'Tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan' itulah persahabatan antara Dara dan Azlan yang akhirnya dijodohkan Ayah dan bundanya karena pengkhitbahan Azlan dan Arini gagal .
Arini menolak nya sudah memiliki kekasih dan perbedaan usia Arini 3 tahun lebih tua dari Azlan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22. Pindah Rumah
Sampai di rumah, Dara dan Azlan berjalan masuk ke dalam rumah sambil menenteng kresek bening tersebut. Mereka terkejut dengan kedatangan mama yang sudah berada di dapur. Ia sedang menumis sayur kangkung di teflon.
"Kapan pulang ma?"
Mama menoleh ke belakang mendapati Dara dan Azlan berjalan ke arah mereka dan berpelukan.
"Tadi, 1 jam yang lalu. Mama mau kasih kalain suprise. Eh, mama yang terkejut," kekeh mama sembari melepaskan pelukan mereka.
"Kalian beli apa?"
"Kue putu. Dia yang borong semuanya," tunjuk Dara pada Azlan tanpa menyebutnya dengan panggilan 'kakak' mungkin masih malu atau Dara belum juga terbiasa.
"Wah, ini enak." mama mengambil satu potong kue putu lalu duduk di meja makan dan memakannya. Azlan dan Dara melakukan hal yang sama.
Sebagiannya mama simpan di lemari es lalu Dara membantunya di dapur. Sementara Azlan menatap dua wanita yang sangat ia sanyangi di meja makan.
Terkadang mama melemparkan lelucon lucu membuat Dara tertawa mendengarnya.
"Masitge meuseyo," seru mama seraya meletakkan sayur kangkung di atas meja lalu goreng cumi-cumi yang dilumuri cabe merah.
*Selamat makan*
"Cinta mana?" tanya Azlan yang tak melihat keberadaan sang adik di sini.
"Mungkin istirahat," jawab Dara
"Biarin aja dulu," sambungnya. Mereka menikmati makan siang ini. Cabe merah itu cukup pedas, sehingga Dara mengambilnya sedikit.
"Kamu takut pedas, ya?" tanya Azlan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Iya, aku punya penyakit maag, jadi gak bisa makan pedas," terang Dara seraya mengambil sayur kangkung.
Selesai makan siang, Dara mencuci piring kotor di wastafel. Sementara Azlan dan mama sedang menonton di ruang televisi. Dara menyusul mereka lalu duduk di samping mama seraya memeluknya dari samping.
"Gimana rumah baru kalian?" mama menatap ke arah Azlan yang sedang fokus menatap layar televisi.
"Sedikit lagi, ma."
"Kamu udah cari pembantunya?"
"Belum."
"Jangan suruh menantu mama bersihin rumah segede itu," ucap mama mengecup kening Dara .
"Gak apa-apa kok, ma. Dari pada Dara gak ada kerjaan, gak baik juga buat kesehatan," kilah Dara.
"Lagian Kak Azlan udah banting tulang buat beli rumah itu."
Azlan menoleh ke arah Dara yang menyebutnya 'Kak Azlan ' panggilan baru dari Azlan untuknya. Orang di rumah menyebutnya Azlan sama dengan Jung Yuri--mantan kekasihnya.
Ada perasaan bahagia di lubuk hatinya.
****
Selesai salat ashar, Azlan kembali membawa Dara untuk jalan sore. Dara mengangguk pasrah karena sore ini dua tidak ada kerja. Rumah sudah bersih, jadi gak ada salahnya juga kalau dia bersama suami meluangkan waktu untuk berdua.
Dara mengambil jaket lalu menarik tali dan membungkus kepalanya karena ia tak memakai jilbab. Azlan gemas menatap pipi Dara yang berisi. Ia menyubit pipi itu pelan lalu menarik tangan Dara keluar dari rumah.
Di pertengahan jalan, Dara meminta untuk membelikannya minuman dan beberapa roti rasa coklat dan roti rasa vanila. Lalu mereka berjalan menuju taman dan makan di sana.
Tak sedikit beberapa pengunjung menatap ke arah Dara dan Azlan yang sedang memamerkan keromantisan. Bukan Dara,melainkan Azlan yang menggodanya.
"Udah jam 5. Yuk, pulang." Azlan menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya lalu Dara membuang sampah bekas makanan dan minuman mereka ke tong sampah dan berjalan menuju rumah.
***
Makan malam ini hanya ada keheningan dan suara dentingan sedok dan garpu di atas piring kaca.
"Ma, rumah baru kami udah selesai, besok Azlan dan Dara akan pindah ke sana."
Dara menghentikan kunyahannya di dalam mulut dan beralih menatap Azlan dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Berarti dia akan berdua bersama Azlan dalam rumah baru mereka tanpa ada mama , Cinta di sana, pikirnya.
Jantung Dara berdegub ketika Azlan menyatakan perihal itu pada mama dan Cinta.
"Terserah kalian, yang penting kalian mau belajar mandiri. Kalau ada masalah. selesaikan secara pelan tanpa ada emosi. Cari jalan keluarga dengan kepala dingin tanpa ada emosi di dalam hati," jelas mama
Selesai makan malam, mama menyuruh Cinta untuk membersihkan piring kotor. Sementara Azlan dan Dara berada di dalam kamar untuk packing peralatan mereka.
Azlan memasukkan bajunya ke dalam koper hitam miliknya, sementara Dara memasukkan pakaiannya ke dalam koper hijau yang Reyndad beli online melalu ponsel pintarnya.
"Jangan bawa terlalu banyak, nanti kita bisa beli lagi bajunya," ucap Azlan yang sudah mengunci kopernya. Dars mengambil semua perawatan wajah milik mereka yang berada di meja rias dan laci. Ia memasukkan ke dalam tas kecil.
Azlan memasukkan humidifier ke dalam koper Dara lalu ia meletakkan kedua koper tersebut di dekat pintu kamar.
"Ayo, istirahat." Azlan menepuk ranjang di sebelahnya lalu Dara berbaring di sampingnya.
Jujur, Dara gugup dan kalut apa yang akan dia lakukan setelah mereka jauh dari orang tua. Dara takut jika Azlan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Tapi, Dara teringat ucapan Azlan padanya yang menyatakan dia adalah suaminya.
Dara menggelengkan kepala membuat Azlan terganggu akibat pergerakan darinya.
"Kenapa?"
Dara tiba-tiba memejamkan matanya mendengar suara husky milik Azlan yang sedang mengintipnya di balik wajah cantik itu. Hembusan napas hangat Azlan menerpa wajahnya sekilas lalu ia kembali memejamkan matanya sebelum mencium pucuk kepala sang istri.
****
Setelah selesai salah subuh dan melaksanakan ritual mandinya, Azlan dan Dara berjalan keluar kamar seraya membawa dua koper besar di tangan Azlan sementara Dara menyandang tas kecil yang berisi perawatan wajah milik mereka, ponsel, powerbank, minyak angin, sikat dan pasta gigi.
"Sarapan dulu sayang," sapa mama yang melihat anak dan menantu cantiknya sedang meletakkan barang-barang mereka di dekat sofa.
Dara memeluk mama dari belakang yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
Terdengar suara isakan tangis dari Dara membuat mama membalikkan tubuhnya sehingga pelukan itu terlepas. Ia menatap wajah Dara yang memerah serta kedua matanya berkaca-kaca.
"Kamu bisa datang ke sini atau mama sama Cinta ke sana, cantik." mama menghapus air mata Dara dengan punggung tangannya.
Dara menganggukkan kepala lalu Azlan menuntunnya duduk di meja makan dan Cinta datang ke dapur seraya mengecup pipi kakak ipar yang sangat ia sayangi.
"Kakak bawa snikernya, 'kan?"
Dara menganggukkan kepalanya lalu mereka berpelukan sekilas dan menyantap sarapan pagi ini.
****
Selesai sarapan, Dara membersihkan piring kotor di wastafel. Cinta memeluknya dari samping seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Dara.
"Cinta tahu kakak butuh waktu untuk menaruh hati pada Kak Azlan. Kak Azlan punya masa lalu, tapi kakak tenang aja, Kak Azlan pasti akan setia, percayalah." Cinta tersenyum hangat pada Adnan lalu membersihkan tangannya yang di penuhi busa oleh air.
"Iya, sayang." Dara menangkupkan kedua tangannya di pipi tyrus milik Cinta lalu mengecup kening Cinta. Tanpa mereka ketahui bahwa Azlan menyaksikan percakapan mereka sedari tadi.
PAKE BHS iNDONESIA aja.
.capek pake BHS korea Inggris Indonesia..kalo mau pake BHS asing sedikit aja misal istilah2..CAPE BACANYA
dan kok sering banget NYEBUT DARA.fengan ADNAN????
dan kebanyakan cerita resep makanan..penuh3in halaman
Lari ya.
Bingung... mahesa siapa ya?? Nggak Ada penjelasan tuh.. 😎
Salam dari novel Do It All For You 😘