Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Besar Jamiko
Daley terus memperhatikan asistennya, pria itu masih juga belum menjawab pertanyaan Daley soal pernikahan. Terlihat sekali Malik sangat enggan membahas hal itu.
Malik menghela nafas panjang, "aku belum bisa menikah," ucapnya.
"Kenapa? bukankah pak Malik sudah cukup umur untuk membina rumah tangga," kata Daley.
"Jika aku memiliki keluarga sebelum masalah keluarga Jamiko selesai, maka aku akan kesulitan untuk membagi waktunya."
Daley terkejut mendengar jawaban Malik, "pak... jadi ini karena kami?"
"Bukan seperti itu juga tuan muda, intinya aku masih belum siap."
"Maaf," kata Daley.
Malik membelalakkan matanya, "untuk apa tuan muda minta maaf? ini sama sekali bukan kesalahan tuan muda Ley."
"Ini memang salahku pak. Pak Malik sangat sibuk mengurus keluarga Jamiko selama ini."
"Tuan muda, pak Aston sangat membantu keluargaku dulu hingga sekarang. Jasanya begitu besar pada keluarga kami, jadi ini belum seberapa. Aku sama sekali belum bisa membalas kebaikan pak Aston padaku. Jika bisa membantu anda menemukan pelaku utama kecelakaan orang tua anda, itu juga masih belum bisa melunasi hutang budiku."
"Astaga... pak Malik terlalu berlebihan. Selama ini bapak sangat membantu kakek menangani perusahaan selama aku berada di Amerika. Jika tidak ada pak Malik, mungkin perusahaan Jamiko sudah berpindah tangan. Pak Malik, cobalah keluar dari bayang bayang keluarga Jamiko. Anda juga harus memikirkan diri sendiri pak."
"Tuan muda tenang saja, setelah semua ini selesai, aku pasti akan segera menikah. Percayalah..."
"Jadi pak Malik sudah memiliki calon istri?"
Malik menyeringai seraya menggelengkan kepalanya.
"Ck... aku mana bisa tenang pak."
Malik terkekeh geli, "jangan bahas soal pribadiku lagi tuan muda. Saat ini anda harus fokus pada perusahaan juga pribadi anda."
Daley menghela nafas panjang, "apa aku masih bisa berpikir? bahkan kakek memaksaku menikah dengan wanita serakah itu."
"Setidaknya anda mencintainya, bukan wanita asing yang dikenalkan oleh pak Aston. Tapi anda harus tetap hati hati tuan muda."
Daley menganggukkan kepalanya, "aku akan terus merepotkan anda untuk menyelidiki terus wanita itu."
"Itu sudah pasti tuan muda," jawab Malik.
Pintu lift kembali terbuka, Malik mendorong kursi roda Daley keluar dari perusahaan. Mobil mereka sudah siap di depan pintu keluar perusahaan. Daley dibantu Malik masuk ke dalam mobil, walaupun sebenarnya Daley sama sekali tidak lumpuh. Setelah itu, Malik langsung mengendarai mobilnya menuju rumah besar Jamiko.
...****************...
Di rumah besar Jamiko...
Keluarga Furhet sedang berbincang-bincang dengan Aston yang baru tiba. Mereka justru lebih banyak membahas soal persiapan pernikahan Daley dan Lisa.
Permintaan Amel tetap seperti 7 tahun yang lalu agar pernikahan itu dilakukan secara diam-diam demi pekerjaan Lisa. Aston berharap wanita itu berubah pikiran, namun sepertinya tetap tidak mau jadi terpaksa ia mengalah seperti perjanjian pernikahan sebelumnya.
"Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita makan terlebih dahulu," ajak Aston.
"Tapi yang disambut belum kembali kek, bukankah lebih baik menunggu Ley dulu," kata Juanda.
"Ia mungkin masih ada pekerjaan di perusahaan. Jika kita menunggu bisa-bisa kelaparan," canda Aston.
Juanda dan Amel tertawa.
"Kalian bisa makan siang lebih dulu, biar aku yang menunggu Ley kembali," sahut Lania.
"Jangan nak, lebih baik kita makan bersama sambil menunggu Ley pulang," jawab Aston.
"Apa yang dikatakan La... ah maksudku Lisa benar kek. Lebih baik ia menunggu Ley pulang saja, biarkan nanti mereka berduaan agar lebih saling mengenal," kata Amel.
"Astaga, aku nyaris saja memanggilnya Lania. Jika aku sampai keceplosan, maka aku sendiri yang menghancurkan rencana ini," pikir Amel.
"Ya ampun, itu ide yang bagus. Mereka memang harus lebih saling mengenal satu sama lain sebelum menikah minggu depan. Baiklah... Juanda, Amel, lebih baik kita ke ruang makan duluan," ajak Aston seraya beranjak dari tempat duduknya.
Juanda dan Amel pun ikut beranjak dari tempat duduknya, Juanda mengikuti Aston menuju ruang makan, sedangkan Amel mendekati Lania.
"Jangan coba-coba menghancurkan rencana ini Lania, kau harus mendekati Ley sebagai Lisa. Ingat... keselamatan ayahmu ada di tanganku. Kita mulai sandiwara ini," bisik Amel pada Lania.
"I...i...iya mah," jawab Lania tergagap.
Amel menyunggingkan senyumnya, "kau boleh membuat Ley tergila-gila padamu, tapi kau tidak boleh melakukan hal yang sama padanya. Lisa sama sekali tidak menyukainya, apalagi pria itu ternyata menjadi lumpuh selamanya."
Lania menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan hal itu, Amel pun meninggalkan Lania sendirian di ruang tamu rumah besar Jamiko.
...****************...
Setengah jam kemudian...
Terdengar suara deru knalpot mobil di depan halaman rumah keluarga besar Jamiko. Lania beranjak dari tempat duduknya seraya menuju pintu keluar. Dilihatnya Daley dibantu oleh Malik turun dari mobilnya. Lania tersenyum, ia segera mendekati mereka.
"Biar aku saja," kata Lania membuat Daley dan Malik terkesiap.
Wanita itu mengejutkan keduanya karena tiba-tiba berdiri di belakang mereka.
"Apa kau sengaja ingin membunuhku?" celetuk Daley.
"Hah? apa maksudmu?" tanya Lania tak mengerti.
"Kau terus saja membuatku terkejut. Apa kau pikir aku butuh bantuanmu?"
Lania menelan saliva-nya, Daley terus saja bersikap kasar padanya.
"Aku hanya..."
"Tidak perlu kau kasihani, aku bisa sendiri," sergah Daley.
Lania menghela nafas panjang.
"Minggir...!!!" teriak Daley membuat Lania terkejut.
Seketika wanita itu memberi jalan pada Daley yang memutar rodanya sendiri dengan tangannya.
"Masih saja seperti dulu, apa ia masih membenciku karena syarat yang mama Amel ajukan? hm... aku harap ia bisa bersikap lebih baik setelah menikah denganku," pikir Lania.
"Pak Malik tunggu," pinta Lania.
Sontak Malik pun menghentikan langkahnya, ia menatap Lania dengan tatapan tidak suka.
"Maaf pak, bolehkah aku bertanya?"
Malik menaikkan sebelah alisnya, "tanya saja," ucapnya datar.
"Itu... kursi roda... maksudku... kenapa tidak kursi roda elektrik saja agar lebih memudahkan Ley kesana kemari sendiri," kata Lania.
"Ciiiih... belum juga menjadi istri tuan muda Ley, ia sudah mulai keberatan jika tuan muda menggunakan kursi roda manual. Nona Lisa, kau akan memang tidak akan bisa berubah. Aku sempat berpikir kau lebih baik dari sebelumnya," pikir Malik.
"Pak..." panggil Lania.
"Jangan tanya padaku, aku sama sekali tidak tahu," celetuk Malik seraya meninggalkan Lania begitu saja.
"Sepertinya pak Malik juga tidak menyukaiku. Hm... aku harus sabar," pikir Lania.
Lania segera melangkahkan kakinya menyusul Daley ke dalam rumah. Di ruang tamu masih tidak ada siapapun. Daley terus masuk hingga tiba di ruang keluarga, di sana lah Aston dan keluarga Furhet bercengkrama.
Daley menarik sudut bibirnya karena tidak menyukai mereka, terutama saat melihat wanita yang bernama Amel tersebut yang sedang tertawa lepas dengan kakeknya.
"Akhirnya kau pulang Ley," ucap Aston, "loh dimana Lisa?" tanyanya.
"Kakek, aku sangat lelah. Aku ingin langsung ke kamarku," ujar Daley.
"Tapi..."
"Biar aku saja yang mengantarkannya beristirahat," sahut Lania sambil mendekati mereka.
Daley menggertakkan giginya, lagi-lagi wanita itu terus berusaha mendekatinya.
"Tidak perlu, menjauhlah dariku," bentak Daley seraya meninggalkan mereka.
Aston, Juanda dan Amel sama-sama terkejut mendengar kekasaran Daley.
"Maafkan sikap Ley," kata Aston.
"Tidak apa-apa kek, mungkin Ley memang lelah," jawab Juanda.
"Iya benar, kami sangat memakluminya," sahut Amel.
"Kakek, bolehkah aku membawakan makan siangnya ke kamar Ley," pinta Lania.
Aston tersenyum lebar, "kau memang cucu menantuku yang sangat pengertian Lisa. Silahkan nak, bawakan makanan Ley sekaligus kau juga. Makanlah bersamanya di kamar sambil berbincang-bincang. Mbak Yuni, tolong bantu Lisa menyiapkannya."
"Baik tuan besar, mari nona," ujar mbak Yuni salah satu pelayan keluarga Jamiko.
Lania tersenyum, ia segera mengikuti pelayan tersebut untuk menyiapkan makanan Daley dan untuknya juga. Sedangkan Juanda dan Amel kembali berbincang-bincang dengan Aston.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣