adult romance ❤
Kecantikan Alya Sanjaya yang membuat kaum adam rela bertekuk lutut,bahkan kecantikannya membuat Daffa Rahardian, suami Alyza Putri Pratama, kembar tidak identik dari Alya, mengejarnya untuk mendapatkannya dan menjadikannya istri dan ibu dari anaknya.
"Aku berharap akulah yang dipilih papa Reza dan mama Emy untuk diasuh mereka, tapi mereka malah memilih Alyza dan membuangku..."*Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Sekretaris Pribadi
Sudah tiga hari ini Alya bekerja di kantornya Daffa, dia bekerja sebagai sekretaris
pribadi Daffa.
Alya tidak tahu apakah ini hanya akal akalan suaminya yang tidak mau berada jauh darinya, atau memang Daffa sangat membutuhkan orang untuk jabatan ini dan sulit menemukan orang yang tepat. Sehingga Daffa langsung menembaknya untuk menjadi
sekretaris pribadinya. Alya terpaksa meninggalkan baby El dengan mama dan baby sitternya dan menyuruh mereka membawa El menemuinya kalau emang mereka tidak dapat mengatasi baby El.
Sebenarnya Daffa sudah memiliki sekretaris laki laki, yaitu Tyo… Alya juga tidak mengerti mengapa suaminya membutuhkan sekretaris baru, sedangkan Tyo juga kayaknya masih bisa mengatasi seluruh
pekerjaannya. Alya bekerja di dalam kubikel yang ada di dalam ruangan Daffa.
Sedangkan Tyo lebih banyak bekerja diluar kantor dan ruangan kerjanya ada
terpisah dengan ruangan Daffa.
Perhatian Daffa dari laptop harus teralihkan karena ketukan pada pintu.
“Permisi bos, ini sudah waktunya makan siang, apakah perlu saya pesankan tempat untuk makan siang.? Karena kita akan ada meeting dengan perusahaan bapak Hans, teman anda.” Tanya Tyo mengingatkan
agenda keluar hari ini.
“Nanti saja, kamu boleh keluar, biar untuk meeting dengan Hans, Alya saja yang akan memesan tempat untuk makan siang. Tapi kamu akan ikut kami menghadiri meeting itu.”
Jawab Daffa sambil tangannya masih mengetik diatas keyboard laptopnya.
Sedangkan Alya juga sedang membereskan berkas berkas yang akan dibawa pada
meeting siang ini dengan Hans.
“Pak, ini berkas berkas yang nanti kita butuhkan untuk meeting bersama pak Hans.” Jelas Alya sambil menyodorkan berkas yang akan dipakai meeting siang ini.
“Sayang, aku sudah bilang sama kamu, kalau hanya kita berdua kamu panggil aku jangan pak dong… kesannya aku tua banget. “ protes Daffa sambil monyong, karena dia gak terima
kalau dirinya nanti dianggap jauh lebih tua dari Alya, istrinya.
“Emang kamu sudah tua, sayang… ha ha ha.” Sahut Alya disambung dengan tawanya yang renyah, sesaat Daffa terpana dengan kecantikan istrinya saat sedang tertawa atau
tersenyum. Benar benar senyum yang mengalihkan dunianya.
“Huh, aku benar benar sebal, sayang… kamu ingat waktu kita ke mall kemarin, masa aku
dianggap kakak kamu? Kamu terlalu berdandan kayak anak muda kali, jadi orang
mikirnya kamu masih SMA.” Sungut Daffa tidak terima, kadang orang menganggap
Alya sebagai adiknya, karena selain Alya tampak cantik, dia juga hampir tidak
pernah memakai make up, sehingga wajahnya seperti anak SMA.
“Nah trus Al manggilnya apa dong? Daddy? Nanti dipikir kamu sugar daddy aku..” jawab Alya sekenanya sambil sedikit tertawa mengejek.
“Oh jadi kamu ingin menganggap aku sugar daddy kamu? “tanya Daffa sambil makin
mendekatkan posiisnya sampai hampir menempel dengan Alya. Alya langsung
menjauhkan diri dari Daffa dan ingin membalas mengejek Daffa lagi.
Tapi sebelum Alya membalas mengejek Daffa tiba tiba pintu ruangan Daffa ada yang mengetuk.
TOK TOK TOK
“Masuk! Ada apa lagi sih Tyo..!” seru Daffa dengan nada ketus, karena merasa terganggu
dengan ketukan pada pintu ruangannya tersebut.
“Maaf bos… ada orang yang mencari bos.” Ujar Tyo dengan sedikit gugup, sambil memandang
pada Alya, kemudian kepada bosnya lagi.
“Siapa?” tanya Daffa masih dengan nada kesal mewarnai kata katanya.
“Ehm .. ibu Neshia Adijaya.” Jawab Tyo masih dengan nada gugup, sambil melirik reaksi dari
Alya, yang ternyata hanya dingin dingin saja.
Sebenarnya Alya jengkel dengan si Neshia yang menemui suaminya, tapi dia mencoba untuk bersikap professional.
“Emangnya ada keperluan apa?” tanya Daffa lagi sambil memandang reaksi istrinya. Daffa
tahu bahwa istrinya juga tidak nyaman dengan kedatangan Neshia, kelihatan dari
raut wajahnya yang berubah dingin, padahal tadi baik baik saja.
‘Dasar wanita tidak tahu diri, ini bikin hari ini jadi lebih sulit, mudah mudahan gak
akan ada sensasi yang bisa membuatku tidur pisah ranjang dengan istriku yang
cantik, sialaaaannn!!’Runtuk Daffa dalam hati.
“Ehm katanya ingin mengajak anda makan siang, Bos. Dan ehm… dia maksa untuk ketemuan.” Lanjut Tyo masih dengan kegugupan yang tidak bisa ditutupi, melihat reaksi istri bosnya yang sudah mulai berdecak kesal.
“Tolak! Kamu emang gak ingat kalau kita masih akan ada acara makan siang dengan Hans, klien kita?” sergah Daffa dengan nada kesal.
“Tapi… baiklah bos.” Akhirnya Tyo menuruti keinginan bosnya untuk menolak kehadiran
Neshia.
“Kenapa wajahmu ditekuk seribu, sayang? “ tanya Daffa sambil melirik ke wajah Alya yang sedang bermain dengan jari jarinya.
“ Kenapa gak kamu iyain aja ketemu dengan cewek itu.” Jawab Alya dengan nada datar.
‘Nah.. bener kan! Mudah mudahan urusan ini gak berakhir tragis. Aku masih mau tidur bareng istriku yang cantik, ya Tuhan! Gak boleh salah ngomong ini..kalau sampe salah ngomong bisa berakhir berabe.’ pikir Daffa.
“Ngapain? Kan udah beristri, ketemu cewe lain kalau bukan urusan bisnis itu bisa bikin
istri cemburu. Apalagi aku kan pingin makannya sama istri aku yang cantik.” Kata Daffa berpolitik. Dia tahu semua wanita ingin didahulukan. Lagian emang dia gak ada perasaan lagi dengan wanita manapun, dan hanya istrinya yang bisa menggetarkan hatinya.
“Tapi kan dia cantik, seksi, menggoda…” ujar Alya sambil melirik, Alya ingin melihat
reaksi dari suaminya yang tampan itu. Alya tahu persis, Daffa itu bagaikan magnet yang bisa menarik perhatian cewek cewek manapun. Penampilan yang keren,
wajah yang tampan, kehidupan social yang diatas awan, dan perekonomian yang
mapan, tentunya menjadi factor utama.
Hidup berumah tangga bersama Daffa selama hampir sebulan ini dan mengenal Daffa lebih kurang 2 bulan saat di rumah orang tuanya, membuat Alya sadar, kalau dirinya juga sudah mulai tumbuh perasaan cinta. Jelas ia cemburu kalau suaminya didekati wanita lain. Apalagi wanita itu dengan jelas menyukai suaminya dan memiliki keinginan untuk hidup bersama suaminya. Tapi dirinya juga harus berkepala dingin dan tidak boleh cemburu dengan berlebihan, tapi entah kenapa dia kadang gak bisa mengontrol emosinya yang sekarang tampak labil.
“Istriku jauh lebih cantik, dan hanya istriku lah yang bisa membuat aku tergoda.
Ngapain harus bersama yang lain?” tanya Daffa sambil tersenyum lebar, ia tahu
saat ini istrinya sedang merasa cemburu.
“Kamu cemburu sayang.” Bisik Daffa lirih ditelinga Alya, ia ingin menggoda istrinya itu.
“Siapa bilang?” tanya Alya balik, dengan nada yang sedikit sewot.
Daffa menarik Alya ke dalam dekapannya, menghirup aroma tubuh wanita cantik itu. Alya pun mencoba mengingatkan suaminya karena mereka masih ada di kantor, bisa saja
Tyo masuk dan melihat adegan yang tidak layak dilihat oleh anak anak.
“Sayang.. ini masih dikantor, katanya kalau dikantor mau bersikap professional?” kata
Alya mengingatkan.
“Ini kan juga kantor milikku sendiri, suka suka aku dong…” balas Daffa masih dengan
memeluk pinggang ramping istrinya dan menaruh kepalanya di ceruk leher Alya dan
mencium leher Alya dengan lembut membuat tubuh Alya meremang.
.
.
.
TBC
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
jangan lupa like like like yaaa
dan komen yaaa...
lagi badmood tingkat dewi
tsktsktsk
mudah banget muve on...bedalah sama perempuan suka mikir 2x
mksih byk
maap
:)