Lavinia Xerxes pergi dari Inggris menuju ke Amerika untuk mencari kakaknya yang tak ada kabar selama sebulan lamanya.
Hal itu membuat dirinya tinggal di apartemen sang kakak yang ditinggalinya bersama teman sekamarnya yaitu Rocco Robert yang sebenarnya adalah pemilik asli apartemen itu.
JANGAN LUPA FOLLOW
INSTAGRAM @ZARIN.VIOLETTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23 LavCo
Lavia masuk ke dalam apartemen dan kemudian langsung ke kamarnya.
Rocco menahan tangan Lavia sampai akhirnya mereka berdiri berhadapan.
"Apa maumu?" tanya Rocco dengan suara tenangnya.
"Entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku hanya mengikuti alur saja," jawab Lavia malas.
"Hentikan ini. Kita mulai dari awal. Kau bisa tinggal di sini tanpa perlu berkomitmen denganku. Ini alur yang tak benar, Lavia. Sudah kubilang bukan, bahwa aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu dengan Sammy tanpa ada pertumpahan darah sama sekali," kata Rocco dengan bijak.
Lavia memandang Rocco lama.
"Baiklah," jawab Lavia akhirnya dengan singkat dan melepas tangan Rocco.
Lavia berjalan menuju ke kamarnya.
Rocco melihat ke arah Lavia dan mengerutkan keningnya.
"Jika semudah ini, mengapa kemarin kau sangat bersikeras, Lavia? Sikapmu benar-benar membuatku bingung. Setidaknya sekarang kita tak akan melanjutkan pernikahan gila ini," gumam Rocco pelan ketika Lavia sudah masuk ke kamarnya.
Lavia bersandar di balik pintunya dan terduduk.
"Bahkan dia sama sekali tak menginginkanku. Di dunia ini tak ada yang pernah benar-benar menginginkanku," bisik Lavia.
Seakan air matanya telah mengering, Lavia hanya duduk termenung dalam waktu yang lama di balik pintu itu.
Dia akhirnya meringkuk di depan pintu itu hingga memejamkan matanya.
*
*
In the morning ...
Rocco keluar dari kamar dan tak melihat Lavia yang biasanya sudah memasak dan menyiapkan makanan di dapur.
Rocco kemudian mengetuk kamar Lavia tapi tak ada jawabansama sekali.
Lalu Rocco membuka pintunya dan melihat kamar itu sudah sangat rapi serta tak ada Lavia di dalamnya.
Rocco berjalan ke arah kamar mandi dan tak ada Lavia di sana.
Rocco kemudian keluar dari kamarnya dan menuju pintu keluar. Dia berjalan ke arah lift dan turun hingga ke lobby.
TING...
Pintu lift terbuka dan ia melihat Lavia membawa kantongan karton yang cukup besar.
"Rocco? Kau mau ke mana?" tanya Lavia dari balik kantongan itu.
"Kau dari mana?" tanya Rocco balik.
"Aku baru belanja karena banyak bahan makanan habis," jawab Lavia.
Lalu Rocco pun mengambil kantongan besar itu dari Lavia.
"Thank you," ucap Lavia tersenyum dan masuk ke dalam lift.
"Kau naik apa tadi?" tanya Rocco.
"Taksi," jawab Lavia.
"Mengapa tak membangunkanku?" tanya Rocco lagi.
"Aku terbiasa pergi sendiri," jawab Lavia dan mengambil roti di kantongan itu.
"Kau mau?" tanya Lavia menawari Rocco sebuah roti.
"Tidak," jawab Rocco.
Lalu Lavia memakan roti itu dan mengambil susu di kantongan itu lagi.
Rocco hanya mengamati Lavia yang seakan tak pernah memiliki beban.
"Aunty mengajakku bertemu nanti siang," kata Lavia dengan mulut yang penuh roti.
Rocco melihat Lavia.
"Aku akan mengatakan pada aunty bahwa kita tak jadi menikah," lanjut Lavia sambil mengunyah lalu menyeruput susunya.
TING ...
Lavia keluar dari lift dan Rocco masih diam di tempatnya.
"Kita sudah sampai, Rocco," kata Lavia menoleh ke arah Rocco yang tak kunjung keluar dari lift.
Lalu Rocco pu berjalan di belakang Lavia.
Lavia masih memakan rotinya sampai mereka masuk ke dalam apartemen Rocco.
"Letakkan di sana saja. Nanti aku akan menatanya di kulkas," kata Lavia.
"Hmm," jawab Rocco.
"Kau tak bekerja?" tanya Lavia.
"Tidak, ini hari libur," jawab Rocco.
Lavia hanya mengangguk dan menghabiskan sisa rotinya begitu juga susunya.
"Aaahh, sudah kenyang. Aku siap masak sekarang," kata Lavia tersenyum lebar.
Rocco hanya mengamati gerak gerik Lavia dengan bersandar di meja dapur sembari melipat tangannya di depan dadanya.