Reno yang berniat meneruskan kuliah S2 di kota harus terpaksa menikahi anak saudara jauh dari ayahnya.
Reno terpaksa menikah karena wasiat ayahnya yang sudah meninggal.Rianti yang anak yatim piatu harus menuruti kemauan ibu Ningrum untuk menikahkannya dengan anaknya Reno.
Reno yang merasa tidak menginginkan pernikahan itu,selalu mengabaikan Rianti,dan tak pernah pulang ke rumahnya.
Ibu Ningrum yang mengetahui kelakuan anaknya sampai marah hingga membuat siasat agar Reno bisa tidur dengan Rianti.
Apakah yang di lakukan ibu Ningrum?
Bagaimana setelah Rianti mempunyai anak,apakah Reno berubah?
Yuk,kepoin ceritanya yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Anakmu?
"Rianti?"
Rianti diam menatap laki-laki yang memanggil namanya sambil tersenyum juga terlihat kaget.
Ya,dia Panji yang tadi siang mencarinya di toko roti.Rianti melangkah maju untuk membuka pintu rumah,sedangkan Panji masih diam di tempat.
Pintu terbuka,Rianti mempersilakan Panji masuk.
"Mari silakan masuk."ucap Rianti.
Panji ikut masuk dan langsung duduk,sedangkan Rianti masuk ke dalam.Panji memandang Rianti sampai hilang dari pandangan.Beberapa saat kemudian Rianti keluar lagi membawa gelas berisi air putih.
"Maaf,adanya air putih saja."
"Ngga apa-apa."
"Pak Panji ke sini cari berkas lagi yang ketinggalan?"
"Tidak,saya sengaja mau ketemu kamu."kata Panji.Rianti mengernyitkan dahi.
"Ketemu saya?"
"Iya."
"Mm,,mau apa ya ketemu saya?"tanya Rianti heran.
"Cuma mau mengenal saja.Dan..."Panji diam,dia ragu dengan niatnya semula.
"Saya cuma pembantu pak,tidak baik kenal lebih dekat lagi."agak risih Rianti dengan niat Panji.
"Kata siapa?Saya hanya pengen tahu tentang kamu."
"Maaf pak Panji,ini sudah malam.Saya harus beres-beres rumah,biar bisa istirahat lebih cepat."kata Rianti beralasan.
Panji diam,benar ini sudah malam walau belum terlalu malam.Jalanan masih ramai oleh lalu lalang kendaraan.
"Baiklah,lain kali saya bisa ketemu kamu lagi."
"Sebaiknya jangan pak Panji,tidak baik ketemu terus.Nanti apa kata orang,saya..."Rianti menunduk.
Dia tidak berani meneruskan kata-katanya kalau dia sudah menikah.Toh Panji juga tahu tadi dia bawa anak,pasti dia mengira dirinya sudah menikah.
"Oke,sekarang saya pulang,pokoknya saya pengen bertemu kamu lagi."lalu Panji pamit pulang.
Rasa penasaran di benaknya belum dia tuntaskan karena memang dia belum terlalu dekat dengannya.Karena memang tidak etis jika mengorek kehidupan pribadi orang yang baru kenal.
_
*****
Satu minggu kemudian Panji mengunjungi Rianti kembali di tempat kerjanya.Lagi-lagi Panji membeli kue yang di makan di tempat sambil menunggi Rianti mau menemuinya.
Entahlah,ada apa dengan Panji.Dia terlalu penasaran dengan Rianti.Mulanya dia sedikit tertarik sama Rianti hingga ada niat untuk mendekatinya walaupun dia bekerja di rumah Reno sebagai pembantu.Tidak masalah baginya.
Namun hatinya bimbang karena dia melihat Rianti terakhir kali membawa seorang anak.Anaknya kah?Panji masih bingung,tapi rasa penasarannya masih bersarang di pikirannya.
Sengaja dia ke toko roti waktu jam makan siang sehingga dia pikir Rianti akan beristirahat di jam makan siang juga.
Susan yang sedang berjalan melewatinya dia panggil untum bertanya Rianti.
"Mba,apa Rianti ada?"tanya Panji,Susan menoleh.
Orang ini lagi,pikir Susan.Ada apa sebenarnya dia dengan Rianti.
"Rianti ada di belakang pak."jawab Susan.
"Bisa minta tolong di panggilkan?"pinta Panji.
"Sebentar."lalu Susan melangkah menuju belakang,dia menemui Rianti yang sedang mengelap barang-barang yang sudah di cuci.
"Rianti,di depan ada yang nyariin kamu tuh."kata Susan.
"Siapa mba?"tanya Rianti heran.
"Ngga tahu,minggu lalu juga orang itu nyariin kamu."ucap Susan.
"Siapa yah,laki-laki ya mba?"
"Iya.Kamu kenal?"
"Kenal banget sih ngga,tapi dia temannya suami saya."
"Mau apa dia?"
"Ngga tahu,ya udah saya ke depan dulu ya mba."Rianti pergi meninggalkan Susan yang masih penasaran dengan orang yang mencari Rianti.
"Ada apa?"tanya Udin yang tiba-tiba ada di hadapan Susan.
"Itu,Rianti ada yang nyariin."
"Siapa?setahu saya Rianti ngga punya teman selain kita-kita di sini."
"Nah itu dia,saya juga penasaran."
"Ya udahlah,jangan kepo lagi.Nanti tanyain aja sama Rianti kalau urusannya sudah selesai."Udin berlalu dan Susan pun pergi menuju ruang menyusui di mana Raka sedang tidur di sana.
Sememtara itu Rianti tampak biasa saja karena sudah mengira orang yang mencarinya adalah Panji.Rianti menghampiri Panji.
"Ada apa pak Panji mencari saya?"tanya Rianti.
"Cuma mau ngobrol aja."jawab Panji santai.
"Tapi ini bukan tempat untuk ngobrol,lagi pula saya lagi kerja."ucap Rianti kurang suka dengan alasan Panji.
"Oke,tapi pulang kerja bisa kan saya ajak kamu keluar?Mumpung Reno belum datang."kata Panji.
Rianti ingin bertanya kapan Reno pulang,dia ingin bertanya lebih banyak.Tapi dia ragu,baiklah pulang kerja saya akan bertanya padanya.Pikir Rianti.
"Bisa."
"Kalau begitu saya ke toko dulu,nanti saya kesini lagi."lalu Panji beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Rianti yang masih bingung dengan ajakan Panji tadi.
_
*****
_
Sore hari,seperti janjinya Panji menemui Rianti lagi.Dia menunggu di luar duduk di motornya sambil bermain ponsel.
Satu deringan ponselnya berbunyi,tertera di situ nama Reno.
"Halo bro,lu betah banget di Kalimantan."ucap Panji.
"Bukan betah,emang tugasnya harus lama begini."
"Lo kapan pulang?"
"Belum tahu gue,tapi kayaknya sih seminggu lagi di sini."
"Ya udah,itung-itung piknik lo di situ."
"Boro-boro piknik,di sini rada susah buat kemana-mana.Lagian daerah tambang mana ada tempat buat nongkrong."
"Hahaha...Lah elo kenapa mau di ajuin ke tambang?"
"Ya pengen tahu juga kalau kerja di tambang bagaimana,sistem kerjanya juga bagaiman.Gue pengen tahu."
"Terus?"
"Terus ya...sama aja sih."
"Mm...Di bilang manajemen perusahaan tuh sama aja,tergantung besar kecil perusahaan itu.Hanya beda dikit."
"Ya ngga apa-apa juga sih,itung-itung pengalaman.Ya udah ya bro,gue mau cabut dulu.Teman-teman udah pada ngumpul.Jangan lupa bagian gue transfer seperti biasa."
"Oke."lalu Panji menutup sambungan teleponnya,berbarengan Rianti keluar dari toko.
Rianti menghampiri Panji yang sedang menatapnya bingung.Bingung karena gendongan bayi di tangannya.
"Ini anakku."seolah tahu kebingungan Panji.
"Anakmu?"tak percaya apa yang di katakan Rianti.
"Iya,ini anakku.pak Panji ada apa ingin menemuiku?"tanya Rianti mengalihkan rasa penasaran Panji.
"Kita bisa keluar ngga?ya sekalian makan dan ngobrol-ngobrol."Rianti diam,dia mempertimbangkan ajakan Panji.
"Saya sebenarnya tidak mengerti dengan pak Panji,saya kan seorang pembantu kenapa pak Panji mengajak saya untuk ngobrol dan makan segala?"
"Hanya ingin dekat dengan kamu saja Rianti.Please kali ini saja kamu mau,ada yang ingin saya tanyakan sama kamu."Rianti menghela napas,dia tidak habis pikir kenapa teman suaminya itu begitu memaksanya,padahal apa hubungannya?Dia siapa?
"Baiklah."tanpa membuang waktu dan ingin segera selesai.
Lalu Panji menyerahkan helm pada Rianti,tapi Rianti menolak memakai helm karena dia ingin ngobrol yang dekat daerah kompleks,tidak mau jauh-jauh.
Panji pun mengalah,dia mengajak ngobrol di tempat makan pinggir jalan.Warung pecel yang di tuju.
Sampai di warung pecel,Panji langsumg memesan makanan.
"Mm..Rianti,maaf kalau saya terlalu penasaran sama kamu.Apa benar itu anakmu?"
"Iya,kenapa?"
"Kamu bekerja di rumah Reno sambil bawa anak.Apa Reno tidak keberatan?"Rianti diam,dia tidak menjawab.
"Dan suamimu?"
"Suamiku lagi pergi entah kemana.Dia pergi tanpa memberi tahu."ucap Rianti sambil makan pecel ayam yang dia pesan.
"Kok tega banget ninggalin kalian.Tidak bertanggung jawab sekali."Rianti melirik tak suka.
Ada rasa tak terima Panji mengatakan suaminya tidak bertanggung jawab walau kenyataannya memang begitu.
"Maaf."
"Ngga apa-apa."
"Apa kamu mencintai suamimu?"
Benar,dia sendiri tidak tahu apakah dia mencintai suaminya atau hanya memang karena terikat pernikahan.Karena selama menikah Reno tak pernah ramah padanya.Jadi ada cinta ataupun tidak ada,Rianti tidak tahu.
"Saya tidak tahu."Rianti menundukkan wajah,melihat anaknya yang terlelap dalam gendongannya.
Panji menatap wajah anak Rianti,lama.Dia seperti mengingat seseorang yang mirip dengan anak itu.Di perhatikannya terus wajahnya sambil berpikir.
Dan dia terkejut tatkala mengingat seseorang yang sangat familiar di otaknya.
"Apa..anakmu itu adalah anak Reno?"dengan ragu Panji bertanya,menebak tepatnya.
Rianti terkejut,dia menatap Panji yang mencari kepastian jawaban Rianti.Rianti diam,dia malah menutupi wajah anaknya.
"Saya mau pulang"tiba-tiba Rianti berdiri,tapi di cegah oleh Panji ketika Rianti hendak melangkah.
"Tunggu,benarkan dia anaknya Reno."
"Pak Panji tidak usah ikut campur urusan saya.Saya hanya pembantu di rumah mas Reno."sedikit terisak Rianti berucap.
Lalu dia pergi meninggalkan Panji yang masih bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba marah karena tebakan Panji adalah benar.
Panji bangun dari duduknya dan meninggalkan selembar uang di atas meja,lalu menyusul Rianti.
Dia harus cari tahu tentang Rianti dan Reno.Memang sikapnya pada Rianti terlalu ikut campur,namun di kepalanya ada banyak pertanyaan.
Kenapa dulu Reno mengatakan Rianti adalah pembantunya,dan mengapa Rianti tidak ingin anaknya di samakan dengan Reno.Atau Reno tidak mengakui Rianti.
Ah,dia jadi pusing sendiri dengan urusan orang lain.Dia putuskan tidak akan ikut campur lagi urusan Rianti maupun Reno.Walau pertanyaan-pertanyaan itu akan mengusiknya lagi,lagi pula bukan urusannya dia.
Biarlah itu menjadi urusan mereka berdua jika memang ada masalah.Dia siapa ikut campur urusan orang lain.
_
_
_
*****(@@***@@)*****