Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi hati Ilham
Sifa sudah menemukan baju untuk resepsinya, dan Wahidah masih sibuk memilihkan baju lagi untuk Sifa, tapi Sifa sudah resah dan menarik narik lengan Wahidah
"Kak, sudah kak, dua saja cukup"
"Hei, kau itu istrinya Ilham, jangan takut duit dia habis"
"Kebutuhan yang penting kan masih banyak kak"
"Baiklah, baiklah, kita mencari sesuatu disana saja" Tunjuknya pada toko baju yang terlihat ramai pengunjung
Sifa mengangguk patuh
Mereka masuk ketoko baju, yang sudah menggoda mata Wahidah. Bukan untuknya ya? melainkan untuk gadis mungil istri barunya Ilham.
Wahidah sibuk mengambil baju dan memasangkan pada tubuh Sifa "Cocok, ambil"
Mereka pindah lagi dirak baju berikutnya, masih ditoko yang sama.
Memasangkan lagi "Cantik, sikaaat"
Sampai pengambilan baju numpuk ditroly, hati Wahidah sudah puas dengan masalah baju
"Sekarang, kamu masuk keruang ganti ya? coba , yang pas buat kamu yang mana lagi"
Lagi lagi Sifa nurut
Setelah memakai baju pilihan Wahidah, Sifa keluar dari ruang ganti, dan menunjukkannya pada Wahidah, agar dinilai cocok apa tidak.
"Wih, cantik. Lepas, dan coba yang berikutnya"
Setelah bolak balik Sifa mencoba baju belasan kali, ada sembilan baju yang cocok untuknya
Setelah pembayaran ditoko ini, Wahidah menitipkan barangnya ditoko tadi, karena Wahidah ingin keliling cari sandal, sepatu, tas dan banyak lagi yang lain
"Kak, uangnya bapak kalau habis bagaimana?"
"Nggak apa apa belum ada 100 juta"
"Hah?? tapi tadi kan habis banyak kak, kenapa harus menunggu habis 100 juta"
"Kemarin Ilham habis dapat hadiah 100 juta kan? anggap saja itu hadiah untukmu. Sudah, kalau uang Ilham benar benar habis, ntar aku sogrok papih. Dah tenang, belum ada apa apanya ini mah"
Mereka mampir ketoko kosmetik, Wahidah memilihkan jenis kosmetik seumuran Sifa. Setelah membayar dengan kartu sakti milik Ilham, akhirnya mereka pindah ketoko tas.
Dari toko tas, sepatu, sandal, dan daleman, akhirnya mereka keluar dengan memberengkut
Semua belanjaan sudah masuk dalam bagasi mobil Wahidah
"Sekarang, kita makan yuk. Ntar habis makan, kita cek saldo. Kalau masih banyak, kita ketoko saya"
"Kakak punya toko disini?"
"Iya, tapi punya Xander anakku"
-
Sementara
Ponsel Ilham berbunyi tak henti hentinya
Bukan panggilan darurat ataupun telepon dari kerabat, maupun sahabat. Melainkan pesan notifikasi dari kartu yang dibawa kakaknya
Bibir Ilham melengkung
"Selamat menguras atm ku kak, semoga kakak puas dan tidak mengalami encok"
-
"Kita cek ditokoku aja ya?"
Sifa manggut manggut cemas
Setelah sampai ditoko emas bernamakan WAHIDAH JEWERLY , Wahidah menarik tangan Sifa masuk ketokonya
"Sila, EDC nya bawa kesini"
"Siap bu"
Wahidah dan Sifa sudah duduk disofa dalam toko ini
"Ini bu"
"Iya makasih" Wahidah menerima mesin EDC yang biasa untuk transaksi ditoko ini
"Kita cek ya?"
Sifa mulai keluar keringat dingin sejagung jagung menunggu sisa uang dokter Ilhamnya.
"Wow, tuh kan, sisanya masih tiga ratusan juta. Bisa buat beli mobil. Mau mobil?"
"Kak sudah, Sifa takut"
"Takut kenapa?"
"Sifa berasa kayak orang yang mau ngrampok kak"
"Ahaha, ya sudah, saya juga sudah capek. Sekarang, satu lagi yang belum kebeli"
"Apalagi kak, ini sudah setoko sendiri yang kita borong"
"Nggak masalah, sekarang emas. Saya pilihkan lagi, pasti Ilham suka"
Wahidah keluar dari ruangannya, dan memilih beberapa model emas yang cantik dan tentunya mahal.
"Ini coba, pilih yang kamu suka"
"Sifa bingung kak, Sifa belum pernah memakai emas emasan"
Sifa mendorong box bludru, yang berbentuk hati serta berwarna merah itu.
"Baik baik, tapi, kakak tetap memilihkan untukmu. Aku tidak mau kau terlalu sepi tanpa aksesoris.
-
Malampun tiba
Ilham pulang dengan langkah gontai, tapi sejurus itu, Ilham ingat akan kakaknya yaitu Wahidah.
"Penasaran sekali aku , apalagi yang mereka beli? Maaf ya Sifa, aku belum bisa mengajakmu kemana mana, hanya ini yang bisa kuberi, itupun melalui kakakku"
-
Sifa membongkar belanjaan yang tadi siang mereka borong, dengan menguras isi atm milik dokter Ilhamnya
Sifa bingung, satu kamar penuh dengan barang barangnya
Belum selesai menata, hape jadulnya bunyi
"Hallo Fit, ada apa malam malam telpon aku"
"Fa , aku butuh penjelasanmu"
"Penjelasan apa?"
"Kenapa kamu keluar ? dan kenapa dokter Ilham yang menyerahkan surat pengunduran diri milikmu. Kenapa kau tidak sopan sekali, nyuruh dokter mengantarkan surat"
"Sudah, pertanyaanmu sudah selesai?"
"Iya, tolong jelaskan. Terus, kau sekarang dimana? kenapa kemarin aku lewat depan rumahmu, rumahmu sepi sekali kayak kuburan"
"Aku sudah tidak tinggal dirumah itu Fit"
"Kenapa? terus kamu tinggalnya dimana sekarang?"
"Sudah ya Fit, aku ngantuk"
Telponpun ditutup oleh Sifa sepihak
Sifa mengusap airmatanya yang sempat menetes, ingatannya tertujuh pada rumah yang sepi seperti kuburan. Belum lagi masalah surat pengunduran diri yang dilakukan oleh dokter Ilhamnya, membuat Sifa ingin menangis dengan keras.
"Sekarang, aku pengangguran"
Tidak sengaja Wahidah melintas didepan kamar Sifa yang sedikit terbuka, Wahidah mendekati pintu tersebut. Dilihatnya Sifa terduduk dibibir ranjang sambil melamun.
Wahidah fokus pada hape Sifa yang terlihat pusing. Iya, hape Sifa dirut rut (Ditali) karet agar tidak njebel (Mbuka). Teriris lagi hati Wahidah
-
Ilham sudah duduk diranjang, yang dulu ada Nancy istri pertamanya disampingnya.
Ilham mengambil foto Nancy dan dirinya, saat awal awal mereka menikah.
Rasanya mengingat ini, Ilham tak sanggup menghianati Nancy
Seorang istri, juga seorang partner dimanapun mereka berada.
Nancy adalah dokter anak, yang selalu disisinya selagi ia mengoprasi pasien ibu hamil yang akan melahirkan
Teriris rasanya hati Ilham, mendengar bahwa Nancy mengidap penyakit kanker paru.
Miris rasanya, dirinya bukan perokok, apalagi pecandu, dan Nancypun juga jauh dari barang yang namanya tembakau.
Siapa yang mau disalahkan? tapi dengan gagalnya menyelamatkan nyawa istrinya, Ilham yang merasa bersalah, karena dia justru membawanya berobat kesingapura, bukan dirawat disini dan diobati dengan obat tradisional.
Dirinya dokter, istrinyapun sama berprofesi sebagai dokter, logika, itulah pemikiran Ilham. Dia tidak percaya herbal apalagi dukun. Apa yang bisa manusia lakukan? Apakah Ilham harus mengangkat penyakit istrinya waktu itu? bukan, Ilham tidak ahli dalam masalah penyakit.
Setahun sudah dirinya menduda, ingin rasanya mengubur diri ikut Nancy saat itu, kehilangan anak sudah membuat sayap Ilham patah. Kini, ia harus kehilangan tulang rusuknya untuk selama lamanya.
Apakah Ilham masih mempunyai tulang rusuk lagi?
Ilham bimbang, hatinya masih milik Nancy, tapi raganya sekarang, milik Sifa.
-
Malam ini, Sifa tidak bisa tidur memikirkan uang puluhan juta yang lenyap ditangannya, hanya memakan waktu beberapa jam saja.
"Bapaaak, maafkan Sifa. Sifa sudah jahat sama bapak. Uang bapak habis" Sifa menangis sambil membeber baju yang harganya selangit
"Harga baju ini mahal mahal, jika Sifa menggantinya pakai kue, mau berapa tahun bisa lunas. Lalu aku harus bagaimana? selembar baju saja harganya seribu samoza" Lagi lagi Sifa menangis
"Bapaaak, apa yang harus Sifa lakukan? berapa tahun Sifa bisa mengembalikan uang yang Sifa pakai tadi pagi"
"Bapaak, kenapa bapak tidak ingin menemuiku? apa bapak tidak rindu?"
Sifa menangis meratapi nasib, hingga tertidur pulas
Bersambung.....
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx