NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Jam dipergelangan tangan Aneesha menunjukkan pukul 16.35 waktu indonesia bagian Surabaya. Aneesha memasuki ruang pengurus panti yang pintunya tidak tertutup. Riani sedang bersungut-sungut bersama seorang wanita yang juga berpakaian syar’i.

“Assalamu’alaikum… tante Gita“ sapa Aneesha kepada wanita paruh baya berbaju syar’i yang sedang ngobrol dengan Riani segera Ia mencium tangan wanita itu.

“Wa’alaikum salam sayang….” Gita membelai lembut pipi Aneesha sambil tersenyum.

“Kenapa, sih, Nda? Kayak sedang kesal gitu? Aneesha duduk di sebelah Riani.

“Itu bu Wisesa, mulutnya kayak jalanan aspal ketumpahan oli. Liciiinn….. banggett…… menjatuhkan pengendara yang lewat. Udah kayak orang paling kaya aja, dia.”

“Emang, iya, kan? Dia emang istri tuan tanah paling kaya se-kota Surabaya, kan?” Gita menanggapi ucapan Riani.

“Bu wisesa kenapa Tante?” Aneesha penasaran dengan apa yang dilakukan Mamanya Lion hingga membuat bundanya kesal.

“Itu tadi, Bu Wisesa sama teman-temannya serahin donasi. Tapi minta difoto sama anak-anak pas nyerahin uangnya. Katanya buat bukti gitu. Dah gitu pake bilang sama Tante, minta kwitansi takut uangnya digelapin sama Tante katanya.” Gita memberi penjelasan dengan tenang, tanpa emosi.

“Kayak nggak tau aja, paling juga mau diupload di sosial medianya. Kasih caption ‘berbagi itu indah’ kalau nggak ‘menjaga titipan Alloh’ atau ‘menyampaikan amanah’. Gitu, biar terlihat dermawan Dia. “ Riani masih menggerutu.

“Eh, nggak pa-pa, Nda. Itu syi’ar juga lho. Kan, sebagai ajakan yang lain biar mengikuti jejaknya. Gengnya bu Wisesa itu memang dermawan, Nda. Kalau ngasih sumbangan nggak tanggung-tanggung kan, mereka.” Aneesha memberikan pendapatnya. Karena faktanya memang Mamanya Lion dan teman-temannya adalah donatur terbesar di panti ini.

“Kamu koq, jadi bela Calon mertua yang Kamu tolak, sih? Berubah pikiran?” Riani melirik kesal pada Aneesha.

“Enggak, Bunda. Neesha cuma kasih pendapat aja.” Aneesha bergelayut manja di lengan Riani. Meredakan kekesalan Bundanya itu.

“Eh, Om Firman mana Tante? Adelio ikut nggak?” Aneesha mengalihkan topik pembicaraan.

“Adelio sudah sama Lingga tadi, mungkin di asrama. Kalau Mas Firman sedang di aula siapin tempat buat nanti.” jawab Gita.

“Assalamu’alaikum…..” suara seorang wanita dan seorang pria paruh baya yang datang bersama ke ruang pengurus panti.

“Wa’alaikum salam…..” jawab semua orang di ruangan.

“Bude Kirana!” Aneesha berhampur, memeluk wanita paruh baya berbalut gamis warna hitam polos dipadukan jilbab syar’i warna krem keemasan yang menjulur sampai diatas lututnya.

“Apa kabar, sayang?” Kirana membelai kepala Aneesha lembut kemudian mencium kedua pipinya.

“Alhamdulillah baik, Bude. Pakde Haris?” Aneesha melepas pelukan kemudian, mencium tangan pasangan suami istri itu.

“Resya ikut nggak Bude?” tanya Aneesha setelah selesai bersalaman.

“Iya, diluar tadi sudah ketemu Jenar. Pasti sudah asyik mereka.” jawab Kirana.

“Aku samperin, ah.” Aneesha segera berlari keluar ruangan, mencari keberadaan anak yang baru saja ditanyakan.

“Sudah besar masih saja manja.” Riani menatap anaknya yang sedang berlari menyusuri koridor panti asuhan.

“Aku ke tempat Fares, ya, Ki.” Haris, suami Kirana juga beranjak dari ruangan, karena tidak menemukan anggota pria disana.

Tinggallah tiga wanita paruh baya dengan dresscode hitam-krem keemasan itu. Acara seperti ini selalu menjadi ajang berkumpulnya tiga sahabat yang menjadi saudara karena ikatan pernikahan itu. Kirana adalah kakak kandung Fares, sedangkan suami Gita adalah adik sepupu Fares. Dunia sempit? Nggaklah, mereka melalui ujiannya masing-masing untuk bertemu dengan pasangannya.

***

Senja sedang menampakkan keindahannya. Sinar kuning keemasan membuat siluet yang indah, beberapa anak sedang berkumpul di taman yang ada di tengah bangunan panti. Hamparan rumput jepang menutup penuh, bak permadani hidup. Di tengah taman ada kolam ikan kecil, dihiasi patung serupa dua orang ibu dan anak yang sedang membuang air dari sebuah bejana.

Seorang gadis berwajah oriental duduk ditengah-tengah kumpulan anak itu, Aneesha, sedang membacakan cerita dari sebuah buku yang Ia pegang. Anak-anak itu mendengarkan dengan antusias. Sesekali mereka tertawa karena cerita yang dirasa lucu.

“Begitulah cerita masa kecil nabi Isa…..” Aneesha menutup buku, mengakhiri ceritanya.

“Lagi, Kak! Lagi! Lagi!” Teriak anak-anak panti meminta Aneesha bercerita lagi.

Tring…. tring…. tring….

Terdengar suara lonceng dibunyikan, pertanda anak-anak harus segera berkumpul di masjid. Untuk membaca dzikir sore sebelum adzan maghrib berkumandang. Sudah menjadi kebiasaan rutin anak-anak ini membaca dzikir secara bersama do waktu pagi dan sore. Pagi setelah subuh dan sore selepas Ashar.

“Yah……!!!” suara anak-anak itu bersahutan, penuh kekecewaan karena belum puas mendengar cerita. Apalah daya mereka harus mentaati peraturan panti tempat tinggal mereka ini.

“Lain waktu Kakak ceritakan lagi, ya!” Ucap Aneesha mengiringi langkah malas anak-anak panti. Dengan sendirinya mereka membubarkan diri, berlari menuju masjid.

Aneesha masih duduk diatas rumput, belum ingin beranjak. Sedangkan kedua adik dan sepupunya sudah lebih dulu mengikuti anak-anak ke masjid yang terletak didalam lingkungan panti. Tak Ia tahu ada sepasang mata yang mengamatinya dari jauh. Mengarahkan kamera ponselnya pada gadis berjilbab pashmina krem, blouse warna hitam polos dipadukan rok pliset warna krem, yang sedang duduk bersila mendekap sebuah buku cerita.

Langkah kaki tanpa suara mendekati gadis itu, makin dekat, dan kini sudah berada tepat di sebelahnya.

“Sepertinya Kamu lebih cocok jadi guru taman kanak-kanak dari pada guru SMA,” sapaan dari seorang pria yang sangat Ia kenal, membuat gadis itu mendongak.

“Kak Tara?” gadis itu menatap pria yang berdiri menjulang tinggi disebelahnya. Pria dengan wajah khas pria jawa, kulit sawo matang, bola mata coklat, dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang dan pipinya. Potongan rambutnya undercut, dengan bagian atas dibiarkan sedikit panjang, hari ini bahkan Ia mengikatnya.

“Bacain cerita apa?” Tara mengambil tempat, duduk bersila disebelah Aneesha.

“masa kecil nabi Isa As, bersama Ibunya Siti Maryam binti Imran.” Aneesha menunjukkan buku yang Ia pegang. Menunjuk tepat pada judulnya.

“masih suka baca cerita ini?” tanya Tara mengambil buku dari tangan Aneesha.

“Itu cerita inspiratif, Kak. Aku suka semua cerita nabi, semuanya termasuk kisah inspiratif yang bisa kita petik hikmahnya.” Jelas Aneesha.

“Kak Neesha!” dari kejauhan Jenar melambaikan tangan kepada Kakaknya. Memberi isyarat Aneesha agar segera datang ke tempat dimana semua penghuni panti berkumpul.

“Kak, kesana, yuk!” Aneesha berdiri, membersihkan bagian belakang roknya dari rumput-rumput yang menempel. Tara ikut berdiri, mereka berdua kemudian berjalan menuju ke masjid.

“MasyaAlloh!” pekik Aneesha menatap Tara dari atas ke bawah.

“Ada apa, Sha?” Tara mengikuti arah pandang aneesha. Merasa tidak ada yang aneh dengan pakaianya. Hem lengan pendek warna hitam, berpadu dengan  celana jins warna krem.

“Kenapa Kakak pakai warna ini juga, kan Kita jadi samaan.” protes Aneesha ketika melihat warna baju yang dipakai Tara sama dengan warna baju yang Ia pakai sendiri.

“Ayahmu yang bilang, dresscodenya hitam-krem. Lagian nggak pa-pa kali, sama warnanya kan, biar kelihatan serasi.” ucap Tara tanpa rasa bersalah.

“Serasi apa-an sih, Kak.” Aneesha mencubit lengan Tara. Pria itu mengaduh sambil mengusap bekas cubitan Aneesha. Membuat Aneesha tertawa.

“Sakit?” tanya Aneesha sembari mengelus lengan Tara yang Ia cubit. Tara menggeleng sambil tertawa.

Tanpa sadar Aneesha berjalan sambil menggamit lengan Tara, menyusuri koridor panti asuhan. menyusul adiknya yang sekarang sudah tidak terlihat batang hidungnya. Tara membiarkan hal itu, malah tersenyum penuh kemenangan.

Semakin dekat dengan masjid, Tara melihat tiga pria paruh baya sedang berdiri di depan masjid. Tara melepas pelan tangan Aneesha dari lengannya.

“Jangan begini, Sha. Walaupun aku suka, tapi Ayahmu bisa membunuhku.” bisik Tara tanpa menghentikan langkahnya, hanya sedikit memiringkan kepala.

Aneesha yang sadar Fares sedang menatapnya tajam, segera melepas pegangan tangan dari lengan Tara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Fares masih menatap tajam padanya, bahkan sampai Aneesha sudah ada dihadapannya. Membuat nyali Aneesha menciut seketika.

“Wah…. sudah kompak saja kalian, warna bajunya sama.” Ucap Firman dengan nada menggoda.

Aneesha dan Tara hanya diam, menyalami tiga pria paruh baya yang sedang memandang penuh selidik pada mereka.

“Memang ini dresscode hari ini kan? Hitam-krem, kamu juga pakai kan?” Ucap Fares tidak terima anaknya dikatakan kompak dengan Tara.

“Masuk sana, dah mau mulai acaranya!” perintah Fares kepada Aneesha.

Aneesha mengangguk, melirik sejenak pada Tara. Kemudian melepas sepatunya, memasuki tempat wudlu yang ada disamping masjid. Pandangan Tara mengikuti kemana Aneesha berjalan sampai hilang dibelakang dinding masjid.

“Hai!” tepukan dibahu menyadarkan Tara dari lamunan sesaat.

“Hanya dipandang seperti itu, tidak membuat Dia jadi milikmu. Coba minta baik-baik sama Bapaknya.” Firman berbisik di telinga Tara, membuat pria dengan jambang tipis itu gelagapan.

“Nggak, koq pak. Cuma…. “

“Jangan bilang kamu menyukai putriku, Tara. Pagar tidak akan makan tanaman yang dijaganya.” Ucapan Fares menohok, membuat Tara langsung minder dan menundukkan kepala.

“Biarin aja kenapa, sih, Res. Mereka udah gede, kalau emang saling suka nggak pa-pa kan?” Firman memberikan pendapatnya.

“Nggak! Anak-anakku nggak ada yang boleh pacaran. Terlebih Aneesha, aku nggak mau cita-citanya terhalang karena memikirkan cinta yang nggak jelas.” jawab Fares ketus. Tara makin menundukkan kepalanya.

“Berarti kalau cintanya jelas, boleh dong Res?” kali ini Haris yang bertanya.

“Ya, kalau cintanya jelas. Kayak aku sama Riani dulu, nggak usah basa-basi, dilamar, terima, langsung dinikahin.” Jawab Fares membanggakan diri sendiri.

“Tuh, denger! Berarti kamu harus langsung nikahin aja, Tar.” Firman merangkul bahu Tara mencoba mencairkan suasana yang tadi sedikit tegang.

“Eh, bukan itu maksudku.” Fares hendak memprotes, tapi Firman sudah membawa Tara untuk masuk ke masjid. Tidak ada pilihan lain, Ia pun ikut masuk ke masjid bersama Haris.

Didalam masjid, anak-anak dan para pengurus panti, sedang membaca dzikir sore. Aneesha duduk bersama adik-adiknya, dibagian sisi kiri masjid. Sedangkan para pria duduk disisi kanan.

Sepanjang membaca dzikir, Tara menatap lekat pada Aneesha yang duduk tepat didepannya. Yang ditatap tidak sadar, masih berkonsentrasi dengan bacaan dzikirnya. Tara membuang pandangan kesegala arah, saat kepergok Fares sedang memandangi putri kesayangannya. Tapi setelahnya kembali mencuri pandang pada gadis yang telah mencuri hatinya itu.

“Amsaina wa amsalmulku wal lillahi wal hamdulillahi laa syarikalah, laa ilaaha illa huwa wailaihilmashiir……”

Gumaman dzikir menggema diseluruh penjuru masjid milik panti asuhan putra itu. Menunggu adzan maghrib berkumandang, sudah tersedia air minum dan tiga buah kurma dihadapan mereka. Karena penghuni panti melaksanakan puasa sunah setiap senin dan kamis.

Seperti itu juga kebiasaan keluarga Fares, jika tidak berhalangan, mereka akan melaksanakan puasa sunah di hari senin dan kamis. Oleh karena itu, hari ini mereka menunggu waktu berbuka puasa.

.

.

.

Bersambung.....

Eh, Karena ini novel pertamaku di MT/NT, boleh lho kasih kritik dan saran di komen.

Kasih like dan bintang 5 ya..... 

Yang punya poin lebih  boleh vote ya.....

Kalau mau lanjut ke Bab selanjutnya mending siapin tissu dulu deh.... hehe.....😋😋

1
Yekti Utami
novel yg bagus, alurnya santai seperti kehidupan nyata....
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!