NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Masalah Edward

11.

Morline mendapat notifikasi dari sistem. Melihat jika rapat akan selesai, Morline mundur perlahan tanpa disadari siapapun. Menekan tombol cek poin dan melihat jika poinnya bertambah 50 dari poin awal.

Dia lalu beralih menu ke pasar sistem. Seingatnya, Morline pernah melihat barang bagus di pasar sistem. Jari gemuk Morline berhenti menggulir, dia menekan tombol detail untuk melihat deskripsi barang tersebut.

Buku panduan pembuatan senjata api. Morline sekilas membaca detailnya, buku ini adalah panduan membuat senjata api. Morline tak tahu jenisnya tapi jika mereka mempunyai senjata api tentu kerajaan mereka tidak akan menjadi kerajaan yang dianggap remeh lagi dan kestabilan rakyat juga terjaga.

Melihat harganya yang mahal Morline tak peduli, dia langsung membeli meski poinnya terkuras habis hanya untuk membeli satu buku panduan.

Di samping itu, Gengi melirik Morline. Melihat gadis gemuk itu sedang mengibaskan tangannya ke udara, menganggap jika sang ratu merasa gerah atau kepanasan. Sebagai orang kepercayaan raja dia mendekat pada Morline. Gadis itu meliriknya. "Apa anda merasa panas yang mulia?" Bisik Gengi.

"Yaah, aku sedikit gerah, tapi tak masalah." Morline menjawab asal, dia takut tangan kanan Cedric itu melihat gerak-geriknya yang aneh.

Saat yang bersamaan rapat selesai, Cedric bangkit dari kursi dan pergi dari ruang rapat. Gengi segera mengikuti dari belakang.

Para menteri melirik Morline yang masih berdiri di sana seperti patung. Morline menebalkan wajah dan bersikap tampak biasa di depan mereka, dengan keanggunan yang dibuat-buat, Morline melangkah keluar ruang rapat.

Cashi dan Nina yang menunggu di luar, mereka mengikuti langkah Morline menuju ke sebuah ruangan. Langkah mereka terhenti, Morline berbalik. "Tunggu di sini." Katanya kemudian langsung masuk ke ruangan musik.

Nina dan Chasi saling menatap, wajah mereka tampak kebingungan. Namun keduanya patuh berdiri di sisi pintu.

Sebuah buku tebal bersampul biru jatuh ke kedua tangan Morline. Dia sedikit terkejut, lalu menoleh kebelakang. Memastikan kedua dayangnya tak melihat sebuah buku jatuh dari udara kosong.

Morline membuka asal buku itu, membalik satu demi satu lembar buku untuk melihat isinya. Ternyata sesuai harapannya, buku itu menunjukkan panduan pembuatan senjata api dari awal hingga akhir dengan bahasa dan penjelasan yang mudah dimengerti.

Morline menutup buku itu, memeluknya sambil tersenyum. Karena dengan adanya buku ini, mereka akan sangat terbantu. Kekuatan Hesperias akan meningkat dan mereka tidak perlu lagi bergantung pada kerajaan lain yang diam-diam mengeruk kekayaan alam mereka.

Mata Morline berkilau penuh ambisi, sebagai orang Hesperias dia tentu tak rela jika tanah airnya diam-diam dijadikan sumber uang tapi tak memberikan manfaatkan apapun pada rakyatnya. Membayangkan jika Thalva benar-benar menguasai Hesperias saja, Morline merasa takut. Namun dengan sistem yang dia punya, Morline menyakini jika kemajuan mereka akan semakin pesat seiring berjalannya waktu.

"Yang mulia?" Kedua dayangnya menatap Morline yang ekspresinya tampak berbeda. Dalam kepala mereka mempertanyakan; apa yang membuat perubahan suasana sang ratu cepat berubah?

"Aku ingin menemui raja," kata Morline sembari melangkah ringan. Chasi dan Nina yang sudah mengetahui jika mereka tak diizinkan ikut saat Morline menemui raja tidak mengikutinya, mereka justru diam di tempat, mulai berbincang tentang tidur mereka yang akhir-akhir ini terasa lebih sedikit.

Dengan buku tebal di tangannya, Morline melangkah dengan hati ringan melewati koridor istana yang megah dan indah. Lukisan besar seorang raja dengan bingkai emas dan tinta merah yang melimpah samasekali tak membuat Morline berhenti untuk mengagumi keindahannya, dia terus melangkah hingga berhenti di dua pintu yang menjulang kokoh.

Mengetuk pintunya lalu dengan suara seringan kapas dia memanggil, "yang mulia, saya membawa sesuatu yang berharga untuk anda."

Tidak ada suara dari dalam meski Morline menunggu selama beberapa menit. Dia mendekatkan telinga ke pintu. "Yang mulia anda di dalam?" Morline mengintip lubang kunci tapi yang dia lihat justru hanya kegelapan pekat. "Apa anda sedang tidur?"

"Sedang apa kau?!"

Morline terlonjak kaget, memegang dada menekan debar jantung yang berdetak dua kali lipat. Matanya melebar dengan mulut yang sedikit ternganga menatap Cedric yang datang dari depan, di belakangnya ada Gengi.

"Astaga! Dari mana saja anda? Saya mencari!" Tanpa sadar Morline bertanya kesal pada Cedric. "Benar-benar buat kaget saja." Morline mendesah pelan, bergumam pada dirinya sendiri. Namun masih terdengar jelas oleh Cedric.

Dibalik topeng Cedric mengangkat satu alisnya. Dia melihat gadis itu membungkuk di depan pintunya dengan wajah menempel di permukaannya, posisinya terlihat aneh dan sedikit sensual, jadi dia menegur gadis itu. Melihat wajahnya yang kaget beberapa saat lalu, Cedric tersenyum tipis.

Heh, kalau dipikir-pikir saat itu juga sama. Batin Cedric yang mengingat Morline sempat kepergok mengintipnya.

"Kenapa mencariku? Kau pikir aku keong terus menerus di kamar? Aku seorang raja tak mungkin aku berdiam diri tanpa melakukan apapun di kamar."

Morline hampir saja memutar matanya ketika Cedric dengan percaya diri mengatakan hal itu. Apa pria itu mendadak lupa ingatan?

Sudahlah, toh tujuannya ke sini bukan untuk berdebat dengan Cedric.

Dia mengulurkan kedua tangannya yang menggenggam buku tebal setebal materi hukum. "Saya ingin menunjukkan buku ini pada anda."

Dibalik topeng, Cedric mengernyit. Dia menunduk untuk menatap buku itu lalu meraihnya. "Apa ini?" Cedric membaca judulnya, terasa asing.

"Buku panduan pembuatan senjata api, didalamnya berisi cara-cara membuat senjata api. Kita bisa menggunakan senjata api untuk mendukung militer kita."

Cedric membuka acak halaman buku, kerutan di dahinya semakin dalam ketika dia membaca isi buku itu.

Buku ini mengajarkan cara membuat senjata dengan sangat praktis dan mudah dimengerti. Dia lalu menatap Morline. "Darimana kau menemukan buku ini?" Buku ini tak mungkin ada di perpustakaan kerajaan, karena jika memang ada berarti orang-orang Hesperias sungguh bodoh tidak memanfaatkan buku ini sejak lama. Ini sangat berguna, tak mungkin dibiarkan di perpustakaan begitu lama. Yang lebih mengherankannya lagi adalah kenapa gadis ini bisa mendapatkan buku seperti ini?

Buku dengan isi yang sangat berguna dan bermanfaat tak mungkin berada di tangan sembarang orang.

"Saya lupa, hanya saja waktu kecil ada seorang pria tua yang dekat dengan saya dan memberikan buku ini. Saya tak mengerti isinya jadi saya simpan saja, lalu saat saya membuka barang lama saya, saya menemukan ini." Morline menjelaskan dengan percaya diri dan wajah yang serius hingga Cedric ragu apakah cerita gadis itu karangan atau sebuah kebenaran.

Pria itu diam sambil menatap dan membulak balik halaman buku. Gengi dibelakangnya berusaha mengintip, cukup penasaran dengan isi buku itu.

"Ini sangat berguna bukan yang mulia, anda tak perlu tahu dari mana asalnya, yang jelas kita harus membuat senjata api sesuai panduan buku itu."

Cedric mengangguk. "Kita harus mendiskusikan ini dengan pengrajin besi, Gengi kirim surat untuk Jenderal Arnad agar kemari besok."

"Baik yang mulia."

Malamnya. Morline berendam air hangat sambil membaca buku sejarah berdirinya Hesperias. Dia terlihat sangat fokus dan tenang didalam bak mandi sampai tak sadar waktu sudah terlewat 30 menit lebih.

Meraih jubah mandinya, Morline keluar dari bak mandi dengan rambut yang basah. Dia mengeringkan rambut dahulu lalu keluar kamar mandi. Seperti biasa, Morline selalu melarang Chasi dan Nina masuk membantunya karena dia tidak terbiasa dengan sentuhan asing di tubuhnya

Setelah mengganti gaun malam Morline duduk di meja rias untuk menyisir rambutnya sendiri. Dikejutkan oleh suara sistem.

{Misi pengubah nasib Arten: status selesai

Hadiah: 100 poin

Bonus: 0

Mendapat notifikasi dari sistem, Morline segera memeriksa dompet poinnya, dia tersenyum mendapatkan poin saat dompet sedang kosong. Morline lalu menekan tombol pasar sistem dan melihat beberapa macam barang di sana, menekan detail untuk melihat kelengkapan produknya.

Lama berkutat dengan sistem, Morline tersadar jika waktunya makan malam. Dia segera mengeringkan rambut, baru terpikirkan jika dia butuh pengering rambut. Kembali mengecek pasar, Morline mendapati jika harga pengering rambut portabel ternyata tidak cukup dengan poinnya sekarang.

Dengan lesu, Morline beranjak keluar bertepatan dengan Chasi yang akan mengetuk pintunya. Ingin mengabari jika makan malam sudah siap.

Di meja makan hanya ada dirinya seorang, Cedric lagi-lagi tak ikut. Dia tahu kenapa alasannya dan tidak berusaha berpura-pura bertanya agar terlihat memperhatikan Cedric.

Sementara itu di kamar Cedric. Dia sedang membaca buku yang diberikan Morline, sudah satu jam dia membaca itu dan selama dia membacanya Cedric yang awalnya tak mengerti cara pembuatan senjata api justru bisa membayangkan bagaimana senjata itu di buat dan berfungsi nanti.

Buku ini benar-benar sesuatu yang belum pernah Cedric lihat. Dia mulai bertanya-tanya dari mana Morline mendapatkan buku seperti ini?

Heran dan penasaran. Namun Cedric tak bisa memuaskan rasa penasarannya karena sepertinya memang gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya. Entah itu ada maksud terselubung atau tidak yang jelas Cedric harus mengawasinya.

....

"Pangeran Edward saya masih belum bisa masuk istana." Cassie menunduk dengan kedua tangan bertaut di depan.

Edward duduk tenang di atas sofa dengan secangkir kopi di tangannya. Sementara tangan lainnya sedang membaca surat rekomendasi yang dikirim Morline untuk Cassie, isi surat itu kurang lebih, Cassie direkomendasikan bekerja di tenaga pendidikan mengingat dia dibesarkan di lingkungan patriotisme.

Edward meremas surat itu, menatap Cessie dengan dingin. Dia meletakkan cangkir ke meja lalu bersandar malas dengan dagu terangkat tinggi. Remasan kerutan itu dia lempar hingga mengenai wajah Cessie membuat tubuhnya bergetar bercampur kaget dan takut.

"Tidak berguna. Kau sama sekali tak berguna nona Cessie, bagaimana aku bisa percaya pada wanita sepertimu jika tugas sederhana saja tidak bisa kau lakukan?" Edward menatap Cessie yang menunduk, wajahnya hampir tak terlihat bahkan Edward bisa menatap ujung kepalanya.

Dia berdecih dalam hati melihat wanita seperti Cessie, wanita ini, penakut dan lemah. Tidak bisa Edward percayai.

"Maafkan saya pangeran."

Dia mendesah. "Sudahlah pergi saja." Edward mengusir dengan gerakan tangan, Cessie mengangkat kepalanya tak langsung pergi. Dia menatap Edward seolah ingin mengatakan sesuatu. Edward mengernyit tak suka. "kenapa?"

"Anda berjanji pada saya jika kita akan bersama lagi bukan?"

Edward tersenyum sinis, "kau gagal melakukan tugasmu masih bisa kau berharap begitu?"

Cessie terdiam kembali menunduk.

"Pergi!" Dengan satu kalimat tegas Cessie akhirnya pergi.

Edward membiarkan kepalanya jatuh ke sandaran sofa, memejamkan mata untuk menghalau cahaya lampu yang terang. Bayangan wajah gadis itu lagi-lagi melayang di kelopak matanya dan membuat Edward kembali membuka mata, tatapannya mendingin sedingin badai salju.

Tangannya gemetar, sensasi panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa hangat dan kenyal saat kulit mereka saling bersentuhan di balik kain terasa hadir kembali.

Edward mengerang frustasi. Dia menenggakkan punggungnya dan meraup wajahnya dengan kasar. "Rand!"

Pria kurus itu muncul dari kesunyian malam, langkahnya seperti udara yang berbisik pelan, mendekati Edward kemudian menunduk. "ya pangeran Edward?"

"Aku butuh hiburan, panggil wanita itu."

"Baik pangeran." Rand mundur lalu berbalik dengan kecepatan yang tak biasa dia sudah menghilang dari hadapan Edward.

Edward diam di tempat sembari menyesap kopinya hingga terlihat ampas hitam di dasar cangkirnya. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, pintu terbuka dan Edward langsung menatapnya.

Wanita dengan rambut disanggul memperlihatkan bahunya yang kenyal penuh lemak. Gaun tipis itu terlihat bekerja keras untuk tetap saling terikat agar tubuhnya tak telanjang sempurna di depan Edward. Dadanya yang besar dan penuh tampak akan tumpah karena korset yang menekan pinggang berlemaknya.

"Pangeran Edward anda memanggil saya?" Suaranya mendayu, merayu pria yang sudah di puncak hasratnya.

Edward bangkit, dia meringis melihat tubuh Doria yang sangat bergairah di matanya.

Doria, seorang wanita penghibur dari rumah bordil tua mendekat dengan gerakan pelan dan terasa sangat sensual, mencoba memancing gairah yang sudah di pucuk kepala.

Edward tak menjawab, dia menarik tubuh Doria, tangannya langsung menyentuh kedua benda kenyal yang mencoba keluar dari kandangnya. Doria di pelukannya bergerak pelan seperti tarian burung yang mengundang untuk bercinta.

Kepala Edward memanas, denyutan di bagian bawahnya seakan menjadi sinyal untuk dirinya segera bergerak dan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan. Namun ketika dia memejamkan mata untuk mencoba menikmati, bayangan wajah itu kembali.

Gerakan Edward terhenti yang membuat Doria menatapnya. "Kenapa pangeran?"

"Sial! Kenapa denganku?" bisiknya kesal.

Doria mengangkat dua alisnya, heran karena Edward tiba-tiba menghentikan gerakannya. Tak biasanya, batin Doria. Doria berinisiatif mengelus wajahnya, mendorong pelan ke bibirnya. Namun Edward mengerutkan alisnya dan segera menjauh. "Berapa kali aku bilang! Aku tak suka berciuman!"

Doria tersenyum, matanya lurus pada manik gelap milik Edward. "Baik, tapi kenapa?"

Edward tak menjawab tapi berdecak kesal. Dia menarik tali korset, dengan sekali tarik penahan itu jatuh di susul gaun tipis yang melorot perlahan. Edward langsung menyerang Doria dengan kasar dan tergesa, sampai wanita itu merintih kesakitan.

Beberapa saat berlalu, Edward melepas Doria dengan geraman kesal. Doria terjatuh dengan nafas terengah-engah, wajahnya basah oleh keringat. Namun dia melihat Edward samasekali tak mendapatkan puncaknya.

Pria itu meraup wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya, terlihat sangat frustasi. Doria tak pernah melihat pria itu seperti sekarang. Dia duduk untuk mencoba merayunya kembali namun Edward menolak.

"Keluar!" Teriak Edward membuatnya terkejut. "Keluar sekarang!"

Doria segera memakai pakaiannya kembali dan pergi dari sana. Edward menendang meja hingga terbelah menjadi dua, dia merasa sangat frustasi karena tidak mendapatkan rasa nikmat itu lagi meski sudah bersama Doria.

Setiap kali dia memejamkan mata wajah itu selalu melayang-layang di kelopak matanya seolah mencoba meracuninya untuk terus membayangkannya, menikmatinya dan menjamahnya dengan kedua tangannya.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!