NovelToon NovelToon
Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Militer / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:410k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Warning!!!

Bijaklah dalam membaca banyak tindak kekerasan. Terima kasih sudah berkenan baca.

Fakta tentang siapa dirinya baru Zena ketahui setelah ia melakukan penyerangan terhadap markas Mata Elang. Seorang master sepuh di perkumpulan tersebut mengatakan bahwa dia adalah seorang master legenda yang hilang. Tepatnya, keturunan sang legenda, sepasang Elang Putih.

Namun, Zena yang menyukai kebebasan, lebih memilih menyembunyikan identitasnya sebagai seorang master dan menjadi gadis lugu nan polos yang sekilas mudah sekali ditindas. Seiring waktu berjalan, identitasnya terkuak sedikit demi sedikit membuatnya menjadi incaran sang pemimpin markas dan adiknya. Akan tetapi, Zena memilih pergi keluar untuk menjalankan misi-misi memberantas para mafia yang kembali berulah.

Tanpa berpikir bahwa kepergiannya itu justru akan ia sesali untuk seumur hidup.

FB: Aisy Hilyah
Ig: aisyhilyah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selepas Kejadian Itu

"Ketua! Markas kita di tengah kota Elang terbakar, orang-orang kita di sana ikut terbakar dan semua tawanan lepas melarikan diri," lapor salah satu anggota mafia pada Ketua mereka.

"Apa?!" Sang Ketua membanting gelas wine di tangannya hingga jatuh membentur tanah dan hancur berkeping-keping, "siapa yang melakukan itu?" geramnya meremas kepalan tangan sendiri.

Rahangnya yang mengeras menciptakan bunyi gigi yang beradu. Pandangannya menyalang tajam, menghujam manik ketakutan di depannya.

"Menurut informasi, Mata Elang yang telah menghancurkannya. Chendrik sendiri yang memimpin penyerangan itu, Ketua," ucapnya coba menahan getar ketakutan di lisan.

"Chendrik? Rupanya dia sudah berani menampakkan taring di depanku. Baiklah, buat kekacauan lebih besar lagi." Ia memicingkan mata merasa tertantang atas penyerangan yang dilakukan Chendrik.

"Bagaimana masalah di perbatasan? Apa dia juga sudah menanganinya?" Ekor mata lelaki kerdil itu melirik tajam pada si pelapor di samping tubuhnya.

Berselang, ia mengibaskan tangan mengusir para gadis yang terus menempel di tubuhnya. Laki-laki yang melapor menunggu hingga semua gadis di sana pergi meninggalkan mereka.

"Saya dengar, adik Chendrik dan salah satu petinggi markas itu yang sedang menangani perbatasan, tapi sampai saat ini mereka belum bisa mengatasinya. Saya rasa mengacaukan fokus mereka di perbatasan akan membuat kalang kabut utusan Chendrik itu, Ketua," ungkapnya usai mendaratkan bokong di atas sofa atas perintah sang Ketua.

Laki-laki berusia lanjut itu nampak berpikir, menimbang usul dari anak buah yang bertugas memberinya laporan.

"Karena tempat itu berbatasan dengan pulau, di sana ada hutan yang tak terjamah dan jarang didatangi penduduk. Sebagian penduduk bermatapencaharian sebagai nelayan. Kita bisa memanfaatkan situasi itu untuk membuat kekacauan yang lain," lanjutnya antusias memberi usul.

Laki-laki yang masih bergeming dengan mulut terkunci itu mulai mengangguk-anggukkan kepala. Mengerti dan setuju dengan usul dari anak buahnya.

"Usul yang bagus! Mulai susun rencana dan jangan menundanya. Aku ingin melihat, mampukah Chendrik menuntaskan semua kekacauan. Belum lagi masalah di rumah sakit yang bertahun-tahun tak menemukan solusi. Haha ...." Ia tertawa senang, "hilang satu tumbuh seribu. Biarlah yang di sana terbakar, itu hanya markas kecil saja dengan bisnis yang biasa." Ia lanjut tertawa terbahak membayangkan wajah Chendrik yang kusut karena masalah yang tak pernah selesai.

"Awasi perbatasan dan pergerakan dari markas itu, aku tidak ingin umpan yang kita tebar saat ini justru menjadi bumerang untuk kita sendiri," titah laki-laki kerdil itu lagi sembari mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas.

Ia mengibaskan tangan mengusir si pelapor. Duduk bersantai dengan punggung bersandar dan kedua kaki yang menumpuk di atas meja. Para gadis yang tadi pun berhamburan masuk bergelayut menggoda si Ketua yang selalu menghujani mereka dengan uangnya.

Segelas wine ditenggaknya saat tangan salah satu gadis terulur ke dekat mulut. Tertawa senang, menikmati hidup yang tak pernah membuatnya bosan itu. Bisnis bawah tanah yang dijalaninya tak hanya satu, tapi bercabang di berbagai belahan dunia. Semua itu dilakukan oleh semua anggotanya, sedangkan dirinya tak sekalipun keluar dari kandang.

Dia adalah orang yang paling dicari, dalang dari semua kekacauan yang terjadi.

Sementara di mansion Chendrik, mereka baru saja tiba di sana usai mengantar tahanan dan para korban ke markas. Semua gadis yang dibebaskan Zena, akan mereka tampung di markas untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis mereka.

Zena melepas helm, rambutnya lembab terasa begitu pula dengan sekujur tubuh yang terasa lengket akibat percikan cairan merah berbau amis tersebut.

Lamat-lamat mendengar suara, para pekerja yang berada di mansion belakang mengintip keadaan di luar. Mereka bergidik ngeri melihat wajah Zena yang dilumuri darah kering. Tak berani lama-lama, mereka gegas bersembunyi kembali.

"Apa yang terjadi? Apa kau tahu sesuatu?" tanya salah satu di antara mereka.

"Kudengar Master pergi menyelidiki kasus hilangnya para gadis di kota. Mungkin mereka baru saja berperang melawan para penculik itu. Kabarnya mereka para mafia kejam," bisik yang lain menjawab pertanyaannya. Semua yang mendengar bergidik ngeri.

"Zena!" Suara panggilan yang berasal dari pintu belakang mansion utama, menjeda langkah Zena yang baru hendak berayun. Ia berbalik dengan kerutan di dahi melihat Chendrik yang berjalan mendekatinya.

Zena bergeming, menunggu kedatangan laki-laki berseragam resmi itu. Tanpa suara karena jujur saja, ia sudah sangat jengah dengan keadaan tubuhnya. Berendam, sepertinya akan membuat seluruh otot tubuhnya rileks kembali.

Sekonyong-konyong, Chendrik memeluk tubuhnya. Zena meneguk saliva terkejut dengan apa yang dilakukan pemimpin markas itu. Namun, hangat pelukan Chendrik seolah-olah mengobati rindu pada orang tua yang telah lama pergi.

"Terima kasih, karena sudah selamat dan tidak terluka. Kau tahu, saat elang itu datang membawa kabar, aku tidak berhenti memikirkanmu, mencemaskan dirimu, Zena. Namun, aku merasa lega saat datang ke tempat itu, yang bergelimpangan di sana adalah mayat-mayat para mafia. Terima kasih, berkat kau kita bisa menyelesaikan satu masalah. Maaf, meragukanmu," ungkap Chendrik sembari mengeratkan pelukan tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya.

Zena meringis, sesak napasnya karena banyak hal yang dirasakan.

"Kau sudah selesai? Bisa lepaskan? Aku sesak," ucap Zena tersendat-sendat.

Chendrik yang terpejam menikmati aroma tubuh gadis itu membeliak mendengar kalimat singkatnya. Ia mengurai pelukan tanpa menjauhkan diri dari hadapan gadis tersebut. Pandang mereka bertemu, lekat dan dalam hingga tanpa sadar wajah Chendrik kian mendekat seperti mendapat tarikan magnet untuk terus mendekat.

Zena yang segan dan gugup berpaling dikala benda lembut milik Chendrik hampir menyentuh miliknya.

"Ah, a-aku ingin membersihkan diri gerah dan lengket. Aku pergi!" Zena gegas berbalik dan berlari masuk ke kamar. Ia menabrakkan diri pada pintu yang dibantingnya. Napasnya tersengal-sengal, degup jantung tak karuan. Ini seperti saat ia mendapati Tigris yang dikepung tim Mata Elang, tapi lebih kuat lagi.

Tidak! Perasaan apa ini? Kenapa jantungku tak henti berdegup?

Ia menjatuhkan kepala pada pintu kayu tersebut, menarik napas pendek-pendek menormalkan keadaan hatinya.

Sementara laki-laki itu masih bergeming, tersenyum menatap kepergian Zena yang terburu-buru. Ia menggeleng, semburat semu merah muncul menghiasi pipinya yang tirus. Chendrik berbalik dan kembali masuk ke mansion utama.

"Sepertinya Master menyukai Master Zena, tapi gayung belum bersambut."

"Kita doakan semoga mereka berjodoh."

Desas-desus dari salah satu kamar pekerja terdengar usai menyaksikan kejadian langka di depan bangunan kamar mereka. Terkekeh gemas melihat tingkah keduanya, terlebih saat kedua bibir itu hampir bertemu, Zena melengos dan pergi.

Zena mengintip, ia mengelus dada disaat sosok Chendrik tak lagi nampak di sana. Gegas ia membawa dirinya masuk ke kamar mandi, berendam air hangat dengan rileks. Satu masalah selesai, ia perlu tahu perkembangan masalah di perbatasan.

Pagi yang cerah menyambut kemunculan Zena dari kamarnya. Ia lupa kejadian semalam, sama seperti biasa, pergi ke mansion utama untuk mencari sarapan. Perutnya terasa perih usai tenaga dikuras habis.

Lamat-lamat ia mendengar suara percakapan dua orang yang membahas soal perbatasan, Zena menegang. Genggaman tangan di gelas air yang baru saja diminumnya kian erat, geram dan marah. Pupil matanya berubah merah menyala.

1
Fisee
cuuuuhhhhhhh mokondo cap tikus buntung 🤮🤮🤮🤮🦠🦠🦠🦠🦠
NONA JANDA
🥰
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
NONA JANDA
suka bgt sma zena dan cheo tapi
jujur thor si cendrik saya ilfi deh... kaya ngk pantas aja, buat zena karna sifat pertama nya ngk tulus, karna zena anak pendiri elang putih dan lebih kuat dari nya makanya dia naksir,, coba dia ngk tau asal usul zena ngk sifat egois, serakah, mana dia kaya terlalu nafsu sama zena yg benar2 polos, dan mana lebih kuat zena dan anak nya, ya menimal yg setara lah kekuatan nya jdii kalo boleh buat mati aja dia nanti nya ganti pemeran thorr🤣🤣
Aisy Hilyah: hahahayyy di sini zena emang mendominasi. tumbuh tanpa orang tua sejak kecil di tempat terpencil
total 1 replies
Yaayaaa🌸
baca ini kek lg nnton film petualangan ibu dan anak serta harimau mereka😍
Yaayaaa🌸
aku suka kekejaman gadis polos ini aakkhhhh🥳🥳🥳🥳
Yaayaaa🌸
hahaha kau bener cheoo🤣🤣
Yaayaaa🌸
dih cembukur🤣🤣🤭
Aisy Hilyah: iya dia tuh
total 1 replies
Amril N Utiah
polosnya
Wahyu Purwati
ada lanjutannya gak thor?
Aisy Hilyah: mmmmm nanti lah belum dipikirkan
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kok ga dipenggal aja tuh kepalanya Hirata..
Dwi Setyaningrum
bagaimana Nasih arabela ya🤔
Dwi Setyaningrum
apa kabar dg laki2 yg katanya black shadow itu sdh mati juga ga nih🤔apa aku kelewat bacanya
Dwi Setyaningrum
Zena keren sperti ayra sama2 strong women😁
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
seru bgt
jesS Noisyanthie
mending baca episode ini,seru
daripada episode sebelum y dgn kekalahan chendrik
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
chendrik sibuk memperkuat cintanya sama Zena, hingga lupa memperkuat diri😣
Aisy Hilyah: bener banget
total 1 replies
jesS Noisyanthie
tegang bgt
jesS Noisyanthie
perbanyak cerita ky gini Thor,seru bgt berasa nonton bioskop
Aisy Hilyah: terimakasih sarannya
total 1 replies
jesS Noisyanthie
cheo aku padamu 😍
Aisy Hilyah: aku jugaaaaa
total 1 replies
jesS Noisyanthie
astaga chendrik 🤣🤣🤣🤣🤣
Aisy Hilyah: Alhamdulillah apapun itu saya terima dengan senang hati.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!