Cerita 18+.
Lelaki itu tak bisa dipungkiri menarik secara fisik. Tapi Livia membencinya. Apa yang terjadi di suatu malam berhujan sehingga Livia terpaksa menikah dengan Norman? Apakah Livia bahagia menjalani kuliah dan menjadi istri Norman yang belum tamat kuliahnya? Livia shock kala tau Norman punya masa lalu kelam... karena biasa disewa tante-tante. Baca lanjutannya. Siapkan dirimu untuk happy, sedih, juga ngakak guling-guling mengikuti kisah mereka berdua.
Seperti biasa Fresh Nazar menyajikan cerita sehari-hari dengan balutan drama, kejadian lucu dan tokoh yang rada gila. Novel ini memang buat kamu yang mencari bacaan dewasa, lucu dan berbeda dari yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Dipaksa Menikah
Tangan Norman menyentuh lembut tubuh Livia. Memberikan sensasi manis yang membuat mata Livia terpejam.
Minuman beralkohol itu rupanya memanaskan gairah keduanya. Membuat Livia membiarkan tangan Norman terus menjelajah tubuhnya. Bahkan Livia seperti tak sadar kala Norman mulai membuka kemeja yang dikenakan gadis itu.
Di luar rumah hujan mulai mereda. Bapak tetangga yang usai menunaikan sholat Isya menatap ke arah halaman rumah Norman.
Dilihatnya motor Norman terparkir di depan rumah. Lampu teras menyala. Lampu-lampu di dalam rumah pun menyala terang. Berarti Norman masih ada di dalam.
Mendadak si Bapak berpikir dan teringat. Tadi sore sebelum hujan Norman membawa seorang gadis masuk ke dalam rumahnya.
Udara dingin membuat bapak itu berpikir macam-macam. Dia tau, seorang lelaki muda seperti Norman tentu bisa berpikir macam-mcam juga di saat udara dingin seperti ini. Dan Norman tidak sendirian. Ada gadis cantik yang menemaninya.
Syak wasangka berputar di kepala si bapak.
Kala hujan makin berkurang derasnya si Bapak mengambil payung. Ia lantas keluar rumah. Lalu ke rumah sebelah dan menatap ke rumah kecil itu. Si Bapak menyipitkan pandangan.Berusaha menatap ke dalam rumah Norman. Tapi gorden di kaca jendela cukup rapat menutup. Si Bapak tak bisa melihat apa-apa ke dalam rumah.
Langkah si Bapak sudah hendak membawanya kembali pulang ke rumahnya.
BRRRUUKKK! Mendadak terdengar suara sesuatu dari dalam rumah Norman. Seperti bangku yang terdorong dan berderit.
Sontak si Bapak menoleh. Ia menajamkan pendengaran.
“Aaargghh…” Ia mendengar desah suara seorang wanita di dalam rumah Norman.
JREEENGG! Si Bapak kaget. Ia tahu suara apa itu. ia punya istri dan suara seperti itulah yang keluar dari mulut istrinya saat pertama menikah.
Buru-buru si Bapak berjalan menuju rumah pak RT. Diketuknya pagar rumah itu pelan-pelan.
Lalu pak RT keluar. Bertanya heran. "Ada apa, Pak Kikil?"
Dan si Bapak yang ternyata bernama Kikil, mirip nama daging kaki sapi, tapi bukan jeroan atau tulang iga, mengungkapkan kecurigaannya.
Di dalam rumah Norman tak bisa menahan diri dengan aksinya. Livia merintih namun Norman tahu wanita itu juga menikmati apa yang dia lakukan. Keduanya bergumul tanpa busana di ruang tengah dengan seru.
Beberapa langkah kaki datang mendekati rumah itu. Pak RT, Pak Kikil dan beberapa tetangga terdekat.
Norman dan Livia tak mendengar karena dikalahkan oleh nafsu.
Kembali terdengar teriakan pelan Livia.
Pak RT memerah mukanya mendengar suara dari dalam rumah.
“Jangan biarkan mereka bikin malu tempat tinggal kita, Pak RT!” Kata seorang bapak muda berjenggot tipis yang jenggotnya tumbuh malu-malu seperti bulu ketek kurang pupuk.
Pak RT mengangguk. “Tentu Rudolfo,” Katanya geram. ”Tak akan kubiarkan mereka berbuat tak pantas disini.”
“Tangkap basah mereka!” Kata Rudolfo dengan wajah merah padam.
“Tangkap basah? Memangnya mereka lagi mandi di dalam?” Seorang bapak yang tulalit bertanya heran.
“Payah lo,” Sahut Pak Kikil. “Maksud menangkap basah bukan begitu.”
“Oh iya,” Si Bapak tulalit berkata lagi. “Ini lagi hujan ya. Mungkin di dalam rumah bocor jadi mereka ketangkap saat lagi basah.”
“Suka-suka kau lah ngomong apa, Tukimin.” Kata Rudolfo jengkel.
Amarah di dada Pak RT semakin menggebu kala mendekati pintu depan rumah Norman.
TRREEKKK! Pak RT memutar handel pintu hendak membukanya.
Pintu tak mau membuka.
“Pintunya dikunci.” Kata Pak RT.
DEEGGG! Norman dan Livia yang tengah bergumul di bangku ruang tengah mendengar suara pintu hendak dibuka dari luar. Keduanya kaget. Menoleh ke arah pintu.
Segera Norman melepaskan tubuhnya yang menghimpit tubuh Livia.
“Kita dobrak pintunya bareng!” kata Rudolfo ke Pak RT di luar rumah.
Rudolfo dan Pak RT mengambil ancang-ancang lalu menabrakkan bagian samping tubuh mereka sekuat tenaga ke pintu.
BRAAKKK! Pintu terdorong jatuh dan bedebum dengan suara keras kala menimpa lantai.
“AAAARGGHHH..!” Livia terpekik melihat beberapa orang muncul.
Norman dan Livia tak sempat lari ke kamar. Mereka segera menutupi tubuh mereka dengan tangan seadanya. Masih untung Livia menjangkau kemeja yang tadi dikenakannya untuk menutupi tubuh polosnya.
“Ketangkap basah kalian!” kata Pak RT.
“Bikin malu warga sini!” kata Rudolfo. “Seret mereka keluar Pak RT. Kita gebukin di luar!”
Norman dan Livia panik. Langsung berteriak. “Jangan, Pak! Jangan gebuki kami!”
“Berbuat mes*m disini! Kalian pantas dirajam!” kata Rudolfo kejam.
“Mahasiswa kelakuannya kayak binatang! Kaw*n semaunya! Hajar mereka!”
Sebagian bapak-bapak geram, terbakar amarah. Mereka tak perduli Livia yang ketakutan, tak berbusana sepatutnya dan menangis sesenggukan. Mereka hendak menghajar Livia dan Norman.
“Jangan, Pak. Jangan pukuli kami!” Norman merasa harus bicara sesuatu untuk meredam kemarahan bapak-bapak di depannya. “Kami berani berbuat begini, karena dia ini istri saya pak!” Norman menunjuk Livia.
DEEEGG! Livia kaget mendengar Norman berkata demikian.
“Jangan asal ngomong kamu!” Pak RT tak percaya. “Apa benar kamu istri si Norman?!” Pak RT bertanya ke Livia. Tadi ia menyebut nama Norman karena Norman sudah 3 tahun tinggal disitu dan merupakan tetangga pak RT.
Bingung Livia menjawab. Dia bukan istri Norman. Mau rasanya Livia berteriak. Tapi Livia mikir lagi. Kalau gak menjawab seperti yang diharapkan, bisa jadi ia akan mati dipukuli bapak-bapak yang kalap ini.
“Iii.. iya, Pak. Saya istrinya Norman….” Livia menjawab terbata. Ia tak terbiasa berdusta tapi kini terpaksa melakukannya.
“Mana buktinya kalau kalian menikah?” Rudolfo gak percaya.
Norman bingung lagi ditanya demikian.
“Mana surat nikah kalian kalau memang sudah benar menikah resmi?!” Hardik Rudolfo.
“Kkk…. Kami cuma menikah secara adat di kampung, Pak. Gak ada surat nikahnya.”
“Heh! Itu belum resmi menikah, namanya!” kata Seorang bapak berkepala botak.
“Tapi kami akan menikah resmi, Pak. Sedang kami urus pernikahan kami secara resmi.”
“Ngomong aja lo!” Kata Pak Kikil jengkel.
“Sudahlah, Pak RT! Nikahin aja mereka sekarang!” Usul seorang Bapak. “Biar mereka sah, gak berbuat zin*h lagi di kampung kita.”
“Bener! Nikahin aja mereka sekarang! Penghulu Pak Haji Sarkawi kan ada di RT sebelah!”
DEEGGG! Livia terperanjat mendengar itu.
“Tt.. tapi..” Livia menatap Norman.
Norman menghela nafas. Mengabaikan keengganan Livia dan bicara ke bapak-bapak itu. “Kalau memang harus begitu, saya setuju Pak. Saya memang mau menikah resmi dengan gadis ini.”
Air mata Livia merembes mendengar itu. Apalagi saat bapak-bapak itu mengangguk menyetujui ucapan Norman.
*
Norman dan Livia yang sudah berpakaian rapi dibawa ke sebuah mushola di dekat rumah.
Livia terisak. Ia menyusut air mata.
“Sudah, jangan nangis.” Norman berkata pelan ke Livia. “Kita sudah berbuat salah dan kita harus menanggung konsekuensinya….”
Air mata Livia masih bercucuran kala duduk di sebelah Norman di depan penghulu. Haji Sarkawi, lelaki itu sudah tua, mengenakan peci hitam dan berkaca mata tebal.
“Ini yang harus kamu baca nanti….” Si Penghulu menunjukkan sebuah buku kecil ke Norman.
Norman segera membaca tulisan di buku itu. “Saya terima nikahnya…. Bla, bla, bla…. Dan Norman terhenti di kalimat ‘dengan mas kawin’.
“Mas kawinnya apa ya, Pak?” Norman kebingungan menatap Pak Haji Sarkawi. “Saya gak punya emas.”
“Kamu punya apa selain harga diri?” Pak Haji Sarkawi menatap tajam.
“Saya di dompet punya uang,” Norman mengeluarkan dompetnya. Damn! Norman menyesal belum mengambil uang ke ATM. Diperiksanya uang di dompet. Ada selembar uang lima puluh ribuan. Selembar sepuluh ribuan. Selembar lima ribuan. Dan selembar uang dua ribuan. “Uang di dompet saya cuma ada 67 ribu perak, Pak.”
“Ya sudah. Uang itu aja jadi mas kawinmu.” Pak Haji Sarkawi rupanya berpikiran praktis. “Yang penting kalian menikah dan sah menjadi suami istri.”
Lantas ditatapnya hadirin yang hadirin. “Baik, Bapak-bapak semuanya. Kita disini semua menjadi saksi pernikahan saudara Norman dengan saudari Livia. Semoga pernikahan ini membawa kebaikan kepada ,mereka berdua. Bismillah. Kita akan segera mulai akad nikahnya.”
Livia terisak. Ia menangis sesenggukan menatap Norman yang mulai dijabat tangannya oleh penghulu....
BERSAMBUNG……
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Norman akan mengucap ijab kabul dengan benar? Dan apakah Livia akan terus menangis meratapi nasibnya? Ikuti terus cerita ini. Klik LOVE dan taruh novel ini di rak bukumu agar bisa selalu menerima update terbaru HOT MAN ON CAMPUS.
Jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN untuk cerita ini. Thankyou buat yang sudah membaca. Semoga happy dan sehat selalu.
selalu dimanjain