Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Jangan lupa like and comen gusy, makasih. Ayo baca dan lanjutkan seperti apa ceritanya.
Brak
"Kenapa kalian semua sangat bodoh." teriak seorang lelaki sambil meremas gelas hingga hancur ditangannya. Mengabaikan darah yang sudah keluar karena terkena kaca tersebut. Sepertinya lelaki itu masih dikuasai oleh emosi.
Seluruh anak buahnya menundukkan kepala karena takut. Wajah luka dan babak belur sama sekali tidak mereka hiraukan. Melihat ketua mereka yang marah, membuat mereka sangat takut. Ditambah lagi lelaki yang lagi duduk dikursi hitam itu memiliki sayatan panjang diwajah sebelah kiri. Membuat wajah lelaki itu terlihat menyeramkan. Belum lagi dengan tangan sebelahnya yang tidak ada.
"Darco benar-benar bodoh. Dia membuang anak buahku, tanpa menghasilkan apapun." desis lelaki itu geram. "Sudahku bilang untuk menunggu. Tapi dengan bodohnya, dia tidak menurutinya. Orang bodoh seperti itu memang pantas mati." lanjut lelaki itu dingin.
Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan ketika bos mereka berjalan kearah mereka, tapi tidak ada yang berani bergerak. Semuanya diam bagikan patung, bahkan sepertinya untuk bernafas saja mereka takut.
"Kalian semua dengar. Tidak ada yang boleh melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Biarkan dulu dia merasa menang, tapi setelah semuanya dia mengira baik-baik saja. Baru kita hancurkan dia sampai keakar-akarnya." ucap lelaki itu dingin, datar dan penuh dengan dendam.
Tatapan lelaki itu sangat tajam. Dia melihat kearah tangan kirinya yang sudah tidak ada. Dia akan membalas semua yang dilakukan orang itu. Bahkan sampai darah titik penghabisan, dia akan membalasnya. Dan satu-satunya cara agar lelaki itu mati mengenaskan adalah gadis itu. Gadis yang selalu dijaga bagaikan sebuah guci kaca, dia akan merampas gadis itu dari tangan Alfariel. Mematahkan semua tongkat yang membuat Alfariel bisa berdiri. Dan setelah mematahkan semuanya, dia akan menaburi Alfariel dengan garam hingga mati tersiksa.
"Kau harus membayar semua dosa-dosamu."
*****
Diruang bercat putih itu terdengar tangisan seorang gadis. Tangannya menggengam erat tangan kekar yang sedang terbaring diatas brangkas. Matanya masih terpejam, wajah tampannya tampak nyaman memejamkan mata. Seperti orang tidur saja.
Dokter dan perawat tidak ada yang berani mendekat. Setelah selesai tadi mengoprasi Alfariel, mereka sangat takut untuk mendekat lagi. Apa lagi saat mendapatkan tatapan tajam dan membunuh dari Anna, membuat nyali mereka menciut dan hilang. Gadis itu tampak menyeramkan dengan mata basahnya.
"Al," panggil Anna dengan suara kecil, bibir tipisnya terus menggumamkan kata itu sejak tadi. Dia bahkan sangat ketakutan saat Alfariel hanya mengambil nafas. Entahlah, sepertinya gadis ini punya trauma sendiri tentang itu.
"Kapan kau akan membuka matamu, Al. Kamu bilang kamu akan menjagaku. Dan sekarang aku butuh kamu Al, aku takut." isak Anna dengan suara parau. Berkali-kali tangannya menghapus jejak basah dipipinya, namun nampaknya hal itu hanya pekerjaan yang sia-sia. Saat air matanya dihapus, tapi itu akan keluar lagi. Bahkan lebih banyak, dia sampai malas bahkan hanya untuk menyentuh pipinya saja. Tangannya sudah mendapat pekerjaan baru. Yaitu mengengam tangan Alfariel erat. Seolah-olah tangan itu akan pergi jauh saat dia melepaskannya nanti.
Arga menatap prihatian kearah Anna yang menagis. Dia sebenarnya tidak tega melihat itu. Hanya saja, Anna terlalu marah saat ada yang mendekatinya. Sehingga dia tidak berani untuk mendekat, takut kalau hal itu akan menyakiti gadis itu. Dia tadi sebenarnya juga sangat kaget, saat Alfariel datang dengan wajah menyedihkan. Tidak cukup sampai disitu, Alfariel juga langsung tumbang saat dia sampai didepan Anna.
Jika dilihat lagi, luka Alfariel memang tidak terlalu banyak. Karena tadi, saat dia bertarung dengan Darco, Alfariel lebih banyak memukul dari pada dipukul. Tapi, yang menjadi permasalahannya adalah. Kalau dada Alfariel mendapatkan tembakkan lagi. Tetap ditempat yang sama dengan tembakkan kemaren. Dan sepertinya itu orang yang sama, luka itu sama persis dan dalamnya saja sama. Sepertinya penembak tersebut orang yang ahli memegang pistol.
Sekarang, keadaan Alfariel cukup mengkhawatirkan. Dia banyak kekurangan darah, walau dokter bilang kalau oprasi Alfariel berhasil. Tapi tetap saja, kemungkinan Alfariel sadar sangat minim. Apa lagi Alfariel juga masih belum sehat, tadi saat dia berkelahi keadaannya sangat lemah. Entah dapat kekuatan dari mana, hingga dia masih bisa mengalahkan Darco. Kehebatan Alfariel dalam bertarung benar-benar tidak main-main.
Arga keluar dari ruangan Alfariel. Sepertinya dia meninggalkan satu orang yang juga dalam kondisi yang tidak baik. Lelaki berjas hitam itu masuk keruangan disebelah Alfariel, tepatnya ruangan Nisa. Gadis itu juga terkena tembakkan tadi saat berusaha melindungi Anna. Alhasil dia mendapatkan luka tembakkan dibagian perutnya. Untung saja dia yang kena, coba bayangkan tadi kalau Anna yang kena. Sudah dijamin, bukan hanya Darco dan anak buahnya saja yang habis. Dia pasti juga akan habis ditangan Alfariel.
Nisa sudah sadar, dia lagi duduk diatas brangkas sambil memakan makanannya. Arga masuk dan berdiri didepan Nisa. Membuat gadis itu berhenti makan dan melihat kearah Arga.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Oh iya, bagaimana keadaan Nona?" tanya Nisa dengan nada suara khawatir.
"Kau tenang saja, Nona baik-baik saja. Lebih baik kau sekarang fokuskan dulu pada kesehatanmu. Urusan Nona Anna biar jadi tangung jawabku." ucap Arga pelan. "Istirahatlah, aku akan kembali keruangan Mr Black." lanjut Arga dan berbalik badan.
Tepat saat dia akan keluar, Nisa memanggilnya dengan suara pelan.
"Arga,"
"Ya?" jawab Arga dan berbalik melihat Nisa kembali.
"Terima kasih." ucap Nisa tulus.
"Hmmm, tidak perlu. Ini sudah menjadi tugasku. Aku pergi." ucapnya dan berjalan keluar dari ruangan Nisa. Meninggalkan gadis itu sendiri dengan makanannya.
*****
Anna pov
Aku naik keatas kasur disamping Alfariel. Aku sudah bosan menagis terus, tengorokkanku juga sudah mulai sakit. Mataku juga mulai mengantuk, jadi aku putuskan untuk tidur sejenak. Mungkin besok pagi, Alfariel akan terbangun dari tidur panjangnya.
Sebelum tidur, aku sempatkan diri untuk memandangi wajah Alfariel. Muka tampannya sekarang tampak lebam-lebam. Dengan sudut bibir yang sobek, luka pada dahi, goresan pada tupang pipi. Membuat wajah Alfariel berantakkan.
Dia juga terluka dibagian dada lagi, tempat yang sama, kenapa dia harus terluka ditempat yang sama. Luka yang kemaren saja belum sembuh, kenapa sekarang ditambah lagi. Apakah Alfariel memang menyukai luka, karena aku juga melihat banyak goresan dan bekas tembakkan diperut dan punggung Alfariel.
Aku sering bertanya-tanya, siapa sebenarnya Alfariel ini? Kenapa aku merasa kalau dia itu sangat penuh dengan rahasia. Aku ingin masuk kedalam kehidupnya, tapi aku takut. Takut kalau nanti aku tidak bisa keluar lagi, takut kalau seandainya kehidupannya mengerikan. Aku takut kalau nantinya aku tau kalau hidup Alfariel itu penuh dengan darah. Aku tidak menyukai hidup kasar seperti itu.
Karena nanti, jika seandainya aku sudah nyaman dan bahagia hidup dengan Alfariel. Akan ada orang jahat yang menghancurkannya, aku tidak suka. Dan aku tidak mau hal itu terjadi padaku. Aku ingin hidup sederhana tapi selalu bahagia. Tanpa ada hal megerikan seperti tadi lagi, aku selalu berharap kalau yang terjadi tadi itu hanyalah mimpi belaka.
Tapi, sebanyak dan sekeras apapun aku menyangkal. Takdir dan kenyataan tetap mengingatkan aku dengan bagimana para orang jahat itu menembak Nisa. Bahkan itu didepan mataku, aku membenci itu. Sangat membenci, bahkan kalau bisa. Aku ingin sekali memerintahkan mereka untuk berhenti membuat keributan, tidak semua masalah itu bisa diselesaikan dengan kekerasan. Tapi sepertinya, tidak ada yang berfikir begitu selain diriku. Semua lelaki dan orang jahat tadi hanya memikirkan cara membunuh dan menembak, membuat orang mati dengan tangan sendiri. Sungguh manusia yang tidak memikili pikiran. Mengerikan.
Tanganku memeluk badan Alfariel dengan erat. Aku akan berusaha melupakan kejadian tadi dengan memeluk Alfariel, barang kali hal itu akan segera hilang. Karena kalau tidak, aku akan segera gila karena takut. Apa lagi saat mengingat kepala lelaki tadi yang berlubang karena ditembak. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan bagiku. Dan aku berani bersumpah, aku sungguh membenci hal mengerikan seperti itu.
"Al, aku sangat takut." ucapku serak sambil makin mengeratkan pelukkanku. Aku selalu berharap kalau aku akan melihat mata caramel lelaki ini saat bangun nanti. Semoga saja hal itu akan terwujut. Ya, semoga saja.
Next to part 23