Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih ke PD an
"Aku gak ke PD an. Tapi, aku bisa merasakan sikap dari bapak ini. Bapak, sengaja mengikatku dengan perjanjian untuk jadi asistennya bapak, karena merusak laptop, yang sebenarnya itu rusak bukan karena kesalahanku sepenuhnya. Bapak ingin aku selalu dekat bapak kan?" ujar Arum menilik serius kepada Dimas yang kini menunduk tidak berani menatap Arum. Bahkan sendok di tangan pria itu lepas dengan sendirinya.
"Ok, ok. Bapak tidak menyukaiku. Harusnya seorang anak yang baik. Tidak memberatkan ibunya soal kerugian yang tidak sengaja dilakukan. Tapi, ini ku lihat. Bapak memanfaatkan kesalahan itu. Agar Bisa dekat denganku kan?"
Seketika, Dimas mengangkat wajahnya. Menatap serius Arum yang bicara tanpa henti itu. Ia pun mengangkat tangannya, memberi kode agar Arum diam.
"Hei i... Jangan GR. Aku masih waras. Mana mungkin Aku suka kepada ibu tiri ku. Lagi pula, Kamu bukan tipeku. Memang ya, kamu itu suka ke PD an. Gak mikir tempat dan situasi, nyerocos saja. Seperti kamu saat bergoyang tidak jelas waktu itu di acara ku!"
"Haahh.. Koq malah ngaur ke yang sudah lewat." Ujar Arum menahan malu. Jujur, jika ia ingat kejadian itu, ia malu sendiri.
"Aku meminta kamu jadi asistenku agar kamu Bisa berkembang. Ada pengalaman, jika kamu jadi asistenku. Maka dosen lain akan kenal kamu." Ujar Dimas serius.
Arum terdiam. Ia bahkan menunduk, dugaannya salah. Dimas tidak menyukainya. Padahal sempat Arum merasa, kalau Dimas menyukainya sejak pertemuan sebulan lalu di bimbel.
"Ya sudah, bilang sama Ayah kalau kamu rusakkan laptopku. Dan minta uang sama ayah, kalau kamu gak mau jadi lagi asistenku!" Dimas menyudahi acara makannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi.
Arum terduduk lemas di sofa. Ia merasa legah sekaligus malu. Legah, karena Dimas benar tidak ada rasa padanya. Malu, karena ia ke PD an karena, menanyakan soal sikapnya Dimas yang menurutnya berlebihan.
Arum tidak Mungkin minta uang pada pak Subroto
Mana jumlahnya banyak. Uang pak subroto sudah banyak habis untuk pengobatan ayahnya. Tentu jika Ia minta uang pada pak Subroto. Pasti ketahuan bu Dewi. Kalau itu terjadi, ia pasti kena marah oleh bu dewi.
Arum pun akhir nya memutuskan untuk tetap jadi asistennya Dimas. Seperti kata Dimas, itu bagus untuknya. Ini bisa menjadi batu loncatan untuknya. Siapa tahu suatu saat ia kena campakkan dari rumah Pak Subroto. Ia sudah ada pengalaman kerja.
Dimas keluar dari kamar mandi. Ia cukup terkejut melihat Arum masih di ruangan itu. Tapi, ia tetap bersikap biasa.
"Aku ada mata kuliah sekarang. Setelah itu aku akan langsung pulang ke apartemenku. Kalau kamu mau pulang. Kunci bagus ruangan ini." Ujar Dimas datar. Ia raih tas kerjanya dan masih berdiri di hadapan Arum menunggu jawaban wanita itu.
"Eemmm... Ba, baiklah Pak!" sahut Arum tergagap. Rasanya masih sangat memalukan sekali, menanyakan perasaan Dimas kepadanya. Padahal kan jelas-jelas, ia ibu tirinya Dimas. Mana mungkin Dimas suka padanya.
Dimas pun keluar dari ruangan itu. Fan Arum bergegas, melihat kepergian Dimas dari kaca jendela.
"Aku yang suka padamu sebelum aku tahu kamu anak tiri ku! huhuhu...!" ujar Arum beracting sedih, ia masuk menatap keluar jendela. Menatap Dimas hingga hilang dari pandangan mata.
Bruuggkk..
Ia lorotkan tubuhnya bersandar pasrah di daun pintu. Tiba-tiba saja Arum merasa sedih. Ia teringat semua kejadian pahit yang menimpa dirinya.
Ia yang sejak lahir ke dunia ditinggal sang ibu untuk selama-lamanya. Sakitnya perjuangan hidup agar bisa melanjutkan hidup. Bersama sang ayah melakukan semua pekerjaan. Bahkan, ia sering ikut ayahnya kerja menggali parit dan bekerja di kebun dengan upah harian.
"Aauuwwhh... Perutku!" keluhnya. Tiba-tiba saja perut bagian bawahnya terasa kram dan sakit sekali