Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah rumah
Maaf ya sebelumnya aku terpaksa ganti judul karena suatu alasan. Terima kasih buat yang menantikan cerita ini. Aku agak ngelag stuck ide jadi agak lama nulisnya.
***
Orang tua Annisa kecewa ketika mendengar anaknya keguguran. "Apa kamu tidak bisa menjaga istrimu dengan baik? Bagaimana bisa Annisa sampai keguguran?" tanya Bu Fatimah.
"Bu, bukan salah Mas Abi. Aku yang kurang hati-hati ketika menuruni tangga." Annisa membela suaminya.
Saat itu Mama Safa juga ada di sana. Dia terharu melihat ketulusan Annisa dalam mencintai Abi. "Maafkan anak saya, Bu. Abizar juga merasa sedih karena kehilangan calon anak mereka."
Bu Fatimah menghela nafas. Dia tidak bisa berkata-kata saking kesalnya. Bu Fatimah hanya mengkhawatirkan anak bungsunya itu.
"Annisa banyak-banyak istirahat setelah ini. Jangan kerja terlalu keras. Abi sebagai suami kamulah yang harus mencari nafkah. Jika Annisa ingin membantu boleh saja tapi bukan kewajiban dia sebagai istri." Ayah Annisa memberi nasehat.
"Baik, Yah. Saya akan mendengarkan kata-kata ayah," jawab Abi.
"Sebaiknya kita pulang, Bu. Kita tidak boleh mengganggu Annisa. Dia juga butuh istirahat supaya cepat sembuh," kata Pak Hanafi.
"Ibu pulang dulu. Jangan lupa dimakan buahnya," tutur Bu Fatimah. Annisa mengangguk. Abizar mengantarkan kedua orang tua Annisa sampai keluar.
"Terima kasih sudah datang, Pak, Bu," kata Abi.
"Kami titip Annisa ya," pesan Pak Hanafi. Abizar mengangguk paham.
Setelah kepulangan orang tua Annisa, Abizar kembali ke samping istrinya. "Kamu mau makan nggak? Aku suapi ya," ucap Abizar menawarkan diri.
"Aku tidak lapar, Mas," jawab Annisa.
Annisa dirawat selama dua hari. Selama itu Abizar setia menemani istrinya. Abi benar-benar menjadi suami siaga. Dia tidak pernah meninggalkan Annisa karena dia tahu Annisa tidak bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuannya selama sakit.
"Annisa, kita pindah ke apartemen ya. Aku sudah bilang sama mama untuk mengembalikan apartemen milikku."
"Tapi bagaimana dengan barang-barang kita yang ada di rumah kontrakan, Mas?" tanya Annisa.
"Aku akan menyuruh orang untuk membawakan semua barang-barang kita ke apartemen," jawab Abizar.
Annisa hanya bisa menurut pada suaminya. Mereka pun pulang dengan naik taksi. "Mas, apa ini artinya kehidupan kita sudah berubah?" tanya Annisa ketika di perjalanan.
"Mudah-mudahan ya, sayang," jawab Abizar sambil mengusap kepala wanita berhijab itu. Annisa menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Jangan pernah berubah, Mas. Aku ingin kamu selalu jadi Mas Abi yang aku kenal," tutur Annisa.
"Tentu saja. Aku tidak akan menjadi Abi yang dulu. Abizar yang sekarang adalah laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarganya." Annisa mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih, Mas Abi."
Ketika mereka sampai di depan gedung apartemen, Abizar menurunkan kursi roda agar dinaiki istrinya. Sebab mereka tingga di lantai yang lumayan tinggi jadi akan kesulitan bagi Abizar jika harus menggendong sang istri hingga ke unit apartemen miliknya.
"Wah, bagus sekali." Annisa kagum akan desain interior di dalam apartemen Abi.
"Kamu suka?" tanya Abizar. Annisa langsung mengangguk.
"Ayo masuk ke dalam kamar kita," ucap Abi.
"Mas, apa di sini hanya ada satu kamar?" tanya Annisa.
Abizar mengerutkan kening. "Kenapa tanya begitu?" Abi balik bertanya.
"Apa kita akan tidur di kamar yang sama?" Abizar tersenyum mendengar ucapan Annisa. Abi pun berjongkok.
"Kenapa kita harus pisah ranjang. Kalau satu ranjang lebih hangat. Aku tidak akan bisa tidur tanpamu." Wajah Annisa memerah karena malu.
Sementara itu di rumah kontrakan Abi terdapat beberapa orang yang memindahkan semua isi rumah itu ke atas mobil.
"Mereka itu siapa? Jangan-jangan dept colector?" tebak Bu Siti.
"Masa sih? Apa Mas Abi terlibat hutang piutang Bank?" tanya Bu Rohmah. Bu Siti menggedikkan bahu. Mereka hanya menebak-nebak. Tidak ada yang tahu kabar Annisa dan Abizar semenjak Annisa masuk ke rumah sakit.
Setelah itu mereka membawa barang-barang Annisa dan Abi ke alamat yang telah diberi tahu.
Ting tong
Suara bel tersebut membuat Abizar menoleh. "Aku lihat dulu ke depan," ucap Abi sebelum berlalu meninggalkan istrinya.
Abizar membukakan pintu. Ternyata orang-orang yang membawa barang pindahannya hari ini datang. "Pak barang-barangnya mau ditaruh di mana?"
"Bawa masuk!" perintah Abi.
Setelah semua barang-barang dibawa masuk, Abizar memberikan uang kepada para pengangkut barang pindahannya. "Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Pak."
Abi melihat banyak sekali barang yang dipindahkan. Annisa keluar dari kamar. "Barang-barangnya biarkan di situ aja Mas. Besok akan aku bereskan," kata Annisa.
"Jangan! Nanti biar aku cari asisten rumah tangga saja. Kamu cukup istirahat. Ingat kamu masih dalam masa pemulihan." Hati Annisa bahagia mendengar ucapan suaminya yang penuh perhatian.
"Aku beruntung memiliki suami yang perhatian sekali," puji Annisa.
"Jangan memujiku."
"Memangnya kenapa?" tanya Annisa.
"Aku tidak bisa mengontrol diri," goda Abi. Saat ini mereka masih dalam masa bahagia meski Annisa sempat kena musibah. Tapi wanita itu masih memaafkan suaminya.
Akankah ada kejutan yang akan mereka alami nantinya? Bukankah setiap pernikahan punya ujiannya sendiri?
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁