CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 (Hari-Hari CEO GILA)
Gubrak.
Andre menoleh ke arah suara berisik di koridor elevator.
Sebuah ember plastik terguling dari alat tempat kerja Cleaning Service, menumpahkan cairan bening hingga membasahi lantai sekitarnya.
Ck ck ck... Kerjaannya gak beres nih OB! Pagi-pagi aku harus menyaksikan kinerja karyawan yang tak becus kerja! gerutu hati Andre.
Tapi ia hanya melihat sekilas. Setelah itu kembali fokus pada pintu kotak tabung yang telah terbuka dan siap membawanya ke gedung wisma kantor pusatnya di lantai lima.
Sebelum Andre masuk ke dalam kotak lift, dia sempat melihat sepasang OB dan OG yang tertawa karena pekerjaan mereka berantakan.
Namun keduanya terlihat seolah sedang menikmati permainan mereka yang tidak pada tempatnya itu.
Masa kecil kurang bahagia! Rupanya mereka sedang bermain-main sambil bekerja. Ck ck ck...
"Hei, kalian! Kerja yang benar, jangan dibuat mainan!!!" hardiknya dengan suara keras.
Spontan OB dan OG itu segera membungkukkan badan meminta maaf.
Hari ini Andre sepertinya akan sibuk. Semalam Bianca memberinya kabar kalau ada pertemuan dengan investor asing yang sengaja datang untuk mengajaknya bekerja sama dalam hal mengeluarkan produk baru di bidang tile.
Konon kabarnya sang investor akan datang membawa uang produk baru beserta uang penambah modal usahanya.
Tentu saja Andre merasa barter yang cukup luar biasa bagi perusahaannya.
Memasuki ruang kerja, pria itu menengok kanan dan kiri. Mencari sang sekretaris pribadi.
"Ck, kebiasaan si Bianca! Dia yang bilang jangan datang telat, hhh... malah dia yang ngaret! Selalu begitu!" umpatnya seorang diri.
Kekesalan Andre dengan sikap bebasnya Bianca masuk kerja sesuka hati sudah jadi makanan sehari-hari. Andaikan Bianca tak punya jasa, sudah lama ia ingin mendepak wanita itu agar keluar dari pekerjaannya.
Tetapi Bianca-lah yang selalu menggolkan tender-tender dan juga menjadi pemulus langkahnya maju sebagai pengusaha.
"Masih dimana?" tanya Andre setelah nomor what'appnya berhasil melakukan panggilan telepon pada Bianca.
...[Sabar, Boss! Jalanan macet!]...
"Lagu lama! Basi!"
...[Woleslah! Sudah kukabari boss prindavan itu kalau kita kemungkinan terlambat sekitar setengah jam!]...
"Kebiasaan!" umpat Andre membuat Bianca tertawa.
Ia hanya bisa duduk menunggu sang sekretaris yang begitulah kinerjanya.
Boss yang akan mereka temui adalah boss dari negeri India. Pengusaha kaya yang sudah terkenal akan kepiawaiannya mengangkat perusahaan-perusahaan sedang menjadi lebih maju.
Andre berharap usahanya ini juga akan bernasib sama. Meskipun ada barter yang cukup berisiko karena boss itu menginginkan keuntungan fifty-fifty dari kerjasama mereka.
"Boss! Sudah siap?"
Bianca baru saja tiba dan langsung menegurnya dengan suara menggoda.
Andre hanya membalas dengan dengusan.
Hari ini dia sedang malas perang. Tenaganya belum dicharge, sehingga energinya agak melemah.
Tujuan mereka adalah gedung bertingkat milik salah satu pengusaha sekaligus petinggi wilayah Ibukota, yang ada di jantung kota.
Ada pertemuan beberapa pengusaha muda juga. Bahkan konon kabarnya akan ada seminar segala, dengan pembicara konglomerat-konglomerat ternama Asia Tenggara setelah perbincangan mengenai kerjasama ini. Otomatis, kesempatan emas ini tidak akan Andre lewatkan begitu saja.
Beginilah enaknya punya sekretaris seorang istri dari pengusaha pula. Informasi yang dibawa Bianca dari suaminya mampu membuat proyek perusahaan Andre maju pesat hanya dalam kurun waktu dua tahun.
Sungguh pencapaian luar biasa.
"Untung kau punya kecakapan dan ketangkasan. Kalo engga'...!"
"Kenapa sih kamu yang sekarang beda sama kamu yang dulu, Ndre? Dulu kamu manis, penurut... dan gak banyak ngoceh! Cih! Untung aku sayang kamu, kalo engga' ogah aku terus jadi s*kpri kamu!"
"Dulu aku akting!"
"What? Akting? Sok-sokan tak mengubris ajakanku masuk dunia intertain, ternyata pintar akting. Hehehe..."
"Ya apalagi yang kalo bukan cuma ingin dapat perhatian kamu lah!"
"Hahaha... Ternyata, my Boss gantengku ini juga punya rasa padaku ya?"
"Itu dulu!"
"Sekarang?..."
"Dulu, sebelum aku tau kamu juga suka akting. Sok-sokan bilang cinta dan sayang sama aku, padahal cuma dijadiin bemper. Aku cuma jadi selir, ban serepmu dikala sepi. Haish... sejak itu hilang rasaku padamu, Bi! Ya sampai sekarang! Hehehe..."
"Itu dulu. Ya, benar. Awalnya aku cuma suka memberi kesempatan pada para pria yang memujaku. Mencoba melihat seperti apa pribadinya. Baik atau burukkah? Begitu..."
"Tapi pada akhirnya para pria itu cuma jadi boneka mainanmu, bukan? Mau dia baik ataupun buruk. Mereka, tetap hanya sebagai ban serep saja! Sudah ah, jangan bahas cerita masa lalu! Semangat, semangat! Kita bisa majukan visi misi perusahaan kita jika mau berusaha! Oke, Bi?"
Bianca hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Perbincangan santai ditengah perjalanan menuju lokasi pertemuan dengan boss besar dari luar itu cukup menohok hatinya.
Andre...! Andaikan kau mau, aku bisa merubah diriku demi kamu. Aku bisa mengikuti kemauanmu asalkan kau bersedia menikahiku! Aku mau, bukan menjadikan kau ban serepku! Sungguh, Ndre! Saat ini, aku janji akan buat kau jauh lebih terkenal dan lebih maju perusahaanmu dibanding perusahaan suamiku. Bahkan akan semakin maju! Itu janjiku, Ndre! Untuk membuktikan kalau aku serius ingin selalu bersamamu! Begitu kata hati Bianca.
...○○○○○...
Hubungan kerjasama berhasil. Prospeknya pun benar-benar membawa banyak keuntungan bagi perusahaan keramik Andre Wiguna Dharma.
Semua berkat kepiawaian Bianca dalam melobi sang boss besar yang agak mes*m. Terlebih dari gayanya yang genit pada Bianca. Bisa ditebak, pengusaha itu sangat tertarik pada sekretaris pribadinya.
Tapi Andre juga tidak mau merendahkan status dan kedudukan Bianca. Walaupun hanya sekretaris, tapi ia tak suka melihat Bianca dilecehkan.
Sehingga ia terus merapat Stanley Singh, nama sang boss prindavan itu agar tidak berdekatan dengan Bianca.
Dengan bahasa Inggrisnya yang belepotan, boss besar berusia empat puluh dua itu mengajak mereka untuk pertemuan part kedua esok hari sebelum beliau kembali terbang pulang ke negaranya.
"Maaf, Boss! Besok kami ada kunjungan dan pertemuan dengan pengusaha dari Kalimantan!" kata Andre sopan, dalam bahasa Inggris.
"Kenapa tidak mau bertemu denganku lagi? Besok lusa aku pulang. Dan kemungkinan tiga empat bulan lagi baru ada kesempatan kesini lagi! Apakah jadwal pengusaha lokal itu bisa diganti?" ujarnya dengan nada sedikit kesal.
"Maaf Boss, beribu-ribu maaf! Kami sudah menentukan schedul jauh-jauh hari!"
"Kalau begitu, bisakah Nona Bianca menemani saya sampai tengah malam di kamar hotel saya malam ini?"
Ucapannya benar-benar to the point pada intinya, ditengah keterbatasan ia mengucapkan dalam bahasa Inggris yang kaku. Membuat Bianca dan Andre hanya bisa menelan saliva.
"Sorry, Boss! Sekretaris saya ini wanita bersuami. Bukan single sehingga tidak bisa menemani Boss tidur bersama!"
"Aku bukan mengajaknya tidur! Hanya mengobrol saja! Itupun tidak boleh?"
"Maaf...! Saya akan mengirimkan wanita lain untuk teman mengobrol dengan Boss. Bagaimana?"
"Terserah kau sajalah!"
Begitulah. Sudah jadi rahasia umum, setiap kontrak kerja sama para pengusaha besar pasti harus ada pelicin. Baik itu berupa gift atau hadiah seperti menyediakan wanita penghibur. Meskipun tidak semua pengusaha melakukannya, tapi itu sudah menjadi suatu kebiasaan.
Dan Andre telah mempersiapkan segalanya.
...BERSAMBUNG...