Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan cinta Baim
Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu.Baim yang sempat mendengar perbincangan Nara dan Mia tadi, kini menarik tangan Nara menuju halaman belakang sekolah. Ia ingin memastikan apa yang ia dengar itu adalah benar, terlebih Baim ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Nara terhadap Daffin.
"Im lepas!" Nara menghempaskan tangan yang di tarik Baim, "sakit tau, kenapa sih tarik-tarik segala?"
"Sory, Ra. Gue nggak maksud nyakitin elo." Baim berbalik menghadap Nara "Gue cuma mau bicara berdua sama elo."
"Mau bicara apa?" kening Nara berkerut, menatap aneh pada sahabatnya itu. "Kenapa mesti ke halaman belakang segala?"
"Ra. Elo jawab jujur! Elo sama si Daffin itu pacaran atau enggak sih?" Baim mencengkram kedua bahu Nara.
"Kenapa elo tanya gitu? 'Kan elo tau sendiri gue sama Daffin kayak gimana?" Nara balik bertanya.
"Ra. Please! Tolong kasih gue kepastian!" Baim beralih memegang kedua tangan Nara, membuat gadis itu semakin di buat bingung, terlihat dari kerutan keningnya yang makin dalam.
"Gue-gue suka sama elo semenjak kelas X,Ra." Nara terkejut seketika mendengar ucapan Baim " Dan sekarang gue mau kepastian dari elo."
"Ma-maksud elo?"
"Elo sama cowok badboy itu pacaran atau enggak, biar gue tau. Gue harus berjuang atau mundur?" Nara menunduk menyembunyikan wajahnya di mana ia tengah bingung dengan perasaannya saat ini. Antara harus berkata jujur pada Baim atau tidak. Ia tidak ingin Baim berharap lagi padanya yang jelas-jelas telah menjadi istri orang. Pemuda itu berhak bahagia dengan hidupnya sendiri.
"Ra!" Baim membuyar lamunan Nara.
"Kita emang pacaran, Im. Sory!" wajah Baim berubah sendu. Mendengar jawaban Nara.
"Kenapa sih Ra? Kenapa mesti dia." Baim melepaskan tangannya.
"Maksud lo?"
"Dia gak pantes dapetin elo." aura wajah Baim nampak kecewa juga marah, "masih banyak laki-laki baik di luar sana yang pantes buat jadi pacar elo."
.....
"Gue mungkin lebih rela jika elo pacaran dengan orang yang pas dan bisa jagain elo."
"Dia bahkan kasar banget sama elo." Baim mengusap wajahnya perustasi "Apa sih kelebihannya si Daffin hingga elo milih dia? "
"Im."
"Hati gue sakit Ra." Baik kembali memegang kedua bahu Nara "Tiap kali lihat dia kasar sama elo."
....
"Gue gak rela elo sama dia."
Lidah Nara seakan kelu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Baim. Karena memang itu adalah kenyataannya tapi menurut Nara Daffin itu kasar pada orang dan situasi tertentu, Daffin tidak seburuk yang ada dipikirkan Baim.
"Im. Daffin enggak sejahat yang elo pikir, dia sudah banyak berubah. Dia enggak kayak dulu lagi kok. Sekarang dia baik, baik banget malah gue." Nara berusaha meyakinkan Baim. Walau sebenarnya Nara juga merasa ragu dengan ucapannya, karena ia masih belum mengenal Daffin seutuhnya.
"Itu cuma modus si Daffin, Ra. Biar elo mau jadi pacarnya." Nara menggeleng tidak setuju. Untuk kali ini entah kenapa Nara merasa Daffin tidak pernah modus kepadanya. Setiap yang Daffin lakukan, itu terlihat tulus di mata Nara.
"Semua yang elo pikirin tentang Daffin gak semuanya benar kok," Nara menghembuskan nafasnya pelan "Gue tau banget sifat dia, dia bahkan sayang ke gue."
"Dan elo percaya?" Nara Diam bergeming. Baim menyeringai "Elo aja masih ragu, gimana gue?"
"Sekarang gini deh." Baim kembali memegang tangan Nara "Elo cinta gak sama dia?"
Nara kembali diam.
"Kalo memang elo gak cinta sama dia." menatap serius Nara "Elo tinggalin dia dan kembali sama gue, karena gue akan selalu nunggu elo sampai kapanpun. Gue serius sayang sama elo."
Nara tersenyum kecut "Thanks, Im. Tapi itu gak perlu." rasanya percuma menunggunya sampai kapanpun, karena ia telah sah menjadi milik Daffin seorang.
"Kenapa?"
"Gue udah janji akan berusaha membuka hati dan mencintai Daffin."
Baim menghembuskan napasnya kasar. Lagi-lagi ia kalah sama Daffin, cowok urakan yang bahkan tak punya tata krama sam sekali. Mungkin bagaimana cara memperlakukan wanita dengan manis saja Daffin tak tahu.
"Ra!" Nara mendongak menatap Baim "Boleh gue meluk elo sebagai perpisahan, agar gue lebih ikhlas melepas elo." walau ragu tapi Nara mengangguk, tidak ada salahnya juga 'kan.
"Gue akan selalu ada buat elo, walaupun elo gak mau nerima cinta gue."
Bughh
"An*ing!!! Bren*sek!!"
padahal kan Nara tokoh sentralnya.