Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 23
Angkasa
Ia melihat kepergian Yesha dengan pandangan nanar. Tiba-tiba saja bola kristal meluncur dari pelupuk matanya, segera ia seka, takut jika Nevan memergokinya. Pasti ia akan di ledek habis-habisan, menangis gara-gara seorang gadis.
Puk
Nevan menepuk pundaknya, membuat ia tersadar dalam lamunan panjangnya, karena ternyata gadis itu sudah menghilang dari pandangan matanya.
"Cabut, pesawat kita sejam lagi. Lagian Yesha udah enggak keliatan batang hidungnya," ucap Nevan.
Tanpa sepatah kata pun, Angkasa beranjak dari duduknya. Lalu berjalan lebih dahulu ke luar dari kafe tersebut. Mereka lebih dahulu menuju hotel, mengambil koper sekaligus cek out.
Nevan mengernyitkan dahi saat melihat seseorang yang ia kenal duduk di loby hotel. Entah apa maksud orang itu? Apakah menunggu dirinya dan Angkasa atau sedang ada urusan lain tak tahu.
Sedangkan Angkasa sepertinya tidak menyadari kehadiran orang tersebut, karena sedang berperang dengan pikirannya. Bahkan berjalan pun seperti tak merasakan apa pun, tubuhnya seakan melayang dengan ringannya.
"Lo di sini?" tanya Nevan pada orang tersebut, setelah mereka sudah berada di hadapan orang itu.
Angkasa baru menyadari jika ada orang tersebut setelah Nevan menyapa.
"Iya, sengaja mau bertemu dengan kalian," ucap orang tersebut yang tak lain adalah Rangga.
"Tapi kita harus segera ke bandara, belum cek out juga," ucap Nevan, takut jika tertinggal pesawat.
"Oke, gini aja, gue yang akan urus masalah hotel, kalian silakan cari tempat buat bicara. Gue tau, Lo kesini mau bicara sama Angkasa, kan?" tebakan Nevan benar sekali karena Rangga mengangguk.
Setelah itu, Nevan benar-benar meninggalkan mereka berdua. Mereka memilih menuju samping hotel, di mana ada sebuah taman dan tentu saja ada tempat duduk yang mendukung untuk mereka berbicara.
"Mau bicara apa?" tanya Angkasa, karena Rangga masih saja terdiam setelah mereka duduk.
"Gue enggak tahu ada masalah apa diantara Lo sama Yesha di masa lalu. Gue cuma mau jangan pernah Lo deketin dia lagi, karena Yesha bukan hanya sekedar tunangan gue, tapi dia istri gue," ucap Rangga, ia merasa cemburu saat mendapati Angkasa hanya duduk berdua dengan Yesha di sebuah kafe, entah kemana Laura dan Nevan, ia tak tahu.
Deg
Dada yang tadinya sesak kini semakin sesak kala mendengar pengakuan Rangga. Kenapa begitu menyakitkan saat mengetahui semua ini, bahkan rasa sakit atas kenyataan yang tadi malam ia ketahui saja masih begitu dalam, di tambah lagi kenyataan yang sesungguhnya. Sungguh ia seperti jatuh tapi harus tertimpa tangga pula. Menyakitkan plus menyedihkan.
"Kalo memang Lo suka sama dia, gue harap lupakan dia. Semoga Lo mendapatkan wanita yang lebih baik dari Yesha," tambahnya.
Angkasa menghembuskan nafas kasar, "Gue udah ikhlaskan dia, tapi Lo harus jaga dia baik-baik, jangan pernah menyakiti dia sedikit pun. Kalau hal itu terjadi, gue yang akan jadi orang pertama yang bales rasa sakit yang Yesha ke Lo," ucapnya.
"Dan selamat jika memang kalian sudah menikah, dia berarti memang bukan jodoh gue," tambahnya.
Rangga sebenarnya merasa geram saat melihat mereka tadi hanya berdua di kafe, tapi setelah berbicara dengan Angkasa ia merasa jika pemuda di sampingnya itu benar-benar baik, bahkan luar biasa bisa secepat itu mengikhlaskan orang yang di cintai untuk orang lain. Terlepas dari kenyataan jika ia dan Yesha sudah menikah, ia bisa melihat dari sorot mata Angkasa yang begitu tulus meski di penuhi kekecewaan.
"Mungkin cinta yang Lo punya udah tumbuh lebih dulu di banding gue, tapi maaf gue menikungnya di sepertiga malam," kini Rangga sudah bisa mengontrol emosinya, tak seperti pertama kali berbicara tadi.
Angkasa tersenyum, dan sepertinya ini senyuman ke dua selama berada di Jerman. Yang pertama saat melihat Yesha untuk pertama kali setelah sekian lama tak berjumpa.
"Lo bener, gue baru sadar, ternyata cinta gue selama ini tidak pernah melibatkan Tuhan di dalamnya, makanya selalu gagal. Mulai sekarang gue akan ikutin cara yang Lo lakuin buat nikung seseorang," ucap Angkasa sambil tersenyum. Merasa lucu dengan ucapannya, karena memang ia masih jauh dengan Tuhannya.
Rangga pun ikut tersenyum, "Sebagai permintaan maaf gue, sekarang gue anter Lo sama Nevan ke bandara, kebetulan jadwal gue kosong," ucapnya, lalu beranjak dari duduk, di ikuti oleh Angkasa.
Sekarang Angkasa begitu lega, setelah tahu seperti apa kepribadian seorang Rangga. Meskipun mereka hanya berbicara sebentar, tapi ia bisa membaca dari sikap Rangga yang tidak tempramen. Jika orang lain akan memukul saat istrinya bersama laki-laki lain, tapi Rangga tidak. Ia hanya melampiaskan rasa cemburunya dengan sedikit amarah tanpa kekerasan.
Satu lagi, ia tahu jika Rangga ternyata juga seorang yang taat, tak seperti dirinya yang selalu lalai. Pantas saja keluarga Yesha membiarkan anak gadisnya menikah dengan Rangga meski pendidikannya belum usai, mungkin karena Rangga adalah orang yang terbaik untuk menjaga Yesha di negara orang lain ini.
"Jaga Yesha, jangan buat dia nangis. Oh iya masalah tadi, jangan salahkan dia, karena gue yang meminta. Dia tidak salah di sini," ucap Angkasa saat mereka akan berpisah di bandara karena pesawat yang akan ia tumpangi akan segera lepas landas.
"Pasti, Lo enggak usah khawatir. Paling gue kasih hukuman sedikit," timpal Rangga sambil terkekeh.
Angkasa dan Nevan hanya menggelengkan kepala.
"Semoga kalian berdua sampai dengan selamat." ucap Rangga setelah mereka berpamitan.
"Salam buat keluarga di Indo ya Bang," tambahnya sebelum Angkasa dan Nevan berjalan lebih jauh. Dan Nevan hanya membalas dengan mengacungkan ibu jari, melanjutkan langkah meninggalkannya sendiri.
"Udah bisa senyum Lo?" tanya Nevan, karena melihat Angkasa beberapa kali tersenyum.
"Gue lega Van, kalau Yesha sudah bahagia bersama orang yang juga mencintainya. Gue bener-bener udah ikhlas, apalagi setelah tahu mereka ternyata udah nikah, Lo tega banget enggak ngasih tahu gue Van," Angkasa menatap tajam sang sahabat yang ia kira sudah tahu jika Yesha sudah menikah dengan Rangga.
Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat.
"Apa Lo hilang tadi? Nikah? Serius Lo? Jangan ngarang," ternyata Nevan tidak percaya dengan ucapannya, berarti Nevan benar-benar tidak tahu akan pernikahan keduanya.
Angkasa justru terbahak mendengar ucapan Nevan, apalagi wajah sahabatnya itu begitu lucu saat terkejut.
"Angkasa! Jangan bilang Lo cuma ngeprank!" seru Nevan.
"Gue serius, Lo tahu gue ketawa alasannya apa? Ternyata Lo enggak di anggap ada oleh keluarga besar Lo ya, sampai-samapi sepupu sendiri nikah enggak di kasih tahu, parah asli ini parah banget, pantes aja bokap Lo nyiksa Lo Mulu di kantor, ternyata Lo anak angkat," ucap Angkasa panjang lebar.
Nevan hanya mencibir, tapi ia bersyukur karena Angkasa sudah kembali seperti sedia kala. Meskipun ia bisa melihat jika masih ada sedikit rasa kecewa dari sorot mata sahabatnya itu.
.
.
.