Mai …."
Gadis itu mendongak. Dia sudah menyeka air matanya. Namun, butiran air masih ada yang menggantung di ranting bulu matanya.
"Jika kamu ingin mengembalikan hutang itu padaku. Maka, hanya ada satu cara untuk membayarnya. Kamu mau tahu?"
Maira diam sejenak, tak mengerti apa maksud temannya. Tadi dia bilang seolah tidak mau dikembalikan. Tapi, sekarang dia malah menawarkan cara untuk membayarnya.
Tak mau berpikir panjang, akhirnya Maira mengangguk patah-patah.
Jaka senang melihat Maira mengangguk, tanda setuju dengan cara yang hendak ia tawarkan.
Maira tampak siap menunggu cara yang hendak disampaikan oleh Jaka. Tiba-tiba, bukannya memberitahu caranya, Jaka malah menunjukkan kedua biji matanya dengan jari telunjuk sembari menjulur-julurkan lidahnya.
"Wleeek ... wleek … wlek!"
Maira yang sudah sedari tadi tampak serius menanti kalimat Jaka, akhirnya tak dapat menahan tawa melihat ekspresi yang dibuat-buat oleh teman kecilnya. Maira mengambil rumput untuk menimpuk Jaka.
Jaka dengan sigap menangkisnya. Lalu membalas dengan bertubi-tubi. Maira segera mengambil tumpukan rumput hasil cabutannya. Dia tak mau kalah, dan membalas serangan Jaka.
Tawa mereka berderai. Rerumputan itu berantakan. Mereka terus balas membalas, sama-sama tak mau kalah. Kini, mereka layaknya anak-anak kecil yang sedang bermain tembak-tembakan.
Sesaat kemudian mereka menyadari tingkahnya. Memandangi rerumputan yang berantakan akibat ulah mereka.
Kini keduanya duduk di tanah, tak memperdulikan bajunya yang kotor. Napasnya sedikit tersengal. Sisa tawanya masih terdengar.
"Lunas!" celetuk Jaka. Ia meletakkan bungkusan kresek di samping Maira, yang tadi sempat dilempar sembarang oleh gadis itu saat hendak melemparinya dengan rumput.
Dengan sisa tawanya, Maira menoleh menatap bergantian Jaka dan bungkusan kresek yang ada di sampingnya.
"Ya! Hutangmu lunas! Kamu baru saja membayarnya dengan tawamu," ujar Jaka santai, tanpa melihat wajah Maira. Dia tahu, sebentar lagi wajah itu pasti akan gerimis lagi.
Dan benar saja. Sisa tawa gadis itu samar-samar berubah menjadi isakan. Maira baru memahami apa maksud Jaka.
Pria itu tak sanggup lama-lama mendengar temannya menangis lagi. Ia bangkit dari duduknya.
"Urusan bayar membayar sudah selesai! Yang belum adalah tinggal membereskan rerumputan yang berantakan ini," kata Jaka. Matanya memandangi rerumputan yang bertaburan.
Maira mendongak, melihat Jaka yang sedang memandangi rerumputan yang bertaburan di sekelilingnya. Maira mengikuti arah pandangan Jaka.
Sesaat keduanya saling memandang. Beradu tatap saling menuduh siapa yang paling banyak membuat rerumputan itu berantakan.
"Ini adalah tugasmu! Ha-ha-ha!" Jaka segera menjauh dan berlari kecil meninggalkan Maira yang mendengus.
Walau demikian, Maira membiarkannya. Ini memang tugasnya. Dia segera mengumpulkan kembali rerumputan itu. Tak dipungkiri hatinya sudah lega. Masalah yang datang tiba-tiba. Lalu, mendapat solusi dengan cara yang tak terduga.
Begitulah hidup. Masalah akan selalu datang menghampiri, seolah tiada henti. Tapi, masalah itu tidak akan datang kecuali sudah Tuhan sediakan solusinya.
Sembari memunguti rerumputan yang berantakan. Diam-diam seulas senyum terbit di wajahnya. Menghangatkan hatinya yang sempat mendung. Dia belum menyadari, Jaka telah kembali dan ikut membantunya membereskan rumput-rumput itu.
"Jangan sampai paman Abdullah tahu tentang dari mana uang itu. Katakan saja itu tabunganmu," ucap Jaka seraya memunguti rumput.
Maira sedikit terkesiap mendengar suara Jaka yang tiba-tiba sudah sedang bersamanya. Kemudian ia mengangguk samar-samar.
Jaka tersenyum. Maira juga tersenyum. Mungkin ini yang dimaksud dengan pepatah yang mengatakan, 'Ada pelangi setelah hujan turun'
Jaka bertanya kapan Maira akan kembali ke Jakarta. Maira menjawab secepatnya, dia juga bilang akan lebih giat lagi dalam bekerja. Jaka senang melihat semangat Maira, senang melihat sendu telah sirna dari wajahnya.
"Titip salam untuk sahabatmu, di Jakarta. Dan sampaikan ucapan terima kasihku pada mereka," kata Jaka, lirih.
"Tentu! Tapi, terima kasih untuk apa?" Maira berhenti memunguti rumput.
Jaka juga berhenti memunguti rumput. Lalu ia menjawab, "Terima kasih karena sudah menjadi teman baikmu."
Maira terenyuh, ia mengangguk. Bibirnya mengulas senyum.
Pertemuan itu, menjadi pertemuan pertama setelah bertahun-tahun lamanya tak berjumpa. Namun, sekaligus menjadi pertemuan penutup.
Setelah menyelesaikan urusannya. Maira harus segera kembali ke Jakarta. Tumpukan kain di lemari khusus, sudah menantinya.
Begitu pula dengan Jaka. Dia telah siap menjalani hari-harinya kembali. Siap bergulat dengan kesepian dalam penantian panjang.
Jaka tidak apa-apa. Dia sudah terbiasa. Dia sudah ikhlas dengan kehidupannya yang demikian. Sepi, sudah menjadi teman karibnya.
Setidaknya kali ini, ia sudah berbekal pertemuan satu hari dengan teman yang selama ini dia nantikan kehadirannya. Untuk orang yang teramat kesepian, itu sudah lebih dari cukup.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗